Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Sok Berkuasa


__ADS_3

"Apa...?, siapa yang narapida?", Ustad Fadil menghampiri, ia mendengar keributan di teras depan rumah Abah.


Ustad Fikri terhenyak, ia tidak menyangka dengan kehadiran Ustad Fadil yang tiba-tiba.


"Ini Ustad, katanya di sini ada narapida, apa benar?", tatap santri.


Ustad Fadil membulatkan kelopak matanya ke arah Ustad Fikri, "Ah...paling juga hanya bercanda, jangan dihiraukan, sekarang kalian kembali saja ke Kobong, bersiap !, kan ada jadwal pengajian bersama Ustad Dzaqi, biar ini saya yang teruskan", ucap Ustad Fadil.


"Oh..., tapi ini sedikit lagi Ustad, tanggung",


"Sudah..., cepat sana, sini sapunya, biar saya selesaikan", Ustad Fadil meraih sapu dari tangan santri.


"Kalau begitu, terima kasih Ustad, saya pamit, Assalamu'akaikum", santri itu berlalu dari hadapan Ustad Fikri dan Ustad Fadil.


Ustad Fadil lalu mengambil alih tugas santri itu, ia kini yang menyapu teras depan rumah Abah.


"Kamu ini kenapa, pake bicara soal narapidana segala, pasti ini ada hubungannya dengan Badrun ya?, hati-hati lho..., ini rahasia Pondok, cukup generasi kita saja yang tahu, mereka tidak usah", tegur Ustad Fadil.


"Habis aku kesal, sejak ia datang ke sini, dia sok berkuasa, apa-apa selalu dia, di Masjid, di rumah Abah, bahkan hari ini Abah akan pulang pun, aku tidak tahu, padahal aku ini kan calon menantunya, calon pimpinan Pondok ini", gerutu Ustad Fikri.


"Ya..., wajar saja begitu juga, Badrun itu kan anak angkatnya Abah, saat ini dia lebih berhak, dia lebih berwenang ", ucap Ustad Fadil.


Ustad Fikri mengerling ke arah Ustad Fadil, "Kamu ini teman siapa sih?, kok malah belain si cabul itu dari pada aku",


"Ustad Badrun, dia itu satu angkatan dengan kita kan", ralat Ustad Fadil.


"Ustad?, Ustad apa, Ustad cabul?", sewot Fikri.


"Astaghfirullah..., dia sudah menebus kesalahannya hampir lima tahun , dia juga sama manusia, tidak ada yang salah, jangan hanya karena dia pernah dipenjara, kita jadi mendiskriminasikan dia, bisa saja dia tidak bersalah kan?, setahu aku kasusnya belum selesai, karena korbannya menghilang begitu saja", bela Ustad Fadil.


Ustad Fikri terkesiap mendengar ucapan temannya itu, ternyata dia masih mengingat peristiwa itu dengan jelas.

__ADS_1


"Lama-lama kamu ini menyebalkan juga, dari tadi belain dia terus, padahal kamu susah senang lamanya bareng aku, saat lapar, saat tidak punya uang, ngeluhnya selalu sama aku ", gerutu Ustad Fikri.


"Hus..., aku itu cuma mengingatkan kamu saja, kalau Abah sampai tahu masalah ini menyebar kepada para santri baru, bisa habis kita, bisa-bisa nama Pondok kita akan tercemar, bisa sepi peminat, gawat kan?, padahal Abah merintis Pondok ini dari nol ",


"Sudah, jangan bahas lagi masalah itu di sini, itu rahasia generasi kita, apalagi Abah baru saja pulih, kita harus hati-hati menjaga kesehatan Abah, jangan sampai pikiran Abah terganggu oleh hal-hal seperti ini",


"Hadeuh..., kamu ini bawel sekali, sudah ah, aku mau melihat ke dalam dulu", Ustad Fikri dengan kesal berlalu dari hadapan Ustad Fadil, ia berjalan menuju ke dalam.


"Assalamu'alaikum Ustad, Alhamdulillah sudah ada di sini, Abah mau pulang hari ini", sapa Badrun begitu bertemu Fikri di ruang keluarga rumah Abah.


