Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Bucinkah?


__ADS_3

Karena tidak berani mengajak Tiara untuk shalat berjama'ah, Robi memutuskan untuk shalat di Masjid yang ada di dekat Hotel.


Ternyata saat Robi keluar dari kamar hotelnya, Tiara pun sama, ia sedang menutup pintu kamar hotelnya juga.


Robi langsung tersenyum melihatnya. "Alhamdulillah..., ternyata satu hati juga", guman Robi, ia merasa senang .


Tiara terpaku dihadapan pintu saat dilihatnya Robi sedang menatapnya dengan tersenyum manis.


"Ayo kita pergi", senyum Robi.


"Kemana?, main ajak saja",


"Ke Masjid kan?, kita shalat berjama'ah di sana, sudah lama, rasanya kangen suasana di Pondok", ucap Robi.


"Aku apalagi, kangen sama semua, Abah, Umi, anak-anak santri", ucap Tiara.


"Ustad Fikri apalagi, iya kan?", sambar Robi.


"Iihh...kepo...", Tiara mencebikkan bibirnya.


"Kenapa?, benar kan yang aku bilang?",


"Sudah ah..., kamu itu suka ngawur, lama-lama tambah ngelantur.


"Ayo cepat sana !, nanti telat", ucap Tiara, ia tidak berani berjalan lebih dulu.


Robi tersenyum, entah kenapa Robi selalu senang menggoda dan membuat Tiara kesal. Mereka berjalan beriringan menuju Masjid.


"Kalau sudah selesai , tunggu aku di sini lagi, jangan kemana-mana sebelum aku datang!", perintah Robi sebelum memasuki Masjid.


"Iya...", senyum Tiara, hatinya merasa senang, ia merasa Robi begitu perhatian padanya.


Dan ternyata, Robi yang lebih dulu keluar dari Masjid , itu sengaja Robi lakukan karena ia merasa khawatir Tiara menunggunya lama.


"Lho kok kamu sudah ada di sini lagi?", Tiara menatap Robi .


"Kan sengaja..., aku yang jagain kamu", senyum Robi.


" Selalu saja seperti itu, aku sudah bosan mendengarnya, kamu biasa saja, jangan berlebihan seperti itu, nanti kamu kecewa", senyum Tiara.

__ADS_1


"Tidak apa, aku hanya sedang menjalankan tugasku saja, menjaga dan melindungi kamu sampai kembali pulang", jelaskan Robi.


"Sudah, kita kembali saja ke kamar ", Tiara berdiri, menunggu Robi berjalan lebih dulu.


"Baik, jangan jauh-jauh dari aku, aku ada didepanmu, jadi tidak bisa terus mengawasimu, berjalanlah hati-hati !, biar tidak tersandung oleh rokmu ", perintah Robi begitu ia berjalan , dan Tiara mengikutinya dari belakang.


'Kamu memang pria unik Robi, kamu selalu bersikap lembut kepada wanita, tetapi kamu bisa garang, bahkan sadis pada rival-rivalmu', batin Tiara bicara , begitu ia mulai mengikuti langkah kaki Robi.


Tampak sesekali Robi menengok kearahnya sambil melayangkan senyuman, hingga Robi hampir bertabrakan dengan orang yang ada didepannya.


"Tuh..., kamu yang mestinya hati-hati", senyum Tiara.


"Ah...iya, ...., andai saja kamu bisa berjalan didepanku, mungkin itu akan mempermudah aku untuk menjaga dan mengawasimu", ucap Robi .


"Kalau aku yang berjalan di depan, apa bisa kamu menjaga pandanganmu dari aku?",


"Itulah sebabnya aku mengajakmu menikah, biar kamu halal untuk di pandang, itu akan memudahkanku mengawasimu Tiara",


"Sudah...jangan ungkit masalah konyol itu lagi, berdo'a saja semoga secepatnya kita bisa pulang, jadi kamu tidak akan repot lagi, sana cepat berjalan !, nanti keburu malam", ingatkan Tiara.


"Iya...ayo, aku juga sudah lelah, di sini anginnya kencang sekali, badan jadi cepat cape, tidak enak begini rasanya?", ucap Robi, sambil kembali berjalan di depan Tiara.


"Iya..., terima kasih, ternyata kamu perhatian juga", senyum Robi.


