
"Tok...tok...tok...", terdengar suara pintu kamar Robi ada yang mengetuk.
Robi yang baru saja akan merebahkan tubuhnya, kembali bangkit menuju pintu, "Siapa lagi ?", gumam Robi.
"Papih...?, ada apa lagi?", tatap Robi, yang tadinya mau ngedumel , nggakk jadi setelah melihat wajah papihnya diambang pintu.
"Ini Papih punya sesuatu buat kamu", Pak Robani memberikan sebuah bungkusan kepada Robi.
"Ini apa Pih?", Robi dengan perlahan mem8buka bungkusan yang kini sudah ada ditangannya.
"Apa ini Pih?, madu...?", tatap Robi,
"Ya..., itu madu, tapi ini bukan sembarang madu, ini madu khusus laki-laki", bisik Pak Robani.
"Ma...du...khusus laki-laki...?", Robi tampak heran.
"Iya..., biar kamu kuat, dan tetap berstamina", ucap Pak Robani lagi.
"Sekarang minumlah !, satu sendol saja, biar besok khasiatnya langsung terjaga",
"Biar apa sih Pih?", tanyai Robi lagi, ia sepertinya ragu.
"Biar tahu khasiatnya, diminum dulu, ini cocok untuk calon pengantin, biar kuat begadang", senyum Pak Robani.
Robi mentautkan kedua alisnya, ia masih belum mengerti dengan maksud papihnya.
"Sudah...minum saja , setelah itu istirahat, Papih tidak akan mencelakai kamu dengan menyuruh meminum madu ini", senyum Pak Robani, ia kembali menutup pintu kamar Robi dan segera kembali ke ruang kerjanya, ada hal penting lain yang harus ia kerjakan.
"Aduh Robi...., masa kamu sepolos itu Nak, Papih kira kamu itu mantan bad boy, tapi Papih yakin, kamu itu anak yang baik, yang masih bisa menjaga norma dan adat ketimuran.
"Pantas saja kamu berjodoh dengan Tiara, Allah juga sudah menjanjikan seorang yang baik, akan berjodoh dengan orang baik juga, begitu pun sebaliknya, orang yang tidak baik, akan berjodoh dengan orang yang tidak baik juga", gumam Pak Robani.
Ia menuju ruang kerjanya, ia ingin memastikan kalau acara besok berjalan lancar, tanpa ada gangguan apa pun.
Sementara Robi, ia duduk di pinggir tempat tidur, lalu membuka madu yang tadi diberikan papihnya.
"Hah..., madu hitam pahit khusus laki-laki dewasa, pendongkrak stamina, ah Papih, Robi baru ngerti, terima kasih Pih, sampai perhatian begini ", senyum Robi, ia mulai membuka tutup botol madu dan meminumnya sesuai gelas takar.
"Emh..., pahit sekali", Robi memicingkan matanya menahan rasa pahit dimulutnya .
"Mungkin khasiatnya akan manis", senyum Robi. Ia menaruh kembali madu ke dalam kemasannya, lalu setelah menyimpannya, ia mulai merebahkan tubuhnya , dan tak lama terlelap.
Tanpa ia ketahui, sedari tadi Tiara mengiriminya pesan, namun tak satu pun ia baca, karena memang Robi sudah terlelap.
__ADS_1
Padahal Tiara mengiriminya pesan yang sangat penting, dan cukup rahasia, perihal malam pengantin mereka.
Dalam pesannya Tiara meminta agar Robi membawanya pergi dari Pondok, Tiara tidak ingin melewati malam pengantinnya di rumah, soalnya ia akan merasa malu saat bangun pagi hari, pasti ia akan menjadi pusat perhatian para santri.
Ah andai saja Robi membacanya.
****
"Fatma...", Eko memanggil dan mengetuk pintu kamar Fikri.
"Buka dulu!, ada kabar penting soal wanitamu", teriak Eko.
"Cekkek...", pintu kamar langsung terbuka, "Wanita...?,,wanita siapa?", Fikri tampak menyembulkan kepalanya ke luar.
"Tiara mau menikah besok, itu kabar yang baru saja aku terima", ucap Eko to the Point.
"Tiara...menikah...?, dengan siapa ?, jadi dia sudah pulang?", Fikri memburu Eko dengan serangkaian pertanyaan, ia merasa sangat kaget.
"Siapa orangnya yang berani mengambil kesempatan disaat aku tidak ada?", tatap Fikri dengan sorot mata penuh kemarahan.
"Kamu mau tahu siapa orangnya yang akan menikahi Tiara?, pasti kamu juga sudah bisa menebaknya",
"Apa dia Robi...?", sambar Fikri.
"Iya..., dia orangnya, siapa lagi?, jadi sekarang kita sama, kita punya kepentingan yang sama untuk membuat Robi menderita, kita sama-sama punya dendam sama dia, jadi..., rusak acara pernikahan Robi besok!!", tegas Eko, ia memanfaatkan situasi ini untuk mengompori Fikri.
