
Sebelum pergi ke Rumah Sakit, Robi meminta mamihnya yang menyetir, sementara ia duduk di belakang bersama Umi dan Abah yang masih belum sadarkan diri, ada luka di tangan dan kaki Abah , Robi coba untuk menanganinya dengan peralatan P3K seadanya.
Begitu juga dengan Umi, Robi membersihkan wajah Umi dengan tissue. Bu Arimbi memperhatikan dari spion apa yang dilakukan oleh Robi.
'Siapa mereka?, kok Robi seperti sudah mengenalnya, dan dia begitu khawatir dengan keadaan kedua orang itu', batin Bu Arimbi bicara.
"Kita ke Rumah Sakit mana?", tanyai Bu Arimbi.
"Rumah sakit terdekat saja Mih", ucap Robi sambil terus membersihkan luka yang dialami Abah.
"Allahu...Akbar....", gumam Umi Anisa.
"Alhamdulillah Umi sudah sadar?", Robi cepat menghadap Umi, ia duduk di tengah, di antara Abah dan Umi.
"Minum Umi", Robi meraih air minum kemasan yang selalu tersedia di dalam mobilnya.
Umi perlahan membuka matanya, ia melihat Robi ada disampingnya. "Nak Robi..., mana Abah?", Umi meringgis menahan sakit.
"Abah ada, Umi minum dulu!, kita sedang menuju Rumah Sakit", Robi memberikan Umi minum.
Umi melirik ke arah Abah yang masih belum sadarkan diri.
"Abah....Abah...bangun!", Umi memanggil Abah dengan berkaca-kaca.
"Tenang Umi, sebentar lagi kita sampai ke Rumah Sakit",
"Tiara...", gumam Umi.
"Tiara ikut juga Umi?", Robi terkejut mendengar Umi menyebut nama Tiara.
"Iya, Tiara ikut, dia bersama Gilang, tadi kami berangkat bersama, tapi Tiara mau ke bengkel dulu katanya", terangkan Umi, ia bicara sambil memejamkan mata, namun tangan Umi sedari tadi memegang erat tangan Abah.
Tampak Umi begitu khawatir dengan kondisi Abah
Mobil melaju perlahan, memasuki pekarangan sebuah Rumah Sakit. "Alhamdulillah Umi, kita sampai", Robi segera berlari ke luar memanggil petugas Rumah Sakit untuk membawa dua bed pasien ke mobilnya.
"Cepat tangani Sus , mereka korban kecelakaan", perintah Robi kepada Suster yang sedang berjaga.
"Baik Pak, silahkan Bapak tunggu di luar", senyum seorang Dokter yang baru datang menghampiri.
Robi pun duduk di kursi tunggu. Tak lama Bu Arimbi menghampiri.
"Siapa mereka?, kamu kenal?", Bu Arimbi duduk di samping Robi yang nampak sedang mengecek ponselnya.
"Mereka penolong Robi Mih, nanti Robi ceritakan, sekarang biar mereka ditangani Dokter dulu",
Tiara masih panik, ia masih mencari Rumah Sakit terdekat. Namun ia kini menepi. Tiara merogoh tas selempangnya, ia ambil ponsel, dan terlihat termenung. 'Harus menghubungi siapa?, Ustad Fikri?, tapi nanti dia malah baper lagi, tapi siapa lagi?, ya sudah dia saja',
[Assalamu'alaikum Ustad, tolong amankan seoeda motor Abah di pasar , tadi Abah kecelakaan, sekarang Ara lagi menuju Rumah Sakit terdekat].
Tanpa menunggu jawaban dari Ustad Fikri, Tiara langsung memutus panggilan teleponnya dan kembali memacu sepeda motornya.
"Semoga Abah di bawa ke sini", Tiara menepikan sepeda motornya ke sebuah Rumah Sakit.
Ia cepat memasuki Rumah Sakit dan berjalan menuju resepsionis, di sana ia menanyakan keberadaan Abah dan Uminya.
"Maaf, apa disini ada pasien korban kecelakaan, yang baru masuk?", Tiara menatap petugas resepsionis.
"Sebentar ya, mba, saya cek dulu",
__ADS_1
Resepsionis tampak mengecek buku, "Tidak ada, data terakhir menunjukkan pasien seorang ibu yang mau melahirkan", ucap resepsionis.
