
Semua penumpang sudah menempati kursi , Robi yang terakhir membeli tiket dan itu pun dapat dari calo, ia tidak mendapat tempat duduk di deretan kursi penumpang, Robi sengaja duduk di kursi dekat dek.
Bahkan Robi segera menuju bagian lambung kapal yang menampung kendaraan yang mau menyeberang.
Di sana Robi bertemu dengan para sopir yang sedang beristirahat di kursi-kursi penumpang yang ada di samping ruangan itu .
Mereka ada yang sudah terlelap tidur, ada pula yang masih duduk-duduk sambil menyantap makanan.
"Assalamu'alaikum, Bang...., boleh ikut duduk di sini?", rengguh Robi kepada dua orang sopir yang terlihat masih terjaga.
"Wa'alaikumsalam..., silahkan Pak", jawab salah satu dari mereka.
Robi cepat duduk bersama mereka mengisi sakah satu kursi yang masih kosong.
"Saya Robi, saya lagi mencari seseorang yang di duga terbawa ke salah satu mobil boks yang ada di dalam", jelaskan Robi.
Dua orang itu saling tatap, mereka merasa sedikit curiga kepada Robi.
"Kita juga bawa mobil boks ya, tapi rasanya tidak mungkin, karena tadi kita tidak bongkar muatan di jalanan, kita hanya tinggal angkut saja, tadi Bapak bilang seseorang, itu artinya manusia?, bukan barang kan?", tatap salah seorang dari mereka",
"Iya..., dia korban penculikan, dan pelakunya mengaku memindahkannya ke dalam mobil boks", aku Robi.
"Wah...kenapa tidak langsung lapor polisi saja Pak?, biar cepat ditangani",
"Saya terburu-buru, tidak sempat lapor polisi, yang penting menyelamatkan dia dulu, boleh kan saya masuk ke dalam Pak?, tatap Robi.
"Kalau begitu...boleh....boleh....boleh...., kita cek sekarang saja",
"Iya..., ayo Pak cek ke dalam sekarang!!", ajak salah satu dari sopir itu.
Robi dan dua orang sopir masuk kembali ke lambung kapal yang menampung kendaraan.
Di dalam berjejer berbagai jenis kendaraan. Namun mereka fokus pada mobil boks saja. Mereka dekati satu-satu mobil boks yang ada di sana.
"Halo..., ada orang di dalam?", Robi dan kedua orang itu silih berganti mengetuk bagian belakang dari mobil boks yang ada di sana.
"Ada apa ini?", Petugas kapal datang menghampiri mereka, dia terlihat tidak suka dengan apa yang dilakukan Robi dengan dua sopir itu.
"Maaf Pak, kita sedang mencari seseorang yang di duga terbawa oleh salah satu mobil boks yang ada di sini", jelaskan Robi.
"Kenapa kalian tidak lapor pihak berwajib saja, ini sudah di luar prosedur dan di luar wewenang kami, jangan sampai kami disalahkan jika terjadi sesuatu", jelaskan petugas itu.
"Saya yang akan bertanggungjawab soal itu Pak, sekarang ijinkan dulu saya untuk mencarinya", ucap Robi setengah memelas.
"Silahkan, saya kasih waktu lima belas menit, jika tidak terbukti dia ada di salah satu mobil boks yang ada du sini ,saya harap Anda hentikan pencariannta, karena bisa menimbulkan keresahan bagi para Penumpang di sini", jelaskan Petugas kapal.
"Baik Pak, terima kasih", rengkuh Robi.
Robi kembali mendekati setiap mobil boks, ia tidak lelah memanggil seseorang siapa tahu ada didalamnya.
__ADS_1
"Sampai ia di mobil boks terakhir, Robi sudah hampir putus asa karena dari semua mobil boks yang ada, tidak ada respon apa pun dari dalam yang memperlihatkan ada seorang manusia di sana.
"Sudah lima belas menit, saya kira sudah cukup,tidak ada apa -apa di dalam sana, jadi silahkan anda keluar, jangan membuat keributan lagi di sini", ucap Petugas kapal, ia bicara tegas kepada Robi.
'Ya Allah...Tiara...., dimana kamu', batin Robi bicara. Robi melangkahkan kakinya dengan berat meninggalkan deretan mobil.
"Buukkk....buuukkk.....buukkk....", terdengar suara dari arah dalam. Robi terperangah, tanpa basa-basi lagi Robi berlari kembali ke arah dalam, ia mencari sumber suara.
"Hai...Pak...kembali !!", teriak Petugas, ia dan dua sopir itu mengejar Robi.
"Tiara...., Tiara...Tiara...., dimana kamu?", teriak Robi.
"Bukkk....buukkkk...buukkk....", terdengar lagi suara tadi.
Robi berlari mencari sumber suara, ruangan yang bergema menyulitkan mencari sumber suara tadi.
"Buukkk...buukkk...buukkk", terdengar suara itu lagi .
"Pak...dari sini suaranya", Petugas Kapal itu berteriak di samping mobil boks berwarna putih.