"Biasa saja, kalau kamu kenapa-kenapa, aku juga kan yang repot", ucap Tiara. Hanya kamu yang aku kenal di sini, jadi maaf juga jika aku selalu merepotkan kamu, apa-apa kamu lagi , kamu lagi",


"Sudah jangan bicara terus, nanti tersandung", ingatkan Robi.


"Iya...", ucap Tiara pelan.


Sesampainya di depan kamar , ada petugas yang sudah menunggu, ia yang mengantarkan makan malam.


Dengan sigap Robi mengambil makanan yang dibawa Petugas tadi. "Terima kasih, nanti kalau ada apa-apa untuk kamar yang ini, lewat saya dulu ya?", jelas Robi.


Petugas hotel tampak bingung, ia tidak begitu mengerti maksud dari ucapan Robi barusan.


"Begini..., pokoknya kalau ada urusan dengan kamar yang ini, harus lewat saya dulu, atau semua kiriman ke kamar itu, satukan saja dengan kamar saya yang ini", Robi menunjuk bergantian kamar Tiara dan kamar miliknya.


"Oh...baik, saya mengerti Tuan", rengkuh Petugas hotel, setelah itu baru ia meninggalkan Robi dan Tiara.

__ADS_1


"Kenapa sih kamu tambah aneh saja, biasanya juga langsung kan, tanpa harus ada ijin dari kamu dulu, ada-ada saja", Tiara menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ini buat jaga-jaga saja Tiara, takutnya ada orang yang punya niat jahat sama kamu, lalu pura-pura mengirim sesuatu untuk mencelakai kamu bagaimana?, nanti aku juga yang disalahkan, jadi ya harus lebih hati-hati", alasan Robi.


"Eemm...begitu ya, aku jadi makin nggak enak saja sama kamu, sepertinya aku ini jadi beban buat kamu", Tiara menunduk.


"Nggak Tiara, aku senang kok melakukannya, kamu tenang saja", senyum Robi.


"Eemm..., aku tahu, kamu mekakukan ini karena berharap banyak sama aku kan?", tebak Tiara.


"Maksudnya ?", Robi kembali menatap Tiara, ia pura-pura tidak tahu maksud ucapan Tiara barusan. Padahal hatinya kini berdebar, ucapan Tiara tepat mengenai hatinya.


Memang benar, Robi berbuat baik, dan selalu perhatian sama Tiara karena ia berharap Tiara membalas rasa sukanya, tapi minimal Tiara tahu kalau Robi menaruh hati padanya, itu sudah dirasa cukup bagi Robi.


"Ini..., ini..., hanya bentuk ikhtiar dari aku saja, ini bentuk ungkapan rasa sayang aku ke kamu, dan semoga dengan ini, Allah SWT memudahkan usaha aku untuk mendapatkanmu Tiara, tapi tenang saja, aku tidak akan menagihnya ke kamu kok, aku juga tahu diri, kamu ini siapa",


"Kamu ini kan calon istrinya Pak Ustad, yang harus aku jaga sampai kembali pulang ke rumah", ucap Robi panjang lebar.


"Semoga saja masih ada stok wanita seperti kamu untuk aku", senyum Robi.


"Iihh..., bilangnya stok, kaya makanan saja, jelek sekali sih", Tiara cemberut sambil menahan tawa, walau itu hanya ia yang tahu, karena Robi tentu saja tidak bisa melihatnya, karena tertutup niqob yang dipakai Tiara.


"Guukkkk...gguukk....", terdengar suara perut Robi yang tampaknya sudah berdemo ingin diisi.


"Tuh dengar..., jangan bicara terus, cepat masuk, kita makan", ajak Tiara, ia kini yang melangkah lebih dulu menuju kamarnya, diikuti oleh Robi.


"Sudah..., makan saja dulu , jangan banyak bicara dulu, nanti perutmu demo lagi, nanti kalau kamu sakit, aku lagi yang disalahkan, karena kamu sakit , telat makan, gara-gara terus menjaga aku, iya kan?",


Robi diam, ia membuka kotak makan miliknya lalu langsung menyantapnya.


"Eh...bismillah dulu, jangan mentang-mentang lapar, langsung hap-hap saja",


Robi masih saja diam, dia tampak serius melahap makanannya.


"Deuh..., kamu marah ya?, diam saja",


"Katanya tadi melarang banyak bicara, suruh makan dulu, ini sedang makan, malah diajak bicara terus", ucap Robi.


"Oh...maaf...maaf...", senyum Tiara

__ADS_1


__ADS_2