Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Bukan Robi


__ADS_3

"Ini semua salahmu, sebagai Ibu, kamu tidak bisa mendidik Robi dengan baik, buktinya lihat sendiri kan, dia tumbuh liar dan tidak betah saat ada di rumah", Gerutu Pak Robani.


"Lho...kenapa aku yang disalahkan?, kamu juga sama Pih, sebagai ayah, kamu tidak bisa memberikan teladan yang baik kepada Robi, seharusnya Robi itu dekat dengan ayahnya, ini mah mana?", cibir Bu Arimbi.


"Robi itu anak kita satu-satunya, harapan kita menuju hari tua, penerus semua bisnis kita, kalau sekarang Robi begini?, bagaimana nasib bisnis kita nanti?, bisa hancur, sia-sia semua kerja keras kita", Bu Arimbi menunduk.


"Sekarang cepat cari dia!, kok malah diam saja!", desak Bu Arimbi.


"Drtt....drtt....drtt....", ponsel Pak Robani bergetar, ada sebuah pesan masuk. Pak Robani dengan cepat meraih ponselnya.


"Aku ke Kantor Polisi dulu, Robi sudah ditahan di sana", Pak Robani menyambar kunci mobil di atas lemari tv.


"Tunggu Pih...., aku ikut", Bu arimbi pun meraih tasnya.


"Kamu?, ikut dengan saya?", Pak Robani menatap lekat Bu Arimbi.


"Kenapa? tidak boleh?, kita mau pergi ke tempat yang sama kan?, jadi lebih baik kita berangkat bareng saja", Bu Arimbi mematung di tempat.


"Oh ...boleh...", Pak Robani melangkah lebih dulu menuju mobilnya , mereka duduk berdampingan di depan.


Setelah siap, Pak Robani mulai melajukan mobilnya menuju kantor Polisi


Ini pertama kalinya mereka berada satu mobil lagi, mereka berdua terlihat canggung, padahal status mereka masih suami istri.


"Tumben...sudah beberapa hari ini , tidak ada yang menyusulmu ke rumah", Bu Arimbi memulai pembicaraan.


"Siapa?", Pak Robani tampak fokus mengemudi, ia tidak begitu merespon istrinya.


"Nggak...", Bu Arimbi meralat ucapannya.


'Sudahlah..., biarkan saja', pikir Bu Arimbi, tadinya ia memancing pembicaraan soal Rena, tapi kayaknya suaminya sedang tidak memikirkan wanita itu.


Mereka diam, tidak ada obrolan lagi sampai mobil merapat ke halaman Kantor Polisi.


Mereka berdua turun bersamaan, Bu Arimbi tidak menunggu sampai suaminya membukakan pintu untuknya.


Mereka bergegas masuk. "Saya ...euh...kami orang tua dari Robi, apa bisa kami bertemu dengannya?", Pak Robani menghampiri salah satu petugas yang sedang berjaga di sana.


"Selanat Siang Pak, mari saya antar ke ruang tunggu", seorang petugas membawa mereka masuk dan mempersilahkan mereka duduk.


"Sebentar...saya panggilkan dulu saudara Robi", petugas itu masuk ke dalam.


Tak berapa lama ia kembali. "Maaf Pak, bisa tunggu sebentar, Robi sedang shalat dulu", kabari petugas.


Bu Arimbi dan Pak Robani tampak saling pandang mendengar Robi sedang shalat. Itu hal yang tidak pernah Robi lakukan sebelumnya.


Setelah menunggu beberapa saat, Robi datang menemui mereka. Robi duduk dihadapan kedua orang tuanya.


"Robi..., apa yang telah kamu lakukan, hingga harus berakhir di sini?", tatap Pak Robani.


"Robi tidak melakukan apa-apa Pih, Robi tidak melakukan seperti apa yang dituduhkan mereka, Robi bukan pelaku tabrak lari", jelas Robi.


"Ah...tidak mungkin, kalau tidak?, masa kamu ada di sini?",


"Aduh....Papih malu..., harus berurusan dengan pihak Kepolisian",


"Robi juga tidak memerlukan bantuan Papih kok, Robi bisa urus masalah ini sendiri, kalian pergi saja!, Robi tahu kok, ada urusan yang lebih penting buat kalian, daripada Robi, iya kan?",

__ADS_1


"Jangan begitu Nak, Mamih tahu kamu tidak bersalah, waktu itu kamu kan ada di Mal mengantar Mamih, malah kamu yang menolong korban kecelakaan di Pasar",jelas Bu Arimbi.


