Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Merajut Impian


__ADS_3

Pak Robani hari ini berniat memeriksa keuangan Perusahaan setelah ada laporan dari staf keuangannya, kalau ada beberapa penarikan dalam jumlah besar minggu lalu.


Pak Robani tidak merasa melakukan penarikan atau pun memberikan perintah untuk melakukan penarikan kepada siapa pun.


"Waw...., ini pembiayaan untuk apa?, rasanya ini di luar prosedur, lagi pula ini bertepatan dengan masuknya Robi ke Pondok", Pak Robani meneliti setiap pengeluaran Perusahaan, yang dirasanya ada yang janggal.


"Ini ulah siapa?", Pak Robani menatap layar laptop di depannya.


"Tunggu, apa ini ulah Rena?, hanya dia yang bisa ada akses ke sini", gumam Pak Robani.


"Aku harus mulai awasi dia, jangan sampai dia berbuat seenaknya terhadap keuangan Perusahaan, padahal kurang apa coba, apartement, mobil, gaji besar, sudah ia dapatkan", gerutu Pak Robani.


Dan untuk beberapa minggu mereka tidak bertemu, Pak Robani sibuk mengurusi pembebasan Robi, dan juga mengantar Robi ke Pondok.


Sementara di luar, Rena baru datang, ia datang bersama seorang pemuda gagah. Pemuda itu adalah calon OB yang akan bekerja hari ini, namanya Surya.


Surya ini katanya keponakan Rena, jadi Pak Robani terima dia kerja di Kantornya.


"Nah...ini kantornya, di sini kita biasa saja, jamu OB, dan aku Sekretaris, jangan membuat tindakan yang mencurigakan orang-orang kantor", bisik Rena saat mengantar Surya ke ruangan dapur yang ada di kantor.


"Oke siap, aku ngerti kok", senyum Surya sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Rena.


"Tuh...kan, kamu itu, belum kering juga aku ngomong", Rena melepaskan tangan Surya dari pinggangnya.


"Ya ...maaf, habis kamu gemesin", Surya hampir menyentuh hidung Rena, namun keburu ada OB lain yang masuk.


"Nah ini Toni, kenalkan Surya, OB baru di sini, kamu ajari dia ya", pinta Rena.


"Baik Bu", rengkuh Toni.


Rena segera meninggalkan ruangan itu, ia tidak ingin lama-lama di sana, takut orang Kantor mengendus kebohongannya.


"Mas..., sudah datang?, kirain masih ada urusan keluarga", Rena sedikit terkejut saat melihat Pak Robani sudah berada di ruangannya sepagi itu, biasanya dia datangnya siang.


"Iya..., lagi memeriksa berkas minggu lalu saja, biar saya tidak pelanga pelongo saat meeting nanti, jadi pelajari dulu berkasnya", ugkap Pak Robani, ia melirik sekilas ke arah Rena.


Seperti biasa, Rena selalu terlihat cantik dengan setelan kerja modis berwarna ocean.


"Mungkin ada yang bisa saya bantu?", senyum Rena, ia mendekati Pak Robani.


"Tidak usah!, biar saya cek dulu, sepertinya ada beberapa yang tidak sinkron", ucap Pak Robani, ia bicara tanpa melihat Rena, namun tetap fokus pada layar laptopnya.


"Oh..., ya silahkan", lirih Rena, ia mundur kembali menuju meja kerjanya, ia merasa khawatir kalau Pak Robani bisa mengendus kecurangannya.


"Bisa tamat karier aku di sini, kalau sampai ia tahu", gumam Rena. "Tapi tenang saja, dia tidak akan bisa lepas dari aku begitu saja", lirik Rena kepada Pak Robani.


Rena kembali mengerjakan semua tugasnya, sambil sesekali melihat ke arah Pak Robani.


Tak lama Surya masuk, ia membawa minuman untuk mereka berdua dan menyimpannya di meja masing-masing, setelah itu ia kembali ke luar.


"Itu OB barunya?", Pak Robani menghentikan kegiatannya dan menatap ke arah Rena.


"Iya, dia orangnya", ucap Rena datar.


"Kecakepan dia, kok mau kerja sebagai OB",


"Ya, karena dia itu punya banyak adik, sementara Bapaknya sudah tua dan sering sakit-sakitan, kasihan saja, nggak apa-apa, dianya mau kok", jelas Rena.


