Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Titik Terang


__ADS_3

"Sudah mau gelap ini, Papih masih tidur, bisa juga tidur nyenyak di sana rupanya", senyum Robi, ia memperhatikan papihnya yang tampak nyaman tidur diatas kasur lipat .


"Kasihan..., biar nanti saja maghrib, sekalian mau diajak shalat berjamaah ke Masjid", gumam Robi. Ia tidak jadi membangunkan Pak Robani.


"Tumben...Gilang tidak ke sini, sepi juga tidak mendengar celotehan dia seharian ini", Robi ke luar dari kobongnya, ia berdiri di depan pintu , memandang jauh ke arah rumah Abah.


Walau agak samar-samar, Robi bisa melihat ada dua buah mobil terparkir di halaman rumah Abah.


"Sepertinya sedang ada tamu di sana", gumam Robi.


"Aden", sapa Mang Daman yang baru datang dari belakang, ia menoleh ke dalam kobong, dan melihat keberadaan Pak Robani di sana.


"Ayah Aden?", senyum Mang Daman.


"Iya..., tadi ketiduran di sana Mang",


"Kalau begitu, Mang langsung ke Masjid saja,sebentar lagi maghrib, mau menyalakan lampu di sana", pamit Mang Daman.


"Iya Mang", senyum Robi.


Kini Mang Daman selalu menghindar darinya, setelah beberapa kali Robi membicarakan masalah Badrun dengannya.


Apalagi di dalam ada Pak Robani, jadi ada alasan kuat buat Mang Daman untuk menghindari Robi.


Robi kembali masuk ke dalam, ia berusaha membangunkan papihnya.


"Pih....Pih....", Robi memanggil pelan papihnya.


"Pih...., sudah mau maghrib, bangun..., kita shalat berjamaah", panggil Robi.


Pak Robani tampak membuka matanya pelan, ia langsung tersentak, bangkit dari tidurnya.


"Euh...maaf..., Papih ketiduran", ucapnya sambil tersenyum ke arah Robi.


"Papih itu tidur...., ini sudah mau maghrib lho, kita ke Masjid bareng Pih", ajak Robi.


"Ke Masjid....?, shalat..., maksudnya....?", tatap Pak Robani.


"Ya iya lah Pih....shalat, masa mau berenang", kekeh Robi.


"Tapi Papih sudah lama tidak shalat, malu ke sananya", tolak Pak Robani.


"Ya, di sana shalatnya berjama'ah Pih, tinggal ikutin gerakan imamnya saja, gampang kan?, nanti yang lainnya Robi bisa beritahu di sini, malu kalau tidak ke Masjid, masa ada di Pondok tidak shalat", Robi menatap papihnya.


"Iya juga, tapi Papih masa pake baju kerja begini ke Masjid?",


"Itu ada baju koko di dalam, masih baru Pih", senyum Robi, ia membuka lemari kecil di samping Papihnya duduk dan mengambil satu baju koko yang masih baru, masih ada label harganya.


"Ini baju siapa", Pak Robani menerima baju itu.


"Punya Robi Pih, stok", kekeh Robi.


"Sudah..., pake saja, sebentar lagi adzan",


Pak Robani segera mengganti kemeja kerjanya dengan baju koko pemberian Robi setelah mencopot label harganya terlebih dahulu.


"Tuh...pantas kan", senyum Robi, ia memandangi papihnya yang sudah berganti baju.


"Lumayan lah, sudah lsma Papih tidak memakai baju beginian", Pak Robani memandangi dirinya lewat cermin.


"Kita wudhu di sini saja", ajak Robi.


Dengan diberitahu dulu oleh Robi, Pak Robani berwudhu di kamar mandi yang ada di dalam kobong, Robi juga.


Setelah itu, mereka berangkat bersama menuju Masjid.


Suara adzan sudah berkumandang, itu jelas terdengar suaranya Ustad Fadil yang adzan.

__ADS_1


Di halaman halaman Masjid mereka bertemu dengan rombongan Abah, di sana ada Bu Arimbi juga.


"Mamih?",


"Papih?",


Bu Arimbi dan Pak Robani saling menyapa, mereka sama-sama merasa kaget, apalagi Pak Robani kembali melihat istrinya itu dengan setelan gamisnya.


"Alhamdulillah... , jadi kalian baru saling bertemu?", tatap Abah.


" Iya.. Abah, tadi saya di kobongnya Robi, ketiduran", kekeh Pak Robani.


