Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Kembali ke Masa Lalu


__ADS_3

"Ustad Fikri?", Tiara menatap Fikri yang terlihat tidak kalah kagetnya saat melihat banyak orang yang ia kenal ada di ruangan Marisa.


'Aduh...., lagi pada ngapain di sini?, bisa gawat nih', batin Fikri bicara. Maju kena mundur kena jadinya.


Bi Iroh pun sama, ia hanya diam saja, takut salah bicara.


"Euh...Tiara, Ibu, kok semua ada di sini?", Fikri cepat-cepat mengalihkan pembicaraan. Matanya sekilas melirik kepada Nyimas.


"Pak..., mereka ini orang yang sudah menolong Bu Marisa, dan berkat Ibu ini, Ibu Marisa bisa keluar dari kondisi kritisnya", terangkan Dokter sambil menunjuk ke arah Nyimas.


Fikri melirik ke arah Nyimas, lalu kepada Bi Iroh.


Bi Iroh hanya menunduk, ia bisa membaca, Fikri menatapnya seolah bertanya kepada dirinya soal Nyimas.


"Oh...begitu ya..., terima kasih, semoga Allah membalas semua kebaikannya", senyum Fikri.


"Jadi...., Marisa ini adiknya Pak Ustad?', selidiki Tiara.


Fikri bingung, ia sontak jadi salah tingkah, namun tidak mungkin juga dirinya berbohong , apalagi ada Ibu Arimbi dan Dokter.


" Euh...., iya..., Marisa adik saya", aku Fikri.


"Dia baru datang dari Desa, dan melahirkan di sini", ungkap Fikri.


"Terima kasih sudah menolong Marisa", ucap Fikri lagi.


"Sama-sama Ustad, Ibu titip anak Ibu, Robi, dia masih harus banyak belajar, agar bisa menjadi Ustad handal seperti Ustad Fikri", senyum Bu Arimbi.


"Kita permisi dulu, semoga Marisa cepat sembuh, Assalamu'alaikum", pamit Tiara, hatinya sudah tidak enak berlama-lama satu ruangan dengan mereka, terutama Ustad Fikri.


"Wa'alaikumsalam", jawab Fikri. Ia segera menghampiri Marisa dan melihat keadaannya.


"Untung ada Neng Nyimas, dia yang mendonorkan darahnya untuk Marisa", kabari Bi Iroh.


"Tolong awasi pasiennya ya Bu, kalau ada apa-apa, segera hubungi kami, Bu Marisa masih harus di pantau, kita lihat perkembangannya satu malam ini", ucap Dokter sebelum meninggalkan ruangan .


"Baik Dok", rengkuh Bi Iroh.


"Wah...gawat-gawat....", Fikri menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi.


"Apa yang terjadi Den?", tatap Bi Iroh.


"Suami Marisa tertangkap Polisi Bi", ucap Fikri dengan suara pelan.


Bi Iroh berjalan mendekati Fikri. "Apa Den?, suaminya Neng Marisa kenapa?", Bi Iroh kembali bertanya.


"Bi jangan bicara apa-apa dulu sama Marisa soal Dery, dia masih labil", pinta Fikri.


"Memangnya kenapa dengan fen Dery?", tatap Bi Iroh.


"Bi..., Dery sudah di tahan di kantor Polisi, ternyata dia buronan Polisi, kabur dari kota untuk bersembunyi di desa kita", jelaskan Fikri dengan suara pelan.

__ADS_1


"Biar saya saja nanti yang bicara dengan Marisa soal ini",


"Baik Den",


"Bi....", Fikri mendekati Bi Iroh.


"Apa Bibi curiga tidak sama wanita bercadar yang tadi menolong Marisa?, apa dia orang yang sama?", bisik Fikri.


"Bibi kurang tahu, tapi sepertinya iya , kalau benar bagaimana?, apa dia tidak akan mengungkit masalah dulu?",


"Biar saya yang urus Bi, apa tujuan dia muncul lagi di sini", Fikri tersenyum evil.


"Den, dia kan bawa anak laki-laki, di mana anaknya sekarang?", tatap Bi Iroh.


"Oh...iya...Bi, saya baru ingat, kalau dia Nyimas yang dulu, pasti dia membawa anaknya juga", Fikri menerawang. Ia juga penasaran, ingin melihat anak yang menjadi darah dagingnya.


*****


Pasca kejadian di malam peringatan tahun baru Islam, Pihak Kepolisian terus mengadakan penyelidikan di bengkel miliknya Robi.


Ronald dan Ilyas kini menjadi santri mukim, sambil menunggu selesainya penyidikan. Sedangkan Aleks dan Joko menghilang, entah pergi ke mana mereka.


Gilang dan Risman pun sudah kembali ke Pondok, namun tidak ada bukti kuat tentang dugaan racun yang terkandung dalam minuman yang diberikan Fikri kepada mereka.


Jelas hal ini membuat Fikri bernafas lega.


Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian, sejak ramai pemberitaan karnaval yang berakhir kacau, semua media terus menayangkan rekaman kejadian tersebut, hingga semua orang bisa melihat busana muslim yang para santri pakai.


"Alhamdulillah..., ini ada beberapa orang yang mulai menanyakan busana muslim rancangan kita", Bu Arimbi tampak tersenyum melihat beberapa pesan masuk dalam ponselnya.


