Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Kebetulan


__ADS_3

Umi sudah hampir dua hari di Rumah Sakit, Umi masih setia menunggui Abah sambil tak lepas membaca tilawah. Alhandulillah Abah sudah beberapa kali menggerakkan jari tangannya.


Umi sesekali melirik ke arah pintu , ia berharap Tiara yang datang. Sudah dua hari ini Tiara tidak datang lagi ke Rumah Sakit.


Umi mengira Tiara masih sibuk dengan tugas akhirnya , apalagi Tiara kan sebentar lagi wisuda, jadi Umi masih terlihat biasa, coba kalau Umi tahu Tiara diculik, kasihan kan, mana Abah masih belum sadar.


"Alhamdulillah..., Alhamdulillah..., Abah....", Umi setengah berteriak begitu melihat jari tangan Abah bergerak lagi beberapa kali. Umi yang terlalu senang langsung berlari menuju pintu, ia memanggil-manggil Dokter di ambang pintu.


Seorang Perawat langsung menghampirinya. "Ada apa Bu?", tanyanya cepat.


"Tolong Neng Perawat, itu Abah...", ucap Umi sambil menunjuk ke arah dalam.


"Ayo Bu, saya akan periksa", ajak Perawat itu, ia masuk ke ruangan Abah mendahului Umi. Dengan cekatan Perawat itu memeriksa keadaan Abah dan tidak lupa ia juga memijit tombol merah untuk memanggil Dokter.


"Aduh...maaf, tadi Umi lupa, padahal tidak perlu teriak ya, cukup pijit tombol itu saja", senyum Umi.


"Tidak apa Bu, kita tunggu Dokter saja, keadaan Abah sudah lebih baik, semoga Abah cepat sadar", senyum Perawat.


Tak lama seorang Dokter masuk, bertepatan dengan itu, kedua kelopak mata Abah terbuka, Abah sadar.


Dokter langsung tersenyum dan menghampirinya. " Alhamdulillah..., Abah sudah sadar, bagaimana Abah?, apa masih ada keluhan?", tatap Dokter sambil langsung memeriksa keadaan Abah.


Abah hanya bisa tersenyum, ia belum bisa bicara, tenggorokannya terasa kering.


"Bisa diberi minum Umi?", perintah Dokter kepada Umi yang sedang menatap haru ke arah Abah.


"Oh...iya Dok...", Umi segera mengambil air dan meminumkannya kepada Abah secara perlahan.


"Abah..., Alhamdulillah...sudah sadar, ini Umi...", Umi tersenyum dan meraih tangan Abah lalu menciumnya.


Abah tersenyum, "Ti..a..ra...ma...na...?", ucap Abah lirih.


"Ada..., Tiara ada di rumah, Abah yang tenang, biar Abah segera sembuh, dan bisa segera pulang bertemu dengan Tiara", ucap Umi.


"Apa yang Abah rasakan?, bagian mana yang sakit?", tatap Umi.


Abah menggelengkan kepalanya, namun matanya terpejam.


"Ya sudah, Abah istirahat saja, biar cepat pulih dan pulang ke rumah", Umi membetulkan posisi selimut Abah.


"Abah hanya perlu istirahat saja, semua sudah stabil, semoga cepat pulih", ucap Dokter. Setelah menuliskan beberapa resep, Dokter pun keluar dari ruangan Abah.

__ADS_1


Tak selang berapa lama setelah Dokter keluar , Bu Arimbi dan Pak Robani tiba di depan ruang perawatan Abah.


Setelah sebelumnya , Pak Robani memerintahkan Badrun untuk berjaga di rumah Abah.


"Assalamu'alaikum...", Bu Arimbi masuk ke dalam ruangan Abah. Kedatangannya disambut Umi dengan senyuman bahagia .


"Alhamdulillah..., Pak, Bu?, mana Nak Robi?", tatap Umi.


"Abah sudah sadar, baru saja tidur", ucap Umi lirih.


"Maaf...kalau kedatangan kami mengganggu", ucap Bu Arimbi.


"Oh...tidak, Umi justru senang, kini Umi jadi ada teman, Tiara sepertinya sibuk, sejak kemarin belum datang lagi ke sini",


"Iya Umi, tadi saya sebelum ke sini ke Kobong, tidak bertemu Tiara, sepertinya masih di kampus", senyum Bu Arimbi. Ia mengedipkan matanya ke arah Pak Robani.


"Oh...iya..., Umi tenang saja, fokus saja pada kesembuhan Abah, Tiara pasti baik-baik saja", senyum Pak Robani.


