Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Merangkai Asa


__ADS_3

Seperti yang Abah bilang, jam sembilan malam, di saat sebagian santri sudah pada beristirahat, Robi bersiap menuju rumah Abah.


"Mau kemana Den, sudah rapi begitu?, tanyai Mang Daman yang sudah berbaring di kasur lipatnya.


"Saya mau ke rumah Abah Mang, tadi Abah bilang mau mengajari saya dirumahnya", senyum Robi.


"Alhamdulillah...Den, ini kesempatan bagus, jarang Abah seperti ini ,hanya pada orang-orang tertentu saja", Mang Daman terlihat bahagia.


"Jangan sia-siakan kesempatan ini, Mang yakin, Aden yang akan mewarisi ilmu Abah, dan Aden yang akan menjadi penerus Abah, memimpin Pondok ini",


"Ah..., jangan berlebihan Mang, saya baru juga mau belajar, sudah ada yang lebih baik dari saya, minder saya Mang, takutnya nanti malah mempermalukan Abah lagi",


"Saya hanya ingin belajar saja Mang, tidak ada maksud lain, saya ingin hidup lebih baik", senyum Robi.


"Sudah Mang, saya pergi dulu, nanti kasihan Abah menunggu, Assalamu'alaikum", Robi pergi meninggalkan Mang Daman yang mengiringi kepergian Robi dengan do'a tulus dalam hatinya.


Robi melihat keadaan Pondok sudah sepi saat ia berjalan menuju rumah Abah.


****


"Tiara..., buatin Abah minuman jahe merah ya dua, manisnya pake madu, pake lemon sedikit", perintah Abah.


Tiara menghentikan kegiatannya, ia menatap Abah dengan pandangan penuh tanya. 'Minuman jahe?, dua?, untuk siapa?", Tiara menutup laptopnya, dan segera menuju dapur untuk membuatkan pesanan Abah.


"Wa'alaikumsalam", Abah membukakan pintu untuk Robi, dan langsung menggandengnya menuju ruang baca.


Abah menyuruh Robi duduk di kursi yang di depannya ada sebuah meja, dan sudah berjejer buku dan kitab diatasnya.


"Silahkan duduk, kita mulai belajar yang dasar-dasar dulu", senyum Abah.


Tiara yang sudah selesai membuatkan pesanan Abah, langsung membawanya ke dalam.


Namun Tiara tidak mendapati Abah di sana, ia langsung menuju ruang belajarnya.


"Assalamu'alaikum", Tiara langsung masuk ke dalam karena ia mengira hanya ada Abah di sana.


"Wa'akaikumsalam", Robi menjawab dan menoleh ke arah Tiara.


"Aww..., Astaghfirullah...", teriak Tiara , dia langsung membalikkan tubuhnya, ia langsung membelakangi Robi , karena saat itu dirinya sedang tidak memakai niqob.


"Abah..., kenapa tidak bilang kalau akan ada tamu", lirih Tiara , ia bicara masih dalam posisi membelakangi Robi.

__ADS_1


"Tiara..., ini Robi", ucap Abah.


"Iya..., Ara tahu, tapi dia itu tetap orang lain Abah, ini Ara simpan dulu minumannya di meja, nanti Ara kembali lagi", Tiara meninggalkan ruang baca untuk memakai niqob , tanpa menunggu jawaban dari Abah.


"Robi terdiam di kursinya, tadi ia sekilas melihat wajah Tiara tanpa cadar. 'Cantik sekali', pikir Robi.


"Pantas saja ia sembunyikan wajahnya di balik cadar, ternyata memang cantik", gumam Robi.


Abah tersenyum mencuri pandang ke arah Robi. Beliau bisa membaca dari raut wajah Robi tadi. 'Abah lebih suka Tiara denganmu Nak Robi', pikir Abah.


"Kenapa Tiara Abah?", tatap Robi. Apa salah kalau wajahnya terlihat orang lain?", tatap Robi.


"Tidak salah, karena banyak dikalangan wanita muslimah hanya memakai kerudung saja, tanpa cadar, tapi...Tiara memutuskan untuk bercadar, jadi dia harus konsisten dengan keyakinannya itu", jelas Abah.


"Hanya pada keluarga dan suaminya saja ia bisa memperlihatkan wajahnya,


"Oh..., begitu rupanya", Robi manggut-manggut


"Pantas saja, Tiara melihat saya seperti melihat hantu saja", kekeh Robi.