"Ini kabar baik untuk para santri, mereka pasti akan merasa senang, ini bisa menambah penghasilan bagi mereka", senyum Bu Arimbi.


"Sudah beberapa hari ini Risman di Pondok, kenapa dia jadi tidak mau pulang?, kok dia jadi lebih betah di sana?", Bu Arimbi menerawang.


Bu Arimbi kembali teringat saat di Rumah Sakit, reaksi Nyimas dirasa berlebihan saat mengetahui Risman keracunan sampai kondisinya kritis.


"Siapa wanita itu?, Risman bilang ibunya meninggalkannya waktu di pasar, apa mungkin Nyimas itu...., ah tapi kenapa dia harus berpura-pura?, apa tujuannya?", Bu Arimbi terus bicara sendiri.


Pak Robani memperhatikannya sambil tersenyum .Tingkah istrinya itu terlihat lucu .


"Ada apa Mih?, kaya lagi baca puisi saja", Pak Robani menghampiri dan duduk di dekat istrinya.


" Ini Pih..., aku curiga sama Nyimas, reaksinya berlebihan sekali saat Risman kritis , heran saja sih, kan mereka baru ketemu, tapi kaya ibu dan anak gitu",


"Ah..., jangan cepat mengambil keputusan, kita pura-pura tidak tahu saja, selidiki diam-diam", usul Pak Robani.


"Lagi pula bagus kan, kalau Risman bertemu dengan ibu kandungnya, karena di sanalah tempatnya",


"Iya..., memang benar, tapi apa tujuannya coba, Nyimas pake sembunyi-sembunyi segala untuk mengakui Risman anaknya, pasti ada sesuatu ...", Bu Arimbi mulai curiga.


"Iya..., kita selidiki diam-diam dulu, biarkan saja mengalir apa adanya, biar kita bisa menemukan jawabannya", tatap Pak Robani.

__ADS_1


"Iihhh...Papih pintar ya", senyum Bu Arimbi.


b e"Kalau tidak pintar, mana mungkin bisa punya Perusahaan dan punya istri pintar seperti Mamih", Pak Robani kini melingkarkan tangannya pada pinggang Bu Arimbi.


"Pih..., Mamih dapat proyek baru, ini banyak orang yang tertarik dengan busana muslim yang dirancang Mamih dan Tiara kemarin, ini bagus kan?, Mamih rencananya ingin seriusin bisnis ini, biar Mamih tidak keliling dunia terus, Mamih jadi bisa stay di sini", tatap Bu Arimbi.


"Bagus... Itu Mih, kita jadi bisa membina anak-anak santri di sana juga, biar sekalian bisa lebih sering bertemu dengan Robi",


"Iya , Mamih setuju",


"Ya sudah..., Papih pergi dulu, Pak Rusman meminta Papih bertemu, ia sudah menemukan bukti dari penyebab terbakarnya bengkel Robi",


"Oh...iya, Mamih juga mau ke Pondok saja, mau membicarakan proyek baru ini sama Tiara",


"Kita berangkat bareung saja, kan satu arah, biar nanti Papih jemput lagi ke Pondok, bagaimana?",


"Iya", senyum Bu Arimbi. Hubungannya makin membaik saja dengan Pak Robani.


Mereka tampak bersiap dan segera meninggalkan rumah menuju Pondok.


*****


Di Pondok, kumandang adzan Dzuhur sudah berkumandang, Robi kini sudah terbiasa adzan dan menjadi imam sholat, bahkan para jemaah pun mulai menyukai caranya berdakwah, walau hanya mengisi kultum, tetapi itu sudah cukup membuktikan kemampuannya .


Berbanding terbalik dengan Fikri, dia kini sudah jarang beraktifitas di Masjid dan di Madrasah, Fikri kini harus sering bolak-balik menjenguk Marisa.


Fikri mulai kerepotan, ia sudah jarang terlibat dalam kegiatan di Pondok.


Sepertinya posisi dia akan tergantikan oleh Robi.


"Eh....kemana Risman?, kok sendiri?", Robi memegang pundak Gilang yang sudah bersiap untuk shalat.


"Risman lagi bersama Teh Nyimas?, dia selalu ingin bersama Teh Nyimas, malah tidurnya pun ingin bersama Teh Nyimas terus", aku Gilang. Dia bicara apa adanya.


"Eum....kenapa begitu ya?, biasanya Risman kan pulang dengan Mamih", gumam Robi.


"Sini A", Gilang mendekatkan mulutnya ke telinga Robi.


"Apa?", Robi menunduk mensejajarkan tubuhnya dengan Gilang .


"Risman bilang, kalau Teh Nyimas itu Mamahnya",


"Hah...", Robi terhenyak.


"Kata siapa....?", namun belum sempat di jawab, Ustad Fadil sudah membaca Iqomat dan Gilang keburu kabur dari hadapannya.


'Risman anaknya Nyimas?, apa dugaanku selama ini benar?, Nyimas ini orang yang sama, orang yang berasal dari masa lalu Ustad Fikri' baton Robi bicara.


"Ustad, silahkan imamnya!", persilahkan Ustad Dzaqi kepada Robi.


"Ah...silahkan saja, Ustad Dzaqi dulu", senyum Robi.

__ADS_1


Robi masih kepikiran dengan ucapan Gilang barusan,jadi ia takut tidak konsentrasi saat menjadi imam nanti.


__ADS_2