
Suara adzan maghrib sudah berkumandang. Para santri terlihat sudah bersiap. Kali ini mereka semua akan menuju Masjid jami yang ada di Pondok Al-Furqon.
Hari ini adalah acara pengajian Am, yang diikuti oleh seluruh Santri, baik Santri Putra, maupun Santri Putri.
Mereka tampak antusias, karena ini adalah momen bulanan di Pondok. Pada saat acara inilah semua santri berkumpul dalam satu tempat. Santri Putra dan Santri Putri berkumpul bersama dalam satu Masjid, tapi tetap , walau begitu, masih ada hijab yang memisahkan mereka.
Acara ini selalu dinanti oleh para Santri, karena dalam acara itu mereka bisa bertemu dengan para Santri lainnya, mereka bisa berbaur dan berinteraksi langsung dengan Santri lainnya.
Dan disinilah mereka bisa mulai merangkai asa dan cinta, tentunya bagi para Santri yang sudah dewasa.
Mereka memakai baju terbaiknya masing-masing agar terlihat berbeda, dalam acara ini ada sesi ceramah yang dibawakan oleh perwakilan dari tiap Kobong.
Intinya, ini adalah acara unjuk kebolehan antar Kobong, tak jarang dalam acara ini para Santri bertemu dan saling suka, ini bisa dibilang acara ajang cari jodoh buat para Santri.
Dan kali ini, sebagai pengganti Abah, Ustad Fikri lah yang akan bertugas sebagai pengisi acara di sana.
Biasanya Abah dan Tiara yang mengisi acara du sana, tetapi karena kondisinya tidak memungkinkan, maka Ustad Fikri lah yang akan menghandle acara di sana.
Tanpa di duga, yang mengisi acara sebagai pengganti Tiara yang bertugas membaca Ayat Suci Al-Qur'an adalah Nyimas.
Semua khidmat mendengarkannya, bahkan tak sedikit yang meneteskan air mata, karena ternyata suara Nyimas tak kalah merdunya dengan suara Tiara.
Sebagian besar Santri Putri yang menangis, mereka teringat kepada Tiara, yang sudah hampir dua minggu tidak ada di Pondok. Kehadirannya sudah sangat dirindukan oleh mereka semua.
Suasana tampak hening, terdengar sayup-sayup suara isakan tangis, menambah suasana menjadi haru.
Dalam acara itu juga dipanjatkan do'a bersama untuk keselamatan dan kepulangan Tiara dan Robi, tidak lupa juga do'a untuk kesembuhan dan kesehatan Abah.
Setelah semua rangkaian acara pembukaan dilalui tiba saatnya acara pokok, yaitu siraman rohani yang akan dibawakan oleh Ustad Fikri.
Dengan percaya diri Ustad Fikri tampil dihadapan para Santri. Memang tidak bisa diragukan lagi, kalau Ustad Fikri sudah mewarisi ilmu dari Abah, gaya bicaranya, gaya bercandanya saat berceramah, tidak kalah dengan Abah.
__ADS_1
Sehingga durasi waktu dua jam yang diberikan padanya, terasa singkat sekali. Jamaah tampak tidak bosan menyimaknya, apalagi diselingi gelak tawa.
"Hebat Fikri, dia sudah matang, tidak salah jika Abah memilihnya untuk menjadikannya mantu", bisik Ustad Dzaki kepada Ustad Fadil yang duduk disebelahnya.
"Iya..., dia itu memang santri kesayangan Abah, tidak aneh jika dia yang lebih dahulu Abah ajari ilmu baru, sebelum kepada kita semua", ucap Ustad Fadil, sama, ia pun bicara setengah berbisik.
Tanpa mereka ketahui, ada sebuah mobil yang datang ke Pondok, mobil itu berhenti tepat di depan rumah Abah, dan kini ada empat orang pria yang keluar dari mobil itu.
Mereka tadinya hendak masuk ke rumah Abah, namun ada Mang Daman yang lebih dahulu menemuinya.
Ternyata mereka adalah utusan dari pihak Kepolisian, namun mereka semua tampak tidak mengenakan pakaian dinas.
" Fikri..?", Mang Daman tampak kaget, saat salah satu dari mereka menanyakan keberadaan Ustad Fikri.
"Kami dari pihak Kepolisian ditugaskan untuk membawa Fikri ke kantor", ucap salah satu dari mereka.
