
"Assalamu'alaikum, Abah..., Umi....", Tiara memasuki rumahnya lewat pintu dapur. Ia tidak mendapati siapa-siapa di sana. Tiara simpan bawaannya di atas meja makan, dan ia segera menuju kamarnya.
Tiara segera membersihkan diri, setelah itu kembali ke dapur.
Di sana nampak Abah dan Umi sudah duduk di meja makan, mereka baru tiba dari Madrasah. "Ini punya siapa?, ada bungkusan di sini?, aromanya enak", senyum Umi.
"Itu buat Abah dan Umi", Tiara menghampiri dan duduk di depan mereka.
"Neng baru pulang?, tumben sore pulangnya?", Umi melirik Tiara.
"Makan saja dulu, nanti setelah makan , Ara ceritakan", senyum Tiara.
"Apa ini?", Umi membuka bungkusan yang ada di depannya.
"Alhamdulillah...., ini mah kesukaan kita Abah", Umi Anisa terlihat sangat senang.
"Wah...ini kok banyak, Neng beli dimana?", Umi melirik Tiara.
"Di kasih orang baik Umi", senyum Tiara.
"Orang baik?, siapa?", Penasaran Abah.
"Tuh....kan jadi cerita, tadinya biar Abah dan Umi makan dulu, baru tiara cerita", senyum Tiara.
"Ceritakan saja!, nggak apa-apa sambil makan juga, jadi penasaran", senyum Abah.
Tiara menceritakan pertemuannya dengan pemuda bernama Rahmat, yang awalnya ia kira Robi, karena sepeda motornya sama.
Sampai ia menolongnya dari gangguan para geng motor, lalu mengajaknya makan dan membungkuskan gulai kepala ikan kakap untuk Abah dan Umi.
"Oh iya Abah, apa Abah dan Umi menemukan kwitansi bukti pembelin motor Robi kemarin?", Tiara menatap Abah dan uminya.
"Tiiiddaaak...",
"Memangnya ada apa?", tatap Abah.
"Di sana tertera plat nomer sepeda motor milik Robi kemarin, Ara lupa lagi". Tadinya Tiara ingin menyamakan plat nomer milik Robi dengan milik Rahmat, orang yang telah menolongnya.
Rupanya Tiara masih penasaran dengan Rahmat, yang memiliki beberapa kemiripan fisik dengan Robi.
"Aduh...bilangin terima kasih dari Abah dan Umi, kalau nanti bertemu lagi dengan Rahmat", senyum Umi Anisa sambil terus menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Iya Umi, tapi tidak janji ya", senyum Tiara.
__ADS_1
"Terus ... Itu uangnya Robi kita apakan?, rumahnya saja tidak tahu, bagaimana kita bisa mengembalikannya",Tiara menatap Abah.
"Abah juga bingung, simpan saja, kalau pemiliknya perlu , mungkin akan kembali ke sini untuk mengambil uangnya",
"Nggak mungkin Abah, dia pasti merasa sakit hati karena sudah kita tuduh yang bukan-bukan, bahkan Abah sendiri kan yang sudah mengusirnya dari sini", Tiara menerawang, mengingat kejadian saat Robi meninggalkan Pondok.
"Kasihan anak itu, kalau kembali kepada orang tuanya sih untung, tapi bagaimana kalau terlantar dijalanan", Umi menatap nanar.
"Sudahlah Umi!, dia itu bukan siapa-siapa, hanya orang asing yang kebetulan kita temukan di sekitar pondok, kita di sini sudah tenang, jangan hanya gara-gara seorang asing, kita jadi ribut", tegas Abah.
Dari kata-katanya terlihat kalau Abah masih marah kepada Robi.
Umi Anisa memegang tangan Tiara, ia tahu putrinya tidak suka dengan ucapan Abah barusan.
"Sudahlah Ara, sebentar lagi kan Ara lulus kuliah, Abah sudah menyiapkan rencana besar untuk kamu", tatap Abah kepada Tiara.
Tiara dan Umi saling pandang, mereka tidak tahu dengan rencana Abah, yang pasti, apa pun rencana itu, harus ditaati oleh Tiara.