Robi berlari menghampirinya. "Lah...ini mobil kita Pak", dua sopir itu menghampiri juga.
"Pak, tolong buka, kita segera cek", Robi memegangi tangan salah satu sopir itu.
"Cekrek...", suara kunci di buka, kini pintu belakang mobil boks sudah terbuka, Robi dengan cepat menghampiri dan memanjat masuk ke dalam.
"Tiara..., Tiara...., kamu dimana?", teriak Robi.
"Tiara..., Ya Allah Tiara...", Robi mendekati karung tersebut, ia melihat karung itu masih terikat dari luar. Dengan hati-hati ia membukanya.
"Alhamdulillah Tiara...", Robi refleks memeluk sosok wanita bercadar yang kini sudah berada didepannya.
Ia adalah Tiara, Tiara tampak lemas, ia hampir kehabisan oksigen karena terlalu lama berada di dalam sana.
Tiara membuka matanya ia sempat melihat ke arah Robi sebelum ia kembali pingsan, Tiara terkulai lemas didalam pangkuan Robi.
Robi segera membawa Tiara ke luar, dan membawanya ke ruang akomodasi untuk mencari pertolongan medis di sana.
Alhmdulillah ada dua orang wanita stand by di ruang P3K. Sepertinya mereka Suster yang sedang berjaga di sana.
"Sus, tolong !!!", ucap Robi, ia segera membaringkan Tiara di kasur pasien yang tersedia di sana.
"Dia ini kenapa Pak?", ucap salah satu Suster, ia segera menghampiri Tiara dan melakukan serangkaian pemeriksaan.
"Dia tadi terkurung di dalam mobil beberapa jam, Sus", terangkan Robi.
"Oh...dia ini kekurangan oksigen , jadi lemas, untung cepat ketemu, kalau tidak, bisa mati lemas dia, kita perlu memasangkan Oksigen Pak, jadi tidak apa-apa kalau saya buka dulu cadarnya", tatap seorang Suster.
Robi terdiam, ini sulit memang ,tapi keselamatan Tiara itu yang utama.
__ADS_1
"Bagaimana Pak?", ulangi Suster.
"Oh...boleh Sus, kalau itu diperlukan , lakukan saja apa pun untuk menolongnya", ucap Robi.
"Baik Pak", lalu kedua Suster itu memasangkan selang infus dan oksigen untuk membantu pernafasan Tiara.
Sesuai permintaan Robi, Tiara ditempatkan diruangan isolasi, jadi tidak semua orang bisa melihatnya, apalagi kini ia tidak memakai cadar.
"Sudah Pak, tinggal menunggu sadar saja, nanti kalau sudah sadar, berikan banyak air putih, biar tidak dehidrasi, perhatikan juga oksigennya, jika sudah lima belas menit, bisa dilepas saja", perintah Suster .
"Baik Sus, terima kasih", ucap Robi.
Kedua Suster itu kini meninggalkan Robi yang masih berdiri di depan ruang isolasi perawatan Tiara.
Kalau Robi masuk, berarti ia akan melihat wajah asli Tiara untuk pertama kalinya, karena selama ini ia melihatnya selalu tertutup niqob.
"Uhuk...uhuk...", terdengar suara orang batuk dari dalam, itu pasti Tiara.
"Ya Allah Tiara...", Robi terperanjat. Walau ragu, ia masuk juga ke dalam ruangan itu. Robi terpaku begitu melihat sosok wanita cantik tergolek di hadapannya, Robi terpana melihatnya.
"Subhanallah...", gumam Robi.
"Sungguh indah ciptaan-Mu", gumam Robi kembali.
"Uhuk ..uhuk....", Tiara kembali terdengar batuk.
Robi menghampirinya lebih dekat, ia lihat gelembung oksigennya sudah habis, Robi lalu mencabutnya.
Tiara menatap Robi dengan mata berkaca, ia ingin bicara namun tidak bisa,mulutnya hanya menganga mau memanggil Robi.
"Sudah..., kamu istirahat saja dulu", Senyum Robi.
Tiara belum menyadari keadaan dirinya yang tanpa memakai niqob.
"Kamu haus, ini minum dulu", Robi menyodorkan botol minum kepada Tiara.
Tiara mengambilnya, dan bermaksud menyingkap niqob, namun betapa kagetnya saat ia menyadari dirinya sedang tidak memakai niqob.
"Masya Allah..., aku ini...", Tiara langsung memalingkan wajahnya dari Robi dan menutupnya dengan kedua telapak tangannya.
"Keluar..., keluar kamu", teriak Tiara.
"Tiara...., maafkan aku..., ini darurat Tiara, tadi kamu kehabisan oksigen...", jelaskan Robi.
"Keluar...aku bilang", kembali Tiara berteriak.
"Tiara....", Robi melangkah keluar, untung ada Suster yang masuk, ia mendengar keributan dari dalam.
"Tolong Sus", tatap Robi.
__ADS_1
"Iya..., nanti akan saya jelaskan Pak", senyum Suster.