"Ya sudah , kalian berdua malam ini nginap di sini saja, jarang-jarang kan bisa barengan ke sini?", senyum Abah.


Bu Arimbi dan Pak Robani saling pandang.


"Sudah..., sekarang shalat dulu saja", ajak Abah.


Mereka kembali berjalan menuju Masjid, Robi melirik ke arah Tiara yang kini ada Nyimas disampingnya.


Setelah melakukan shalat Tahiyatul Masjid, Abah menepuk pundak Robi, itu tandanya beliau menyuruh Robi untuk menjadi imam.


Robi melirik ke arah Abah. "Bismillah...Nak, kamu pasti bisa", senyum Abah.


Robi tersenyum sambil merengkuh takjim. Ia pun berdiri menuju mimbar imam.


"Robi..., mau jadi imam", gumam Pak Robani.


Setelah Ustad Dzaqi melafaskan iqomat, Robi pun mulai mengimami shalat.


Walau hanya surat-surat pendek yang ia baca, namun pelafalannya sempurna, suaranya yang merdu membuat bergetar hati Pak Robani.


Beliau hampir saja menitikkan air mata jarena merasa bangga dan bahagia, anaknya yang dulu terkenal liar dan urakan, kini sudah menjelma menjadi seorang pengikut ulama.


Shalat pun berjalan khidmat sampai salam. Sebagian santri sudah ada yang mulai membentuk kholaqoh-kholaqoh untuk belajar mengaji, mereka diajarkan oleh para santri senior.


"Alhamdulillah Nak...., kamu sudah bisa, tapi ingat !, harus tetap belajar", senyum Abah.


"Iya Abah",


"Papih senang sekali, kamu bisa seperti ini", Pak Robani kini memeluk Robi.


"Cucunya Furqon", Abah menepuk pundak Robi.


"Sudah, kita kembali ke rumah saja, Umi tadi sudah memasak, pasti kamu lapar kan?, dari tadi dianggurin oleh Robi", senyum Abah.


"Aku di sini dulu Pih", ucap Robi, ia tidak ikut ke rumah Abah bersama kedua orang tuanya.


Robi ikut mengaji dengan santri lainnya. Begitu pun Tiara, dia masih tinggal di Masjid, kini bersama Nyimas, dia pun menunggu waktu isya sambil mengajar mengaji para santri putri.


"Ayo makan dulu, maaf menunya seadanya", senyum Umi. Mereka berempat sudah berada di meja makan yang ada di rumah Abah.


"Aduh..., kami yang minta maaf Umi, jadi merepotkan", senyum Bu Arimbi.


"Ah...tidak, ini sudah biasa, dulu Abah yang sering merepotkan Furqon", senyum Abah. Mereka tampak menikmati makanannya sambil sesekali ngobrol.


"Nah ini kamar buat kalian", Umi menunjuk salah satu ruangan di rumahnya.


Bu Arimbi dan Pak Robani saling pandang, mau tidak mau malam ini mereka harus tidur satu kamar, tidak enak juga menolak, lagi pula sampai sekarang mereka masih sepasang suami istri yang sah, walau sering kali terjadi cekcok, namun tak sekali pun ada kata talak yang diucapkan Pak Robani.


"Euh...iya..., terima kasih Umi", Bu Arimbi tersenyum getir.


"Kalau mau istirahat lebih dulu, silahkan!, Robi dan Tiara biasanya jam sembilan baru pulang", ucap Abah.


"Oh...iya, nanti menunggu isya dulu", alasan Bu Arimbi. Mereka kembali duduk di ruang keluarga. Namun rasa kantuk menyerang Bu Arimbi, ia merasa sangat lelah, dari pagi belum istirahat ,tidak seperti Pak Robani yang sudah nyenyak tidur di kobong Robi.


"Mih..., tidurkan saja, sepertinya kamu kelelahan", Pak Robani mengingatkan istrinya yang tampak sangat ngantuk, berulang kali dirinya melihat Bu Arimbi menguap.

__ADS_1


"Iya Bu, sana istirahatkan saja, besok masih banyak pekerjaan dengan Tiara kan?, kalau Umi mah sudah biasa, tidurnya menunggu Tiara pulang dulu", senyum Umi.


"Iya Umi, maaf saya tidur duluan", pamit Bu Arimbi , ia segera menuju ruangan yang tadi di tunjuk Umi, tak selang lama, Pak Robani pun mengikutinya.


Sedangkan Abah, sudah ada di ruang bacanya, ia sedang menyiapkan materi untuk diajarkan kepada Robi nanti.


