
"Aku tidak akan mengambil apa yang bukan menjadi hakku, Tiara, ayo cepat bangun, kamu mau mandi juga kan?, katanya mandi sebelum subuh itu bagus, nanti setelah shalat subuh kita jalan-jalan sambil nyari baju buat ganti, ini sudah tidak enak dipakai, sudah apek", kekeh Robi.
"Aku...aku...", Tiara kembali menggantung ucapannya, Tiara seperti ragu untuk bicara, ia malah menunduk.
"Kenapa, kamu sakit lagi?, apa yang sakit?", tatap Robi, ia mendekati Tiara beberapa langkah.
"Anu...aku...aku...lagi dapet", Kembali Tiara menunduk.
"Dapet?, dapet apa?", tanyai Robi, ia masih belum mengerti apa yang Tiara maksud.
Tiara cemberut, ia tidak tahu harus bicara apa lagi biar Robi mengerti .
Robi juga diam, ia seperti sedang mencerna kembali ucapan Tiara.
Tiara sedikit meringis, karena kini perutnya mulai terasa begah dan mules. "Aaww...", Tiara memegangi perutnya. Itu memang biasa ia alami saat siklusnya datang menghampiri.
"Ah...., kamu lagi dapet ya?", sambar Robi. Ia baru ngeuh dengan ucapan Tiara tadi.
Tiara mendelik kesal ke arah Robi sambil tetap memegangi perut bagian bawahnya yang masih terasa mules.
"Apa yang bisa aku bantu, apa perlu dipijit?", Robi melangkah lagi mendekati Tiara.
"Eit...jangan !!, kamu ini ada -ada saja, memangnya ini sakit apaan", Tiara melengos.
"Oh..., maaf, aku tidak ngerti masalah yang beginian", Robi kembali mundur sambil menggaruk kasar kepalanya.
"Ah...Umi..., biasanya Umi yang paling tahu cara mengobatinya", Tiara terlihat sedih, ia jadi teringat kepada Umi .
"Abah..., bagaimana juga dengan Abah, apa sudah sadar?, pasti Umi dan Abah kehilangan Tiara, sudah beberapa hari ini Tiara jauh dari Umi", Tiara makin terlihat sedih saja, kini matanya mulai berair.
Robi pun jadi tidak tega melihatnya, ia ikut merasa sedih.
"Coba ingat-ingat!, apa yang Umi lakukan untuk mengobati kamu saat sedang sakit dapet begini", tatap Robi.
Tiara diam, kok ia tidak kepikiran ke sana dari tadi. Tiara terlihat menerawang, ia sedang mengingat.
"Kalau Umi sih suka mijitin punggung, terus buatin minuman kunyit asam,atau membelikan buah nanas, atau minuman sprite", lirih Tiara.
"Ya udah..., aku pijitin sini!!", Robi kembali mendekat ke arah Tiara dan bermaksud memijit punggung Tiara.
__ADS_1
"Eit...eit...eit...stop !!", teriak Tiara cepat, sebelum tangan Robi menyentuh punggungnya.
"Eehh..., katanya mau dipijit...", Robi melengos sambil kembali mundur menjauhi Tiara.
"Iya..., tapi bukan sama kamu juga kali, tapi Umi...", ucap Tiara setengah membentak.
"Iya..., maaf..., terus..., bagaimana dong", tatap Robi, ia mulai kasihan melihat Tiara yang sepertinya sedang menahan sakit, dari tadi tangannya tidak lepas dari perutnya, dan bibirnya pun terus meringis.
"Ah...iya..., apa lagi tadi?, sprite , nanas , ya?, aku cari itu dulu saja", Robi melirik ke arah Tiara.
"Tunggu...!!, ini masih pagi, aku juga takut sendirian di sini, aku mau ikut ", Tiara merajuk, sikap kekanak-kanakannya muncul.
"Terus..., kamu bisa tahan...gitu dengan sakitmu itu?", tatap Robi.
"Iya...iya..., bisa..., aku sudah biasa seperti ini sebelumnya, sebentar lagi juga sembuh", ucap Tiara dengan mata terpejam.
"Ya sudah..., kalau begitu aku shalat dulu saja, kamu tidur lagi saja, biar hilang rasa sakitnya", senyum Robi.
Selama shalat, Robi masih bisa mendengar suara Tiara mengaduh saat menahan sakit. Dan tak lama,Tiara pun terlelap lagi dengan posisi melingkar dengan tangan memegangi perutnya.
