Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Kena Kau Fikri


__ADS_3

"Dduuuuuaaaarrrrr.....", terdengar ledakan yang sangat besar.


Serentak semua orang yang sedang berkumpul di lapangan itu berteriak menjerit, anak-anak berlarian mencari keberadaan orang tua mereka.


Dan seketika lampu pun padam, keadaan tambah kacau saja, Robi masih bisa melihat dalam temaram, Tiara dan Ibunya tampak sedang berpelukan. Robi berusaha menenangkan para santri, ia bicara lewat toa milik Pondok yang dibawanya.


"Allahu...Akbar..., semua harap tenang, mohon tetap ditempat masing-masing, tidak usah panik, Inshaa Allah, di sini aman, saya sudah menghubungi pihak berwajib, sebentar lagi mereka sampai di tempat ini, lebih baik kita semua bersholawat, semoga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan",


Suasana menjadi hening, semua yang ada di sana tampak saling bergandeng tangan, dan mereka pun menyenandungkan shalawat bersama-sama.


Riuh rendah alunan sholawat yang mendayu, membuat suasana kian haru, tak sedikit yang menangis, dari kejauhan terlihat kepulan asap hitam kemerahan yang entah dari mana asalnya.


"Robi...?, kenapa dia masih baik-baik saja, bukankah ia sudah meminum air yang tadi aku simpan di atas mejanya?", Fikri tampak geram, memperhatikan Robi yang kini sudah berada bersama ibunya dan Tiara.


Untung saja Abah dan Umi tadi sudah di antar ke Masjid terdekat, mungkin sekarang mereka pun masih di sana.


Dari kejauhan tampak dua orang datang dengan sepeda motor, lampu dari sepeda motor itu sangat membantu penerangan di sana.


Dan itu ternyata Roonald dan Ilyas. Mereka bergegas menemui Robi.


"Ada apa di sana?, ledakan apa tadi?", tanyai Robi.


"Wah...itu bengkel kita Rob, bengkel kita kebakaran", ucap Ronald lunglai.


"Innalillahiwainnaillahiirojii'uun...", ucap Robi.


"Joko dan Aleks bagaimana?, mereka selamat kan?", tanyai Robi, ia lebih mengkhawatirkan temannya dari pada bengkelnya.


"Alhamdulillah..., bengkel dalam keadaan kosong, mereka bareng sama kita meninggalkan bengkel, tapi entah kemana perginya, dan entah dari mana asalnya api, semua lampu sudah dimatikan saat ditinggalkan tadi", jelaskan Ronald.


"Ya sudah, biarkan saja nanti pihak berwajib yang menyelidiki, kita bersyukur, masih diberi keselamatan", ucap Robi.


"Ya...Allah...,Nak...kamu kenapa?, kok kejang-kejang begini?", teriak Nyimas, ia memegangi Risman dan Gilang.


Kedua bocah itu tampak kejang dengan mulut mulai berbusa.


"Ada apa, kenapa mereka bisa begini?", Tiara dan Bu Arimbi pun kini tampak panik.


Robi pun segera menghampiri mereka, dengan segera Robi membawa kedua bocah itu ke Rumah sakit, bertepatan dengan datangnya petugas dari pihak berwajib.


Tanpa sepengetahuan mereka, Fikri pun sudah sejak tadi meninggalkan tempat itu, sama, Fikri pun menuju Rumah Sakit, ia mau menemui adiknya yang mau melahirkan.


"Dok...tolonng, kedua anak ini tiba-tiba saja kejang dan mulutnya berbusa", Robi langsung menemui Dokter yang lagi jaga di UGD Rumah Sakit.


"Baik, kami periksa dulu, silahkan Bapak tunggu di luar ", perintah Dokter, ia segera membawa Risman dan Gilang ke ruang periksa.


Nyimas tampak cemas melihat anaknya yang tampak tidak berdaya.

__ADS_1


'Kenapa reaksi wanita itu berlebihan sekali, siapa dia?, Mamih saja tidak sepanik itu', batin Robi bicara, ia memperhatikan Nyimas yang tampak begitu panik dengan keadaan ke dua bocah itu.


"Bagaimana Dok, bagaimana keadaan mereka?", Nyimas pun langsung menghampiri Dokter yang ke luar dari ruang periksa.


"Oh...ibu ini keluarganya?", tanyai Dokter.


Nyimas menggeleng.


"Lalu siapa keluarga kedua anak ini?", Dokter melemparkan pandangan ke luar.


"Saya Dokter", secara bersamaan Tiara dan Bu Hellen menghampiri Dokter.


"Silahkan Bu Masuk", persilahkan Dokter.


"Di dalam terlihat Gilang sudah sadar, namun Risman yang masih tergolek lemas, dengan selang infus di tangan, dan selang oksigen menempel di hidungnya.


"Teteh...", teriak Gilang.


"Alhamdulillah..., kamu sudah sadar Dik?", Tiara menghampiri Gilang dan memeluknya.