Bu Arimbi sudah memasuki kamar, di sana hanya ada satu tempat tidur yang ukurannya pun tidak terlalu besar, ia duduk di pinggirnya .


Belum juga ia rebahkan tubuhnya , Pak Robani sudah memasuki kamarnya.


"Eehhh..., mau apa ke sini", gertak Bu Arimbi.


"Ya...mau tidur lah", jawaabnya datar.


"Di sini hanya ada satu tempat tidur, tidak bisa untuk berdua", tolak Bu Arimbi.


"Terus..., aku tidur dimana?",


"Yah...terserah lah..., yang pasti tidak di sini", tegas Bu Arimbi.


"Ya sudah...", Pak Robani kembali membalikkan tubuhnya menuju ke luar kamar, namun pintu keburu ada yang mengetuk, di sana Umi sudah berdiri dengan selimut ditangannya.


"Maaf ini selimutnya, di sini dingin", senyum Umi, ia memberikan selimut kepada Pak Robani yang sedang berdiri dihadapannya.


"Iya, terima kasih Umi", senyum Pak Robani. Setelah memastikan Umi jauh dari kamarnya, Pak Robani kembali membalikkan badannya ke arah Bu Arimbi.


Ia berjalan mendekatinya. "Mih..., please!, ini di rumah Abah, apa kata mereka kalau sampai tahu kita tidur terpisah, kasihan Robi juga nanti, cuma malam ini saja", Pak Robani memelas.


Bu Arimbi termenung sejenak. Ia melihat sekeliling kamar, tidak ada tempat lain selain risbang yang kini sedang ia duduki.


Untuk menyuruh Pak Robani tidur di lantai pun tidak tega rasanya.


"Ya...sudah, sana , tapi ingat!, jangan macam-macam", tegas Bu Arimbi.


"Iya...iya..., mau macam-macam juga tidak dosa kan, sama istri sendiri ini", seringai Pak Robani sambil mendekati risbang, lalu ia rebahkan tubuhnya di sana, sementara Bu Arimbi masih duduk mematung di tempat semula.


Robi sedang menuju rumah Abah, Tiara dan Nyimas berjalan dibelakangnya . Robi tidak banyak bertanya soal Nyimas, ia kira Nyimas adalah kerabatnya Tiara.


Dua bocah kecil pun berjalan bersama Robi. Walau tidak bisa memeluk Risman, namun setidaknya hati Nyimas merasa tenang, karena ternyata anaknya baik-baik saja.


Saat akan memasuki rumah, ada suara yang mengagetkan mereka.


" Di tinggal beberapa hari saja, kalian sudah makin dekat saja",


Robi dan Tiara serentak menoleh ke sumber suara. Tampaklah olehnya Fikri sedang berdiri dan menatap mereka tajam.


"Alhamdulillah...sudah kembali?, bagaimana sehat Pak Ustad?", sapa Robi, ia langsung menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Fikri, namun tak diindahkan oleh Fikri.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja", jawabnya datar.


Nyimas yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka, hatinya seketika bergejolak, amarah tiba-tiba datang begitu didengarnya suara dari orang yang telah memaksanya dulu, ia ingin rasanya mencakar -cakar wajahnya, agar rupa aslinya terlihat.


Namun Nyimas berusaha untuk mengendalikannya, karena semua akan berantakan jika dirinya ceroboh.


Perlahan ia balikkan tubuhnya untuk bisa melihat orang di belakangnya, ia ingin memastikan kebenaran sangkaannya, dan benar saja, walau sekilas ia bisa jelas melihat rupa Fikri, tangannya mengepal keras, tubuhnya menggigil.


"Nyimas..., kamu kenapa?, pasti kambuh lagi ya?", Tiara segera memegang tubuh Nyimas dan membawanya masuk.


"Nyimas....Nyimas....Nyimas.....", Fikri melirik, namun Tiara sudah terlanjur masuk diikuti dua bocah, Gilang dan Risman.


'Apa tidak salah dengar?, Nyimas siapa?', pikir Fikri


"Sudah , saya cape, mau istirahat", Fikri pun cepat berlalu dari hadapan Robi yang tampak bingung melihat kejadian dihadapannya yang secepat kilat berlalu.


Robi pun segera mengikuti Tiara masuk dan menutup pintu.


"Nyimas....Nyimas..., siapa lagi ini?, kok bantak nama yang sama", gumam Fikri.

__ADS_1


__ADS_2