"Oh..., memangnya ada apa ya?, itu Ustad Fikri masih mengisi pengajian di Masjid, nah...itu..., suaranya bisa didengar", ucap Mang Daman.
"Atau Bapak-Bapak bisa tunggu dulu sebentar, menunggu acaranya selesai, soalnya Abah kan masih dalam tahap pemulihan, jadi semua urusan di sini, diambil alih dulu oleh para Santri senior", jelaskan Mang Daman lagi.
Kembali keempat pria itu saling tatap, akhirnya salah satu dari mereka menjawab juga.
"Baik, kita tunggu sampai acaranya selesai, tapi bolehkan kami menunggu di luar Masjid saja?", salah satu dari mereka kembali bicara.
"Oh...boleh, silahkan !, mau sekalian ikuti acaranya juga tidak apa-apa", senyum Mang Daman. Ia tidak menaruh curiga apa pun. Setelah keempat pria itu menuju Masjid, Mang Daman kembali berjaga di rumah Abah, ia duduk di kursi yang ada di teras depan sambil mendengarkan ceramah dari Ustad Fikri, calon mantu Abah.
Ternyata Abah pun mengetahui kedatanngan keempat pria itu. "Siapa mereka Mang?",tanyai Abah , ia keluar dari pintu dengan kursi roda yang didorong oleh Umi.
"Mereka mencari Ustad Fikri Abah, kalau tidak salah..., mereka mengaku dari pihak Kepolisian, mau apa ya?, apa mungkin ada hubungannya dengan Dery", tebak Mang Daman.
"Dery itu...", Abah menggantung ucapannya, ia seperti sedang berpikir.
__ADS_1
"Itu..., Dery itu..., iparnya Ustad Fikri Abah, dia kan sedang berada di sel, atas tuduhan meracuni Risman saat perayaan Maulid Nabi waktu itu", jelaskan Mang Daman.
"Oh...., iya...,Abah baru ingat, semoga saja tidak ada hal lain lagi", harap Abah.
"Abah senang, Ustad Fikri makin matang saja, tidak salah Abah memilih dia", gumam Abah Furqon.
"Tiara beruntung jika berjodoh dengan Fikri, Abah akan tenang", Abah menarik nafas panjang.
"Iya, semoga saja", sahut Umi, ia mengiyakan , padahal hatinya tidak begitu setuju jika Tiara sampai jadi dengan Ustad Fikri.
Memang sekilas , Ustad Fikri tidak ada celanya, ilmu agamanya mumpuni, dan berwajah tampan, tapi Umi masih sangat ingat peristiwa yang telah lalu, walau secara hukum Fikri dianggap tidak bersalah, tetapi hati Umi tidak bisa dibohongi, ia pun perlahan mengetahui kejadian yang sebenarnya.
"Tuh dengarkan Umi, ini Ustad Fikri yang sedang berceramah, kata-katanya jelas, tersusun rapi, tidak akan membingungkan pendengar', ucap Abah.
"Iya..., Umi tahu",
Di dalam Masjid Ustad Fikri bisa melihat kedatangan empat orang pria yang baru memasuki pintu gerbang Masjid. 'Siapa mereka?, tampaknya mereka orang asing, tapi tunggu!!, yang satunya ,rasanya aku pernah melihatnya', batin Fikri bicara.
'Tapi dimana aku melihat pria itu', Ustad Fikri termenung sejenak
'Dia itu ...., hah..., Polisi...?, iya..., dia yang pernah ngobrol saat aku menemui Dery, mau apa dia ke dini?',
Dengan cepat Ustad Fikri menyuruh Ustad Fadil untuk menggantikannya, dengan gerakan tangannya.
"Tolong lanjutkan !, aku ada urusan", ucap Fikri, dan dengan segera ia meninggalkan mimbarnya. Seperti sudah punya firasat saja, Ustad Fikri langsung menuju Kobongnya, ia bermaksud untuk kabur.
Bukan tanpa alasan Fikri begitu, tapi ia sudah bisa menebak, Aleks dan Joko yang sudah tertangkap, pasti telah mengatakan semuanya kepada pihak Kepolisian.
Dalam suasana hening, sepeninggal Ustad Fikri, dan Ustad Fadil pun baru sampai ke mimbar, tiba-tiba saja terdengar teriakan lantang di ambang pintu.
"Angkat tangan !!",
__ADS_1