Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Terpesona


__ADS_3

"Semenjak ada Rahmat, bengkel kita mulai rame, aku menyukai cara kerjanya yang teliti, banyak pelanggan lama yang pada datang lagi ke sini, si Rahmat sudah kaya magnet pengikat saja", Ucap Dery. Ia memperhatikan Rahmat yang sedang mengganti oli sepeda motor pelanggannya.


"Dia itu mengingatkan aku pada Robi", tatap Ronal.


"Ah ...ngarang Loe, jelas beda, si Rahmat itu nggak se liar Robi, dia itu rajin shalat, dan yang pasti juga kere, dia bisa bertahan hidup dari gaji yang Gue kasih, kalau si Robi mah wah....,tajir melintir, tiap bulan uang mengalir dari orang tuanya", kekeh Dery.


"Tumben tidak ada,kemana Marisa?", Ilyas menengok ke dalam.


"Ngapain Loe nanya-nanya Marisa?", gertak Dery.


"Ya , beda saja suasananya kalau dia tak ada", senyum Ronal.


"Bengkel ini rasanya gersang", kekeh Ilyas


"Oh iya, awal bulan depan mau ada balapan lagi Der!, kita malah ditantang oleh gengsnya Si Eko", kabari Aleks.


"Gue lagi malas ngebahas soal itu, sejak Marisa bersama Gue, Gue kewalahan dengan segala sifat manjanya, apalagi dengan hobi shoppingnya",


"Dulu, bagi si Robi sih tidak masalah, secara dia kan tajir, lah Gue, cuma ngandeluin dari bengkel , lama-lama bisa habis modal", keluh Dery.


"Kenapa nggak ikutan balapan lagi, kan lumayan kalau menang, duitnya bisa pake senang-senang", kompori Ronal.


"Tadi si Aleks juga ngomong kan, kalau bulan depan si Eko nantangin kita balapan lagi", Ronal menatap Dery.


"Iya, sih...., tapi gimana caranya biar Gue menang lagi", Dery menerawang.


Dalam pikirannya selalu dipenuhi niat jelek, dia selalu ingin menang, dengan kemampuan yang pas-pasan, sehingga selalu saja melakukan hal licik, seperti yang dilakukan kepada Robi dulu.


"Nantilah kita pikirkan caranya, Gue mau ada urusan sebentar", Dery meninggalkan bengkel dengan mekajukan motornya cepat , dia sudad di chat berkali-kali untuk menjemput Marisa di salon kecantikan.


Siang itu jalanan tidak seramai biasanya. Di pinggir pasar, Dery melihat beberapa orang berkerumun, mereka sedang menghakimi seorang anak kecil yang ketahuan mencuri roti di sebuah warung. Pemandangan itu menarik perhatiannya, hingga Dery menepikan motornya.


Terlihat juga seorang berbaju lebar yang membela anak itu dari kemarahan para pedagang.


"Sudahlah Pak, Bu, maafkan anak ini, mungkin dia lapar, hingga sampai mencuri", bela wanita berbaju lebar itu. Dia adalah Tiara yang kebetulan lewat.

__ADS_1


Pagi itu dia baru pulang belanja.


"Tapi ini sudah sering terjadi, bukan hanya sekali, lama-lama kan bisa rugi, kalau terus di curi", sewit pedagang itu.


"Ya sudah, saya kan akan mengganti semua kerugian Bapak, berapa?, saya juga yang akan menjamin kalau anak ini tidak akan mengulangi perbuatannya, saya akan membawa anak ini ", tegas Tiara.


"Memangnya mau dibawa kemana?, nanti juga bisa datang lagi ke sini dan mencuri lagi", sewot pedagang.


"Saya akan bawa dia ke rumah, biar dia bisa sekolah di sana, jadi tidak akan mencuri lagi di sini", tegas Tiara, ia memegangi pundak anak kecil itu yang nampak ketakutan bersembunyi disampingnya.


"Baiklah...., tapi kalau nanti kita melihat lagi anak itu di sini, dan mencuri lagi, jangan halangi kami untuk membawanya ke kantor Polisi, biar ditahan sekalian di sana, iya nggak", seru seorang pedagang.


"Iya, setuju", serentak semua.


"Baiklah, ini ambil untuk ganti rugi dagangan Bapak", Tiara menyodorkan sejumlah uang kepada pedagang itu.


