Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Mewujudkan Mimpi


__ADS_3

"Aduh...aduh...., ini kenapa lagi?, Nyimas kenapa lagi Ara?", Umi menghampiri Tiara yang sedang membopong tubuh Nyimas.


"Sudah..., saya tidak apa-apa, dengan istirahat juga, biasanya langsung sembuh", tolak Nyimas, ia langsung terlihat sehat, hanya saja tampak kedua matanya berembun.


"Benar...?, kamu tidak apa-apa?", tatap Tiara.


Nyimas mengangguk, dengan menyunggingkan senyuman, biar Umi dan Tiara merasa tenang.


Nyimas berjalan perlahan menuju kamarnya, diiringi tatapan khawatir Umi dan Tiara.


"Siapa dia Umi?, saya baru melihatnya", tanyai Robi.


"Dia itu Nyimas, tadi datang bersama Papih kamu, katanya bertemu di pasar, Nyimas sedang dikejar orang-orang tak dikenal, makanya dibawa ke sini", jelaskan Tiara.


"Papih?, kok bisa?, biasanya Papih itu orangnya cuek, tidak pernah mau ikut campur sama urusan orang, apalagi ini orang yang baru dikenalnya", Robi menerawang.


"Lalu, Papih mana Umi?", kembali Robi bertanya,


"Sudah pada tidur", senyum Umi.


"Kirain Papih mau tidur di kobong saya",


"Ya di sini, masa tidur berpisah", senyum Umi.


"Euh..., iya ya...", cicit Robi. Dalam hatinya berucap syukur, semoga ini awal yang baik untuk hubungan kedua orang tuanya.


"Sudah..., Abah sudah menunggu, kamu langsung temui Abah sana", perintah Tiara.


"Iya Umi, saya menemui Abah dulu", pamit Robi, ia melangkah menuju ruang baca Abah. Di sana Robi kembali belajar hal-hal baru bersama Abah.


Sementara Tiara, ia mulai melihat laporan buat acara peringatan tahun baru Islam di Pondok. Rencananya, semua santri putri akan memakai busana muslim hasil rancangan Bu Arimbi.


Jadi, konsepnya yaitu pawai obor sekaligus pameran busana muslim yang langsung dikenakan oleh para santri.


"Alhamdulillah..., sudah hampir rampung, tinggal menambahkan detail-detail bordir dikit-dikit", gumam Tiara.


"Tadi Nyimas kenapa ya?, kok aneh , sakitnya bisa tiba-tiba begitu, sorot matanya menyiratkan kebencian yang luar biasa, tapi entah sama siapa?", Tiara bicara sendiri .


"Heum..., Robi sepertinya sudah mulai menguasai beberapa kitab, Alhamdulillah ..., dia bisa cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan di sini", senyum Tiara.


Kembali ada rasa hangat mengalir dalam relung hatinya, hanya terhadap Robi Tiara merasakan hal itu, tidak kepada siapa pun ,termasuk kepada Fikri.


"Hah", Tiara menghempaskan tubuhnya ke sofa, ia menyandarkan tubuhnya di sana hingga terlelap.


Fikri yang sudah sampai dikobongnya, segera membereskan barang-barang yang dibawanya dari desa, ia simpan di tempat yang aman, barang yang diberikan oleh Dery kepadanya.


"Kamu diam di sini dulu manis, belum saatnya kamu tampil", seringai Fikri, ia menyembunyikan sebuah botol kecil pemberian Dery di dalam lemari pakaiannya.


"Ini akan seru, tinggal menemui teman-temannya Dery di bengkel, siapa kemarin namanya...", Fikri tampak berfikir .


"Oh...iya ..., Joko...., dan....Aleks, mereka berdua yang akan menjalankan rencana ke dua", seringai Dery.


"Robi....., tamat riwayatmu...., silahkan kamu senang-senang dulu sekarang, tapi itu tidak akan lama, ha....ha....ha.....", Fikri tertawa lepas.


Tapi seketika tawanya itu mereda, saat ia kembali teringat peristiwa tadi, yang mengganggu pikirannya.


"Nyimas...?, Nyimas....?, jangan-jangan..., kata Bi Iroh mereka juga pergi ke Kota, apa iya yang tadi itu dia?, tapi...sepertinya tidak mungkin, ia datang sendiri, tanpa anak", gumam Fikri.


"Ah..., kenapa jadi mikirin dia sih..., dia itu masa lalu, jangan di ingat-ingat lagi, Tiara yang kini menjadi tujuan utamaku", Fikri mengerjapkan matanya, ia ingin menerbangkan semua ingatannya kepada masa lalunya.


Ingatan itu hanya akan membuatnya mundur, dan terpuruk, atau bisa saja akan membuatnya meringkuk di hotel prodeo.


'Tidak...!, itu tidak boleh terjadi, masa lalu itu harus tetap terkubur selamanya', batin Fikri bicara.


"Gue harus bergerak cepat, jangan sampai masa lalu mengejar dan melenyapkan masa depan yang aku impikan", gumam Fikri.