"Terima kasih..., Umi lega sekarang", senyum Umi.


Bu Arimbi menatap suaminya, "Kita pulang sekarang saja Pih, kita kan masih ada urusan",


"Iya...Umi, kamvb 1i pamit dulu, semoga Abah cepat pulih, dan kalau Abah sudah bisa pulang, hubungi kami, biar kami bisa menjemput Abah, dan mengantar Abah pulang", senyum Pak Robani.


"Kami pulang dulu Umi, Assalamu'alaikum", pamit Bu Arimbi dan Pak Robani. Mereka meninggalkan ruangan Abah.


Pak Robani dan Bu Arimbi kini menuju parkiran. Mereka kini sudah melaju dijalanan untuk menghubungi Badrun. Namun mereka dikejutkan oleh keributan yang menghalangi jalanmereka.


Ada sebuah mobil yang sedang dihadang mobil lain, para pengemudinya terlibat keributan.


Pak Robani menghampirinya dan betapa kagetnya, saat Pak Robani mengenali mereka. "Aleks....?, Joko....?, kalian....?",


"Aleks dan Joko pun tak kalah kagetnya saat melihat Pak Robani sudah ada dihadapan mereka juga.


Dua orang yang ada dihadapan mereka berbalik menghadap ke arah Pak Robani. Mereka adalah Bimo dan Samang, mereka adalah pemilik rental mobil. Mobil yang direntalkan kepada Aleks dan Joko tidak kembali tepat waktu, makanya mereka menyusul dan mencarinya.


"Bapak mengenal mereka?", tatap Bimo.


"Iya..., saya mengenal mereka, memangnya ada masalah apa?", tanyai Pak Robani.


"Ini mobil yang saya rentalkan pada mereka, seharusnya dari kemarin mobil ini kembali, tapi mereka tidak, diminta uang tambahan sewa juga tidak memberi, bagaimana tidak marah saya", terangkan Bimo.

__ADS_1


"Oh..., biar saya yang bayar", ucap Pak Robani sambil memberikan sejumlah uang kepada Bimo.


"Lah...kok malah Bapa?", tatap Bimo.


"Mereka ini pegawai anak saya, jadi kaluan bawa saja mobilnya, lihat!, kalian mengganggu ", ucap Pak Robani menunjuk ke arah belakang. Hanya beberapa menit saja, lalu lintas menjadi macet gara-gara ulah mereka.


"Ah...iya", Bimo menyambar uang ditangan Pak Robani dan langsung masuk ke dalam mobil , kini Bimo dan Samang sudah pergi dari hadapan Pak Robani.


"Ayo kalian, masuk!!", perintah Pak Robani kepada Aleks dan Joko.


Aleks dan Joko tidak mempunyai pilihan lain, mereka segera ikut masuk ke dakam mobil Pak Robani sebelum jalanan benar-benar lumpuh.


"Dari mana kalian?, sampai dikejar-kejar yang punya rental segala", ucap Pak Robani begitu mobilnya kembali melaju di jalan.


"Ah...kita hanya jalan-jalan saja Pak", ucap Joko, ia menyenggol kaki Aleks, itu isyarat agar Aleks juga bicara bohong",


"Iya Pak", ucap Aleks.


"Bapak dan Ibu juga kenapa, jam segini sudah ada dijalanan, tidak ngantor Pak", tanyai Joko.


"Kita lagi mencari Robi , sejak pagi dia belum pulang", jawab Pak Robani.


Aleks menyikut tangan Joko.


"Apa kalian tidak bertemu atau melihat Robi tadi di jalan?", Pak Robani melirik sekilas ke arah Aleks dan Joko.


Aleks dan Joko terdiam , mereka kembali saling pandang. Ada pertentangan batin di hati mereka, antara bicara jujur atau tidak.


Di satu sisi mereka takut dengan Fikri, dan di sisi lain mereka merasa berhutang budi kepada Robi dan keluarganya.


"Kok malah diam?, kalian kecapean ya?", tanyai Pak Robani lagi.


"Euh..., sepertinya tidak Pak", jawab Joko.


"Oohh, lalu kita harus ke mana ini?", Pak Robani menghentikan laju mobilnya, ia kini berada di persimpangan dua jalan.


"Ke kanan saja Pak", beritahu Aleks.


"Kanan...?, itu kan menuju Pelabuhan?, apa tidak salah?",


"Ya..., kita coba dulu saja, siapa tahu penculik itu membawanya ke sana", ucap Aleks.

__ADS_1


"Pelabuhan...?, mau....apa mereka ke sana?",


__ADS_2