Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Ketakutan


__ADS_3

Dua buah ojeg berhenti di sebuah jalan Desa yang tampak lengang siang itu. Marisa dan Bi Iroh sudah sampai di desa tempat tinggalnya dulu.


"Mari Neng cepat, mumpung belum ada orang yang melihat kedatangan kita", Bi Iroh mempercepat langkahnya menuju sebuah gang kecil di sebelah kiri jalan.


Marisa dan Iroh mengenakan pasmina untuk menyembunyikan wajahnya.


"Kenapa sih Bi, kita seperti maling saja, kita kan pulang ke rumah sendiri", gerutu Marisa sambil mengikuti langkah Bi Iroh yang ada didepannya.


"Tidak ada apa-apa , biar cepat sampai saja, Bibi sudah lelah, ingin cepat sampai dan beristirahat", alasan Bi Iroh.


Jelas saja Marisa tidak akan mengerti, saat kejadian yang memalukan itu terjadi, Marisa masih kecil dan sengaja tidak diberitahu soal hal itu.


Ada beberapa orang yang sempat berpapasan , mereka terlihat asing dan terus memperhatikan Marisa san Iroh.


"Sepertinya mereka baru di sini" , ucap salah satu dari warga.


"Ah... paling juga mereka itu tamu yang mau berkunjung ke kerabat mereka yang ada di sini", bela seorang warga.


Mereka pun membiarkan Marisa dan Iroh berlalu pergi.


"Tapi tunggu!, sepertinya yang sudah ibu-ibu itu wajahnya tidak asing, tapi siapa ya?", seorang warga berdiri mematung memperhatikan kepergian Iroh dan Marisa.


"Ah...itu mah kebetulan saja kali, aku malah asing, baru kali ini melihat mereka.


"Eh...kenapa tidak kita ikutin saja, kemana mereka , kan kalau ada apa-apa, bisa langsung lapor kepada Pak RT", usul seorang warga lagi.


"Ayo cepat kita susul mereka",


Ketiga warga itu berjalan cepat menyusul kembali Marisa dan Iroh. Namun sayang, ketiga warga itu tidak menemukannya.


"Kemana mereka?, kok cepat sekali perginya?", ketiga warga itu berdiri di depan sebuah rumah tua.


"Mungkin mereka sudah pulang kali, atau sudah jauh perginya, kita balik lagi aja, kan kita mau menghadiri arisan , nanti telat", ajak seorang warga.


"Iya, kita pergi saja, ngapain lagi ngurusin orang yang belum jelas",


Akhirnya ketiga ibu-ibu rempong itu pergi dari depan rumah tua itu.


"Tuh..., kan...., apa Bibi bilang, orang di disini itu pada kepo, hampir saja mereka menemukan kita", bisik Bi Iroh kepada Marisa.


Mereka ada di dalam rumah tua itu, dan sedang bersembunyi di balik tirai.


"Aneh..., Bibi kan asli dari sini, kenapa mereka seperti menaruh curiga gitu kepada kita", gumam Marisa.


Bi Iroh pura-pura tidak mendengar ucapan Marisa , ia langsung menuju dapur meninggalkan Marisa, Bi Iroh takut Marisa jadi banyak bertanya.


Untung saja rumah itu selalu dibersihkan oleh kerabat mereka yang ada di kampung sebelah, jadi keadaannya masih cukup bersih dan terawat.

__ADS_1


Bi Iroh duduk termenung di meja makan, ia tampak bingung, bagaimana ia dan Marisa bisa bertahan di desa jika tidak dekat dengan para tetangganya.


'Mungkin aku harus bertemu dengan Pak RT, biar bisa hidup tenang di sini, lagi pula peristiwa itu sudah lama, semoga mereka sudah melupakan kejadian itu',pikir Bi Iroh.


"Iya..., aku harus menemui orang tua Nyimas, dan meminta maaf kepada mereka", lirih Bi Iroh.


"Sini Neng!, kita makan dulu, tadi Bibi sempat membungkuskan makanan untuk kita", Bi Iroh melirik ke arah Marisa yang tampak sedang duduk termenung di ruang tamu.


Dery yang terus melajukan sepeda motornya menjauhi kota, merasa lelah, ia berhenti sejenak. Dery melihat hamparan perkebunan dan pesawahan yang terbentang di depan matanya .


Di utara tampak kokoh gunung berdiri menjulang.


'Sepertinya ini tempat yang cocok untuk aku sembunyi, tidak akan ada yang tahu kalau aku tinggal di sana', pikir Dery,


"Tidak apa-apa sendiri dan menyepi dulu, sambil kembali menyusun rencana untuk menghancurkan Robi", geram Dery.


Dasar Dery, sendirinya yang salah, sendirinya yang licik, sendirinya yang berkhianat, tetap saja menginginkan Robi celaka.


Bukannya sadar dan taubat, malah tambah kumat. Orang seperti Dery itu tidak akan sadar dan taubat, sebelum dirinya merasakan akibat yang kuat pada dirinya.


"Alhamdulillah...,ini seperti kejutan buat Abah, bisa bertemu dengan anak dan cucu dari sahabat Abah, padahal kita sudah bertemu , namun Abah benar-benar tidak menyangka, nak Robi itu cucunya Furqon.


"Maaf, Abah sudah mengusirmu dari sini, maaf juga Abah sudah tidak percaya sama nak Robi soal uang itu", Abah menatap nanar Robi, ingatannya kembali saat dirinya mengusir Robi dulu, tanpa mendengar penjelasan dari Robi dulu.