"Oh , terima kasih", Tiara dengan kecewa membalikkan badan menuju pintu keluar, namun sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Mba...mba...tunggu!", seorang perawat menghampirinya. "Apa pasien atas nama Bapak Ilham, dan Ibu Anisa yang mba cari?", ucap seorang perawat yang menghampirinya.
"Oh...iya..., itu, mereka adalah Abah dan Umi saya Sus, sekarang mereka dimana?", Tiara tampak senang, ia menyeka air matanya, yang tadi sempat menetes.
"Mereka masih ada di ruang perawatan, tadi seorang Pemuda dan seorang Ibu cantik membawanya ke sini" , senyum perawat.
"Dari sini, mba ambil lorong yang itu, lalu naik tangga ke kanan, di sana ada ruang Camelia nomer 4", jelaskan perawat.
"Oh...iya..., terima kasih", Tiara segera menuntun Gilang menuju ruangan yang di sebutkan perawat itu.
Di sana Bu Arimbi tampak masih duduk, sedangkan Robi sedang menemui Dokter yang menangani pengobatan Abah dan Umi.
"Assalamu'alaikum, maaf...saya keluarga pasien yang sedang dirawat di dalam", Tiara duduk di samping Bu Arimbi yang sedang menatapnya aneh.
"Oh...iya..., duh..kemana lagi itu anak, kok malah menghilang", gumam Bu Arimbi, ia mencari keberadaan Robi.
Bu Arimbi merasa risih duduk bersampingan dengan Tiara yang dianggapnya aneh. Walau ia sering melihat di tv-tv wanita bercadar, tapi baru kali ini ia bertemu dan melihatnya langsung. Bu Arimbi berdiri, dan terlihat menelepon seseorang.
[Halo..., kamu dimana?, kok malah menghilang?],
[Maaf Mih, Robi lagi urus-urus ini dulu, Abah harus ditangani serius, Abah harus menjalani operasi, ada luka dalam katanya],
[Aduh...kok sampai begitunya sih Nak],
[Kalau begitu, Mamih pulang duluan, kamu naik Taxi saja pulangnya],
[Mamih pulang ya],
Sementara Ustad Fikri terlihat sudah mendatangi pasar, di sana Polisi pun sudah bertindak, mereka mengamankan dua sepeda motor yang terlibat kecelakaan, dan salah satu Polisi pun sudah menuju Rumah sakit.
"Maaf, ini harus di buat BAP dulu,nanti kalau semua sudah selesai, baru bisa di ambil ke kantor Polisi, sekarang kedua sepeda motor ini dibawa dulu sebagai bukti", jelas seorang petugas kepada Ustad Fikri.
"Kita susul Tiara ke Rumah Sakit saja", perintah Ustad Fikri, dia dan kedua temannya melaju kembali menuju Rumah Sakit.
"Aduh....sekarang kan aku mau balapan, tapi masih ada waktu satu jam lagi", Robi melirik arloji di tangab kanannya.
Ia bergegas mengurus semua keperluan Abah dan Umi, bahkan ia juga sudah membayar lunas semua biaya untuk perawatan Abah dan Umi.
"Sus, saya titip orang tua saya, saya masih ada urusan, mungkin besok , baru saya ke sini lagi", ucap Robi kepada Suster , setelah ia mentransfer sejumlah uang untuk melunasi perawatan Abah dan Umi.
"Baik Pak",
"Beri perawatan terbaik untuk mereka", pesan Robi kepada perawat.
"Iya...baik Pak", rengkuh perawat .
Robi segera berjalan meninggalkan Rumah Sakit, sebelumnya ia sudah memesan taxi online untuk membawanya pulang.
Robi baru meninggalkan halaman Rumah Sakit saat Ustad Fikri dan temannya sampai. Robi tidak menyadari itu, hanya saja Ustad Fikri sempat melihatnya sekilas.
"Robi....?, ngapain dia ada di sini?", gumam Ustad Fikri. Dalam hatinya berseliweran berbagai pertanyaan untuk Robi.
Namun ia segera masuk ke dalam begitu teringat Tiara dan Gilang juga ada di sana.
'Jangan-jangan, mereka sudah bertemu lagi', batin Ustad Fikri bicara.
__ADS_1
Namun ia merasa lega begitu melihat Tiara ada duduk dengan Gilang.
