
Adzan awal sudah berkumandang, semua santri sudah kembali memulai aktifitas pagi, Ustad Fikri pun sudah bangun, ia langsung membuka ponselnya, ada sebuah pesan masuk dari Aleks.
"Apa ini?, apa benar mereka sudah melakukannya?", gumam Ustad Fikri.
Ia lalu membalas chat tersebut ,[ mana sekarang orangnya?], lama tidak ada jawaban.
Ustad Fikri lalu beranjak ke luar kobong, ia ingin memastikan sendiri, apa benar Nyimas sudah ada bersama Aleks dan Joko. Ustad Fikri bisa melihat kalau rumah Abah kini dalam keadaan gelap.
"Wah..., apa iya mereka sudah ke sana semalam?", gumam Ustad Fikri. Ia berjalan menuju rumah Abah karena penasaran.
"Ustad Fikri mau kemana?", Mang Daman yang hendak ke Masjid menyapanya.
"Ah...Mang Daman, itu Mang mau melihat Rumah Abah, kok kelihatan gelap begitu, apa mati lampu?,atau bagaimana, kan di sini lampu masih menyala", jelas Ustad Fikri.
Mang Daman terlihat memandang ke arah rumah Abah. "Ah iya benar, tidak biasanya lampu mati, apalagi kini sudah waktunya shalat shubuh, kita cek ke sana saja, takutnya ada sesuatu, apalagi Abah dan Umi sedang tidak ada di rumah kan", ajak Mang Daman.
Mang Daman dan Ustad Fikri berjalan bersama menuju rumah Abah, suasana di Masjid sudah ramai, para santri sudah mulai berdatangan.
"Astaghfirullah, kok ini pintunya terbuka begini Ustad", Mang Daman memburu ke arah pintu rumah Abah.
"Ah...iya...", Ustad Fikri pun menghampiri, "Kita masuk saja ke dalam Mang, tapi sebentar, kita nyalakan dulu lampunya", Ustad Fikri beranjak ke arah saklar listrik dan menyalakannya.
Dan lampu pun menyala. Mang Daman dan Ustad Fikri segera masuk ke dalam. "Astaghfirullah...Neng Tiara?, ini kenapa ada di sini?", Mang Daman menghampiri seorang bercadar yang masih menyandar di samping meja hias yang ada di ruang tamu, Mang Daman mengira itu adalah Tiara, begitu pun Ustad Fikri.
"Tiara...", teriak Ustad Fikri, ia menghampirinya. Namun betapa kagetnya, saat ia melihat orang yang ada didepannya bukanlah Tiara, tetapi Nyimas yang baru saja sadar.
"Ah...ini bukan Tiara Mang, ini Nyimas", teriak Ustad Fikri, ia sedikit panik, ia langsung menuju ruangan lain di rumah Abah untuk mencari keberadaan Tiara.
Ustad Fikri memasuki semua ruangan yang ada di rumah Abah, bahkan ia sampai membuka pintu belakang, siapa tahu Tiara ada di sana juga, namun nihil. Tiara tidak ia temukan dimana pun.
"Aduh...Mang, Tiara tidak ada dimana pun", teriak Ustad Fikri terlihat panik, ia kembali menghampiri Mang Daman yang sedang membantu Nyimas menemukan kesadarannya kembali.
"Tiara dibawa oleh orang itu", jelas Nyimas.
"Apa?", teriak Ustad Fikri dan Mang Daman hampir bersamaan.
"Sebenarnya apa yang terjadi Nyimas?", tatap Ustad Fikri.
__ADS_1
Mang Daman membawa Tiara duduk agar merasa lebih tenang, diikuti oleh Ustad Fikri.
Setelah memberinya minum, Ustad Fikri kembali bertanya soal Tiara.
"Semalam ada dua orang masuk ke rumah ini, mereka membawa Tiara, saya mau menolongnya, namun keburu tak sadarkan diri, kepala saya tiba-tiba pusing sekali", jelaskan Nyimas, ia bicara sambil terisak.
"Ah...sial...., pasti mereka salah", gumam Ustad Fikri. Ia langsung menduga kalau yang membawa Tiara itu adalah Aleks dan Joko, orang suruhannya.
"Mereka siapa Ustad?", tatap Mang Daman.
"Ah...tidak...itu Mang...pasti mereka penjahatnya yang telah menculik Tiara", alasan Ustad Fikri, ia pun merasa kaget , 'Pasti Tiara yang kini bersama Aleks dan Joko', pikir Ustad Fikri.
