Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Datang Kembali


__ADS_3

"Mana orangnya??, Pak Mana orang yang tadi di sini?", tanyai Yana dengan nafas tersenggal-senggal begitu sampai di depan gerobak bubur ayam.


Pedagang bubur tampak kaget, ia malah diam.


"Pak...., orang yang tadi di sini itu, buronan Polisi", jelaskan Yana lagi.


"Ah...masa, yang tadi itu orangnya baik, ini Bapak diberi pakaian sekantong", ucap pedagang itu sambil memperlihatkan baju pemberian Fikri tadi yang ditukar dengan kaos, topi dan celana jeansnya saja.


Yana dan Umar lalu membuka kantong yang berisi baju-baju Fikri, ternyata benar, isinya baju koko semua, dan beberapa sarung.


"Benar, orang tadi Fikri, Ustad muda itu, sengaja dia merubah penampilannya untuk mengelabui kita", ucap Umar.


Tak lama datang sebuah mobil, "Mana dia?", ucap sesqqqqeorang dari dalam mobil, dia adalah Wira dan Dida yang baru sampai di lokasi yang di shareloc oleh Yana tadi


"Kemungkinan dia sudah pergi saat kita meninggalkannya tadi, cepat naik!, dan kita kejar dia", Umar mengajak Yana untuk segera masuk ke dalam mobil.


Tanpa di suruh, Wira langsung tancap gas untuk mengejar Fikri yang kemungkinan belum jauh, mereka kini sudah sampai di sebuah pasar malam tang berada tepat di pinggir jalan raya.


Mobil mulai menepi dan melambat, banyaknya pengunjung berlalu lalang, juga kendaraan yang diparkir acak di bahu jalan, membuat lengkap kesemrawutan di sana, hingga menghambat laju mobil yang ditumpangi mereka.


"Pake macet segala, ini sudah mentok, tidak bisa maju lagi",gerutu Dida.


Kita turun saja, siapa tahu dia juga ada di sini",usul Umar.


Semua sepakat, mereka turun dari mobil untuk meneruskan pencarian terhadap Fikri. "Di sini terlalu ramai, terlalu beresiko jika harus memakai itu", ingatkan Wira saat melihat Yana yang akan mengeluarkan senjata apinya.


"Iya, tidak usah, banyak wanita dan anak kecil pula di sini", imbuh Umar.


Akhirnya mereka memutuskan untuk berpencar, agar tidak mengundang perhatian orang-orang.


"Sepertinya dia tidak ada di sini, kita sudah berkeliling, tapi belum melihatnya juga", ucap Umar terlihat frustasi.


"Kita balik Kantor saja, sudah malam, besok baru atur rencana lagi", ajak Dida, dia lalu mengcall Umar dan Yana agar kembali ke mobil.


Mereka sepakat untuk kembali ke Kantor. Namun saat melewati wahana bianglala mini, mata Yana tertuju pada sosok pria yang sedang duduk ngobrol dengan pemandu wahana itu.


"Tunggu !!", tangan Yana meraih bahu Umar yang nyelonong ke depan.


"Ada apa?", Umar kembali mundur mensejajarkan tubuhnya dengan Yana.

__ADS_1


"Lihat pria di bawah wahana bianglala mini itu, bukannya dia orang yang sedang kita cari?", bisik Yana.


Pandangan Umar mengikuti arah petunjuk Yana , dan benar matanya menangkap sosok pria itu. "Benar...itu dia", ucap Umar, kakinya sudah mau melangkah namun kembali Yana cegah.


"Kita tunggu Wira dan Dida dulu", ucap Yana sambil kembali bicara lewat radio call ditangannya. Tak lama yang ditunggu pun datang.


"Mana dia?", ucap Wira.


"Dia ada di bawah wahana bianglala mini, kita jangan membuat gerakan mencurigakan dulu, kita dekati dia, dan hap..., tangkap", ucap Yana.


Namun Fikri rupanya sudah mengetahui keberadaan mereka, dengan segera ia bergerak lari saat melihat keempatnya mulai mendekat.


"Kejar !!", teriak Dida. Sontak teriakannya mengagetkan orang-orang didekatnya, seketika suasana jadi kacau, banyak orang yang ikut berlari mengikuti pergerakan Fikri dan keempat polisi itu.


Tentu saja ini menguntungkan bagi Fikri, ia bisa dengan mudah mengecoh keempat polisi itu, hingga keempatnya kehilangan jejak dan terengah-engah di dekat mobilnya.


"Gagal lagi kita", gerutu Dida, ia memukul bamper mobil disampingnya.


"Tempatnya terlalu ramai, itu yang sulit, kita bahkan tidak berani melepaskan tembakan peringatan, terlalu beresiko", ucap Umar.


"Kita kembali saja ke Kantor", ajak Dida, ia terlihat kacau. Dengan segera keempatnya masuk mobil dan meninggalkan lokasi pasar malam itu.