"Assalamu'alaikum, Abah dan Umi bagaimana?",
"Wa'alaikumsalam, Abah dan Umi masih di dalam, saya juga belum tahu keadaan mereka", terangkan Tiara.
"Semoga saja mereka tidak apa-apa, motor Abah dan motor penabrak sudah di bawa ke kantor Polisi, untuk dijadikan bukti dulu, setelah selesai baru bisa di ambil", jelaskan Ustad Fikri.
"Semoga saja si penabraknya cepat di tangkap, biar dia bisa bertanggung jawab untuk semua ini", Ustad Fikri menatap Tiara yang tampak melamun.
Tiara sedang mengingat, motor si penabrak itu motornya Robi, jadi dia tidak bisa ikut balapan malam ini, "Rasain kamu kena batunya, karena menabrak Abah, kamu jadi tidak bisa ikut balapan", geram Tiara.
Dan Tiara tidak akan memaafkan Robi andai benar Robi yang telah menabrak Abah dan Uminya.
"Huh....sial ...sial..., Gue jadi celaka begini, ini semua gara-gara Robi, kenapa dia pake muncul lagi, bukan mati sekalian", geram Dery, ia terbaring di kursi dengan beberapa luka robek di tangan dan kakinya, tubuhnya pun terasa ringsek akibat kecelakaan itu.
"Terus bagaimana balapan kita malam ini?", Ronald menatap Dery.
"Itu urusan Rahmat dengan Eko, dia yang menerima tantangan Eko, bukan Gue", seringai Dery,
"Lagian mau balapan pake apa?, motornya juga sudah ringsek", kekeh Dery.
"Kemarin kan sudah sepakat, kalau dia menang, bengkel ini akan menjadi milik dia, tapi kalau dia kalah, dia harus angkat kaki dari sini, mana mungkin menang lah, mau balap pake motor bebek?", kekeh Dery kembali.
"Sekarang sudah jelas, Rahmat itu Robi, kita lihat saja nanti, bisa apa dia tanpa Gue", Dery membusungkan dadanya.
"Kalau Marisa bagaimana Bos?", Ronald menatap Dery.
"Biarkan saja dia semaunya, Gue sudah tidak peduli, Gue sudah bosan, Gue sudah punya target baru", senyum Dery.
"Waw..., cepat sekali move on nya Bos, gadis mana yang bisa membuat Bos Dery cepat jatuh hati", Ilyas melirik Dery.
"Tiara...., gadis bercadar itu membuat Gue penasaran, lagi pula Gue melihat Tiara dekat dengan Robi, jadi Gue bisa satu jalan, dua tujuan", seringai Dery.
"Maksudnya gimana Bos?", Joko tampak bingung.
"Gue mau menjadikan Tiara sebagai alat untuk balas dendam pada Robi, Gue ingin Robi menderita karena Tiara, Gue ambil Tiara, maka Robi akan tidak berdaya, Gue melihat ada cinta diantara mereka berdua, dan Gue yang akan menghancurkannya", Dery tersenyum evil.
"Itu ide gila Bos", kekeh Ilyas.
"Jangan sebut Gue Dery kalau tidak bisa berbuat gila", kekeh Dery.
"Gue sudah tahu dari mana Tiara berasal, kuliahnya, adiknya, itu semua akan memudahkan rencana Gue",
"Waw...waw...., rupanya Bos kita ini benar -benar sudah punya jurus jitu, kita tunggu instruksi saja Bos, kami siap membantu", seru Joko.
Di luar, Robi sudah sampai, ia mencari keberadaan sepeda motornya, namun tidak ada.
"Kok sepi, apa mereka semua sudah sampai dii lokasi?", gumam Robi.
Ia memutuskan untuk kembali ke rumahnya, ia masih mempunyai sepeda motor balap andalan.
"Terima kasih Pak", ucap Robi. Ia memberikan sejumlah uang kepada sopir taxi online yang telah mengantarnya.
Dengan tergesa ia mengambil sepeda motornya dari garasi, ia pun sekalian mengenakan perlengkapan untuk balapannya.
Pak Karman pun merasa kaget melihat penampilan Tuan mudanya itu. "Sudah seperti Rosi saja si Aden", senyum Pak Karman.
Robi melesat di jalanan menuju lokasi balapan yang sudah disepakati kemarin, semua ini Robi lakukan untuk mendapatkan bengkelnya kembali dari Dery.
__ADS_1