
"Umi..., gimana ya..., Tiara mau mengambil sepeda motor dulu di rumah Robi, Tiara tidak enak kalau harus meminjam sepeda motor orang lain", Tiara menatap Umi yang tampak sedang sarapan.
"Ya, sudah..., ambil saja dulu, lagi pula Ara sudah janji kan mau mengambilnya hari ini?",
"Iya, nanti sepulang dari sana, baru kita temui Abah, atau..., sebaiknya kita temui Abah dulu, biar Umi berada di sana", tawari Tiara.
"Ya..., bagaimana baiknya saja, Umi nurut saja",
"Ya sudah..., Umi selesaikan dulu sarapannya, setelah itu kita temui Abah dulu", ucap Tiara. Ia pun menyeduh segelas sereal untuk mengganjal perutnya.
"Sudah... Umi?, mari", Tiara mendudukkan Umi di kursi roda dan mendorongnya menuju ruangan Abah.
Semua mata memandang Tiara, gamis dan niqobnya yang membuatnya berbeda, jelas saja, itu gamis asli turkey pemberian ibunya Robi.
Gamis itu terlihat elegant, walau warnanya hitam, namun ada detail bordir mewah dengan warna senada .
Ustad Fikri pun terpana begitu melihat Tiara sudah ada dihadapannya. "Umi, sudah sehat?", sapa Ustad Fikri, ia meraih tangan Umi untuk menyalaminya.
"Alhamdulillah", senyum Umi.
Tiara segera menarik gagang pintu ruang perawatan Abah. Dan mendorongnya perlahan. Terlihat Abah sedang tidur terlentang dengan mata terpejam.
Perlahan juga Aini melangkah sambil mendorong kursi roda Umi mendekati tempat tidur Abah. Aini dan Umi saling pandang, mereka berdua tidak berani membangunkan Abah.
Umi beranikan diri meraih tangan Abah dan memegangnya. "Umi...., sudah sehat?", tanpa di duga Abah bicara, ia membuka matanya dan memandang ke arah Umi.
"Alhamdulillah Abah..., Umi sudah lebih baik, Abah sendiri bagaimana?, Maaf Umi jadi mengganggu istirahat Abah",
"Ah...tidak Umi, tidak mengganggu, Abah tidak tidur..., hanya terpejam saja, serasa mimpi pas membuka mata , melihat bidadari-bidadari Abah sudah ada di sini ", senyum Abah.
"Alhamdulillah ... Abah juga sudah merasa sehat, apalagi Fikri telaten merawat Abah, dia hampir setiap hari tidurnya larut, dia tidak tidur dulu sebelum Abah benar-benar terlelap, beruntung kamu Ara, dia calon menantu dan calon imam yang baik", senyum Abah, ia melirik Tiara yang terlihat menunduk.
Tiara menyembunyikan wajahnya, takut Abah bisa membaca kalau dirinya tidak merasa senang dengan ucapan Abah soal Ustad Fikri.
"Abah..., Polisi sudah menangkap dan menahan pelaku yang menabrak kita, tapi....",
"Syukurlah..., dia memang pantas menerimmanya", sambar Abah.
Umi menatap Tiara, dia belum sempat melanjutkan ucapannya, karena Abah sudah lebih dahulu memotong pembicaraannya.
"Maksud Umi, dia itu...bukan orang yang ....",
"Sudahlah Umi, jangan bahas dia lagi, memang di sanalah tempatnya, Abah tidak mau Umi membicarakan orang itu, biarlah dia membusuk di penjara", ucap Abah dengan nada yang agak tinggi, jelas Abah benar-benar tidak mau membicarakan hal itu lagi.
Lagi-lagi Umi menatap Tiara dengann tatapan pasrah, ia menyerah, sepertinya Abah sudah tidak bisa di ajak bicara lagi.
"Bagaimana ini?", Umi bicara tanpa suara ke arah Tiara.