"Wa'alaikumsalam, iya sudah tahu, bagaimana semua sudah beres kan?, kamar Abah sudah bersih?, rumah juga, jangan lupa di pel, dan itu makanan bagaimana sudah siap?", Ustad Fikri berkeliling ke seluruh ruangan yang ada di rumah Abah. Ia sudah seperti pemilik rumahnya saja, ia bak seorang mandor menunjuk ke sana ke sini, menyuruh ini, menyuruh itu, kepada santri yang masih ada di dalam rumah Abah.


"Sudah..., semua sudah siap, makanan juga sudah datang, tadi Bu Arimbi mengirimkannya ke sini", ucap Badrun, ia menunjuk ke arah meja makan yang terlihat penuh dengan aneka makanan, ada juga empat dus air mineral kemasan yang tersusun di dekat meja TV.


"Oh..., sudah beres ya, bagus kalau begitu, kita tinggal tunggu Abah datang saja", Fikri berlalu kembali menuju ke teras depan. Sekilas ia melirik ke arah Nyimas yang sedang menyiapkan piring di atas meja makan.


Tak lama terdengar suara klakson mobil di halaman depan. Ternyata mobil Pak Robani sudah sampai.


Pak Robani turun dari mobilnya, ia segera membukakan pintu mobil untuk Abah dan Umi.


Dengan sigap Pak Robani mengambilkan kursi roda untuk Abah.


"Nah..., ini yang akan membantu Abah, supaya tidak terlalu cape berjalan, kalau sudah pulih, boleh berjalan kaki lagi", senyum Pak Robani, ia membantu Abah untuk duduk di atas kursi roda itu.


"Assalamu'akaikum Abah", Ustad Fikri langsung menghampiri.


"Biar saya saja yang membawa Abah masuk", Fikri langsung mengambil alih kursi roda Abah yang tadinya mau didorong oleh Pak Robani.


"Wa'alaikumsalam Ustad, bagaimana di sini baik-baik saja kan?", tatap Abah.


"Alhamdulillah, semua baik Abah, jangan dulu banyak bicara ini itu, kita masuk saja dulu, sekalian istirahat", ajak Fikri, ia langsung saja membawa Abah masuk, mendahului Pak Robani dan Bu Arimbi.

__ADS_1


"Yang itu Kakaknya Marisa itu?", tanyai Pak Robani.


"Iya, dia, itu Ustad Fikri, calon suaminya Tiara", jelaskan Bu Arimbi.


"Ooh..., dia ituFikri?", gumam Pak Robani.


'Apa mungkin dia yang diceritakan oleh Aleks dan Joko itu, casingnya sih bagus, mulus, tapi software nya, banyak minusnya', pikir Pak Robani. Ia bicara dalam hatinya sambil mengikuti langkah Ustad Fikri menuju rumah.


"Alhamdulillah... Abah senang bisa pulang lagi ke sini, bagaimana anak-anak santri, tidak ada masalah kan sama mereka semua?", tanyai Abah begitu sampai di dalam.


"Alhamdulillah di sini semua baik-baik saja, Abah tidak usah memikirkan hal itu dulu, fokus sehat saja dulu Abah, di sini kan ada kami", ucap Ustad Fadil sambil menghampiri Abah dan bersalaman dengannya.


"Iya benar, biarkan saya yang handle urusan di Pondok, Abah istirahat saja biar cepat pulih, dan sehat", Ustad Fikri menimpali.


"Iya...Abah percaya pada kalian", senyum Abah.


Pandangan Abah terkunci pada Badrun yang sedang berdiri tepat di samping Pak Robani.


"Kamu..., sedang apa di sini?", tatap Abah ke arah Badrun.


Badrun diam , dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Euh...Abah, dia itu sekarang bekerja dengan saya, dia itu sopir saya Abah, dari kemarin saya yang menyuruhnya ke sini", ucap Pak Robani .


"Oh..., kenapa tidak ada orang lain?, kenapa harus dia?",


"Saya melihat dia itu baik, jujur, dan ilmu agamanya bagus, jadi saya dan istri banyak belajar dari dia, memangnya kenapa, Abah mengenalnya?", Pak Robani balik bertanya.


"Ah...nggak..., Abah tidak sreg saja dengan dia", ucap Abah.


"Oh iya..., Tiara mana?, dari tadi Abah tidak melihatnya?",

__ADS_1


Semua diam , semua bingung harus menjawab apa.


__ADS_2