
"Tiara, aku mencintaimu karena Allah", kalimat itu kembali bergema di telinga Tiara.
Tiara menunduk dengan perasaan yang tidak menentu, ia senang sekalian sedih. Tiara senang, karena memang dirinya pun mempunyai perasaan yang sama kepada Robi.
Tiara juga sedih karena kini semua yang ada diantara mereka sudah tidak mungkin diwujudkan untuk bisa bersama, sudah ada Fikri yang ada dalam kehidupan Tiara.
Tiara tidak mungkin menolaknya, karena ia ti ingin menjadi anak yang menyebabkan Abah mengingkari janjinya kepada Fikri.
Robi menatap Tiara yang masih menunduk. "Tidak usah dijawab, aku hanya ingin kamu tahu saja, biar hati ini lega, walau tidak mungkin berbalas, tidak apa-apa",
"Dan aku harap pernyataanku ini tidak menjadikanmu bimbang dan bingung untuk bersikap",
"Maafkan aku Tiara, aku sudah lancang mengungkapkan rasa ini, padahal aku tahu, kamu sudah menjadi calon istri dari Ustad Fikri", Robi kembali menatap Tiara.
" Aku masih diberikan kesempatan untuk hidup, aku bisa selamat dari kecelakaan kemarin, dan aku juga masih bisa sadar kembali dari koma, itu adalah sebuah anugerah dari Allah SWT, dan kalau aku meminta lebih banyak dan berharap lebih tinggi lagi untuk bisa menjadi pendamping untukmu, itu sebuah hal serakah bagi aku",
"Allah sudah memberikan aku anugerah terbesar dalam hidupku, yaitu cahaya iman, hingga aku bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik, itu sudah cukup, aku malu bila harus memintamu juga, sementara masih ada orang yang lebih baik dari aku untuk menjadi pendampingmu, untuk menjadi imammu",
"Hah...., dunia ini luas, di luar sana masih ada banyak jalan yang bisa mengantarku menemukan tulang rusukku", senyum Robi.
"Aku seperti menemukan hidup baru, banyak peristiwa yang memberikan aku pelajaran berharga, walau tidak selamanya itu membuat aku bahagia, tetapi setidaknya semua peristiwa itu menuntunku untuk bisa mendekati sempurna",
Robi kembali melirik Tiara yang masih saja menunduk, Tiara seperti sedang mencerna setiap kata yang diucapkan Robi.
"Kamu marah Tiara?, kok hanya diam saja",
"Tidak, aku tidak marah, tidak ada alasan aku untuk marah padamu, atau pada siapa pun, ini semua jalan kehidupan yang harus aku tempuh, aku hanya yakin, kalau apa pun yang akan aku jalani, itu yang terbaik untukku menurut-Nya, termasuk tentang Ustad Fikri",
"Sudahlah jangan dibahas lagi, anggap saja kamu tidak tahu apa-apa tentang perasaanku, kamu jangan goyah, ikuti saja kata hatimu", senyum Fikri.
'Kalau kata hatiku aku lebih memilihmu daripada Ustad Fikri?, apa kamu akan memperjuangkanku?', batinTiara berkata, ia melirik ke arah Robi yang tampak sedang memejamkan matanya kembali.
__ADS_1
suasana kembali hening, Tiara membiarkan Robi, kali ini Tiara tidak sekhawatir kemarin saat Robi masih belum sadar, ia tahu kali ini Robi hanya sedang tidur, dan akan kembali bangun dengan sendirinya.
Sementara Bu Arimbi dan Badrun sudah sampai di Pondok. Bu Arimbi memesan beberapa bungkus kupat tahu , untuk di bawa ke Rumah Sakit, dan juga untuk diberikan kepada keluarga Abah.
"Terima kasih Mang", Bu Arimbi menerima pesanannya dan memberikan sejumlah uang untuk pembayarannya.
[ Iya Pih..., Mamih lagi membeli pesanan Robi, sebentar lagi kembali ke Rumah Sakit], tampak Bu Arimbi sedang bicara lewat ponselnya.
"Pak ,tolong ini berikan kepada Abah", perintah Bu Arimbi kepada Badrun, sementara ia kembali melanjutkan obrolannya dengan Pak Robani.