"Sepertinya besok harus segera menemui Joko dan Aleks, biar semua rencana berjalan dan berhasil sesuai harapan, dan tepat waktu.


Fikri kini sudah berada di atas tempat tidurnya, ia harus pergi pagi-pagi sekali biar tidak ada yang mencurigainya saat pergi dari Pondok.

__ADS_1


Fikri bangun pagi-pagi sekali, bahkan saat adzan awal belum berkumandang. "Ini siapa yang adzan?, kok bagus banget", gumam Fikri.


Niatnya untuk pergi diam-diam ke bengkel, ia urungkan. Fikri memilih pergi ke Masjid dulu, sudah hampir satu minggu ia tidak shalat di Masjid Al-Furqon.


Fikri sudah bisa menebak, yang mengumandangkan adzan kali ini Ustad Dzaqi. Buru-buru ia menuju Masjid, semalam Abah belum mengetahui kepulangannya.


Begitu sampai di Madjid, Robi sudah berdiri di mimbar imam, kini Fikri yang berdiri di shaf terakhir.


Sepanjang shalat, hati Fikri terasa terbakar, ternyata Robi sudah bisa mengimami shalat, bacaannya pun tartil, tidak kalah dengan dirinya.


Shalat kali ini, Fikri rasa shalat yang begitu memekakkan telinganya, Robi sudah fasih membaca Al-qur'an, suaranya pun begitu merdu mendayu, hampir melebihi kemampuannya membaca Al-Qur'an.


Ingin rasanya ia pergi dan keluar saja dari shaf shalatnya, namun sekuat tenaga ia tahan, walau rasa sesak mendera di dadanya akibat menahan rasa marah.


Sehingga begitu salam, Fikri langsung keluar dari Masjid, ia berjalan cepat menuju sepeda motornya, ia sudah merasa gerah menahan amarah.


"Ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi, dia sudah banyak berubah, ini bahaya ", geram Fikri .


Fikri mengeluarkan sepeda motornya ke luar gerbang, dan ia baru menghidupkannya setelah berada beberapa meter dari gerbang.


Fikri memacu cepat sepeda motornya , ia lampiaskan rasa marahnya kepada Robi lewat sepeda motornya yang dipacu cepat.


Jalanan lengang di pagi hari seolah mendukungnya, sehingga Fikri bisa dengan leluasa menguasai jalanan semaunya.


Hingga dia sampai di sebuah bengkel yang di tunjukkan Dery.


"Di sini rupanya, tidak lama kamu juga akan binasa bersama tuanmu", seringai Fikri.


Ia tiba saat hari sudah mulai terang, ia harus menunggu sebentar sebelum bengkelnya buka.


"Yang mana ya orangnya, Joko dan Aleks", gumam Fikri.


Fikri tidak langsung ke Bengkel, ia sarapan bubur ayam dulu sambil memperhatikan situasi bengkel.


Setelah dirasa cukup, ia baru mendekati bengkel, Fikri memasukkan sepeda motornya ke sana, "Bang, tolong ganti oli ya", pintanya begitu bertemu pegawai bengkel.


Kebetulan yang ada di sana Ronald dan Ilyas, kalau Joko dan Aleks, sudah jelas masih pada tidur .


"Mana yang lainnya Bang, hanya berdua saja", selidik Fikri.


"Ada..., biasa masih pada tidur , mereka giliran jaga siang Mas, kita bagi-bagi jam kerjanya", ucap Ronald tanpa menaruh curiga sedikit pun.


"Oh ..., bagus lah Bang, jadi bisa giliran istirahatnya", Fikri berargumen.


'Eum..., siang harus balik lagi ke sini ', pikir Fikri.


Ternyata dia salah orang, baru nanti siang Fikri bisa bertemu dengan Joko dan Aleks.


"Sudah ya Bang, terima kasih", Fikri memberikan sejumlah uang kepada Ronald.


"Iya...sama-sama",


Fikri sejenak merasa bingung, ia harus ke mana sambil menunggu Joko dan Aleks.


"Hah..., sepertinya aku harus menunggu sampai mereka ada", Fikri melajukan sepeda motornya tanpa arah.


****


Bu Arimbi membuka matanya, ia merasakan ada suara detakan di telinganya. Dan betapa kagetnya ia saat mendapati dirinya sedang tidur di dada suaminya, dengan keadaan setengah telanjang.


"Aduh...apa-apaan ini?", Bu Arimbi langsung menarik selimut untuk menutup tubuhnya, namun ia kembali memalingkan wajahnya saat dilihatnya suaminya itu tidak memakai sehelai kain pun.


"Ada apa Mih?, mana selimutnya, dingin sekali ini", gumam Pak Robani dengan masih menutup matanya.


"Bangun Pih!", Bu Arimbi melemparkan bantal ke dada suaminya.


"Aww...", Pak Robani mengaduh, ia langsung membuka matanya dan menarik seprey untuk menutupi tubuhnya.


