
"Bi, dua hari lagi akan ada orang yang menyewa rumah ini, mereka baru datang dari luar kota, rencananya mereka di sini selama anaknya sekolah, jadi kita harus mulai berkemas, kita pulang ke Desa saja", ucap Marisa saat mereka sedang sarapan.
"Oh...cepat sekali, kita belum apa-apa",
"Bawa pakaian saja Bi, barang-barang biar tetap di sini saja, kita bawa yang perlu saja",
"Nanti aku yang akan pesan grab, untuk mengantar kita ke Desa",
"Iya, bagaimana baiknya , Bibi ikut saja", ucao Bi Iroh, ia seperti kurang semangat saat mau pulang ke Desa nya.
Setelah selesai makan, Marisa langsung menuju kamarnya. Ia mulai berkemas pakaian, dan barang-barang milik pribadinya.
Saat membuka laci yang ada di dalam lemari pakaiannya, ia menemukan sebuah foto. Ia penasaran , dan melihatnya satu per satu.
"Ouw....ini foto siapa?, sepertinya aku baru tidak mengenali foto ini?, cantik juga, wanita berkerudung?, siapa?", Marisa membolak-bolik foto itu, dan di belakangnya ada sebuah tulisan. "Nyimas Lisnawati", siapa wanita ini?", Marisa menaruh foto itu dalam tas yang akan dibawanya nanti.
Begitu pula Bi Iroh, ia pun mulai mengemasi barang-barangnya. Ada sebuah kekhawatiran di hatinya, ia sebenarnya tidak mau kembali ke desa, tapi karena sudah tidak ada pilihan lain, ya bismillah saja.
Semoga orang-orang yang ada didesanya bisa menerima kehadirannya kembali.
Ada suatu peristiwa yang terjadi yang menjadi penyebab diusirnya keluarga Marisa dari Desa.
Flash back on.
Masa liburan sekolah sudah tiba, Bu Irma merasa senang karena anaknya yang sudah hampir dua tahun mondok belum pulang-pulang, dan kemarin mendapat kabar kalau anaknya itu akan pulang.
"Pak, besok anak kita pulang, Bapak tangkap ikan di kolam, dia kan paling suka semur ikan mas, nanti ibu akan membuatkannya", Bu Irma melirik suaminya yang sedang yang sedang menghisap rokok di teras depan. Sementara anak perempuannya sedang asik main boneka.
Tanpa bicara apa pun suaminya beranjak menuju kolam, dan kembali dengan membawa sekeranjang ikan mas.
"Tolong bantu bersihkan ikan itu, Fikri mau pulang besok!" perintah Bu Irma kepada adiknya, Iroh, yang ikut tinggal bersamanya. Iroh diminta untuk menjaga Marisa saat dirinya bekerja di sebuah Pabrik pengolahan teh.
Hari yang ditunggu pun tiba, anak laki-lakinya, Fikri, pulang bersama seorang temannya.
"Alhamdulillah..., anak ibu sudah pulang, kamu sudah besar Nah, tidak terasa", Bu Irma menyambut kedatangan Fikri.
"Iya Bu , ini teman mondok saya ", Fikri memperkenalkan teman yang ikut dengannya.
"Assalamu'alaikum, Bu, saya Badrun", rengguhnya , ia terlihat sopan.
Singkat cerita, hampir satu minggu Fikri dan Badrun liburan di rumahnya. Sebagai anak yang pondok, mereka berdua aktif di Madjid yang ada di daerah tempat tinggalnya.
Namun ada satu sikap jelek Fikri, di rumah, ia selalu menggoda Iroh, adik ibunya, yang seusianya. Malah ia pernah menyelinap ke kamar Iroh, namun keburu ketahuan ibunya.
__ADS_1
Bu Irma pun tidak banyak bercerita soal kejadian itu. Namun Fikri, bukannya sadar dan berubah, ia malah mencari korban lain, tidak lain Nyimas.
Nyimas yang memang sudah menyimpan rasa suka pada Fikri, ia tidak banyak melawan saat Fikri menginginkan dirinya,
Mereka pun melakukan hal terlarang itu di sebuah pos ronda saat hujan deras sepulang mengaji.
Dan kejadian itu diketahui oleh Badrun. Fikri yang marah dan panik, balik melawan Badrun. Ia memukul Badrun sampai pingsan. Fikri pun mengancam Nyimas, agar mengaku kalau Badrun lah yang telah berbuat tidak senonoh kepadanya.
Nyimas pun menolak, namun Fikri memaksanya dan memukulnya pula, hingga tidak sadatkan diri.
Saat itulah, Fikri membuat rekayasa, dua orang yang pingsan itu ia buat seolah sedang berbuat nista di dalam gubuk, dan ia yang berteriak memberitahu semua warga tentang hal itu.
