Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Mewujudkan Mimpi


__ADS_3

"Ya sudah, kita semua Bismillah saja, besok kita adakan acara ijab qabul nya, kita yakin semua ini sudah rencana dari Allah SWT, jika Dia sudah berencana, maka Dia juga akan memudahkan jalannya", ucap Abah, ia meyakinkan semua.


"Alhamdulillah..., saya setuju Abah", senyum Robi.


"Aduh..., kamu ini Nak, diberi hati malah minta jantung, Mamih kasih perhiasan untuk melamar Tiara, eh..., kamu minta langsung dinikahkan", senyum Bu Arimbi.


"Sifatmu tidak berubah, sedari kecil kamu itu kalau menyukai sesuatu, sesalu ingin cepat memiliki", imbuh Pak Robani.


"Tapi Abah juga sudah setuju Papih, kita tinggal bergerak cepat saja, biar semuanya bisa siap besok ", keukeuh Robi.


"Kalau begitu , kita pindah ngobrolnya ke ruang depan, masa dari tadi di sini terus, di meja makan", usul Abah.


Mereka pun kini berpindah ke ruang keluarga, mereka sedang membagi tugas untuk acara besok.


  "Penghulu, catering, dan juru rias saja yang kita perlukan, Pih, tidak usah undang-undang dulu, nanti saja pas resepsi, baru kita undang semua teman dan rekan bisnis kita", ucap Bu Arimbi.


"Kalau catering dan juru rias, biar Mamih yang urus, kebetulan ada teman dekat Mamih bisa, Papih urus Penghulu saja, apa bisa kita daftar dadakan begini?", tatap Bu Arimbi.


"Soal Penghulu, biar Abah saja yang tangani, ada anak santri Abah yang sudah biasa jadi Penghulu, nanti biar Abah yang hubungi",


"Tuh...Alhamdulillah, semua sudah bisa ditangani, semoga acara besok berlangsung lancar, dan maafkan Ibu ya Tiara, ini dadakan sekali, pasti Tiara juga kaget ya, yang awal niatnya mau silaturahim, ini malah langsung menikah", Bu Arimbi tersenyum.


Tiara hanya bisa tersenyum, dihadapan Pak Robani dan Bu Arimbi, Tiara sudah tidak bisa tawar-menawar lagi dengan menyebut-nyebut wisudanya, Tiara tidak ingin mengecewakan semuanya, terutama Robi, Tiara sangat hafal, perubahan sikap Robi sedikit banyak karena dirinya, itu yang pernah Robi ucapkan.


"Ini sudah jalannya, rencana Allah sungguh sempurna, tidak dapat diduga, tetapi Inshaa Allah akan baik untuk kita", ucap Umi dengan sorot mata bahagia.


Tak lama Badrun dan Nyimas datang, mereka diikuti Risman yang tampak lengket dengan Badrun. Mereka berucap salam dan bergabung duduk dengan Abah dan Umi.


"Alhamdulillah, ini ada personil yang bisa dimintai tolong", senyum Robi sambil melirik ke arah Nyimas dan Badrun.


"Boleh...., ada apa ini?, sepertinya ada hal istimewa", Badrun pun tampak tersenyum menatap Robi.


"Alhamdulillah aku sudah deal, semua sudah setuju, nanti kamu juga menyusul ya", imbuh Robi.


"Alhamdulillah..., aku ikut senang, kapan nih", tanyai Badrun masih dengan mengumbar senyuman.


"Besok",

__ADS_1


"Hah...., besok...., besok....kapan?", Badrun seperti orang linglung.


"Ya...besok, setelah hari ini ya besok", senyum Robi, ia menatap ekspresi wajah Badrun yang tampak lucu.


"Kok buru-buru sekali, persiapannya bagaimana?", Badrun masih tampak tidak percaya, walau di dalam hatinya ikut merasa bahagia.


"Tidak terburu-buru, ini sudah lama aku rencanakan, tapi baru hari ini bisa terwujud, ini juga tidak lepas dari campur tangan Allah SWT, ucap Robi.


"Iya..., 7, ini benar-benar anugerah yang tidak terkira, setelah serangkaian peristiwa yang menguras tenaga dan air mata, kini dibalas dengan kebahagiaan yang tiada tara, semoga seterusnya kita semua dalam lindungan Allah SWT, dan dijauhkan dari orang-orang yang berniat jahat", ucap Abah.


"Aamiin....", serentak semua.


sekeluarga akhirnya pamit, mereka akan mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan besok.


Mereka langsung menuju sebuah Mall untuk berbelanja. Tidak tanggung-tanggung Robi membelikan banyak pakaian , tas, dan sepatu untuk Tiara, tidak ketinggalan perhiasan, ini dibelinya dari uang hasil kerjanya sendiri selama membantu Papihnya.


