Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Dia Tiara


__ADS_3

"Sebelum berangkat kuliah, kirimi dulu Gilang makanan!," perintah Abah begitu mau berangkat ke Masjid untuk mengimami shalat subuh.


"Iya Abah", Tiara mengangguk.


"Oh...jadi ini maksud Abah membawa Gilang ke Kobong Ustad Fikri, supaya aku bisa sering ketemu dengan Ustad Fikri", gumam Tiara sambil terus berjalan menuju Masjid Putri.


"Assalamu'alaikum Neng", Mang Daman menyapanya.


"Wa'alaikum salam", Tiara menengok ke dalam kobong yang pintunya setengah terbuka. Ia kangen saat masih bisa bertemu dan ngobrol bersama Robi.


Robi itu orangnya apa adanya, dia tidak malu saat bicara kalau dia tidak shalat dan tidak bisa sholat karena bacaannya menjelimet katanya.


"Neng merindukan Den Robi?", senyum Mang Daman.


"Ah...ada- ada saja Mang",senyum Tiara.


"Mamang yang rindu mah Neng, jadi sepi lagi di kobong, sendiri lagi", kekeh Mang Daman.


"Sepertinya benar -benar marah sama Abah, jadi tidak datang ke sini lagi", Mang Daman menunduk.


"Iya, kebetulan waktu itu tidak ada kita Mang, jadi tidak ada yang mencegah dia pergi , tapi sudahlah Mang, mari attu ke Masjid!", ajak Tiara, ia bergegas berjalan menuju Masjid Putri.


"Iya silahkan, Mang juga menyusul",


Karena ngobrol dulu dengan Mang Daman, Tiara datang paling akhir , ia mengisi shaf yang kosong di belakang, biasanya dia yang menjadi imam. Tapi setelah menengok ke depan sudah ada yang menggantikannya, Iis sepertinya, Tiara mengenali dari mukena yang dipakainya.


Ada Iis dan Ainun , teman satu angkatan dengan dirinya, Ustad Fikri, Ustad Fadil dan Ustad Dzaqi. Mereka tumbuh besar bersama di Pondok Abah. Namun hanya Tiara yang melanjutkan kuliah, yang lainnya fokus menuntut ilmu agama saja.


Tiara langsung meninggalkan Masjid setelah selesai shalat. Ia hari ini ada kuliah pagi. Sambil berangkat, ia mampir dulu ke Kobong Ustad Fikri untuk mengantar makanan buat Gilang.


"Teteh...", seru Gilang seraya berlari menghampiri Tiara. Tiara pun menyambutnya, kini mereka sudahg berpelukann.


"Bagaimana...betah tinggal di sini?", Tiara memegang pundak Gilang.


"Betah Teh, di sini baik-baik semua", senyum Gilang.


"Alhamdulillah..., ini ada makanan, kamu yang rajin belajarnya, yang nurut sama guru pembimbingnya", nasihat Tiara.


"Iya Teh, terima kasih", Gilang kembali memeluk Tiara.


"Eh ada Tiara, ?", Ustad Fikri muncul dari dalam kobong, ia nampak melemparkan senyuman ke arah Tiara.


"Iya ..., ini ada sedikit makanan buat Gilang", ucap Tiara datar. Ia sedang tidak mau banyak bicara dengan Ustad Fikri, apalagi setelah mengetahui rencana Abah semalam.


"Ya, sudah..., Teteh kuliah dulu, kamu baik-baik di sini ya!", Tiara berdiri dan memberikan bungkusan makanan kepada Gilang.


"Mau kemana, masih pagi, ngobrol saja dulu di sini", senyum Ustad Fikri.


"Maaf, saya ada kuliah pagi hari ini, terburu-buru", Tiaraembalikkan badan, namun Ustad Fikri cepat mencegahnya dengan berdiri tepat di depan Tiara , menghalangi jalannya.

__ADS_1


"Biar saya antar ya?, sekalian mau belanja kitab", Tatap Ustad Fikri.


"Oh...nggak usah, nanti merepotkan, saya sudah biasa berangkat sendiri", Tolak Tiara.


"Maaf, saya mau pergi", Tiara masih berdiri karena jalannya dihalangi.


Ustad Fikri menggeser ke kiri dua langkah dengan sedikit kecewa.


Tiara cepat-cepat menaiki sepeda motornya.


"Saya berangkat, Assalamu'alaikum", Tiara melaju agak cepat meninggalkan Gilang dan Ustad Fikri.


"Wa'akaikumsalam", senyum Gilang. Sementara Ustad Fikri mengepalkan tangannya karena merasa kesal dengan penolakan Tiara.


Tiara yang melaju di jalanan bertemu lagi dengan sepeda motor yang kemarin, kini Tiara berada di belakangnya dan Tiara pun mengikutinya.


"Lah...kok sama, ini kan jalan yang menuju Kampus", gumam Tiara sambil tetap mengikuti motor di depannya.


Benar saja, motor itu menuju kampus. Mereka adalah Dery yang mengantar Marisa ke kampus.


"Oh...dia?", Tiara mengawasi Deri dan Maris. "Ternyata bukan Robi, benar kata Abah, yanh mempunyai motor seperti itu bukan Robi saja", gumam Marisa sambil tersenyum.


Kini hatinya tenang, ternyata sangkaannya meleset, yang kemarin ia ikuti ternyata teman kampusnya dan pacarnya, bukan Robi atau juga. Rahmat.


