
"Kabur....?, kok kabur?, kenapa harus kabur?", gumam Ilyas, ia yang tidak tahu apa-apa tampak bengong, begitu juga dengan Ronald.
"Kita temui Abah saja, biar Abah tahu", ajak Mang Daman. Mereka kemudian berjalan menuju rumah Abah.
Dari jauh terlihat Abah masih berada di teras depan, ditemani Umi dan Nyimas , Risman pun ada di sana, ia bergelayut pada tangan Nyimas.
"Bagaimana, mana Ustad Fikri?", tanyai Abah begitu Mang Daman, Ilyas dan Ronald sudah berada dihadapannya, Abah tampak sudah tidak sabar.
"Tidak ada Abah, Ustad tidak ada di kobongnya, malah tadi kita terpaksa buka paksa pintunya, pintunya terkunci, takutnya Ustad nekad begitu", senyum Mang Daman.
"Maksudnya... bunuh diri begitu?, ah...Mang Daman ini ada-ada saja, masa Fikri berbuat senekad itu, Abah tahu siapa Fikri, dia itu orangnya kuat", bela Abah.
"Nah..., terus kemana?, kan dari tadi kita di sini mendengarkan ceramahnya, lalu datang empat Polisi tadi membawa Ustad Fadil, kalau Fikri keluar?, ya...lewat sini", jelaskan Umi sambil menunjuk jalan yang ada di depan rumahnya.
"Iya ..juga", Mang Daman dan yang lainnya mengangguk-anggukan kepala pertanda mengerti dengan ucapan Umi.
"Coba cari sekali lagi Mang, suruh juga para santri untuk ikut mencarinya di sekitar Pondok saja, karena kalau ke luar, tidak mungkin", perintah Abah.
"Baik Abah", Mang Daman kemudian kembali ke belakang untuk mencari Ustad Fikri lagi bersama para santri, Ronald dan Ilyas pun ikut, karena mereka juga sedang ingin bertemu dengan Ustad Fikri.
"Aduh...., ada-ada saja, kita minta tolong pada Pak Robani saja untuk mendampingi Ustad Fadil dan Ustad Dzaqi di Kantor Polisi" usul Abah.
"Iya..., kasihan mereka", setujui Umi.
"Abah minta tolong Pak Robani dulu, hanya beliau yang bisa membantu", Abah terlihat berbicara lewat ponselnya.
"Alhamdulillah..., beliau bersedia, Abah jadi malu, dulu kita yang sudah salah sangka kepada Robi, tapi kini malah kita yang banyak merepotkan keluarga Robi", ucap Abah dengan nada lirih.
"Sudah..., jangan diungkit lagi, Umi yakin mereka orang-orang baik, tidak mungkin ada dendam di hati mereka",
"Sudah..., kita masuk dulu ke dalam, Abah harus istirahat, di sini anginnya kencang", Umi mendorong kursi roda Abah menuju ke dalam rumah tanpa menunggu persetujuan Abah, Nyimas dan Risman pun mengikuti.
Di kobong, semua santri rame-rame mencari Ustad Fikri, mereka bahkan ada yang sampai mencari ke kebun belakang, dan ke sungai tempat ditemukannya Robi dulu, namun Ustad Fikri tetap tidak ditemukan.
Semua tampak bingung, harus kemana lagi mencari. Padahal, yang mereka cari kini sedang bersembunyi di bukit, ia sedang menyusun rencana.
__ADS_1
Ya, Ustad Fikri kini sudah berada di tempat Robi dulu, tempat waktu Robi jatuh ke jurang, tepatnya berada di sebelah utara Pondok Al-Furqon.
Fikri bahkan bisa melihat para santri yang sedang sibuk mencarinya dari atas sana.
"Maafkan aku teman-teman, ini terpaksa, aku menyelamatkan diri dari kejaran Polisi, walau harus mengorbankanmu Tiara", gumam Fikri.
"Tapi lihat saja nanti, aku akan kembali lagi ke sini, dengan jalan yang tidak pernah kalian duga", geram Ustad Fikri.
"Ini semua karena kamu Tiara, aku jadi begini karena cintaku padamu, aku jadi menghalalkan segala cara untuk mendapatkanmu, aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbananku ini, kamu dan Pondok ini harus menjadi milikku!", geram Ustad Fikri.
"Bagaimana ada nggak?", teriak Mang Daman kepada para santri yang sudah berada di ujung sungai.
