
Robi bergegas menuju tempat saat dirinya melihat Robi tadi. Ia rasa Fikri masih di sana.
"Ada apa Pak?, ada yang bisa saya bantu?", seorang Perawat menghampiri Robi, ia sepertinya akan memasuki ruangan yang Robi tuju.
"Maaf Sus, saya mencari teman, tadi saya lihat di sini",
Perawat mentautkan kedua alisnya. ",Teman?, teman Bapak suami dari ibu yang melahirkan di dalam?", tatap Perawat.
"Euh...sepertinya bukan, teman saya belum menikah", senyum Robi.
"Oh..., mungkin Bapak salah kamar, ini kamar pasien yang baru saja melahirkan", senyum Perawat.
"Oh...maafkan saya Sus, mungkin tadi salah lihat ruangan", Robi merengkuh bermaksud meninggalkan tempat itu.
Namun secepat kilat ia kembali membalikkan badan ke arah Perawat yang hampir menutup pintu.
"Maaf Sus, kalau boleh tahu, nama pasien di dalam siapa?, mungkin saja dia masih kerabat teman saya, soalnya tadi saya lihat jelas di sini",
"Ini ruangan Nyonya Marisa, ia baru saja melahirkan seorang bayi cantik", senyum Perawat, ia segera menutup pintu.
"Ma...ri....sa...?, ah...mungkin orang lain, nama Marisa di kota ini kan bukan satu", gumam Robi. Ia menepis kecurigaannya.
"Fikri...?, dimana kamu?, masa secepat itu menghilang dari sini", Robi menengok ke arah mencari keberadaab Fikri.
"Cari siapa kamu?", tiba-tiba Pak Robani menghadang langkah Robi.
"Pih..., Risman sedang kritis, dia membutuhkan donor darah segera, di sini tidak tersedia golongan darah yang sama dengan dua?", kabari Robi.
"Golongan darah apa?",
" Golongan darah O, Pih",
"O..?, golongan darah Papih juga O, ayo cepat ke sana, mumpung belum telat", Pak Robani dan Robi setengah berlari menuju ruang perawatan Risman.
"Dok..., saya bisa menolong anak itu, golongan darah saya juga O ", ucap Pak Robani.
"Alhamdulillah..., ayo cepat Pih, ikuti Dokternya",Bu Arimbi pun merasa senang.
Pak Robani mengikuti Dokter menuju ruang perawatan Risman, di sana ia mendonorkan darahnya untuk Risman.
Selang beberapa jam, Dokter keluar dan memberitahu kalau keadaan Risman sudah stabil, tinggal menunggu sadar saja.
"Alhamdulillah...", serentak semua yang sedari tadi menunggu cemas di luar.
"Terima kasih Pak", Nyimas langsung menghampiri Pak Robani begitu keluar dari ruangan Risman.
__ADS_1
Semua mata tertuju padanya, semua sama , merasa heran dengan sikap Nyimas yang dirasa berlebihan.
Padahal semua tahu, Risman itu anak angkatnya Bu Arimbi.
"Iya..., Risman sudah stabil, jangan khawatir, sekarang kita cari tahu saja, kenapa kedua anak ini sampai keracunan?", tatap Pak Robani.
Tiara menghampiri dengan menunduk, "Ini semua salah saya, kedua anak itu selalu bersama saya, terakhir mereka kehausan, dan minum pemberian dari Ustad Fikri", terangkan Tiara.
"Setelah itu , saya tidak memperhatikan mereka lagi, tahu-tahu keduanya sudah kejang-kejang". Lanjut Tiara dengan tetap menunduk.
"Sudah, ini musibah , Alhamdulillah kita semua masih selamat, nanti biarkan pihak yang berwajib yang akan mengurus semuanya, sayangnya kita tidak mempunyai sample minuman yang sudah diminum anak-anak itu",
Tanpa mereka sadari, Fikri pun sedang memperhatikan mereka, ia mengintip dari balik tembok.
"Wah ...bahaya nih, sepertinya mereka akan curiga, rupanya anak -anak itu yang meminumnya, Robi jadi lolos lagi", gerutu Fikri.
Tiba-tiba ponselnya berdering, Fikri setengah berlari menjauhi tempat itu, ia pegangi ponselnya dan segera menjawab panggilan yang masuk dari Dery.
