Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Kenyataan Pahit


__ADS_3

'Siapa wanita itu?, rasanya tidak asing, makin lama makin jelas, tapi siapa dia?', Ustad Fikri kembali bicara dalam hatinya.


"Abah lebih baik istirahat dulu saja, masalah itu nanti dibahas lagi kalau Tiara sudah wisuda, biar sekarang Tiara bisa fokus pada tugas akhirnya dulu", usul Umi.


"Iya...Abah..., jangan khawatir, kalau soal santri, itu tidak usah dipikirkan, saya yang akan mengurus mereka, lagi pula ada Ustad Fadil dan Ustad Dzaqi yang bisa membantu", ucap Fikri.


Fikri sengaja bicara begitu untuk mencuri simpati Abah dan Tiara, padahal hatinya kesal dengan usulan Umi tadi.


"Iya...terima kasih Ustad, Abah percayakan urusan Pondok ini sama Ustad", ucap Abah sambil memejamkan mata.


"Saya juga minta ijin Abah, mulai sekarang saya yang akan mengantar Tiara kemana pun, biar Abah tenang, saya ini kan sebentar lagi menjadi suaminya Tiara, jadi saya yang akan mulai menjaga dan melindungi Tiara", tatap Fikri.


Abah diam , beliau melirik ke arah Tiara yang sedang menunduk. Abah tidak enak jika harus menolak permintaan Fikri, karena ucapan Fikri tadi ada benarnya.


"Ya...silahkan saja, kalau Tiara merasa tidak terganggu, karena selama ini Tiara biasa kemana-mana sendiri , jadi sepertinya dia belum terbiasa", ucap Abah sambil kembali melirik Tiara.


"Oh...iya, terima kasih, biar terbiasa, jadi harus mulai dari sekarang Abah", senyum Fikri.


"Iya..., boleh saja, Abah percaya Ustad pasti tahu batasannya", senyum Abah.


'Aduh...Abah kok malah diijinkan sih, makin merasa menang saja dia', pikir Tiara.


"Abah, saya pamit dulu, jadi mulai besok pagi saya akan mulai menggantikan tugas Abah di Masjid dan di Madrasah, kalau Abah memerlukan sesuatu, jangan sungkan, saya selalu ada di kobong, karena kini adik saya sudah sehat, jadi saya tidak akab bolak-balik ke rumah, saya akan kembali fokus di sini", jelaskan Fikri.


"Iya, terima kasih Ustad",


"Saya permisi, Assalamu'alaikum", Fikri mengucap salam dan segera neninggalkan rumah Abah, sebelumnya Fikri menyalami Abah dan Umi.


"Apa tidak terlalu cepat Abah, Umi kok kurang setuju dengan keputusan Abah Ini", tatap Umi.


"Lalu Abah harus bagaimana Umi, kondisi Abah sudah lemah, kepada siapa lagi Abah harus percaya, kalau bukan sama Ustad Fikri",


"Nak Robi bagaimana Abah?", tatap Umi.


"Robi kan masih sakit, lagi pula Robi katanya akan mulai terjun dalam bisnis papihnya, Nak Robi tidak mungkin bisa meneruskan tugas Abah di sini",


"Nak Robi juga mempunyai kewajiban terhadap keluarga dan orang tuanya, itu tidak bisa diganggu gugat Umi, seperti juga Tiara, ia anak Abah, jadi Tiara yang akan menjadi penerus Abah di sini", jelas Abah.


"Sayang ya", lirih Umi.

__ADS_1


"Jangan begitu Umi, ini sudah jalan-Nya, semoga saja semua berjalan baik, Tiara dan Robi bisa berhasil walau tidak satu jalan", tatap Abah.


"Sudahlah..., sekarang Abah istirahat dulu, jangan pikirkan hal-hal yang berat dulu", senyum Tiara.


"Hal berat Apa Ara, Abah itu sudah tenang, setidaknya sudah ada Ustad Fikri yang akan menggantikan tugas Abah di sini",


"Ayo..., kita istirahat saja, besok masih banyak hal baik yang harus dikerjakan, semangat", senyum Nyimas.


Nyimas melirik Tiara, ia berharap malam ini dirinya bisa bicara dengan Tiara.


Abah dan Umi sudah masuk ke kamar untuk beristirahat, tinggallah Nyimas dan Tiara , dua anak kecil pun sepertinya sudah tidur di kobong bersama Mang Daman.


Gilang dan Risman kini sering tidur di sana, katanya biar selalu dekat dengan Robi.


Nyimas melirik Tiara yang kini sudah kembali berkutat dengan laptopnya.