"Sebentar....Mih..., apa jangan-jangan Abah dan Umi korban tabrak larinya?, kok Robi yang disalahkan?", Robi memandang jauh.


"Nanti kita tanyai petugas, kita lihat BAP nya, kalau benar dua orang yang kamu tolong itu korban tabrak larinya?, berarti ini salah orang, ada pelaku sebenarnya di luar sana.", Bu Arimbi berargumen.


"Tapi kenapa Polisi bisa langsung menetapkan kamu sebagai pelakunya?", kembali Pak Robani menatap Robi.


"Robi tidak tahu Pih, Robi juga bingung",


"Sebentar Papih bicarakan hal ini dengan teman Papih", Pak Robani berdiri ia tampak mencari seseorang.


"Maaf, saya mau bertemu Pak Rusman?",


"Oh...sebentar Pak, beliau lagi ada tamu", jawab seorang petugas.


Pak Robani menunggu untuk beberapa saat , setelah itu Pak Rusman menemuinya. Ia tampak berbicara serius dengan Pak Robani.


Pak Rusman menjelaskan posisi Robi sebagai tersangka sangat kuat, karena bukti sepeda motir yang menabrak korban adalah benar sepeda motir milik Robi.


Kesaksian Bu Arimbi pun tidak meringankannya karena Bu Arimbi ibu dari Robi. Hanya ada satu jalan untuk membebaskan Robi, yaitu kesaksian dari korban. Dan itu harus menunggu sampai kedua korban benar-benar pulih, dan harus ada persetujuan dari pihak keluarga korban.


"Ya...kalau cuma itu jalan satu-satunya, kita tunggu saja, terima kasih sudah banyak membantu, aku titip Robi sementara di sini ", Pak Robani dan Pak Rusman saling berjabat tangan kembali.


Pak Robani kembali menemui Robi dan istrinya, ia menyampaikan apa yang sudah dibicarakan dengan Pak Rusman tadi.


"Biar Mamih yang akan menemui Abah dan Umi, Mamih akan meminta kesaksian dari mereka untuk membebaskanmu", Bu Arimbi memegang tangan Robi.


"Tenang saja Mih, Robi tidak apa-apa, kebenaran akan terungkap kok", senyum Robi, ia tampak pasrah walau untuk beberapa hari harus menginap di hotel prodeo.


"Ya sudah, kamu baik-baik di sana, kami pergi dulu", Bu Arimbi memegangi pundak Robi, sebelum mengejar Pak Robani yang telah lebih dahulu meninggalkan ruang tunggu di Kantor Polisi.


"Lho...kok, tidak ke sana?", Bu Arimbi menunjuk jalur sebelah kirinya.


"Stop!, biar aku sendiri saja yang ke Rumah Sakit menemui kedua korban itu", pinta Bu Arimbi.


"Kamu tidak malu apa?, harus mengemis pada mereka?",


Bu Arimbi menatap Pak Robani fengan pandangan marah dan kesal, ia tidak suka suaminya bicara seperti itu.


"Aku ibunya Robi, aku yang telah mengandung dan melahirkannya ke dunia ini, aku tidak akan membiarkan anakku menderita di sana, dan aku siap melakukan apa pun untuk bisa melihat Robi bebas kembali", ucap Bu Arimbi , ia bicara penuh penekanan.


Tanpa menunggu suaminya bicara, Bu Arimbi membuka pintu mobil dan keluar, ia berjalan cepat menuju jalur ke arsh Rumah Sakit. Ia terlihat menyetop sebuah taxi.


Sejenak Pak Robani diam di sisi jalan, ia merasa terpukul oleh kata-kata istrinya tadi.


Alih-alih menyusul istrinya ke Rumah Sakit, Pak Robani malah menginjak gas, melajukan kembali mobilnya menuju suatu tempat, ya..Pak Robani menuju Apartement Rena, sekretaris pribadinya.


Kondisi Abah dan Umi sudah membaik, mereka sudah sudah melewati masa kritisnya. Setiap hari para santri mengunjunginya silih berganti.


Begitu juga dengan Dery, ia sudah beberapa kali mengunjungi Abah dan Umi. Tanpa ada curiga sedikit pun, Tiara menerima kunjungan Dery.


Bu Arimbi yang sudah sampai di Rumah Sakit, ia langsung menuju ruang perawatan Umi. Di sana ia melihat Dery baru keluar dari sana.


