Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Akulah Robi


__ADS_3

"Ya Allah Abah, Umi, semoga kalian cepat sadar", Tiara berdiri memegangi kaca pembatas, ia hanya bisa melihat kedua orang tuanya dari sana, tanpa bisa menyentuhnya.


"Siapa yang membawa Abah dan Umi ke sini?", Ustad Fikri melirik Tiara.


"Tidak tahu, saya tidak bertemu dengan orangnya, tadi panik , jadi belum sempat bertanya",


"Tapi..., tadi ada seorang ibu duduk di sini, apa dia yang telah menolong Abah dan Umi?, tapi kata petugas parkir di Pasar tadi, penolongnya seorang Pemuda",


"Pemuda?", Ustad Fikri menerawang. 'Jangan-jangan, pemuda itu Robi?, tadi aku sempat melihatnya ', pikir Ustad Fikri.


Malam itu Tiara menunggui di Rumah Sakit, Gilang di bawa pulang oleh Ustad Fadil. Sementara Ustad Fikri menemani Tiara.


"Dengan keluarga pasien?", seorang Dokter mendekati Tiara dan Ustad Fikri.


"Iya..., saya anaknya Dok", Tiara berdiri.


"Oh..., saya kira Pemuda yang tadi anaknya, soalnya ia yang telah membawa pasien ke sini, dan dia juga yang telah melunasi semua biaya perawatan pasien", jelas Dokter.


"Ini..., Nona tinggal tanda tangan saja, tadi orangnya buru-buru pergi, saya juga belum sempat bertanya namanya", Perawat yang berdiri di samping Dokter memberikan sebuah berkas kepada Tiara.


Tiara menerimanya, ia sempatkan membacanya sebentar, dan betapa kagetnya saat Tiara melihat nominal rupiah yang tertera di sana, jumlahnya delapan puluh lima juta dan sudah di bayar lunas.


"Boleh besok saja, saya tanda tangannya?, saya mau bicara dulu dengan orang yang sudah membayarkan ini", Tiara menatap Dokter dan Perawat di depannya.


"Tidak bisa Nona, ini semua harus beres sekarang, karena malam ini Abah harus segera di operasi, ada pendarahan di dalam", ucap Perawat.


"Tanda tangan saja Nona, sepertinya pemuda itu orang baik, dia terlihat sangat mengkhawatirkan orang tua Nona", senyum Perawat.


Tiara pun akhirnya tanda tangab juga, karena ia khawatir dengan Abah.' Semoga Allah mempertemukan aku dengan pemuda baik hati tadi', pikir Tiara.


"Lalu bagaimana dengan Umi saya Dokter?", Tiara kembali bertanya sambil menyerahkan berkas yang sudah ia tandatangani.


"Umi sudah stabil, sekarang ia sedang beristirahat", senyum Dokter, anda boleh menemui Umi, tapi jangan diajak banyak bicara dulu", pinta Dokter.


"Oh...baik Dokter, terima kasih", senyum Tiara.


Ia melihat Abah dipindahkan ke ruang observasi, sebagai persiapan untuk dilakukan operasi.

__ADS_1


Tiara menatapnya nanar, perasaannya sungguh sangat sakit , ia menyaksikan kedua orang yang sangat ia sayangi terbujur, tidak berdaya.


'Ini baru sakit, bagaimana kalau sampai hal buruk terjadi', pikir Tiara , ia tidak bisa membayangkan perasaannya nanti.


"Saya ke kamar Umi dulu", pamit Tiara, ia meninggalkan Ustad Fikri sendiri di luar.


'Bagaimana kalau orang yang menolong Abah dan Umi itu benar Robi, ini bisa mempengaruhi Tiara', pikir Ustad Fikri.


"Umi....", Tiara menatap Umi Anisa, perasaannya sangat sedih melihat Umi tergolek lemah, padahal siang tadi Umi terlihat sangat senang begitu Abah mengajaknya jalan-jalan, karena hal itu jarang mereka lakukan, hampir semua waktunya mereka abdikan di Pondok dan di Madrasah bersama anak-anak santrinya.


Tiara duduk di kursi di samping tempat tidur Umi, ia raih tangan Umi, dan menyentuhnya.


"Umi...., cepat sadar, cepat sehat kembali Umi, Ara masih ingin bersama Umi, masih banyak hal yang belum Tiara lakukan kepada Umi, Tiara belum bisa berbakti kepada Abah dan Umi, tolong beri kesempatan kepada Tiara untuk bisa membahagiakan Umi dan Abah", Tiara mencium tangan Umi dan merebahkan kepala di samping Umi dengan posisi masih duduk di kursi.