"Memangnya kapan Tiara wisuda?", tanyai Nyimas membuka keheningan.


"Ya...sekitar lima minggu lagi", ucap Tiara dengan malas.


"Oh..., sudah dekat ya, waktu kalian menikah", gumam Nyimas.


"Hah..., rasanya ingin berhenti saja waktu ini, biar hari itu tidak aku lalui", lirih Tiara.


Matanya mulai berembun, mengingat dirinya yang tidak akan pernah merasakan hal itu, Fikri yang merusak segalanya, Nyimas harus mengasingkan diri demi menyembunyikan kehamilannya, dan itu sangat menyakitkan.


Tiara yang sedang fokus dengan laptopnya tidak melihat raut kesedihan di wajah Nyimas.


"Seharusnya begitu..., tapi aku sebenarnya tidak menginginkan hal itu terjadi", Tiara menghentikan kegiatannya, ia menatap Nyimas.


"Aku tidak mencintai Ustad Fikri, semua ini aku lakukan hanya untuk memenuhi janji Abah kepadanya", lirih Tiara.


"Kamu memang anak sholehah, kamu anak yang berbakti Tiara, kamu rela mengorbankan hidupmu untuk keluarga, tapi sayang..., kenapa harus sama Ustad Fikri?",


"Memangnya kenapa?, dia Ustad terbaik di Pondok ini, pilihan Abah tidak akan salah, saya yakin itu",


"Eum..., Tiara...., sebenarnya ada hal yang ingin aku bicarakan, tapi ...", Nyimas melirik ke arah kamar Abah.


Tiara mentautkan kedua alisnya, ia merasa heran dengan ucapan Nyimas.

__ADS_1


"Nyimas?, kamu kenapa?, ada apa?, katakan saja!", tatap Tiara.


"Aku...aku..., sebenarnya aku ini...., euh....", Nyimas kembali diam, lidahnya terasa kaku, ia menatap mata Tiara.


Tiara menutup laptopnya dan mendekati Nyimas.


"Nyimas..., kamu ada apa?, apa yang akan kamu bicarakan ini ada hubungannya dengan orang yang ada di Pondok?",


Nyimas mengangguk perlahan, matanya mulai berembun. Ini adalah hal terberat dalam hidupnya, ia harus kembali membuka luka lama, ia harus menceritakan aib terbesar dalam hidupnya.


Nyimas merasa kelebatan kejadian dulu kini kembali berseliweran dalam ingatannya. Rasa malu, rasa sakit berpadu menjadi satu.


Tiara makin kaget saja melihat perubahan sikap Nyimas. Tiara kini sudah memegangi kedua lengan Nyimas yang sudah berkeringat dingin dan gemetara.


"Masya Allah Nyimas..., ada apa ini?, kamu baik-baik saja kan?", Tiara kini mulai memeluk tubuh Nyimas.


Dan Nyimas pun kini menangis dalam pelukan Tiara. Sungguh peristiwa pahit dulu, kini serasa ia alami lagi.


"Menangislah...!!", Ucap Tiara sambil tetap memeluk Nyimas .


Setelah beberapa lama, tangis Nyimas pun reda. Tiara melerai pelukannya, ia memegangi kedua pundak Nyimas dan menatapnya.


"Nyimas...ada apa?, katakanlah!!!, kamu percaya kan sama aku?, aku akan menjaga ucapanmu, tidak akan ada orang lain yang tahu", lirih Tiara.


Nyimas menyeka air matanya, ia menatap Tiara.


"Tiara..., jauhi Ustad Fikri", lirih Nyimas.


"Apa...?, Ustad Fikri?, memangnya kenapa dia?", Tiara makin penasaran.


"Dia bukan orang baik Tiara...",


"Iya..., tapi kenapa?, apa yang pernah Ustad Fikri lakukan, sampai Nyimas berkata kalau dia bukan orang baik, dia itu murid nomer satu Abah",


"Iya..., tapi tetap saja dia itu tidak baik buat Tiara",


"Aduh..., aku pusing Nyimas, bicara yang jelas, kenapa dengan Ustad Fikri?", tatap Tiara, kini ia bicara agak keras karena merasa kesal juga dengan ucapan Nyimas yang menurutnya tidak jelas.


Nyimas diam sejenak, dia menarik nafas dalam-dalam, ia ingin mengumpulkan kekuatanuntuk bisa bicara jujur pada Tiara.

__ADS_1


"Eum...Tiara ..., Ustad Fikri itu , Dia...dia...ayah dari anakku", lirih Nyimas.


"A...pa....?,


__ADS_2