"Stop!!, itu dia, itu..., yang baru naik ojol di depan, kejar !!", ucap Wira.


Kejar-kejaran pun tidak bisa dihindari, hingga mereka kini terjebak lampu merah. Fikri kini yang tersudut, dia lalu turun untuk berlari melewati lampu merah itu, namun Umar dan Yana mengejarnya.


"Berhenti...!!", teriak Umar, kini ia melepaskan tembakan peringatan ke atas untuk menghentikan langkah Fikri. Namun Fikri tetap berlari, ia tidak ingin dirinya berakhir seperti Dery, mendekap di hotel prodeo.


"Sial...", umpat Umar, ia dan Yana kembali mengejar Fikri yang tetap berlari di trotoar. Kondisinya yang sudah lemah membuat gerakannya terhambat.


Kini jaraknya dengan Umar dan Yana kian dekat, untuk menghindarinya Fikri nekad menyeberang jalanan yang sedang ramai.


"Bukk...", tubuh Fikri menabrak sebuah mobil, ia hampir amruk dijalanan. Namun pemilik mobil membuka pintu mobilnya dan segera menyambar tubuh lemah Fikri dan menariknya masuk ke dalam, lalu membawanya pergi.


"Mana dia !!", Umar dan Yana kini mencari keberadaan Fikri.


"Mobil itu membawanya pergi, berani sekali dia, sudah menantang kita", ucap Umar.


Umar dan Yana kembali ke tepi jalan, mereka menunggu Wira dan Dida.

__ADS_1


"Gagal lagi kita, tadi hampir saja kita menangkapnya , hanya ada mobil yang membawanya pergi, entah siapa, kita tidak sempat catat plat mobilnya lagi", gerutu Umar.


"Informasikan kepada semua unit untuk periksa semua mobil yang mungkin lewat di persimpangan depan sana, siapa tahu Fikri ada di dalam salah satu mobil yang lewat", perintah Dida.


"Baik...", Wira segera menginformasikan masalah Fikri lewat radio call yang bisa didengar oleh setiap unit yang ada disepanjang jalan yang ada di dalam kota.


Mereka kembali ke Kantor dengan tangan hampa. Kini mereka benar-benar kehilangan jejak Fikri.


Sementara Fikri, ia kehilangan kesadarannya begitu tubuhnya ditarik kedalam mobil. Ia terlihat terkapar di jok belakang.


"Sayang..., untuk apa selamatkan orang yang tidak jelas itu", gerutu seorang wanita cantik yang duduk disamping pria tampan yang duduk disampingnya.


"Dia akan sangat berguna untuk kita nanti, sayang",ucapnya sambil meraih pinggang wanitanya hingga mereka kini tampak berpelukan.


Mereka itu adalah Eko dan istrinya Rena, Rena ini mantan sekretarisnya Pak Robani yang sempat juga menjadi selingkuhannya. Kini, Rena sudah menjadi istrinya Eko, rivalnya Robi saat balapan liar dan mungkin sampai sekarang.


Itulah sebabnya Eko menyelamatkan Fikri, ia akan menjadikan Fikri kaki tangannya untuk kembali bersaing dengan Robi, yang sudah lama tidak dia dengar lagi kabarnya.


****


Di Pondok Al-Furqon


Serapat-rapatnya menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga, semua santri sudah menyembunyikan masalah Fikri darinya, tapi pemberitaan televisi pagi ini membungkam semuanya.


Abah yang sedang sarapan ditemani Umi harus disuguhkan pemberitaan yang begitu menguras emosinya berkenaan dengan Ustad Fikri.


"Umi..., apa itu?, apa itu Fikri?", suara Abah terdengar bergetar.


"Masya Allah Abah..., sudah sampai televisi juga?", gumam Umi , juga tidak kalah kagetnya.


"Umi....kenapa Abah baru tahu dari televisi, ini sangat memalukan Umi", Abah tampak menunduk dengan tangan memegangi dadanya.


"Astaghfirullah Abah..., sudah....sudah..., jangan dipikirkan, tenang!!, Abah harus tenang, ingat Abah..., Abah masih belum sehat", Umi mendorong kembali kursi roda Abah menuju kamar, dan menidurkan Abah di atas tempat tidur, lalu Umi memberinya minum perlahan dan juga obat penenang, agar detak jantung Abah kembali normal.


"Sudah..., nanti Umi jelaskan, ini yang ditakutkan Umi, itu sebabnya Umi tidak langsung memberitahu Abah soal Ustad Fikri tadi", ucap Umi.


Abah masih memegangi dadanya sambil memejamkan mata.


"Tok...tok...tok...", terdengar suara pintu diketuk, dan ucapan salam dari pintu depan.

__ADS_1


Nyimas yang membukakan pintu merasa begitu gembira begitu melihat siapa yang datang.


"Wa'alaikumsalam..., Alhamdulillah...", Nyimas langsung memeluk orang yang ada di depan pintu rumah Abah.


__ADS_2