"Oke..., bagus..., sekarang bersiaplah!!, kamu bisa datang ke sana hari ini, kacaukan acara mereka!!", kembali Eko mengompori Fikri.
Hati Fikri yang sudah panas dengan berita pernikahan Robi dan Tiara, kini makin membara dan menyala akibat siraman minyak dari Eko.
"Dengan penampilan kamu seperti ini, mereka tidak akan mengenalimu lagi, kamu akan bebas bergerak, coba saja kamu ke sana, lihat bagaimana reaksi mereka?", senyum Eko.
" Ini... , Bisa kamu pakai untuk akomodasi, dan ini ATM", Eko memberikan sebuah kunci mobil dan ATM kepada Fikri.
"Aku hanya butuh ini", Fikri hanya mengambil kartu ATM saja.
"Kenapa?, kamu mau pakai apa ke sana tanpa ini", Eko mengangkat kunci mobil ke arah wajah Fikri.
"Itu akan membuat mereka curiga, aku akan masuk ke sana sebagai seorang yatim piatu, baru mereka akan simpati", jelaskan Fikri.
"Oh... Begitu ..., ya sudah..., terserah kamu saja, yang penting kerja kamu benar, karena kalau kamu macam-macam, habislah kamu, anak buahku tersebar di mana mana, akan sangat mudah menemukanmu, faham..!!", ucap Eko penuh penekanan.
"Iya...iya...aku juga ngerti", ucap Fikri dengan agak kesal, sebenarnya ia tidak suka dengan situasi ini, Fikri tidak suka didikte seperti ini tapi lagi-lagi, Fikri tidak mempunyi pilihan lain selain menurut.
__ADS_1
"Sayang..., ngapain kamu di sini ?, nah ini siapa lagi?", tiba-tiba Rena sudah ada dibelakang Eko, dia langsung memeluk Eko.
"Ah...ini Fatma sayang, dia itu adik sahabatku, dia mau masuk Pesantren, ah..., kamu bisa kan antarkan dia ke sana?", tatap Eko membuat alasan.
Fikri terbeliak melihat penampilan Rena, ia memakai baju yang sangat minim, sehingga memperlihatkan aset-aset dalam tubuhnya. Fikri menelan salivanya, sungguh kemolekan tubuh Rena sudah menggodanya.
Eko yang menyadari itu langsung menggandeng Fikri untuk segera masuk ke dalam kamarnya.
"Sudah..., kamu bersiap saja , kita berangkat sekarang ke sana, jaga matamu dari istriku bodoh!!", setengah berbisik dengan nada penuh penekanan, Eko bicara ditelinga Fikri yang sedang digandengnya.
"Salah istri Tuan sendiri, kenapa memakai pakaian seperti itu, sudah terlanjur terlihat, ya tatap saja, maaf Tuan", Fikri merengkuh.
"Awas.., lain kali kamu harus menunduk jika bertemu istriku, kalau tidak!!, aku tendang kamu", ancam Fikri.
"Tenang saja, aku juga segera pergi dari sini", seringai Fikri.
Setelah Ashar, mereka bertiga sudah berada di dalam mobil, mereka menuju ke Pondok Al-Furqon.
Tak membutuhkan waktu lama, mobil mereka pun sudah sampai di gerbang depan Pondok Al-Furqon.
"Gila..!, ada apa ini?, pake dijaga Polisi segala", gerutu Fikri yang masih berada di dalam mobil.
"Bagaimana ini ada Polisi?", Eko melirik ke arah Fikri yang duduk di jok belakang.
Namun seorang Polisi keburu datang menghampiri mereka.
"Selamat sore Pak, Bu, ada yang bisa saya bantu?", sapanya sopan.
Fikri menunduk, ia masih mengenali Polisi itu, dia adalah Umar, Polisi yang hampir menangkapnya waktu itu.
"Saya mau mengantar saudara Pak, dia mau mondok di sini", alasan Eko cepat, ia tidak ingin membuat curiga.
Umar memindai wajah mereka satu-satu, dan terakhir tertuju pada Fikri.
"Nona ini yang mau mondok?", tanyai Umar kepada Fikri.
"Ah...., iya...", jawab Fikri dengan suara yang dibuat sehalus mungkin , agar suara baritonnya bisa tersamarkan.
"Maaf ya Pak, Bu, besok di sini ada acara, jadi untuk beberapa hari ke depan, kami tidak menerima santri baru dulu, Abah Kyai mau menikahkan putrinya", jelaskan Umar
"Oh..., jadi tidak bisa masuk hari ini juga, kan acaranya besok", ucap Eko setengah memaksa.
"Maaf Pak, tidak bisa, sebaiknya Bapak datang s dua atau tiga hari lagi, ini sudah perintah", jelaskan Umar lagi.
__ADS_1
"Ada apa ini, tamu dari mana?, ada undangannya?", tanpa di duga Pak Rusman yang kini menghampiri mereka.
Namun Fikri memberi kode dengan tangannya supaya Eko cepat pergi saja,