"Tiara itu cantik", gumam Robi.


Tak lama terdengar Tiara kembali mengucap salam, ia masuk dengan membawa dua gelas minuman , kini ia sudah kembali memakai cadar.


"Hah..." , Robi tidak menyangka Tiara mendengar ucapannya tadi.


"Maaf..., habis lucu saja, padahal cuma tidak memakai niqob saja, sudah begitu reaksinya, sedangkan di luar sana, banyak wanita yang dengan sengaja memperlihatkan perhiasannya, mereka tampak happy-happy saja tuh", senyum Robi.


"Aku bukan mereka", tegas Tiara.


"Sudah..., ini semua salah Abah, Abah yang menyuruh Robi ke sini malam-malam, dan tidak memberitahu Tiara dulu", Abah menatap Tiara.


Tiara menunduk, ia juga tahu pasti Abah yang telah menyuruh Robi ke rumahnya.


"Iya Abah, tapi Abah juga tahu kan, Tiara hanya akan memperlihatkan wajah Tiara kepada suami Tiara saja", bela Tiara.


"Iya.., semoga Nak Robi juga menjadi suami Tiara", kekeh Abah.


"Aamiin...", ucap Robi spontan.


Tiara dan Abah saling pandang, mereka dengan jelas mendengar ucapan Robi.

__ADS_1


"Sekarang, Abah menyuruh Robi untuk tiap malam ke sini, untuk belajar", terangkan Abah.


"Iya...Abah, Tiara merengkuh.


Tiara keluar dari ruang baca Abah, ia melihat Robi terus mencuri pandang kepadanya. Namun aneh, kali ini Tiara merasa senang, ia merasa senang setiap kali bertemu Robi.


'Astaghfirullah..., kenapa ini?, ada apa dengan hati ini?', batin Tiara bicara.


"Ya Allah, aku tahu semua rasa ini datangnya dari-Mu, semoga dia orang yang tepat yang Kau pilihkan untuk aku", lirih Tiara.


Hanya kepada Robi, Tiara memiliki rasa seperti ini, dari sejak awal bertemu dulu, dan kini rasa itu semakin jelas terasa, seiring mereka sering berjumpa dan bertegur sapa.


"Padahal kalau Ronald dan Ilyas tadi datang, mungkin mereka akan bertemu Robi juga", gumam Tiara, ia mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


****


"Bi, bagaimana penampilan saya kalau begini?", seru Bu Arimbi saat ia menghampiri Bi Mimi di dapur.


"Masya Allah...Nyonya cantik sekali dengan pakaian itu?, kerudungnya juga?, apa ini model terbaru Nyonya?", Bi Mimi terlihat takjub saat melihat Bu Arimbi memakai setelan gamis.


"Model terbaru?, Oh iya Bi, baru kepikiran , bagaimana kalau saya mulai merancang baju-baju muslimah seperti ini, kayaknya ini sebuah peluang usaha di sini?",


"Nah itu maksud saya Nyonya, membuat baju muslimah", senyum Bi Mimi.


"Betul Bi, saya ingin mengembangkan bisnis di sini, tapi masih bingung bagaimana caranya, untung saja Bibi jeli", senyum Bu Arimbi.


"Jadi..., bagaimana penampilan saya Bi?", kembali Bu Arimbi meminta pendapat Bi Mimi.


"Nyonya cantik dengan pakaian itu, tambah ayu, Tuan juga pasti senang melihat perubahan Nyonya", senyum Bi Mimi.


"Ah...dia mah tidak akan ngaruh Bi, karena matanya sudah dibutakan Rena, saya juga sudah tidak peduli Bi", Bu Arimbi duduk di meja makan, ia mengambil buah jeruk dan segera mengupasnya.


Bu Arimbi mulai melahapnya satu per satu , manis dan segar rasanya. ' Hah..., semoga kehidupan keluarga kami berjalan semanis ini', harapan Bu Arimbi.


Tak lama Pak Robani pun pulang. Ia tidak banyak merespon dengan perubahan penampilan dari istrinya itu.


"Pulang dari Robi?", tanyanya begitu melihat Bu Arimbi.


"Nggak, aku tidak kemana-mana", jawab Bu Arimbi datar.


Pak Robani memperhatikan istrinya sekilas, lalu pergi menuju kamarnya.

__ADS_1


"Tuh kan Bi..., saya bilang juga apa, dia mah sudah tidak peduli saya mau bagaimana pun", cibir Bu Arimbi.


__ADS_2