"Jadi, sebelumnya Abah sudah bertemu Robi?", tatap Pak Robani.


"Mamih sudah menduga, saat melihat Robi mulai shalat, dan meninggalkan kebiasaan buruknya, pasti ada sesuatu", senyum Bu Arimbi sambil melirik ke arah Tiara.


"Ternyata disinilah , tempat yang Robi bilang nyaman dan damai itu", senyum Bu Arimbi.


"Coba Umi ambil tasnya Nak Robi di laci ruang baca Abah", perintah Abah.


"Baik", Umi berjalan menuju ruang baca dan kembali dengan menjinjing tas berisi uang milik Robi.


"Nah..., gara- gara ini Abah jadi gelap mata dan mengusir Robi dari sini, padahal Abah sudah melihat keseriusannya untuk belajar agama, Abah malu sekali pada mendiang kakekmu", Abah menunduk.


"Dulu, Abah tidak percaya kalau ini yang jajannya Robi, Abah kira ini uang hasil kejahatan Robi", Abah kembali menunduk.


"Sudah Abah..., itu sudah berlalu, jangan diungkit lagi", senyum Robi.


"Kalau tahu begini, kita besanan saja Abah", senyum Pak Robani.


"Iya...boleh juga itu", senyum Abah


Kabar kedatangan Robi di pondok sudah di dengar oleh sebagian santri. Meteka tampak antusis membicarakannya.


"Apa?, Robi sudah kembali?, mau apa lagi dia ke sini?, kenapa dia sampai bisa bebas dari penjara?, ini pasti ada sesuatu, Abah mesti tahu, jangan sampai terkena pengaruh dari Umi dan Tiara", gumam Ustad Fikri, ia bergegas pergi menuju rumah Abah.

__ADS_1


Robi sampai di rumah Abah bertepatan dengan keluarnya Pak Robani dan Bu Arimbi keluar dari pintu depan untuk pamit pulang.


Robi melihat krakraban mereka saat itu, Abah pun terlihat senang. 'Sebenarnya siapa mereka?, kok tampak sudah akrab?", Fikri menahan langkahnya, ia berdiri di samping rumah.


"Iya tenang saja, dia akan baik-baik saja di sini, akan Abah jadikan yang terbaik", kekeh Abah.


"Terima kasih, kalau begitu kami pamit, kami percayakan dia sama Abah", senyum Bu Arimbi.


Setelah saling bersalaman, kedua orang tua Robi pun pulang. Kepergiannya diikuti senyuman bahagia Abah.


Abah pun berbalik kembali menuju rumahnya.


"Maaf, tunggu Abah!", panggil Fikri, ia segera mendekati Abah, "Abah...dia sudah bebas?, ini tidak bisa dibiarkan Bah, dia akan kembali membuat kekacauan",


Abah berhenti dan berbalik kembali menghadap Fikri.


"Maksud kamu siap?, siapa yang akan membuat kekacauan di sini?",


"Siapa lagi kalau bukan Robi, Abah jangan tertipu, ini pasti sebuah rekayasa mereka saja", kompori Fikri.


"Mereka banyak uang, apa pun bisa dibeli ", ucap Robi. Makin ngawur saja bicaranya.


Abah tersenyum mendengarnya."Tenang, kamu tenang dulu, ini sudah jelas, ada buktinya",


Fikri mengikuti Abah dari belakang. Dan belum juga sampai di sana, tampak Robi keluar di ikuti Tiara, dia menuju kobong yang dulu ditempatinya bersama Mang Daman.


Hati Fikri terasa terbakar, dengan jelas ia mendengar Tiara tertawa renyah , itu menandakan dirinya sedang merasa gembira. Apa karena Robi sudah kembali lagi ke Pondok?.


"Hai..., kenapa kamu ada di sini?, bukannya dipenjara?", bentak Fikri begitu Robi sudah ada didekatnya.


"Oh..., Ustad. Assalamu'alaikum Ustad, lama kita tidak bertemu", Robi mengulurkan tangan bermaksud ingin bersalaman dengan Fikri.


Namun tidak disangka, Fikri menepisnya, "Jangan banyak tingkah kamu, kamu hanya cari perhatian saja kan, mentang-mentang banyak uang, bisa melakukan apapun, termasuk menyogok Polisi itu, biar kamu bisa bebas, pengecut", sinis Fikri.


"Astaghfirullah..., saya memang terbukti tidak bersalah Ustad", bela Robi.


"Alah...bisanya ngeles", sewot Fikri.


"Sudah....sudah...sudah..., kok malah adu mulut begini, dengar ya Fikri, Robi ini memang benar terbukti tidak bersalah, jadi Polisi membebaskannya dari semua tuduhan, itu fakta!" tegas Abah.


"Dan pelaku sebenarnya sedang dalam pencarian, jelas!", tegas Abah.


"Sekarang Robi akan tinggak di Pondok ini sebagai murid Abah, jadi tidak usah bahas masalah itu lagi!", tegas Abah.


"Sudah sana, Ara antar Robi ke kobongnya", perintah Abah.


Tiara dan Robi pun segera beranjak dari hadapan mereka. Robi benar-benar dibuat marah, ia dipojokkan oleh Abah di depan Tiara dan Robi.

__ADS_1


"Dan kamu Ustad, nanti bantu Abah untuk mengajari Robi , sana lanjutkan urusanmu!", perintah Abah, ia melirik Ustad Fikri yang tampak geram melihat kepergian Tiara dan Robi.


__ADS_2