
"Mih...Mih...., Pengacara bilang Robi sudah bisa dibebaskan, dia sudah mendapatkan bukti baru yang menguatkan , kalau Robi bukan pelakunya, ayo kita jemput Robi!", Teriak Pak Robani di ambang pintu kamar istrinya yang masih tertutup.
Mendapati tidak ada respon apa pun dari dalam, Pak Robani berlalu menuju lantai bawah menuju kamarnya, dia bergegas bersiap-siap untuk pergi menjemput Robi.
Saat ia keluar, Bu Arimbi tampak sudah siap menunggunya di kursi, ia tampak tersenyum memandang ke arahnya.
"Degh", jantung Pak Robani seketika berdebar begitu melihat senyuman istrinya, Bu Arimbi tampak mempesonakan dirinya. Sudah lama ia tidak merasakan hal ini, namun sekarang, rasa itu tiba-tiba muncul lagi.
Pak Robani mengerjapkan matanya, seolah ia ingin menepis semua rasa yang tiba-tiba memenuhi ruang dadanya.
"Oh...sudah siap rupanya, aku kira kamu tidak akan ikut", Pak Robani berjalan melewati istrinya.
"Iisss....", Bu Arimbi mendesis dan mengikuti langkah suaminya menuju ke mobil.
"Ayo cepat masuk!, tidak enak membuat orang menunggu", persilahkan Pak Robani, ia sudah membukakan pintu depan mobilnya.
Bu Arimbi mematung sejenak, ini sudah lama tidak suaminya lakukan, kalaupun terpaksa harus pergi satu mobil, Ia selalu duduk di jok belakang.
"Cepat!, kok malah diam", suara Pak Robani mengagetkan By Arimbi.
"Oh...iya..., terima kasih", By Arimbi pun masuk, ia duduk dan langsung memasangkan seatbealt. Pak Robani pun sama, ia langsung duduk di belakang kemudi, setelah siap, ia melajukan mobilnya menuju Penjara.
"Alhamdulillah Ya Allah, awal yang baik, Tuan dan Nyonya sudah mulai kompak lagi, semoga terus berlanjut, biar suasana di rumah ini damai lagi", harap Bi Mimi yang sedang memperhatikan kepergian majikannya itu saat akan menutup pintu depan.
"Hebat Pih Pengacaranya, dalam waktu singkat, bisa menemukan bukti yang akurat", puji Bu Arimbi sesaat setelah mobil melaju dijalanan.
"Ya,iya lah..., buat Robi, apa yang tidak bisa" senyum Pak Robani. Ia merasa bangga, karena dirinya sudah berbuat sesuatu yang besar untuk Robi.
Tak lama mereka pun tiba di Penjara. Kedatangan mereka disambut gembira oleh Pak Rusman. Mereka saling berjabat tangan.
"Mari kita temui Robi!", ajak Pak Rusman, ia berjalan lebih dulu menuju sel tempat Robi di tahan, diikuti oleh Pak Robani dan Bu Arimbi.
Mereka bertiga tampak melambatkan langkahnya, begitu mendengar suara orang mengaji, di sana sudah ada Pak Rusli yang sedang duduk. Ia tersenyum menyambut kedatangan klient nya itu.
Bu Arimbi dan Pak Robani melirik ke sumber suara, ia melihat dua orang sedang duduk bersila berhadap-hadapan sedang mengaji.
"Dimana Robi?", tanyai Bu Arimbi yang tidak melihat keberadaan anaknya di dalam sel sana.
"Itu...", tunjuk Pak Rusli ke arah dua orang yang ada di dalam sel.
__ADS_1
"Itu Robi?, kok...", Bu Arimbi mendekati jeruji besi, ia menatap ke dalam, ya ...orang yang sedang duduk bersila dan membelakanginya itu adalah Robi. Ia memakai sarung dan baju koko, tak ketinggalan pecinya.
"Robi", teriak Bu Arimbi, seolah ia ingin memastikan dugaannya.
Robi menoleh ke arah belakang, ia melihat Mamihnya sedang menatap kekat dirinya.
"Mamih?", Robi bangkit dan menghampirinya. Ia raih tangan Mamihnya itu, dan mengecup punggung tangan kanan mamihnya. Hal yang sering Aini lakukan pada Abah dan Uminya, dan hal yang baru kali ini ia lakukan pada Mamihnya.
Bu Arimbi tampak menatap nanar anaknya itu, ia merasa tersanjung oleh perlakuan Robi. Ini untuk pertama kalinya Robi bersikap seperti itu pada dirinya.
"Robi", gumam Bu Arimbi. Ia melihat sosok yang berbeda dalam diri anaknya itu.
Tak lama Pak Robani pun menghampirinya, ia tidak kalah kagetnya melihat penampakan Robi dengan setelan pakaian seperti itu.