"Ya, Oke kalau begitu", ucap Pak Robani datar.


****


Tiara yang baru datang ke Pondok bisa langsung mengenali mobil yang terparkir di depan rumahnya.


"Orang tuanya Robi ke sini lagi", gumam Tiara. Ia segera memarkir sepeda motornya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum", seorang wanita berjilbab menyambutnya.


"Wa'alaikumsalam...", Tiara mematung memperhatikan orang yang ada didepannya.


"I...i...ni...," Tiara menggantung ucapannya.


"Iya...saya ibunya Robi Neng", Bu Arimbi tersenyum.


"Ibu..., ini Ibu...?, Alhamdulillah...Tabarakallah...", Tiara langsung meraih tangan Bu Arimbi dan mengecup punggungnya.


"Ini pasti Gilang ya?", Bu Arimbi menyentuh rambut Gilang.


"Iya...", senyum Tiara.


"Dik...ayo salim sama Ibu, ini ibunya A Robi", beritahu Tiara.


Gilang menurut, ia meraih tangan Bu Arimbi lalu menciumnya, begitu pula kepada Bi Mimi.


"Anak pintar...", senyum Bu Arimbi.


"Ayo ke rumah, kita disana ngobrolnya", ajak Tiara.


Bu Arimbi dan Bi Mimi mengikuti Tiara menuju rumahnya. Mereka kembali duduk di ruang tamu, kini giliran Tiara yang menjamu mereka dengan makanan yang baru dibelinya dari pasar.


"Teteh..., Gilang ke Kobong A Robi dulu, mau ngajarin iqro lagi", teriak Gilang di pintu .


"Iya..., sekalian bawa oleh-olehnya ya", senyum Tiara


"Iya Teh...", Gilang segera pergi menuju Kobong Robi.


"Robi belajar iqro dengan Gilang?", tatap Bu Arimbi.


"Iya Bu, itu kemauan Robi, tapi setiap malam juga, Abah mengajarinya di sini ", senyum Tiara.


Setelah itu mereka membicarakan rencana Bu Arimbi untuk mengajak Tiara ikut dalam proyek barunya, membuat busana muslim .


****


Untuk sementara Dery merasa tenang, dia seolah mendapat tempat yang aman dan nyaman untuk bersembunyi dari kejaran Polisi, untuk mengamankan posisinya, Dery pun membiarkan wajahnya ditumbuhi jambang , ia pun mulai memakai kacamata.


Mereka hidup tenang dengan membuka warung kecil di depan rumahnya, Dery pun membuka usaha tambal ban kecil-kecilan.


Tidak ada yang curiga dengan kehadiran mereka, sehingga Deryvdan Marisa bisa bernafas lega, kini mereka bisa hidup bersama walau dalam keadaan yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan waktu di kota.


Itu hanya sementara, hanya tinggal menunggu waktu saja, karena bagaimana pun menyembunyikan bangkai lama-lama akan tercium juga.


Untuk saat ini warga sekitar tidak ada yang mengenali mereka, karena saat kejadian memalukan itu terjadi, Marisa masih kecil dan dalam pengasuhan Bi Iroh, adik ibunya.


Tetapi hal ini akan lain ceritanya jika keluarga Nyimas masih ada di desa itu. Mereka akan mudah mengenali mereka karena mereka kembali rumah yang sama.


****


Abah mencari keberadaan Ustad Fikri, karena hal penting yang ingin disampaikannya. Abah mendapat telepon dari ibunya Fikri yang kini bekerja sebagai TKW.


Abah langsung menuju kobong Fikri, di luar tampak sepi, hanya terlihat ada tiga sendal di sana, yang menyiratkan bahwa penghuni kobong ada di dalam.


"Assalamu'alaikum", Abah mengucap salam di ambang pintu.


"Wa'alaikumsalam, terdengar jawaban dari dalam, pintu pun terbuka.


Tampak di dalam Ustad Fadil sedang duduk bersila dengan kitab didepannya. Ustad Dzaqi mempersilahkan Abah masuk.


Terlihat Ustad Fikri sedang tidur, kedua temannya tidak sempat membangunkannya.


