Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Halangan Lagi


__ADS_3

"Tunggu...", sebuah suara menghentikan langkah Robi dan Tiara yang baru saja hendak menyeberang .


Robi dan Tiara, melirik ke sumber suara. Tampak dua orang laki-laki yang tidak mereka kenal sedang berjalan cepat kearah mereka.


"Siapa mereka, kamu mengenalnya?", tatap Tiara dengan suara pelan.


"Tidak, aku tidak mengenal mereka, jangan-jangan..., mereka itu orang komplotan orang yang menculik kamu..., kita lari saja, ayo...!!", Robi setengah menggusur Tiara dengan memegang erat pergelangan tangannya, dan dibawanya menyebrang cepat.


Suara klakson langsung terdengar ramai, karena pergerakkan Tiara dan Robi yang mengacaukan lalu lintas. Robi terus mengajak Tiara berlari ke arah Pasar.


Sengaja Robi berlari ke arah sana untuk mengacaukan penglihatan orang yang mengejarnya.


"Aduh..., pelan-pelan !!", keluh Tiara, ia terlihat meringis, sudah perutnya sakit, diajak berlari lagi, mana suasana pasar lagi ramai, tak jarang Tiara bersinggungan dengan tubuh orang yang dilewatinya.


"Aduh...., maaf..., maaf..., maaf....", ucap Tiara saat tubuhnya beberapa kali berbenturan dengan tubuh orang yang dilewatinya.


"Aku sudah tidak kuat", keluh Tiara, ia memperlambat langkahnya.


Robi melihat Tiara, ia sudah kelelahan, keringat terlihat membasahi sebagian wajahnya. Robi pun melihat ke arah jauh, ia mencari dua orang tadi, apa masih mengejarnya.


"Ah..., mereka masih mengejar lagi", Robi berpikir cepat, ia menarik Tiara ke sebuah lapak penjual sayuran, mereka sembunyi dibawahnya, untung saja pemilik lapak sayur juga sedang mengambil sayuran ke depan.


"Cepat banget larinya, kemana mereka?", terdengar suara orang bicara di dekat tempat persembunyian Robi dan Tiara.


"Bu...apa Ibu melihat dua orang lewat sini?, satu wanita bercadar, dan seorang pria muda tampan lewat sini?", terdengar salah satu dari pria itu bertanya kepada pedagang sayuran.


"Rasanya tidak melihat, Ibu baru saja dari depan mengambil sayur nangka, dari tadi banyak sih yang lewat, tapi ciri-cirinya tidak ada yang seperti Bapak ucapkan tadi", jelaskan Pedagang sayur.


Tiara mengaduh menahan sakit, namun cepat-cepat Robi menutup mulut Tiara dengan telapak tangannya.


Tiara sampai melotot kaget.


"Oh..., begitu ya..., kemana mereka?, cepat sekali, ayo kita cari, biar tidak keburu jauh", ajak pria yang satu lagi.


Terdengar suara langkah mereka menjauhi lapak sayuran. Robi bisa melihatnya dari celah lapak yang terbuat dari bambu yang dirangkai jarang-jarang.


"Alhamdulillah...", gumam Robi, ia melepas dekapan tangannya dari mulut Tiara. Tiara pun batuk.


Sontak pemilik lapak sayuran menengok ke arah bawah dan mendapati Robi dan Tiara.


"Kalian..., ternyata kalian ada di sini?, kalian yang dicari dua pria tadi kan?",


"Tolong Bu", Ucap Robi dengan menangkupkan kedua tangan di depan dadanya , ia memohon kepada pemilik lapak sayuran itu.


"Sebentar..., kalian aman, ayo keluar dari sana", perintah pedagang sayur.


Robi dan Tiara pun menurut, mereka keluar dari persembunyiannya dan duduk di dekat Ibu pedagang sayur.

__ADS_1


"Tenang!, mereka sudah pergi, kalian ini siapa, kalian baru di sini?, oh iya panggil saja Ibu, Ibu Widi",


"Terima kasih Bu, saya Robi, dan ini Tiara, kami diikuti dua orang tadi, kami baru di sini Bu, kami mencari toko pakaian", terangkan Robi.


"Oh..., kalian ini pasangan muda ya?, lagi berbulan madu ke sini?", senyum Bu Widi.


"Tidak Bu, kami hanya jalan-jalan, dan tas kami ketinggalan, jadi kami lagi mencari toko pakaian", senyum Robi. Ia berusaha meyakinkan Bu Widi, bukan sengaja bohong, tapi untuk jaga-jaga saja.


"Di depan sana, ada Supermarket, kalian bisa belanja di sana", beritahu Bu Widi.


"Iya..., terima kasih Bu, maaf kami sudah merepotkan, dan tanpa ijin dulu, kami masuk dan sembunyi di sini", tunduk Robi.