Dan Robi pun memperlakukan sama Papihnya, ia meraih tangan kanan papihnya dan mengecupnya.
"Assalamu'alaikum Mih, Pih", senyum Robi.
Bu Arimbi dan Pak Pak Robani kini saling memandang, mereka kembali merasa kaget.
"Euh...Wa'alaikumsalam...", jawab Bu Arimbi.
"Siapa yang sudah membuatmu seperti ini?", tatao Bu Arimbi.
"Ini bukan Robi yang biasa Mamih lihat, penampilan kamu itu bikin Mamih kaget", kekeh Bu Arimbi.
"Robi nyaman begini Mih, dan Bang Babdrun yang sudah banyak mengajari Robi", tunjuk Robi kepada Badrun yang masih duduk dibelakangnya.
Kompak Pak Robani dan Bu Arimbi melirik ke arah mereka. Tampak Badrun mengangguk dan tersenyum ke arah mereka .
"Oh ..., terima kasih", lirih Bu Arimbi.
"Ada apa Mamih dan Papih kompak datang ke sini, biasanya juga sendiri-sendiri",
Kembali Pak Robani dan Bu Arimbi saling pandang, ucapan Robi seolah menampar mereka berdua.
"Kamu bisa bebas Nak, sudah ada bukti baru yang menguatkan kalau kamu tidak bersalah", Bu Arimbi tersenyum.
"Aku bebas?" ulangi Robi.
__ADS_1
"Iya..., kami ke sini untuk menjemput kamu", tatap Pak Robani.
"Yah...kok bebas", keluh Robi.
"Kenapa?, harusnya kamu senang, sudah bisa bebas", Bu Arimbi menatap heran dengan reaksi Robi.
"Aku lagi betah di sini Mih, aku bisa belajar banyak dengan Bang Badrun, dia itu seorang Pengajar di Pondok Mih", ucap Robi.
"Tidak usah di sini, Papih punya tempat yang bagus kalau kamu mau belajar ilmu agama, kamu boleh mondok di sana, kalau di sini, kurang baik, walau belajar kebaikan, tapi kan bukan tempatnya",
Badrun yang sedari tadi duduk dan menyimak obrolan mereka, kini berdiri dan berjalan menghampiri Robi, ia berdiri di sampingnya dan memegang pundak Robi.
"Orang tuamu benar Robi, masih ada tempat yang lebih baik untuk belajar ilmu agama, turuti mereka!, kamu beruntung masih memiliki mereka yang bisa membela dan membebaskan kamu, tidak seperti aku, sekali di tuduh bersalah, ya sudah, salah saja, tidak ada yang membela, tidak ada yang mencari kebenarannya, apa tuduhan itu benar?, atau salah", ucap Badrun.
Robi menatap Badrun. "Aku akan merindukanmu Bang,aku janji aku akan coba mengungkap kembali kasus yang dulu dituduhkan kepada Abang, aku yakin Abang itu orang baik, mereka sudah salah mempenjarakan Abang di sini",
"Tidak usah, yang terpenting itu hati, walau diam di sini, itu lebih baik, dari pada tinggal di tempat yang baik , tapi dikelilingi orang yang berhati jahat", senyum Badrun.
"Pak Polisi, Abang ini tidaj bersalah, tolong ungkap kembali kasusnya, biar tidak seperti saya, salah sasaran", ucap Robi.
"Iya..., sekarang kamu dulu yang bebas, biar bisa membantu Bandrun bebas juga", Pak Rusman membuka gembok dan mengeluarkan Robi.
Robi tampak berpelukan dengan Badrun, "Terima kasih Bang, aku janji Bang akan membantu membebaskan Abang", bisik Robi.
Mereka tampak saling berhadapan, "Oh iya..., hampir lupa, dulu Abang mengajar di mana?", biar saya mudah menyelidikinya",
"Sudahlah ..., itu sudah berlalu, saya juga sudah tidak lagi memikirkannya",
"Tapi Bang..., tolong beritahu...", paksa Robi, ia menatap penuh permohonan kepada Badrun.
"Pondok Al-Furqon, di sana Abang mengajar", senyum Badrun.
'Al-Furqon..., Al-Furqon...., Al-Furqon...., rasanya tidak asing', pikir Robi, ia merasa tidak asing dengan nama itu.
"Ya sudah, aku pamit Bang, sekali lagi terima kasih untuk semuanya, untuk baju ini juga", senyum Robi.
"Assalamu'alaikum Bang",
"Wa'alaikum salam", senyum Badrun, ia menatap kepergian Robi.
__ADS_1
Seandainya Robi ingat, Al-Furqon itu Pondok milik Abah Ilham, Abahnya Aini, ada peristiwa apa di sana?, sehingga Badrun dipenjara, dan siapa pelaku sebenarnya?,