Bu Arimbi hanya tersenyum bahagia melihatnya. Robi benar-benar sudah berubah kini, Robi seperti mendapatkan sebuah suntikan semangat untuk bisa menjadi lebih baik, setelah bertemu Tiara.


Saat berbelanja pakaian gamis dan sepatu, Robi tidak begitu kebingungan, namun saat Bu Arimbi membawanya ke stand pakaian dalam, Robi tampak bingung dan malu, ia tidak mengerti soal itu, bahkan saat Bu Arimbi memilih-milih bra dan panties, Robi tambah kikuk, salah tingkah.


"Robi...?", ucap Bu Arimbi pelan.


"Mih..., terserah Mamih saja, Robi mana ngerti", ucap Robi menunduk, selama ini Tiara selalu menutup tubuhnya dengan pakaian gamis yang lebar, sehingga lekuk tubuhnya tidak terlihat.


"Ya sudah yang ini saja, lebih baik kebesaran daripada kekecilan, jangan terlalu banyak dulu belinya, takut tidak cocok, biar nanti Tiara sendiri saja yang membelinya", ucap Bu Arimbi lagi. Ia memilih beberapa pakaian dalam untuk Tiara.


"Nah..., ini yang harus kita beli juga", Bu Arimbi mendatangi stand pakaian tidur. Ia memilih beberapa lingeries.


"Mamih tidak usah, Tiara mana mau memakai itu", tolak Robi dengan polosnya.


"Iihh..., ini tu pakaian yang bisa dipakai Tiara saat bersamamu saja, nanti juga kamu ngerti, ini pakaian dinas", senyum Bu Arimbi menggoda Robi.


"Ya..., terserah Mamih saja, Mamih lebig pengalaman", senyum Robi.


"Robi..., tidak usah belajar kalau masalah itu, ikuti naluri saja, kalian berdua juga pasti bisa", senyum Bu Arimbi.


"Iya...iya ..., Robi ngerti Mih", senyum Robi.

__ADS_1


Ini adalah kali pertamanya mereka bicara masalah seperti itu, walau Robi dulu terkenal liar dan berandalan, namun dirinya tidak pernah terjerumus dalam hal-hal negatif dengan para wanita, Robi begitu menghormati mereka.


****


"Tuan...tuan..., itu ada beberapa kurier yang mengantar barang", Pak Tejo menghampiri Eko yang baru keluar dari kamarnya, dengan tergopoh.


"Kurier...?, siapa yang pesan barang?, tinggal di ambil saja Mang", ucap Eko datar.


"Tapi Tuan, itu COD, belum dibayar, katanya mereka itu pesanan Tuan, penerimanya atas nama Tuan", terangkan Mang Tejo lagi.


"Aku...?, perasaan tidak pesan apa-apa, ah ada-ada saja", Eko terlihat mengerutkan dahinya, namun ia segera menuju ke lantai bawah untuk menemui kurier-kurier itu.


"Mana coba lihat!", Eko langsung meminta barang-barang yang dibawa kurier -kurier itu. Ada tiga kurier sekaligus yang datang.


Eko lalu memeriksa satu per satu barang itu, dari luar Eko bisa melihat kalau isinya itu kebutuhan wanita muslimah semua, "Siapa yang pesan?, Rena...?, ah tidak mungkin", gumam Eko.


"Ssiittt....., ini pasti ulah Fikri", gumam Eko.


Dengan segera ia membayar barang-barang itu dan setelah kurier pergi, Eko segera menunu kamar yang ditempati Fikri.


"Tok...tok...tok...., Fikri buka?", teriak Eko.


Tak lama Fikri pun membuka pintu, masih dengan setelan gamisnya.


"Iya Tuan?", ucapnya sambil tetap berdiri di ambang pintu.


"Ini ulah kamu kan?", Eko menyodorkan bungkusan yang dibawa kurier tadi kehadapan Fikri.


"Ah...iya, sudah datang?, cepat sekali?", senyum Fikri.


"Pesan apa sih?, seenaknya saja, saya yang bayarin tuh", ketus Eko.


"Iihhh...ini perlengkapan tempur Tuan, lihat", Fikri langsung membuka bungkusan-bungkusan itu, semua perlengkapan wanita bercadar, termasuk celak mata.


"Besok saya akan datang ke Pondok, jangan panggil saya Fikri lagi, tapi Fatma, itu nama muslimah saya", seringai Fikri.


"Oh..., ngerti aku, oke..., kerjakan tugasmu dengan baik, ingat !, aku selalu mengawasimu", tatap Eko, ia takut Fikri menipunya.

__ADS_1


__ADS_2