"Tidak apa-apa Nak..., Ibu senang bisa membantu",


"Ini untuk Ibu, anggap saja sebagai ucapan terima kasih dari kami", Robi menyerahkan beberapa lembar uang merah kepada Bu Widi.


Bu Widi sempat menolak, namun Robi mendesak untuk tetap menerimanya.


"Aduh..., terima kasih, semoga kalian berdua berjodoh sampai ke surga nanti", ucap Bu Widi.


"Aamiin...Aamiin...Bu...", senyum Robi sambil melirik ke arah Tiara.


Robi dan Tiara pun segera menuju tempat yang diberitahukan Bu Widi tadi. Benar saja ada sebuah supermarket di sana.


Robi dan Tiara segera memasukinya, dan memilih pakaian di sana untuk mereka.


Setelah selesai belanja, mereka menuju Mushola, berniat mandi dan berganti pakaian di kamar mandi yang ada di sana.


"Aduh..., kemana lagi itu anak ", gumam Robi.


Tak lama Tiara keluar, ia mencari keberadaan Robi, ia melambaikan tangan ke arahnya.


Robi pun menghampiri dengan tersenyum, dimatanya, Tiara terlihat makin cantik saja setelah berganti pakaian


"Ada apa...?", tatap Robi.


"Aku lupa..., gimana dong?, bisa banjir...", ucap Tiara.


"Apa lagi?, apanya yang banjir?", Robi masih terlihat bingung.


"Tolongin aku lagi ya..., beliin...itu...",


"Beliin apa ...?, makanan?"


"Beliin , beliin...pembalut ya...", Tiara menunduk karena malu.


"Oh...itu...", Robi tersenyum, ia melirik Tiara yang kini sedang menunduk menyembunyikan wajahnya yang memanas.

__ADS_1


" Sebentar..., aku ke bawah dulu , kamu tunggu di dalam saja, nanti aku panggil kamu", ucap Robi, ia merasa khawatir meninggalkan Tiara sendiri di Mushola Supermarket.


"Iya...", senyum Tiara, sambil segera kembali menuju kamar mandi yang ada di Mushola.


Robi pun bergegas menuju bawah, ia mencari barang yang dibutuhkan Tiara, tanpa malu Robi menuju rak yang memajang produk kewanitaan tersebut. Robi pun tidak peduli dengan orang-orang yang tersenyum melihatnya.


Padahal sebelumnya Robi paling anti pergi ke pasar, apalagi ini, belanja kebutuhan wanita. Tapi demi Tiara, ia rela melakukannya.


Setelah membayar, Robi bergegas kembali menuju Mushola, dan memanggil Tiara.


"Yang ini?", Robi menyodorkan bungkusan berisi pesanan Tiara.


"Iya..., terima kasih", Tiara segera menyambar pesanannya yang ada ditangan Robi dan segera masuk lagi ke dalam.


"Tiara...", panggil Robi, ia menghentikan langkah Tiara.


Tiara pun menengok dengan menyembulkan kepalanya sedikit ke arah Robi.


"Apa lagi...?", teriaknya.


"Mau sekalian dibantu memakainya nggak", senyum Robi.


"Iihh...., enak saja", Tiara melengos sambil langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Robi baru sadar, dari kemarin dirinya belum melihat ponselnya, bahkan ia pun belum sempat memberi kabar kepada kedua orang tuanya.


"Ah...Mamih, Papih..., pasti kalian khawatir", gumam Robi.


Dari semalam ponselnya mati dan belum sempat di charge. Rencana setelah ini, Robi ingin membeli alat charge baru.


"Sudah ayo...!", suara Tiara mengejutkan Robi.


"Kita ke sini dulu sebentar, aku perlu sesuatu...", Robi berjalan lebih dulu, diikuti Tiara.


Robi memasuki deretan toko yang menjual aneka ponsel dan perlengkepannya.


"Nah..., aku butuh ini", Robi mengambil satu alat charge yang sesuai dengan ukuran ponselnya, setelah membayar, Robi segera pergi menuju Penginapan lagi.


Sambil berjalan, Robi tak henti melirik ke setiap arah, ia merasa ada yang sedang memperhatikannya.


"Alhamdulillah..., sampai juga", Robi segera menutup kembali pintu setelah Tiara masuk.


Dengan cepat Robi pun mencharger ponselnya, ia ingin segera mengabari kedua orangtuanya.


Belum juga rehat, di luar sudah terdengar keributan.


"Keluar....hai...kalian...ayo cepat keluar....!", teriak orang-orang di luar kamar .

__ADS_1


"Apa lagi itu?", Tiara inisiatif mendekat pintu dan mengintip dari balik tirai.


"Masya Allah..., mau apa mereka?", Tiara berdiri di balik pintu.


__ADS_2