Tiara memegang pundak Umi dan menepuk-nepuknya , ia berusaha menenangkan Umi. Kalau sudah begini, mereka tidak bisa memaksa.
__ADS_1
"Sudah Umi, Tiara kan ada janji, Tiara pergi dulu",
"Mau pergi ke mana?, janji dengan siapa?", Abah menatap Tiara tajam, pandangannya penuh kecurigaannya.
Umi melirik Tiara.
"Ini Abah..., Tiara ada janji dengan Pak Dosen di Kampus, kan sebentar lagi Tiara mau menyusun skripsi, Tiara mau konsultasi dengan Dosen Pembimbing Tiara", alasan Tiara.
"Oh..., iya.., Ara kan sudah mau lulus ya, tidak terasa, sebentar lagi putri Abah ini akan menjadi sarjana, hati-hati Neng, kalau mau bisa meminta antar saja sama Fikri", senyum Abah.
"Tidak usah Abah..., Ara sudah biasa sendiri, lagian malu ah, belum sah kan, risik ", senyum Tiara.
"Ya sudah..., hati-hati, kalau sudah selesai, langsung pulang, Abah ingin konsultasi dengan Dokter, Abah ingin pulang, biar berobat jalan saja, tidak enak meninggalkan Pondok terlalu lama",
"Iya Abah, Tiara berangkat dulu, Assalamu'alaikum", Tiara pamit, ia mencium punggung tangan Abah dan Umi sebelum keluar dari ruangannya.
"Wa'alaikum salam", serentak Abah dan Umi, mereka menatap kepergian putrinya itu.
"Mau kemana lagi?", Ustad Fikri kembali menjegal langkah Tiara di lorong Rumah Sakit.
"Saya ada urusan Ustad", Tiara menunduk.
"Sudah kebiasaan ya, kamu seperti ini",
"Ustad, Abah dan Umi saja sudah tahu, mereka tidak apa-apa, kok malah Ustad yang repot?, saya ini masih bebas Ustad, kok sepertinya saya mesti berpikir ulang lagi, belum apa-apa saja Ustad sudah begini, banyak melarang saya, apalagi kalau sudah sah, bisa-bisa nanti saya dipenjarakan di rumah, maaf Ustad, saya terburu-buru", Tiara menyalip Ustad Fikri , ia berjalan cepat meninggalkan Ustad Fikri yang menatapnya tajam.
"Tiara...., kamu makin berani saja", Ustad Fikri mengerat rahangnya.
"Tiiiddd....tiiddd....", terdengar bunyi klakson dari sampingnya, sebuah mobil menghampirinya.
Pintu mobil terbuka, " Neng Tiara?", sapa sopir dari mobil itu.
"Oh...iya...", Tiara menatap ke arah dalam. Ia sepertinya familiar dengan wajah sopir itu.
"Saya yang kemarin mengantar Neng, Nyonya menyuruh saya menjemput Neng Tiara lagi", senyum Pak sopir.
"Oh..., iya...saya baru ingat", senyum Tiara.
"Sikahkan masuk Neng, Nyonya sudah menunggu", persilahkan Pak sopir.
Tiara memasuki mobil itu, ia merasa tersanjung ternyata ibunya Robi peduli kepadanya. Sepanjang jalan ia memikirkan bagaimana caranya untuk membebaskan Robi, kalau mengandalkan Umi, akan tersandung oleh Abah, tadi saja Abah sudah terlihat kesal dan marah saat membicarakan pelaku yang menabraknya.
"Ya Allah..., semoga diberikan jalan", harap Tiara, di saat akal dan nalarnya sudah mentok, hanya k sepada-Nya lah ia meminta pertolongan.
"Sudah sampai Neng, Nyonya dan Tuan sudah menunggu di dalam", ucap Sopir.