"Apa yang sudah Papih lakukan semalam", Bu Arimbi memelototi Pak Robani.

__ADS_1


"Aduh...Mih... masa harus dijelaskan lagi sih...., ya kita 'begitu', makanya sekarang begini juga", cicit Pak Robani.


"Papih....!!", teriak Bu Arimbi.


"Ssttt...., jangan ribut Mih..., ingat ini di rumah orang, malu kalau sampai mereka tahu, lagi pula kita masih sah, ini bukan dosa, lagian Mamih yang semalam nyosor-nyosor Papih, ya jadinya bangun", kekeh Pak Robani.


"Sudah cepat sana mandi!, lihat kita sudah telat, belum shalat", ia menunduk dengan wajah memerah.


Memang semalam dirinya merasakan, dikiranya mimpi, tetapi nyata, yang bersamanya semalam itu suaminya sendiri.


Setelah membersihkan diri, mereka shalat berjamaah. Alhamdulillah ini benar-benar awal yang baik untuk hubungan Bu Arimbi dan Pak Robani.


Dengan hati-hati mereka berdua keluar dari kamarnya, seperti pengantin baru saja, mereka malu jika ketahuan bangu kesiangan. Untung saja rumah masih sepi, semua penghuninya masih berada di Masjid.


Bu Arimbi langsung menuju dapur, ia mengambilkan air hangat untuk suaminya.


"Pih...kita ke pasar, beli kebutuhan dapur buat di sini, malu sama Abah, kita sudah merepotkan mereka di sini", ajak Bu Arimbi.


Pak Robani memicingkan matanya ke arah Bu Arimbi. 'Semakin cantik saja , rasanya seperti masa pacaran dulu', batin Pak Robani bicara.


"Iye..., kok malah diam gitu", Bu Arimbi membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya, ia merasa tidak karuan ditatap begitu oleh Pak Robani, walau dia suaminya, tapi hal semalam, sudah lama tidak mereka lakukan.


"Iya..., Papih antar", ucap Pak Robani.


"Tapi sebentar, aku mau ajak Risman juga",


"Siapa?", tatap Pak Robani.


"Nanti Mamih jelaskan, habis jarang bertemu, jadi belum sempat bicara apa pun sama Papih",


Tak lama semua datang, Abah, Umi, Tiara, Nyimas, dan dua bocah. Yang seketika membuat ramai suasana rumah.


"Aduh...maaf Umi, kami kesiangan, tidak bisa ikut ke Masjid", Bu Arimbi menunduk.


"Tidak apa-apa, di rumah juga masih bisa shalat berjamaah", senyum Umi.


"Kita sarapan dulu saja, saya sudah pesankan kupat tahu, sebentar lagi di antar ke sini", senyum Bu Arimbi.


Benar saja, tak lama terdengar suara pintu di ketuk, dan Mang Amat sudah ada di ambang pintu membawa bungkusan kupat pesanan Bu Arimbi tadi.


"Alhamdulillah Mang, terima kasih ya", Bu Arimbi memberikan dua lembar uang berwarna merah.


"Kembaliannya ambil saja", senyum Bu Arimbi.


"Iya, terima kasih Bu", Mang Amat tersenyum sambil segera meninggalkan rumah Abah.


Mereka sarapan kupat tahu bersama sambil sesekali bercanda.


"Dari mana Ibu tahu ada kupat Mang Amat di sini?", tanyai Tiara.


"Dari Robi, waktu pulang ke rumah dulu, ia sering bicara soal kupat Mang Amat, ternyata benar enak", senyum Bu Arimbi.


Setelah makan, kalian mau ikut Ibu ke pasar tidak...", tawari Bu Arimbi kepada Gilang dan Risman.


"Mau...mau...", teriak mereka.


"Wah...., itu mah maunya dong Bu", senyum Tiara.


"Oh...iya..., Tiara juga bisa sekalian ikut, kita cari bahan tambahan buat busana muslim kita",


"Baik Bu",


Kini, Pak Robani yang membawa mobil, Bu Arimbi duduk di sampingnya, sedangkan Tiara di jok belakang bersama dua bocah.


Nyimas juga di ajak, namun ia menolak karena masih takut dengan orang-orang yang waktu itu mengejarnya.


Mereka sudah sampai di pasar, Bu Arimbi memilih belanja di swalayan yang ada di seberang pasar, ia membeli semua kebutuhan dapur dan kebutuhan untuk busana muslimnya.


Fikri yang sedang di atas motor melihat keakraban diantara mereka, Fikri pun bisa melihat Gilang, namun is sempat terpaku saat melihat anak kecil yang ada disampingnya, anak itu seperti cerminan dirinya waktu kecil.

__ADS_1


"Siapa anak itu?, rasanya aku baru melihatnya, tapi dia sudah tampak akrab dengan Gilang?", gumam Fikri. Ia menepikan sepeda motornya, ia memperhatikan mereka dari kejauhan.


__ADS_2