Jelas saja semua warga lebih percaya fakta, yang ada di dalam pos ronda Nyimas dan Badrun, maka merekalah yang terkena getahnya.
Karena Nyimas menolak dinikahkan dengan Badrun, maka keluarga Nyimas membawa masalah ini ke ranah hukum, Badrun dipenjarakan.
Bu Irma dan keluarganya pun di usir dari Kampung, kejadian itu sungguh merupakan aib besar, tetutama bagi keluarga Pondok.
Sejak di usir dari Desa, Keluarga Fikri membangun rumah sederhana di kota , dan mereka berpisah, Bu Irma pun keluar dari Pabrik dan memutuskan kerja di Malaysia sebagai TKW.
Tidak mereka ketahui, kalau akibat kejadian itu, Nyimas mengandung.
Flash back off.
Bu Arimbi dan Pak Robani tampak kagum dengan arsitektur rumahnya yang sebagian besarnya dari kayu. Tampak asri dan alami, bikin betah, bikin nyaman.
"Wa'alaikumsalam....", terdengar suara dari dalam. Seorang wanita bercadar keluar menghampiri mereka "Iya...Mang...", wanita itu menggantung ucapannya. Ia terlihat kaget melihat Bu Arimbi dan Pak Robani yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
"Bapak?, Ibu?...", ucap Tiara, ia mematung.
Bu Arimbi dan Pak Robani pun tidak kalah kagetnya, hampir bersamaan mereka memanggilnya."Tiara...?",
Dan Mang Daman yang kini jadi ikut-ikutan kaget melihat tamunya dan Tiara yang sudah saling mengenal.
"Alhamdulillah..., jadi sudah pada kenal?, ayo attu di di suruh masuk tamunya Neng, masa malah pada berdiri di luar begini", senyum Mang Daman.
"Ah...iya..., maaf..., saya kaget, tidak menyangka akan kedatangan Bapak dan Ibu, silahkan masuk Pak, Bu!", persilahkan Tiara.
"Iya , Ibu juga tidak menyangka bisa bertemu Tiara di sini, terima kasih", Bu Arimbi memasuki rumah diikuti Pak Robani, mereka duduk di di ruang tamu.
Mereka duduk berhadapan, dan tampak saling diam.
"Oh...maaf, Abah Ilhamnya ada?", tanyai Pak Robani.
__ADS_1
"Oh..., Abah?, ada..., Bapak dan Ibu mau bertemu Abah?", Tiara kembali merasa kaget, kok Pak Robani seperti sudah mengenal Abahnya.
"Iya", serentak Pak Robani dan Bu Arimbi.
"Sebentar, saya panggilkan dulu", pamit Tiara, ia meninggalkan ruang tamu untuk memberitahu Abah dan Umi.
'Aneh, kok mereka seperti sudah mengenal Abah', pikir Tiara.
"Assalamu'alIkum Abah, Umi, di luar ada tamu yang menunggu", kabari Tiara.
"Tamu?, siapa ?", Abah yang baru selesai sarapan melirik ke arah Tiara.
"Sepertinya mereka sudah mengenal Abah dan Umi", Tiara mendorong kursi roda Abah, ia bersama Umi melangkah menuju ruang tamu.
Abah dan Umi menatap kedua tamunya yang nampak sedang asik memainkan ponselnya.
"Siapa mereka?", gumam Abah.
"Assalamu'alaikum", Abah memberi salam begitu sudah ada di hadapan mereka.
"Wa'alaikumsalam....", Bu Arimbi dan Pak Robani menengok ke sumber suara.
Sejenak mereka saling pandang. Mereka sedang menggali ingatan kembali.
"Robani?...., kamu Nak Robani?, anaknya Furqon?", Abah menatap lekat Pak Robani.
"Wa'alaikumsalam Abah...., iya...benar saya Robani, Abah dan Umi sehat", senyum Pak Robani.
"Ya Allah..., Robani...., kamu sudah besar, waktu bapakmu meninggal dulu, istrimu sedang mengandung, nah lho, mana anakmu sekarang?",
Mereka saling bersalaman."Ada Abah ", senyum Pak Robani.
"Anak saya laki-laki", senyum Bu Arimbi.
Umi dan Tiara saling pandang, kini mereka yang kaget, ternyata Abah sudah mengenal Orang tuanya Robi.
"Di mana?, kok tidak dibawa?, pasti sekarang sudah besar ya", senyum Abah.
"Abah jadi teringat Bapakmu,Furqon", Abah menunduk, ia tampak sedih.
"Ada di mobil Abah, tadi tertidur, kami tidak berani membangunkan", ucap Pak Robani.
"Wah..., pasti dia akan mewarisi sifat Kakeknya, jujur, sholeh, dan dermawan", senyum Abah.
__ADS_1
"Aamiin..., sebentar saya panggil kesini ", Bu Arimbi beranjak ke luar rumah menuju mobil, untuk membawa Robi masuk.