"Abah sebentar lagi mau pergi ke undangan ceramah di kampung sebelah, menunggu Ustad Fikri, ia yang akan mengantar Abah", senyum Abah, ia melirik Aini yang nampak masih kesal.
Tak lama datang Ustad Fikri , ia menjemput Abah ke rumah , setelah pamit, Abah pun pergi bersama Ustad Fikri.
'Rencana besar?, rencana besar apa?', Tiara masih menerka-nerka ucapan Abah Tadi.
*
*
Semakin malam suara dentuman musik makin terdengar jelas di dalam, pasti Dery dan teman-temannya sudah pada fly di dalam sana.
Sementara Robi masih betah mengotak-atik dan merangkai benda yang ada dihadapannya. Hingga larut malam, bahkan sampai pagi menjelang.
Robi tersenyum melihat hasil kerjanya sebuah sepeda motor kini sudah menjelma dihadapannya, ia coba untuk menstarter, namun tidak bisa, sepeda motor itu tidak bisa hidup.
Robi terlihat mendorongnya menuju suatu tempat
Pagi pun tiba, Ronal yang nampak membuka rolling door bengkel. Ia berdiri di depan bengkel, menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, ia melakukan sedikit peregangan di tubuhnya yang terasa kaku dan linu.
"Nah lho..., kemana itu bocah, jangan-jangan benar dia kabur", gumam Ronal.
Tak lama dery menghampirinya , " Kemana anak itu?, kabur?", bentak Dery. Ia bertolak pinggang disamping motor sport Robi .
"Gue bilang apa?, dia itu mana bisa mengerjakan hal sulit , buktinya...kabur kan?", cibir Dery.
__ADS_1
"Kita tidak bisa menampung orang lembek seperti .
"Sudah..., panggil tuh tukang bubur ke sini, kita sarapan dulu", perintah Dery.
Dery melingkarkan tangannya di pinggang Marisa yang baru saja datang, "Sayang, coba kalau kamu bisa memasak, kita tidak akan kelaparan seperti ini",
"Aku juga sudah mulai bosen dengan makanan ini, pinginnya kamu yang masakin aku", srnyum Dery.
"Aduh sayang..., kamu kan sudah kaya, kenapa tidak sewa jasa ART saja sih", Marisa melihat Dery dengan cemberut.
"Ini malah mau menjadikan aku sebagai babumu", ketus Marisa.
"Bukan itu maksud aku, sekali-sekali boleh dong kamu masakin aku", senyum Dery.
Marisa melirik Dery dengan cemberut, "Pokoknya aku tidak mau, aku tidak bisa memasak , apalagi mengurus anak",
Dery hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Marisa, gadis pilihannya itu ternyata seorang yang manja
Dari jauh, terdengar suara mesin kendaraan mendekat, suaranya sudah tidak asing lagi bagi mereka yang ada di bengkel .
Benar saja, sebuah sepeda motor mendekat dan langsung masuk ke dalam bengkel. Dery sudah memberi aba-aba siap kepada semua anak buahnya jika pemotor itu berbuat keributan di bengkelnya.
Namun saat helmnya di buka, semua terpana,
"Rahmat??, kompak mereka.
"Maaf ini aku pinjam sebentar, tadi motor ini kehabisan bensin", senyum Robi.
"Ini !", ,Robi melemparkan kunci motor yang barusan dikendarainya ke arah Dery .
"Gue berhasil merangkai motor ini, jadi Gue diterima disini?", Robi menatap Dery dengan puas.
Mereka terlihat tidak mempercayai Robi yang sudah berhasil merangkai sepeda motor butut yang hampir saja dijadikan rongsok .
Dery menghampiri Robi, "Oke, Gue terima Loe kerja di sini, tapi Loe Harus ikuti semua aturan di sini!", ucap Dery.
"Oke deal", senyum Robi, Ia menjabat tangan Dery.
"Mulai kapan Gue bisa kerja di sisi?", tatap Robi.
"Hari ini saja, buat apa di tunda tunda, sudah, Loe mulai kerja hari ini, di sini saja", ucap Dery.
Robi melirik Marisa yang ternyata sedang menatapnya juga.
__ADS_1
Sudah tidak ada lagi rasa suka dan rasa cinta kepadanya, yang tertinggal kini rasa sakit hati dan kecewa, karena merasa ditikam dari belakang.