'Hah..., Tuan?, apa Ayahnya Robi?', pikir Tiara. Ia keluar dari mobil, "Terima kasih Pak", rengkuh Tiara saat Pak Sopir melajukan kembali mobilnya menuju garasi.
Tiara berdiri menghadap rumah besar yang ada dihadapannya, ada keraguan untuk melangkahkan kakinya ke dalam.
__ADS_1
"Eeh..sudah datang?, ayo masuk, kok malah berdiri di sana", Bu Arimbi tiba-tiba sudah ada di ambang pintu, ia tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya.
Tiara tersenyum dan berjalan menghampiri Bu Arimbi.
"Aduh..., tuh kan cocok sekali baju itu di tubuh kamu, bisa pas ya?, padahal waktu itu saya ambilnya asal saja, karena tidak ngerti juga dengan gaun model begini", senyum Bu Arimbi, ia menyambut hangat kedatangan Tiara.
"Terima kasih...", senyum Tiara. Lagi-lagi ia merasa tersanjung.
"Saya hanya mau mengambil sepeda motor saya saja Bu?", ucap Tiara begitu ada di depan Bu Arimbi.
"Masuk dulu sebentar, ada yang perlu saya bicarakan", ajak Bu Arimbi. Tiara pun tidak bisa menolak, ia mengikuti langkah Bu Arimbi ke dalam.
Mereka duduk di kursi sofa yang ada di ruang tamu, tak lama Bi Mimi datang membawakan mereka minum dan kue. Setelahnya ia kembali ke belakang, Bi Mimi sempat melirik ke arah Tiara. 'Kok ada tamu aneh ke Nyonya', pikir Bi Mimi.
"Silahkan di minum dulu!", tawari Bu Arimbi
"Terima kasih",
Bu Arimbi terlihat sedang mengetik di gawainya, entah sedang chat dengan siapa. Namun tidak lama datang seorang laki-laki tegap dari arah samping, ia juga tampak sedang memegangi gawai sambil berjalan ke arah mereka.
"Nah..., ini Pih Tiara, pemilik sepeda motor itu", terangkan Bu Arimbi.
"Tiara, perkenalkan ini papihnya Robi", Bu Arimbi menunjuk ke arah suaminya yang sudah duduk di sampingnya.
"Oh .., saya Tiara", Tiara menghadap Pak Robani dan mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada sambil merengkuh.
"Saya Robani", ucapnya datar.
"Sudah jelas kan?, bukan laki-laki Pih, tapi ini Tiara, Tiara ini anak dari pasangan suami istri yang di tabrak Robi gadungan", jelas Bu Arimbi lagi.
"Oh...jadi ini....", Pak Robani baru menghadap Tiara.
"Kalau begitu , kita bisa bekerja sama buat membebaskan Robi, karena istri saya ini bilang, Robi yang menolong, bukan yang menabrak, bukan begitu Mih?",
"Iya", sambar Bu Arimbi.
"Saya sudah memesan Pengacara yang bagus, tinggal mencari saksi saja, yang menguatkan kalau Robi bukan pelaku utamanya", jelas Pak Robani.
"Iya...Umi juga bilang begitu, katanya Robi lah yang membawa Abah dan Umi ke Rumah Sakit", terangkan Tiara.
"Cocok!, ini bukti baru, ini yang bisa membebaskan Robi, nanti saya akan menemui Umi bersama Pengacara saya", senyum Pak Robani.
"Baik", rengkuh Tiara.
Setelah pembicaraan mereka selesai, Tiara pun pamit, karena ia harus segera kembali ke Rumah Sakit, ia tidak ingin membuat Abah curiga, apalagi tadi ia sudah bicara bohong.
Tiara pamit, ia meninggalkan rumah Robi dengan sepeda motornya.
Kepergiannya di iringi tatapan Pak Robani dan Bu Arimbi.
__ADS_1
"Salut Papih, dengan gaya baju seperti itu, dia berani mengendarai sepeda motor",