"Bu..., anak ini perlu di pindah ke ruang ICU, ada kandungan racun yang sudah tersebar hingga ke otaknya, jadi dia memerlukan penanganan yang lebih serius lagi", terangkan Dokter.


"Racun?...kenapa bisa?, ada racun dari mana?", Bu Arimbi tampak bingung.


Dengan cepat, dua orang perawat memindahkan Risman ke ruang ICU.


Bu Arimbi dan Tiara pun makin bingung saja dengan sikap Nyimas yang dirasa berlebihan.


Namun mereka belum berani bertanya apa pun.


Perawat dan Dokter segera melakukan tindakan terhadap Risman, sementara Nyimas, Tiara dan Bu Arimbi menunggu di luar.


"Tenang Teh, Risman pasti akan baik-baik saja", Tiara mencoba menenangkan Nyimas yang tak henti-hentinya menangis.


"Tiara..., merogoh tas dan mengambil ponselnya yang berdering.


[Wa'alaikumsalam Abah..., kami baik-baik saja, Abah dan Umi jangan khawatir, nanti kami yang akan menjemput kalian di sana].


Tiara terpaksa tidak bicara terus terang, ia takut Abah dan Umi khawatir.


Robi tersenyum melirik ke arah Tiara, ia sungguh telah terpikat oleh setiap tingkah Tiara yang lemah lembut, dan selalu mengutamakan kedua orang tuanya.


"Sebentar, aku belikan makanan untuk kalian", Robi menuju kantin, karena ia tahu Tiara dan ibunya belum sempat makan keburu terjadi huru hara.


"Hap..., itu seperti Fikri?, sedang apa dia di sini?", Robi mengintip Fikri yang tampak baru keluar dari salah satu ruangan yang ada di dekat Laboratorium.


"Kemana dia?", Robi terus mengikuti Fikri. Robi terhenyak begitu melihat Fikri memasuki ruangan bersalin.

__ADS_1


"Siapa yang melahirkan?, kenapa Fikri bisa berada di sana", gumam Robi.


Ya, Fikri sedang menemani Marisa yang sedang melahirkan, Dery tidak bisa menemani Marisa karena ia takut ketahuan oleh Polisi.


"Aku penasaran..., siapa yang sedang ditunggui Fikri di sana", gumam Robi.


'Sepertinya nanti saja , aku harus segera ke Kantin, kasihan Tiara dan Ibu, pasti mereka sudah lapar', pikir Robi. Ia bergegas menuju Kantin dan membeli makanan dan minuman di sana.


Robi segera kembali menemui Tiara dan ibunya, ia memberikan makanan dan minuman yang sudah dibelinya.


"Pak, Bu, kami memerlukan darah, anak itu memerlukannya secepatnya, di sini sedang kosong", ucap seorang Perawat keluar memberitahu mereka.


"Biar saya saja Dok", Nyimas langsung menawarkan diri.


"Saya juga", ucap Tiara.


"Saya juga sekalian Dok", ucap Bu Arimbi.


"Iya, kita lihat yang mana yang cocok, sekarang silahkan ikut dengan saya", Perawat membawa ketiganya untuk melakukan tes darah, namun tidak ada yang cocok.


Sampai Robi pun ikut di tes, namun tetap saja hasilnya tidak cocok.


"Aduh...bagaimana ini Pak, Bu, tidak ada yang cocok, ini akan menghambat pengobatan lanjutan ada anak itu, apa tidak ada anggota keluarga yang lainnya?", tanyai Dokter.


"Ini sungguh urgent Pak , Bu, kami tidak bisa menjamin keselamatan anak ini bila tidak tersedia golongan darah ini", ucap Dokter.


"Saya sendiri bingung Dok, saya tidak tahu keluarga dari anak ini", Bu Arimbi tampak kebingungan.


"Dok, saya tahu siapa yang bisa menolong anak ini", Nyimas menghampiri Dokter.


"Tolong, panggilkan Ustad Fikri, dia yang bisa menolong anak ini", lirih Nyimas.


'Ustad Fikri?, kenapa harus dia?', pikir Robi.


"Euh...saya tahu, dimana Ustad Fikri", Robi berdiri bermaksud menemui Fikri yang sempat ia lihat di ruangan sebelah.


'Fikri..., Fikri...., kenapa harus Fikri?', hati Robi tak henti-hentinya bertanya.


"Memangnya mereka makan apa?, kok sampai bisa keracunan?", Bu Arimbi menatap Tiara.


"Tidak ada, mereka tidak makan apa-apa, hanya saja..., ", Tiara mengingat saat terakhir bersama kedua anak kecil itu.


"Mereka hanya minum", gumam Tiara


'Apa mungkin minuman itu penyebabnya?', pikir Tiara.


Sementara pihak kepoolisian sudah bergerak cepat, mereka langsung melakukan penyidikan di TKP, mengumpulkan bukti-bukti, yang menyebabkan bengkel Robi terbakar.

__ADS_1


__ADS_2