"Nah...gitu dong, sana cepat bawa pergi, sebelum kita berubah pikiran", senyum pedagang itu sambil menghitung uang pemberian Tiara.


"Ayo naik Dik, ikut Kakak ya, di sana akan banyak teman", Tiara berjongkok di depan anak lelaki yang tampak terisak.


"Sudah..., jangan menangis, kamu sudah aman, jangan mencuri lagi ya", senyum Tiara, ia terlihat menyeka air mata anak itu dengan tisu.


"Naik saja dulu, kita cari makanan nanti di sana, sekarang kita harus pergi dulu dari sini", jak Tiara.


Anak itu menurut, ia melirik kepada para pedagang yang menatapnya garang, lalu naik ke atas motor yang telah dihidupkan ileh Tiara.


"Terima kasih Pak, Bu, saya pergi, Assalamu'alaikum", seru Tiara di atas motor sebelum melaju meninggalkan mereka.


Para pedagang menatapnya, bengong, "Wa'alaikum salam", jawab seorang pedagang. Mereka menatap kepergian Tiara, dan berharap anak itu tidak kembali ke pasar lagi.


Tidak halnya dengan Dery, ia mengikuti Tiara hingga berhenti di suatu warung nasi. Tiara membawa turun anak itu, dan membawanya masuk, tentu saja ia akan membelikan anak itu makan. "Sini, ambil saja apa yang kamu mau", Tiara membimbing anak itu untuk mengambil nasi dan lauknya.


Hanya sayur dan telur dadar saja lauk yang ia ambil . Kembali Tiara membimbing anak itu duduk, Tiara memilih kursi yang diluar, karena ia merasa risih oleh pandangan para pengunjung lain yang terus memperhatikan anak disampingnya yang berpenampilan kucel.


"Nah, di sini saja, Ayo makan dulu!, ooh iya siapa nama kamu?", tatap Tiara.

__ADS_1


"Gilang Kak", jawabnya singkat.


"Ayo Gilang, makan!", ulangi Tiara


Tanpa basa basi Gilang langsung melahap makanan yang ada dihadapannya.


"Eit...jangan terburu-buru!, baca do'a dulu", Tiara memegang lengan Gilang.


"Gilang yang sedang mengunyah, menatapnya bingung.


"Bismillahirohhmaniirrohiim, bilang begitu saja", senyum Tiara.


Gilang menurut, ia meniru ucapan Tiara.


"Nah, sekarang habiskan makannya!",


Tiara merasa terenyuh memperhatikan Gilang yang sedang makan, ia nampak lahap, dan dengan sekejap ia habiskan makanan yang ada dipiringnya tanpa sisa.


"Alhamdulillah..., mau nambah?", tawari Tiara, ia melihat Gilang masih celingukan.


"Mau yang itu", Gilang menunjuk ke arah etalase yang didalamnya berjejer aneka minuman.


"Oh ...itu, sebentar!,Tiara mengambil buah susu kotak yang ditunjuk Gilang tadi.


"Kenapa sampai mencuri di pasar?, orang tuamu dimana?", Tiara menatap Gilang yang sedang meminum susu kotak yang ia berikan.


"Ibu pergi, Ibu tinggalkan aku ", jawab Gilang datar.


'Kasihan kamu', Tiara menatap wajah polos Gilang. Padahal dulu Tiara sampai menangis-nangis saat adik laki-lakinya tiada karena sakit.


'Abah dan Umi juga sepertinya tidak akan keberatan jika aku membawa Gilang ke Pondok' , pikir Tiara.


Tanpa sadar, ia mengelus lembut kepala Gilang yang kotor, penuh dengan debu jalanan. Jangankan untuk mandi mungkin, untuk makan saja ia harus mencuri di pasar.


"Sudah makannya?", Tiara menatap Gilang. Ia terlihat menahan kantuk.

__ADS_1


"Lucu kamu, ngantuk ya?", Tiara kembali meraih tangan Gilang, ia membayar ke kasir, lalu menuntun Gilang menaiki motornya kembali. Kali ini Tiara menaikkan Gilang di depan, karena takut ia tertidur jika dibawa dari belakang.


Setelah itu ia melajukan motornya perlahan, menuju Pondok.


__ADS_2