"Ngapain anak itu ke sini?, dia itu kan temannya Robi", gumam Bu Arimbi, ia sengaja menyembunyikan tubuhnya di balik tembok, ia tidak ingin Dery melihatnya.


Bu Arimbi berjalan menuju ruangan Umi saat Ustad Fikri melihatnya dan menghampirinya.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu Nyonya?", sapa Ustad Fikri, ia berdiri tepat di depan Bu Arimbi dan menghalangi jalannya.


"Maaf..., saya mau lewat",


"Nyonya pasti mau bertemu Umi?, maaf..., Umi tidak bisa ditemui, beliau masih sakit", tegas Ustad Fikri.


"Mendingan Nyonya pulang saja, di sini dingin, nanti malah Nyonya yang sakit",


"Tapi saya....",


"Sudah...pergi saja, kehadiran Nyonya tidak dibutuhkan di sini", tegas Ustad Fikri, ia berjalan mendekati Bu Arimbi. Sontak Bu Arimbi mundur untuk menghindari sentuhan dengan Ustad Fikri.


"Iiih.....", Bu Arimbi pun membalikkan badan, ia meninggalkan Ustad Fikri yang tersenyum evil memandang kepergiannya.


'Dasar Ustad kampungan', Bu Arimbi memaki dalam hatinya. Ia tidak benar-benar pergi, tapi ia menunggu sampai suasana sepi, terutama sampai Ustad Fikri pergi.


"Biasanya dia pergi ke Masjid saat adzan", gumam Bu Arimbi. Ia memilih berjalan -jalan di mini market dekat Rumah sakit. Sampai waktunya tiba, ia kembali ke Rumah Sakit.


Benar saja, Ustad Fikri dan yang lainnya sedang shalat, jadi Bu Arimbi leluasa untuk menemui Umi.


Di dalam terlihat Tiara sedang duduk menemani Umi yang sedzng shalat sambil berbaring, Tiara sendiri sedang tidak shalat, ia sedang mendapat siklus bulanannya.


Tiara melirik ke arah pintu saat didengarnya suara ketukan.Tiara mendekati pintu dan membukanya.


Tiara mematung saat melihat wanita berdiri di depannya. "Mau ada perlu apa?", tanyai Tiara.


"Saya mau bertemu Umi?, apa boleh?",


"Oh..., Umi?, silahkan masuk!",


"Terima kasih", Bu Arimbi memasuki ruangandan duduk di samping Umi yang baru selesai berdo 'a.


"Umi ini ada yang mau bertemu", Tiara melirik ke arah Bu Arimbi.


"Umi, bagaimana keadaannya, sehat?", Bu Arimbi menyapa Umi.


"Alhamdulillah..., sepertinya saya pernah melihat Ibu, tapi dimana ya?", Umi tampak menerawang.


"Saya, ibunya Robi, Umi masih ingat?",


"Jadi, Ibu ini ibunya Robi?, untuk apa ibu ke sini, apa Ibu tidak tahu apa yang telah dilakukan anak Ibu pada Abah dan Umi?, cepat pergi!, saya tidak mau melihat Ibu di sini", teriak Tiara.


Di luar dugaan Tiara bicara keras kepada Bu Arimbi, bahkan ia menyeret tubuh Bu Arimbi untuk keluar dari ruangan. Bu Arimbi tidak bisa melawan, ia pasrah saja saat tubuhnya dikeluarkan dari sana.


Dan Bu Arimbi meninggalkan ruangan Umi dengan lesu.


"Ara...,Tiara....!, kenapa kasar begitu kepada ibunya Robi?", Umi memandang tidak suka kepada Tiara.


"Tapi Umi, ini semua ulah Robi, Robi yang telah menabrak Abah dan Umi, untunglah sekarang dia sudah tertangkap, Robi sudah di tahan di Kantor Polisi", ucap Tiara.


"Apa...?, itu salah Ara....!, kamu salah....!, kasihan dia...", Umi membentak Tiara.


"Apanya yang salah Umi...", Tiara mendekati Umi.


"Bukan Robi orangnya...., bukan dia... yang menabrak Umi dan Abah Ara...", lirih Umi.


Tiara terpaku mendengar ucapan Umi.

__ADS_1


"Bu...kan...Robi Umi?, lalu siapa?",


"Robi yang telah menolong Umi , Robi juga yang telah membawa Abah dan Umi ke sini",


__ADS_2