"Mang saya pergi dulu, semoga mereka belum jauh", Ustad Fikri langsung pergi berniat menyusul Tiara. Walau adzan shubuh sudah berkumandang, Fikri tidak mengindahkannya, ia langsung mengambil sepeda motornya dan melajukannya cepat menuju jalanan.
"Kok bisa kalian salah, awas saja kalau sampai Tiara kenapa-kenapa, kalian berdua akan berurusan dengan aku", geram Fikri.
Di jalan Fikri bingung sendiri, kemana ia harus pergi, Fikri lalu menepi dan merogoh ponselnya, ia mendial nomer Aleks.
[Bagaimana Ustad, sudah ditransfer?], terdengar suara Aleks begitu tersambung dengan Fikri.
[Kalian dimana?, bawa balik orang yang tadi kalian culik?], Ustad Fikri setengah berteriak memerintah Aleks.
[Beres apaan hah...?, kalian itu salah orang, cepat bawa kembali ke sini, aku tunggu kalian", jelas Ustad Fikri.
"Tapi...tapi....", Aleks sedikit terbata, yang kita bawa itu Nyimas, di rumah itu cuma ada satu orang, mana mungkin salah?", jelas Aleks.
"Kamu lihat wajahnya tidak?", bentak Fikri.
"Ah...kita tidak sempat melihatnya, tadi lampunya mati",
"Ada apa?", Joko bertanya kepada Aleks yang sudah terlihat panik.
Aleks tidak merespon pertanyaan Joko, ia terus bicara dengan Ustad Fikri dengan wajah yang sudah pucat pasi, ia mengenal Tiara, sewaktu masih sering ke bengkel dulu.
[Kalian dimana?, cepat bawa kembali dia ke sini!!] kembali Ustad Fikri membentak.
[Tapi..., dia sudah berpindah ke dalam mobil lain], jelas Aleks.
__ADS_1
[Apa...?, kenapa...?, kalian sudah apakan dia hah?], Fikri kini bicara dengan nada keras , jelas sekali ia kini sedang marah.
[Kalian cari dia sampai ketemu, dan bawa kembali, kalau tidak, kalian yang akan aku kejar, mengerti!!], Ustad Fikri kini benar-benar marah, suaranya bergetar.
[I...iya..., kita cari dia lagi dan akan membawanya kembali], ucap Aleks.
"Hai..., kamu ngomong sama siapa?", tatap Joko yang sedari tadi menyimak pembicaraan Aleks.
Aleks memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaket. Ia menghampiri Joko.
"Celaka ...!!, kita salah orang" , Aleks terlihat panik.
"Salah orang gimana?", tatap Joko.
"Yang kita bawa itu bukan Nyimas, tapi Tiara, barusan Ustad marah dan menyuruh kita untuk membawanya kembali, bagaimana ini?, kasihan juga Tiara, mana kita menaruhnya di mobil boks itu lagi", keluh Aleks.
"Apa kamu bilang?, Tiara yang kita bawa tadi?, bagaimana ini?, kasihan Tiara", ucap Joko juga, walau hanya beberapa kali bertemu di bengkel, tapi Joko tahu kalau Tiara itu orangnya baik.
"Ayo cepat !!, kita susul mobil boks tadi, sebelum sampai ke Pelabuhan", ajak Aleks, ia mendahului Joko memasuki mobil yang direntalnya.
Mereka kini sudah berada di dalam mobil, Joko segera menghidupkan mobil dan melajukannya cepat, agar bisa menyusul mobil boks tadi.
Kepanikan pun segera melanda Pondok Al-Furqon, kabar hilangnya Tiara sudah menyebar, hal ini membuat seluruh santri panik, mereka bingung harus bagaimana, apalagi Abah dan Umi masih di Rumah Sakit.
"Ah...iya, kita hubungi saja Nak Robi, pasti dia bisa membantu kita", usul Mang Daman. Ia meminjam ponselnya Ustad Fadil untuk menghubungi Robi.
Robi yang masih berada di Masjid dekat rumahnya tidak mengetahui kalau ponselnya yang ia tinggal di kamar sedari tadi berdering.
Baru saat ia memasuki kamarnya, Robi melihat ada banyak panggilan masuk baru saja.
"Ustad Fadil?, ada apa pagi-pagi begini", gumam Robi, ia duduk di sofa yang ada dikamarnya.
[Iya ... Assalamu'alaikum...], Robi menjawab panggilan masuk dari Ustad Fadil.
[Wa'alaikumsalam..., Den Robi....tolong Den, ini Mang Daman], ucap Mang Daman.
[Iya Mang, ada apa?],
__ADS_1
[Anu...euh...itu....itu ..Den, Neng tiara ada yang menculik tadi subuh], beritahu Mang Daman.
[Apa ...?, Tiara diculik ???