Dengan hati senang, Tiara berjalan menuju kelasnya. Tanpa ia sadari sedari tadi Dery memperhatikannya. Dery masih mengenali Tiara, wanita yang waktu itu menolong dan membawa anak laki-laki yang sempat dihakimi pedagang.


"Emh...itu dia ...?, ternyata satu kampus dengan Marisa", gumam Dery.


Marisa kali ini datang duluan, ia lama terlihat ngobrol dan bercanda dengan teman-teman lainnya. Setelah itu baru Tiara kelihatan. Ia berjalan menuju parkiran.


Dery coba memanggil Marisa, ia tidak ingin kehilangan jejak Tiara. Ya..., Dery ingin kembali mengikuti Tiara.


Namun Marisa mengabaikan panggilan Dery, ia malah sengaja terus berbincang dengan teman-temannya.


"Duh....ngapain sih",gerutu Dery. Ia tambah gelisah saat Tiara sudah mulai menstarter sepeda motornya.


"Aduh....lama sekali, kebiasaan, kalau ditinggalin, pasti ngambek", Dery berjalan cepat menuju Marisa, ia menyambar tangannya.


"Aku masih ada urusan, cepat pulang", Dery menarik tangan Marisa menuju motornya.


"Aduh...lepaskan, kenapa buru-buru", sewot Marisa. Ia mengibaskan pegangan tangan Dery.


"Aku masih ada urusan, kalau masih belum mau pulang, ya sudah, aku pulang sendiri", Dery menaiki sepeda motornya.


Dengan cembetut, Marisa pun naik, tidak ada pilihan, kalau tidak dengan Dery, mau pulang dengan siapa.


Dery memacu cepat sepeda motornya, ia ingin menyusul Tiara. Sudah beberapa lama, namun Tiara tidak ada didepannya.


Sampai di sebuah tikungan, ia mendapati seorang sedang memapah sepeda motornya.

__ADS_1


"Degh..., jantung Dery bergetar, itu dia, kenapa dia?", Dery memperlambat laju sepeda motornya dan menepi mendekati Tiara.


"Kenapa motornya Mba?", tanya Dery, ia menatap Tiara ingin memastikan kalau itu orang yang sama , dan ternyata benar.


"Ini sepertinya bannya kempes", Jawab Tiara sambil menunduk.


"Sudah..., ngapain sih..., tadi ingin cepat-cepat pulang, sekarang malah ngurusin orang asing", gerutu Marisa dari atas motor.


"Sebentar, dia itu wanita, tidak ada salahnya kita tolong dulu", Dery turun dari motornya , lalu mengecek ban motor Tiara.


"Iya...ini perlu di tambal, di depan sana ada bengkel, kita bawa ke sana", usul Dery. Lalu ia mengambil tali untuk mengikat motor Tiara ke motor miliknya, maksudnya jelas, Dery akan menderek motor Tiara.


Tiara hanya bisa diam, tidak bisa menolak, karena memang tidak ada jalan lain. Sementara Marisa berdiri kesal, sesekali ia mencuri pandang ke arah Tiara, ia nyinyir melihat cara berpakaian Tiara.


"Sudah, ayo naik!", Dery melirik Tiara.


"Terima kasih", Tiara menurut, ia segera menaiki sepeda motornya, kini ia berada dibelakang motornya Dery.


Dan tidak salah lagi, Tiara dibawa Dery ke bengkel miliknya, dan tiara pun sudah tidak asing, karena ia pun sempat ke bengkel itu.


"Bro, cepat tangani ban motornya", Dery menunjuk ke arah Tiara.


Ronal dan Ilyas pun masih mengenali Tiara. "Dia lagi", gumam Ronal, coba kalau Rahmat belum pergi, pasti dia bisa bertemu dengan pelanggan baru kita, si ninja baja hitam", kekeh Ilyas.


Mereka cepat memapah motor Tiara ke dalam. "Wah...ini mah harus ganti ban,sudah tipis, walau ditambal, nanti bocor lagi-bocor lagi", ucap Ronal. Ia memandang Tiara.


"Biarin Bang, tambal saja dulu, uangnya belum cukup", Tiara menunduk. Ia tidak membawa uang , pasti tidak cukup jika harus ganti ban.


"Ganti saja, biar Gue yang ganti nanti", Dery datang menghampiri. Malah ia sendiri yang mengerjakannya. Dery mengganti ban motor Tiara.


Semua itu membuat Ronal dan Ilyas melongo.


"Kenapa dia?, kesambet ya?", Ronal menyiku tangan Ilyas.


"Nggak tahu Gue, lumayan lah, kita bisa rehat sejenak", cicit Ilyas.


Marisa pun sama, ia merasa aneh dengan tingkah Dery.


"Sudah beres, silahkan coba", Dery mendekati Tiara.


"Saya belum ada uang untuk bannya Bang" , Tiara menyodorkan uang ke arah Dery.


"Sudah, jangan dipikirkan, tenang saja", senyum Dery. Ia menatap Tiara, dari sorot matanyapun Dery bisa menebak kalau wanita di depannya itu seorang wanita cantik, kulit tangannya terlihat putih.


"Kalau begitu, saya pulang dulu, nanti uangnya saya antar ke sini",


"Nyantai saja, euh... siapa namanya?", tanya Dery.


"Oh iya...saya Tiara, terima kasih atas pertolongannya, Assalamu'alaikum", Tiara segera meninggaljan bengkel itu.

__ADS_1


"Ti..a..ra.., hmmm, nama yang indah", gumam Dery. Ia menatap Tiara sampai menghilang.


__ADS_2