Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Semua Tahu


__ADS_3

Ustad Fikri kembali ke kobongnya, di sana sudah menunggu Ustad Dzaqi dan Ustad Fadil, mereka segera memburunya, sama, mereka sangat khawatir dengan kondisi Tiara , ditambah lagi Abah dan Umi masih di Rumah Sakit.


"Bagaimana Ustad, apa sudah ditemukan jejak Tiara?", tatap Ustad Fadil.


"Belum, tapi semoga dia segera kembali , saya sudah menyuruh seseorang untuk mengejarnya", jelaskan Ustad Fikri.


"Seseorang?, memangnya dia mengetahui di mana keberadaan Tiara?", Ustad Dzaqi tampak keheranan.


"Iya, mereka melihat Tiara dibawa sebuah mobil katanya, dan mereka saat ini sedang mengejarnya", alasan Ustad Fikri.


"Kenapa tidak Ustad saja yang mengejarnya?", tatap Ustad Fadil.


"Iya , kan mereka lebih dekat jaraknya dengan Tiara, jadi saya fikir lebih epektif begitu, lagi pula di sini kan tidak ada apa-apa, Abah dan Umi masih di Rumah Sakit", kembali Ustad Fikri memberi alasan.


"Bagaimana Pak Ustad?, sudah ada kabar tentang Neng Tiara?", Mang Daman menghampiri diikuti oleh dua bocah yang tampak habis menangis, mata mereka masih basah.


"Ustad...Ustad..., dimana Teteh...", Gilang menggoyang -goyang tangan Ustad Fikri.


"Iya Ustad..., apa Teteh akan kembali ke sini lagi?", tatap Risman.


"Iya..., kalian tenang saja, berdo'a saja biar Teteh cepat pulang dengan selamat, sudah ada orang suruhan Pak Ustad yang akan membawanya kembali ke sini", terangkan Ustad Fikri, ia berusaha menenangkan dua bocah cilik itu.


"Kalian kembali belajar saja ya, biar ini menjadi urusan para orang dewasa saja",,bujuk Fikri.


"Iya kita ke rumah Abah saja, di sana masih ada Teh Nyimas", ucap Gilang.


"Oh...iya Umi...., kita ke sana saja, temani Umi sambil belajar", ucap Risman keceplosan. Ia memanggil Nyimas Umi.


"Hah...Umi...", tatap Fikri, semua yang ada disana pun tak kalah kagetnya mendengar Risman yang memanggil Nyimas dengan sebutan Umi.


"Ah...iya..., Umi, dia memang uminya Risman, kalau Bu Arimbi itu mamihnya Risman", senyum Risman. Ia ringan saja, tidak kaget seperti orang yang mendengarnya.


"Ya sudah kalian ke sana saja temani Teh Nyimas, kasihan pasti masih ketakutan gara-gara peristiwa kemarin", usul Mang Daman. Sekilas ia melirik ke arah Ustad Fikri yang sedang menatap tajam ke arah Risman.


'Anak ini..., ah...wajahnya mengingatkanku pada masa kecilku', batin Fikri bicara.


'Aduh Risman ..., semoga Ustad Fikri tidak berpikiran ke arah situ, semoga dia tidak menyadari kalau Risman anaknya dari Nyimas', pikir Mang Daman.


"Ayo Mang antar ke rumah Abah, kalian temani Teh Nyimas ya?", Mang Daman menuntun kedua bocah itu menuju rumah Abah.


"Kenapa anak itu memanggil Nyimas dengan sebutan Umi?, ah...bisa patah hati nih , aku kan lagi mengincar dia untuk jadi teman hidupku", ucap Ustad Fadil.

__ADS_1


"Yah...namanya juga anak kecil, jangan terlalu dipikirkan", senyum Fikri. Padahal kini hatinya mulai berdebar kencang, ia takut masa lalunya diketahui oleh para santri baru.


"Kalau diperhatikan kok anak itu mirip sama kamu Ustad, raut wajahnya mirip, bisa begitu ya?", kekeh Ustad Fadil.


"Ah...ngarang kamu, jangan sembarangan ya", Ustad Fikri melebarkan kedua kelopak matanya ke arah Ustad Fadil.


"Iya..., aku hanya bercanda kok", kekeh Ustad Fadil.


"Sekarang kita bagi tugas, Abah kan masih sakit, buat urusan di sini, kita handle bersama-sama, secara gantian", usul Ustad Fikri.


"Kita jangan kabari apa-apa dulu soal Tiara kepada Abah dan Umi, biarkan saja, semoga Tiara cepat kembali, jadi Abah dan Umi tidak akan tahu tentang kejadian ini", usul Ustad Fikri.


"Baik Ustad", sahut Ustad Fadil dan Ustad Dzaqi hampir bersamaan.


"Aku istirahat dulu sebentar, rasanya kepala ini pusing sekali, masalah seolah terus menghampiri", keluh Ustad Fikri, ia mengusap kasar rambutnya.