Selepas shalat, Robi memandangi Tiara, "Memang unik makhluk yang satu ini, wanita, ia terlihat lemah, cengeng, apa-apa nangis, sedikit-sedikit nangis, tapi dari makhluk yang lemah ini, bisa hadir berbagai manusia baru , ia bisa melahirkan manusia-manusia baru, dan ia sanggup melakukannya berulang kali, walaupun katanya mekahirkan itu sakit, amat sakit, namun ia bisa tahan dengan rasa sakit itu", gumam Robi.
Hari pun mulai merambat pagi, sinar matahari mulai masuk melalui celah pintu dan ventilasi. Namun Tiara tampak masih terlelap. Robi pun tidak berani membangunkannya.
Dari luar terdengar suara pintu diketuk. Robi beranjak menuju pintu, setelah di intip dari balik tirai, ternyata Bu Salma sudah berdiri di depan pintu sambil membawakan sarapan untuk mereka.
Robi pun segera membuka pintu. "Pak..., ini sarapannya", ucapnya dengan ramah.
"Iya..., terima kasih Bu, maaf kalau pasar terdekat dari sini je arah mana ya ?", tanyai Robi.
"Pasar..., Bapak mau ke Pasar?", tatap Bu Salma sambil tersenyum.
"Ah...iya..., tapi nunggu itu bangun dulu", ucap Robi, tanpa sengaja ia melirik ke arah Tiara yang masih tidur.
"Oh..., ibunya masih tidur ya..., pasti semalam diajak begadang terus", senyun Bu Salma.
Robi hanya tersenyum mendengar ucapan dari Bu Salma itu.
"Kalau mau ke Pasar, dari jalan depan sana, cukup naik mobil sekali ke arah kanan, pasarnya ada di pinggir jalan kok, mudah", jelaskan Bu Salma.
__ADS_1
"Oh..., iya Bu , terima kasih informasinya", sebyum Robi.
Bu Salma segera meninggalkan Robi begitu selesai memberikan makanan untuk sarapan tamunya itu.
"Eum..., pasti mereka pasangan pengantin baru, kemarin waktu datang masih tampak malu-malu, nggak tahunya , sudah seru-seruan semalaman", kekeh Bu Salma, ia bicara sendiri begitu meninggalkan kamar Robi dan Tiara.
Robi kembali melirik ke arah Tiara, dia masih tampak lelap. "Kasihan...", gumamnya.
"Aduh..., sudah tak tahan nih, lapar, masa makan duluan, nggak enak juga, mau dibangunin, kasihan", Robi kembali melirik Tiara.
Suara perut Robi kini makin jelas terdengar, untunglah Tiara tampak bergerak, ia membuka kedua kelopak matanya dan mencari keberadaan Robi.
"Aku di sini Tiara...", panggil Robi. Ia tahu Tiara sedang mencarinya.
"Ah...disitu?, kirain aku sendirian di sini", senyum Tiara.
"Kamu sudah baikkan?",tatap Robi.
"Alhamdulillah..., aku sudah lebih baik, kamu kenapa, kok sekarang kamu yang pegangi perut, apa kamu juga sakit?", tatap Tiara.
"Iya..., sakitnya pindah ke aku nih", Robi meringis memegangi perutnya.
"Lah..., kok bisa...", senyum Tiara.
"Kamu tidak sedang dapet kan?", tatap Tiara.
"Aku juga lagi dapet Tiara, dapet makanan....", kekeh Robi.
"Makanya perutku jadi sakit, lapar..., ingin diisi nih", kembali Robi terkekeh.
"Iihhh..., kamu dasar..., kirain dapet juga", kekeh Tiara.
"Ini sarapan dulu!, kita ke pasar habis ini, kita cari pakaian ganti, dan cari informasi juga kapan ada lagi kapal yang akan kembali pulang ", jelaskan Robi.
Tiara dan Robi segera bersiap menuju Pasar. Sesuai petunjuk Bu Salma, Robi dan Tiara menaiki mobil ke arah kanan, dan benar saja, tidak lama, mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di pinggir sebuah pasar tradisional .
Robi dan Tiara baru saja melangkahkan kakinya beberapa langkah, namun sebuah suara menghentikan langkah mereka.
"Tunggu ...!!",
__ADS_1