"Tidak ada Mang", jawab santri serentak.
"Sudah....sudah....sudah..., kita balik lagi ke Pondok saja, sini ngumpul dulu", perintah Mang Daman, ia melambaikan tangannya kepada semua santri agar berkumpul ditempatnya berdiri.
"Sebaiknya kita kembali saja, Ustad Fikri orang yang pintar, dia pasti mempunyai alasan yang kuat sampai melakukan semua ini, kalian tahu kan, Ustad Fikri itu senior di sini, bahkan ia adalah calon menantunya Abah, bahkan calon pengganti Abah lagi, kalau Ustad memutuskan untuk pergi, pasti dia mempunyai alasan yang kuat, tidak mungkin dia pergi begitu saja, meninggalkan semuanya", jelaskan Mang Daman.
"Iya..., tapi kenapa ya...?, apa Ustad pergi tanpa pamit untuk menyusul Teh Tiara?", ucap salah seorang santri.
"Semua masuk akal, ya..., tapi tidak tahu mana benar?", ucap Mang Daman, ia mengangkat kedua bahunya.
"Atau jangan-jangan...", ucap Ronald , ia menggantung ucapannya.
"Jangan-jangan apa?, bicara itu yang jelas, jangan bikin penasaran ", Ilyas menyikut lengan Ronald.
"Ini hanya dugaan saya saja, Ustad Fikri pergi apa karena kedatangan Polisi tadi?", tebak Ronald.
Semua kini diam, saling tatap .
"Polisi ?, kenapa juga harus pergi gara-gara mereka?, kalau tidak bersalah kan tidak harus takut", ucap Mang Daman
"Ya sudah !, kita kembali saja ke Pondok, lihat dan periksa semua temannya, apa sudah kumplit?, jangan sampai ada yang hilang lagi, tambah repot nanti", Mang Daman mengedarkan pandangannya ke seluruh santri yang ikut.
"Sudah..., aman Mang, semua sudah komplit", ucap santri hampir bersamaan.
__ADS_1
Mereka akhirnya kembali ke Pondok dengan berbagai pertanyaan dan berbagai dugaan dalam pikirannya masing-masing terkait hilangnya Ustad Fikri dari Pobdok Al-Furqon, Pondok yang sudah membesarkannya dengan ilmu agama.
****
Di Kantor Polisi
Mobil yang membawa Ustad Fadil sudah sampai di Parkiran , mereka semua turun. Ustad Fadil terlihat di giring masuk dengan tangan yang sudah diborgol, dari belakang mengikuti Ustad Dzaqi.
Mereka semua menghadap seorang Pimpinan di sana, ia adalah Pak Rusman.
Pak Rusman tampak menatap lekat Ustad Fadil yang sudah duduk dihadapannya dengan menunduk.
Walau baru beberapa kali bertemu dengan Ustad Fikri, saat mengantar Dery dulu, tapi Pak Rusman tampaknya masih mengenali raut muka Ustad Fikri.
"Apa kaluan tidak salah orang?", tatap Pak Rusman kepada keempat anak buahnya silih berganti.
"Siap , tidak Pak!", ucap Polisi yang berada di belakang Ustad Fadil.
"Anda masih mengenali saya, Ustad Fikri?", tanyai Pak Rusman.
"Fikri..., saya Fadil Pak", ucap Ustad Fadil.
Sontak keempat Polisi yang berdiri di belakang Ustad Fadil, terperanjat kaget, mereka saling tatap .
"Jangan bohong kamu", ucap Pak Rusman lagi.
"Benar Pak, saya ini Fadil, bukan Fikri.
Pak Rusman kembali menatap keempat anak buahnya. "Bagaimana ini?",
"Jadi ini bukan Ustad Fikri?", ucap Polisi yang tadi memborgol Ustad Fadil.
"Iya Pak, dia ini Ustad Fadil", bela Ustad Dzaqi.
"Terus ..., tadi waktu di Masjid, katanya Ustad Fikri yang sedang berceramah, makanya kita langsung menangkapnya tadi",
__ADS_1
"Oh ..., rupanya Ustad Fikri sudah mengetahui kedatangan Bapak-Bapak, hingga ia melambaikan tangan kepada saya, untuk menggantikan dia, dsn setelah Ustad Fikri pergi, saya yang ada di mimbar", ucap Ustad Fadil.