[Kak, bagaimana Marisa?], ucap Dery to the point.
[Marisa sudah melahirkan, kamu lagi di mana?]
[Aku lagi di jalan, ini bareng Aleks dan Joko]
[Aku tidak bawa motor , jadi ikut mereka saja, bisa ketahuan kalau bawa motor]
[Ya sudah, cepetan ke sini, aku masih ada urusan, kamu jaga Marisa sambil menunggu Bi Iroh datang].
Namun belum juga selesai bicara, teleponnya sudah terputus.
"Iiisss..., pake lowbat segala ", Fikri mendesis saat dilihat layar ponselnya, baterenya hanya tersisa sepuluh persen saja.
Fikri melihat kesekelilingnya, setelah di rasa aman, ia pun segera kembali ke ruangan tempat Marisa di rawat.
Dengan perlahan ia membuka pintu takut Marisa dan bayinya terbangun. Belum juga berhasil pintunya di tutup, Fikri mendengar suara detak sepatu mengenai lantai.
Fikri segera menutup pintu, dan ia pun mengintip dari balik tirai, penasaran siapa yang malam-malam begini datang ke Rumah Sakit.
Itu sepertinya rombongan. Benar saja, ia melihat tiga orang berseragam lewat di lorong pinggir ruangannya Marisa.
Mereka adalah Polisi. "Di mana mereka ya?", ketiga Polisi itu berhenti tepat di depan ruangan Marisa.
"Sepi sekali", ucap salah seorang dari mereka, malah ada yang iseng mengintip ke dalam ruangan Marisa, hal itu membuat jantung Fikri hampir copot.
Fikri menahan nafasnya, ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu.
__ADS_1
Dan petugas itu pun sudah memutar gagang pintu, hendak membukanya.
"Ada perlu apa ya Pak?", sebuah suara dari Perawat yang lewat seolah menyelamatkan Fikri.
"Sus, kalau ruangan tempat keluarga Pak Robani dirawat yang mana ya?",
"Oh..., itu di sebelah sana Pak, dari lorong depan belok kiri, di ruang anak, kalau ini ruang ibu dan bayi", jelaskan Perawat.
"Oh...di sana, terima kasih ya Sus", ucap salah seorang Polisi, mereka kemudian meninggalkan ruangan tempat Fikri berada.
"Haaahhh...., hampir saja...", Fikri menarik nafas panjang. Hatinya merasa lega.
"Waduh..., Dery kan sedang menuju ke Rumah Sakit ini, bagaimana kalau dia bertemu dengan Polisi tadi, mana ini Hand phone pake mati segala, bagaimana mengabari dia", Fikri mengacak rambutnya kasar.
"Ini bisa gawat", gumam Fikri. Ia bingung sendiri.
"Aku tunggu dia di luar saja, biar Dery tidak jadi datang ke sini", Fikri hendak meninggalkan ruangan Marisa.
"Aaawwww...., aduh.....sakit.....", Marisa tiba-tiba mengerang kesakitan sambil memegangi petutnya.
Fikri pun menjadi panik, ia segera pijit tombol merah di samping bed Marisa.
Dan tak selang beberapa lama, Perawat datang.
"Sus, ini kenapa?, tiba-tiba saja mengeluh sakit" panik Fikri.
Perawat segera memeriksa Marisa. " Bapak ini suaminya?", tatapnya.
"Bukan, saya Kakaknya, ada apa dengan adik saja Sus", Fikri menatap khawatir Marisa yang masih mengerang kesakitan.
"Adik Bapak pendarahan, ini sudah kami duga bakal terjadi, karena tadi saat melahirkan plasentanya sudah hancur, jadi Ibu Marisa harus segera di kuret lagi", ucap Perawat .
Tak lama datang Dokter dan dua orang Perawat, mereka segera membawa Marisa ke ruang tindakan.
"Bapak, tunggu saja di sini, temani Bayinya, kalau ada apa-apa, segera hubungi pijit tombol merah", perintah Perawat.
"Iya Sus", Fikri mengangguk.
"Ini anak Dery, tapi kok bule begini?", Fikri memandangi bayi Marisa.
Di luar terdengar ribut-ribut, seketika suasana berubah menjadi gaduh.
"Angkat tangan!!!",
Terdengar suara teriakan lantang di luar ruangan.
__ADS_1