"Lho kok sedang tidur , Abah kira kalian sedang belajar bersama", Abah melirik ke arah Fadil dan Dzikri.

__ADS_1


"Iya..., awalnya kami mau membahas kitab ini, tapi Fikri bilang, ia sudah menguasainya, jadi hanya kita berdua yang belajar, dia jadinya tidur", cicit Ustad Fadil.


"Ini tadi ada telepon dari ibunya Fikri, nanti beliau akan menelepon lagi, biar Fikri langsung yang menjawabnya", ucap Abah sambil memberikan ponsel kepada Fadil.


"Nanti kalau sudah, kembalikan ponselnya ke Abah",


"Baik Abah",


Sudah ketentuan dari pihak Pondok kalau setiap santri tidak diperbolehkan memegang ponsel, mereka hanya bisa menitipkan nomer ponselnya saja, yang bisa dihubungi oleh pihak keluarga.


Abah meninggalkan kobong Fikri, 'Kamu salah Fikri, bukan begitu sikap pemimpin, bukan begitu seorang pencari ilmu sejati, tidak ada manusia yang sempurna, apalagi kalau merasa diri jumawa dan merasa paling bisa, hal itu yang bisa menghancurkan kita', batin Abah bicara.


Abah agak kecewa dengan sikap Fikri.


"Lama-lama kamu akan terkalahkan oleh Robi", gumam Abah. Dalam hatinya Abah merasa kecewa dan ragu, terhadap Fikri.


Bu Arimbi terlihat keluar dari rumah Abah, dua terlihat senang dengan menggandeng tangan Tiara.


"Semoga kerja sama kita berjalan lancar, dan banyak peminatnya",


"Aamiin...", senyum Tiara.


Mereka bersalaman, dan Bu Arimbi kini memeluk Tiara , hal yang baru pertama ia lakukan kepadanya.


"Abah dan Umi saling tatap, mereka senang dengan kedekatan Tiara dan ibunya Robi itu.


Robi pun tidak kalah senangnya, ia yang sedari tadi berada di teras rumah Abah, bisa melihat kedekatan ibunya dengan Tiara.


"Baik-baik kamu di sini Nak, jangan lupa bawakan Ibu menantu", bisik Bu Arimbi sambil tersenyum.


Robi hanya tersenyum mendengar ucapan ibunya itu.


Setelah pamit, Bu Arimbi dan Bi Mimi memasuki mobil dan segera meninggalkan Pondok.


"Bi, antar saya ke Panti dulu, saya makin yakin ingin mengangkat salah satu anak dari mereka, masa Tiara saja bisa", senyum Bu Arimbi.


"Baik Nyonya", rengkuh Bi Mimi.


Di salah satu Panti mereka berhenti, dan segera memasukinya. Mereka disambut oleh seorang wanita pengasuh panti.


Bu Arimbi langsung mengutarakan maksudnya, dan hal itu membuat bahagia pengaruh panti.


"Coba ibu bisa pilih sendiri, anak mana yang mau ibu bawa pulang", pinta pengasuh panti.


Bu Arimbi mengedarkan pandangan ke seluruh anak yang sedang berada di Mushola.


Ada seorang anak laki-laki yang tampak menarik perhatiannya, ia sedang duduk bersila dengan buku iqro ditangannya.


"Saya mau yang itu", tunjuk Bu Arimbi.


Pengasuh mengikuti arah telunjuk Bu Arimbi, dan memperhatikannya.


"Ah...anak yang itu?, dia Risman, ia anak yang penurut, sebentar saya panggil dulu", pengasuh itu menghampiri Risman dan membawanya ke dekat Bu Arimbi.


"Yang ini?, ini Risman, ayo salam sayang , ibu ini ingin merawat kamu , kamu mau kan?", pengasuh itu berjongkok memegangi pundak Risman.


Risman mengangguk, pertanda ia mau.


Bu Arimbi pun tersenyum, ia merasa senang karena anaknya pun mau ia rawat.


Tidak menunggu lama, Bu Arimbi pun segera melakukan administrasi pengangkatan Risman.


"Alhamdulillah..., semua berjalan lancar, semoga anak ini betah tinggal bersama Ibu",


Bu Arimbi saling bersalaman dengan Pengasuh Panti. Hari itu juga Risman bisa dibawa pulang ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2