"Sabar Ustad, semua akan ada hikmahnya, kalau begitu kita ke Madrasah dulu, biar Ustad istirahat saja, biar semua kita yang handle dulu, Assalamu'alaikum", pamit Ustad Fadil dan Ustad Dzaqi.


"Iya...wa'alaikumsalam", Ustad Fikri segera memasuki kobongnya begitu kedua Ustad sahabatnya itu pergi.


Ustad Fikri langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur lipat yang ada di Kobongnya. Ia merogoh ponsel dari saku jaketnya, ia melihat apa sudah ada kabar dari Aleks dan Joko tentang Tiara.


Namun tidak ada pesan satu pun yang masuk, karena penasaran, Ustad Fikri mencoba untuk menghubungi Aleks, namun tidak ada jawaban, begitu pun saat ia menghubungi Joko.


"Assalamu'alaikum", Mang Daman berdiri di depan pintu rumah Abah. Ia menuntun kedua anak kecil, Gilang dan Risman.


Nyimas yang ada di dalam mengintip dari balik tirai, ia melihat siapa orang yang ada di luar.


"Wa'alaikumsalam...", Nyimas menjawab salam dan membuka pintu begitu mengetahui Mang Daman dan dua anak kecil yang ada di luar.


"Masuk Mang!!, ayo kalian juga ke sini", ajak Nyimas, ia menuntun Gilang dan Risman.


"Teteh tidak apa-apa?", tatap Gilang.


"Alhamdulillah Teteh tidak apa-apa", senyum Nyimas, ia langsung menyambut tubuh Risman yang langsung merangkulnya.


"Um...., euh...Teteh", peluk Risman.


"Tidak apa-apa...", Nyimas mengelus punggung Risman.


Mereka kini duduk di ruang keluarga. "Neng, apa Neng Nyimas bisa mengenali penjahat itu?", tatap Mang Daman.

__ADS_1


"Aduh Mang, saya tidak bisa melihat jelas mereka, karena malam itu lampu rumah mati, sepertinya mereka sengaja mematikan saklarnya", jelaskan Nyimas.


"Kasihan Neng Tiara, ada di mana sekarang?, Mang khawatir sekali, tapi Ustad Fikri mengatakan sudah ada orang yang mengejarnya,Mang bingung, siapa mereka, kok bisa tahu Neng Tiara ada di mana", tatap Mang Daman.


"Iya...ya, kok aneh rasanya, kalau tahu Tiara ada di mana?, kenapa tidak menyusulnya sendiri, malah menyuruh orang lain", Nyimas menerawang.


Nyimas teringat saat Ustad Fikri marah dihadapannya dan bicara kalau seharusnya dirinya yang diculik, bukan Tiara.


"Kenapa Neng, apa ada yang bisa diingat?", tatap Mang Daman.


"Sebentar Mang, Kalian main dulu di belakang ya", perintah Nyimas , ia menyuruh Gilang dan Risman bermain di belakang.


"Mang...saya sebenarnya curiga sama seseorang, tapi takut salah, kalau saya pikir sih ini salah sasaran Mang, yang mereka incar itu saya, bukan Tiara", jelaskan Nyimas.


"Tapi Mang Daman jangan dulu bicara pada siapa pun, saya takut salah, ini hanya dugaan saya saja", tatap Nyimas.


"Iya..., lalu siapa kira-kira orangnya?", tatap Mang Daman.


"Euh...ini baru dugaan saya saja Mang, saya curiga, dan hati kecil saya tertuju pada seseorang Mang", ucap Nyimas dengan hati-hati.


"Iya, siapa orangnya Neng?, apa kita mengenalnya?",


"Iya Mang, dia orang yang dekat dengan kita, mungkin Mang Daman juga sudah mengetahuinya?",


"Mang Daman kan sudah lama di sini, pasti mengetahui juga kejadiannya", Nyimas menunduk.


"Saya sasarannya, bukan Tiara Mang, saya yang akan membuat aib masa lalunya terbuka kembali, jadi dia ingin menyingkirkan saya Mang", ucap Nyimas.


"Jadi...Neng ini Nyimas yang dulu sama Ustad Fikri?, Mang sudah menduganya", tatap Mang Daman.


Nyimas mengangguk.


"Masuk akal juga", Mang Daman mengangguk-angguk.


"Mang, tapi saya kini jadi takut, kepada siapa harus berlindung di sini?, Abah, Tiara, Robi , mereka tidak ada di sini",


"Ah..., sebentar, kita minta tolong kepada Badrun saja, dia itu yang jadi sopirnya Den Robi, nanti biar Mang yang menghubungi dia, Neng Nyimas tenang saja, kalau sampai terjadi sesuatu sama Neng Nyimas di sini, itu jadi tanggung jawab Mang, dan para santri", ucap Mang Daman.


"Terima kasih Mang",


Ustad Fikri yang sudah bangun, ia bisa melihat Mang Daman keluar dari rumah Abah.

__ADS_1


"Ngapain dia dari sana", geram Ustad Fikri.


__ADS_2