Perlahan Umi membuka matanya, ia merasa ada beban berat di samping kanannya, Umi meliriknya, dan melihat Tiara tertidur di sana.


Perlahan Umi menarik tangan kanannya dari dekapan Tiara, Umi belai lembut kepala putrinya itu dengan penuh kasih sayang.


"Kamu pasti akan senang kalau tahu siapa orang yang sudah menolong dan membawa Umi dan Abah ke sini", senyum Umi.


Umi bisa melihat kalau Tiara tidak suka saat Abah mengutarakan maksudnya untuk menjodohkan Tiara dengan Ustad Fikri.


Umi juga bisa membaca kalau putrinya itu lebih menyukai Robi, orang asing yang ditemukan terluka di sekitar Pondok.


Namun sebagai istri, Umi juga tidak bisa menentang keputusan Abah, Umi hanya berdo'a agar Tiara diberikan jodoh terbaik menurut-Nya, bukan terbaik menurut Abah.


"Umi bisa melihat, Robi itu laki-laki yang baik, hanya saja ia belum tahu kaidahnya saja", gumam Umi. Ia terus mengelus kepala Tiara.


"Bos..., jadi bagaimana ini?, apa kita diam di sini saja?, kita tidak datang ke arena balapan?", Joko menatap Dery.


"Kalian saja yang ke sana, badan Gue masih sakit-sakit nih, kalian lihat, apa Robi datang tidak?",


"Gue harap sih dia tidak datang, biar Gue bisa tendang dia sekalian dari sini", geram Dery.


"Kalau dia menang gimana Bos?, dia dong yang akan menjadi pemilik bengkel ini", Ronald menatap Dery.


"Makanya...itu tugas kalian, jangan biarkan Robi menang!, bagaimana pun caranya, Robi harus gagal, kalau bisa jangan biarkan dia datang ke arena balapan itu", tegas Dery.

__ADS_1


Sejenak semua diam.


"Sudah...!, sana pergi !, kok malah bengong!", bentak Dery.


Serentak Ronald dan ketiga temannya bangkit dari duduknya, mereka mulai bersiap untuk pergi ke arena balapan.


Tak selang beberapa lama, mereka sudah melaju di jalanan,raungan deru mesin sepeda motor saling bersahutan.


"Tamat riwayatmu Robi, kamu mau balapan pakai apa?, motormu pasti sudah di rusak warga", seringai Dery.


Keempat teman Dery sudah sampai di arena balapan, mereka disambut oleh Eko dan temannya.


"Kirain kalian nggak bakal datang", cibir Eko.


"Mana Bos kalian?, Kok cuma anak bawangnya saja?, kalau begini mana bisa menang?, ternyata Bos kalian cemen", kekeh Eko.


"Jangan banyak bicara, kita belum mulai, jangan sombong dulu", sambar Ronald.


Ronal mencoba mengedarkan pandangan ke seluruh pembalap yang mau ikut serta, ia mencari keberadaan Robi, tapi Robi tidak nampak.


Sampai balapan sudah mau di mulai pun, Robi belum datang, lintasan Robi masih kosong.


Namun saat beberapa detik lagi balapan mau dimulai, Robi datang, ia menempati lintasannya, kehadirannya tidak diketahui oleh pembalap lainnya.


Raungan deru mesin kendaraan bermotor pun terdengar keras, balapan sudah di mulai, Ronald dan ketiga temannya tidak menyadari dengan kehadiran Robi, hingga menjelang putaran terakhir, Robi melesat dan bisa menyusul beberapa pembalap di depannya.


"Gawat, siapa dia?", Ronald bicara dengan ketiga temannya lewat earphone .


"Gue tidak tahu", kompak ketiga temannya..


Dan sampai putaran terakhir menuju Finish, Robi masih memimpin. Semua pembalap berusaha menyusulnya, namun Robi terlihat tangguh, ia berhasil finish.


"Siapa dia?, siapa dia?", tapi dia kayaknya di kubu kita", ucap Ilyas.


Dan mereka tampak tercengang begitu Robi membuka helmnya. Ia tampil sebagai Robi, bukan sebagai Rahmat.


"Akulah Robi, orang yang kalian celakai, dan kini aku telah kembali untuk menuntut kalian semua", tegas Robi, ia kembali memacu sepeda motornya meninggalkan arena balapan.

__ADS_1


__ADS_2