"Baik Bu", Badrun segera menuju Pondok. Ia sudah mengetahui rumah Abah, jadi kini ia bisa dengan cepat melakukan tugasnya.
"Assalamu'alaikum", Badrun mengucapkan salam. Ia menunggu di depan pintu. Dan kali ini yang membuka pintu adalah Umi Anisa.
"Wa'alaikumsalam", Umi menatap Badrun, ia seperti sedang mengingat sesuatu, kalau Abah nampak biasa saat bertemu dengannya, tetapi Umi berbeda, ia seperti sedang mengingat sesuatu, dan akhirnya Umi pun mengeluarkan kata yang tidak di duga sama sekali oleh Badrun.
"Badrun....????, ini Badrun kan?, Umi tidak akan lupa, ini benar Badrun, coba....sini...", Umi menarik pergelangan Badrun, dan ia menyingkap lengan kemeja kanan Badrun.
"Ya...Allah...ini benar kamu, Badrun?, kamu sudah bebas Nak", Umi memeluk Badrun.
"Umi..., sudah Umi..., kalau Abah sampai tahu, saya dalam masalah", lirih Badrun.
Wajar saja Umi bersikap begitu, karena Badrun dulu pernah ia rawat sebelum Umi mengandung Tiara.
Umi dan Abah lama tidak dikaruniai keturunan, oleh karenanya mereka mengangkat anak , yaitu Badrun.
Abah sempat menolak, tapi karena Umi terus mendesak, Abag akhirnya menyetujui juga, dan atas izin Allah SWT, beberapa bulan setelah mengasuh Badrun, Umi akhirnya mengandung Tiara.
Makanya tidak aneh, jika Umi langsung bisa mengenali Badrun, walau sudah lama berpisah dan penampilan Badrun pun sudah berubah. Naluri seorang Ibu mengalahkan segalanya.
"Badrun..., anakku...", Umi melepaskan pelukannya pada Badrun. "Kapan kamu bebas?, kenapa tidak memberitahu Umi?",
__ADS_1
"Panjang ceritanuya Umi, sudah..., nanti biar saya yang datang ke Abah dan Umi, saat ini saya sedang buru-buru, saya menjadi sopirnya Bu Arimbi Umi", beritahu Badrun.
"Hanya Umi yang mengenali saya", Badrun terlihat berkaca-kaca menatap Umi, wanita yang telah membesarkannya dengan penuh cinta, walau ia bukan darah dagingnya.
"Ini ada titipan dari Bu Arimbi, saya akan kembali ke Rumah Sakit, Alhamdulillah Robi sudah sadar Umi",
"Alhamdulillah..., Umi ikut senang",
"Ada siapa Umi?, kok ngobrol di luar, tidak di ajak masuk sekalian?" tiba-tiba saja Abah datang dari arah dalam.
"Euh...., ini Abah, ada kiriman dari Bu Arimbi, dan katanya Nak Robi juga sudah sadar", Umi melirik Abah, hatinya langsung dag dig dug, takut Abah berbuat kasar kepada Badrun.
"Oh..., terima kasih , pagi-pagi sudah dapat kiriman", Abah menatap Badrun. Namun tetap saja Abah belum mengenali Badrun.
Hal itu membuat hati Umi tenang untuk saat ini.
"Ini saya taruh di dalam saja ya Umi?, saya harus segera kembali ke Rumah Sakit", rengkuh Badrun. "Oh...iya..., simpan saja di meja Nak", senyum Umi.
Badrun masuk dan menaruh bungkusan yang dibawanya di atas meja.
"Mari Abah..., Umi....Assalamu'alsikum" , pamit Badrun. Ia segera meninggalkan Abah dan Umi.
"Umi..., apa Umi melihat sesuatu dari anak itu?", tatap Abah.
"Siapa?", Umi pura-pura tidak tahu arah pembicaraan Abah yang ditujukan kepada Badrun.
"Badar...", ucap Abah.
"Badar...?", tatap Umi.
"Iya..., orang yang tadi itu Badar kan?, sopirnya Bu Arimbi",
__ADS_1
" Euh...., oh...iya Badar, memangnya kenapa Abah dengan Badar?",
"Lama-lama Abah sepertinya tidak asing dengan wajah anak itu, tapi di ingat-ingat pun tetap tidak ingat, siapa dia?, di mana Abah pernah melihatnya?", Abah menerawang.