Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Maafkan Aku


__ADS_3

Sepeda motor Tiara menepi ke sebuah rumah mewah dengan gerbang tinggi, dari luar sudah nampak kemewahan rumah itu, apalagi banyak lampu kristal menghiasi di setiap sudut nya.


Rumah tingkat dua itu tampak lebih berkilau dengan lampu-lampu yang bersinar .


"Alhamdulillah..., sudah sampai", Tiara menoleh ke belakang.


Pak Karman langsung membuka gerbang begitu melihat Bu Arimbi berdiri di luar.


"Masuk dulu!, kita minum teh hangat biar kamu tidak masuk angin", ajak Bu Arimbi.


"Tidak usah, saya harus segera kembali ke Rumah Sakit" , senyum Tiara.


"Tidak baik menolak , ayo sebentar saja", tanpa di duga Bu Arimbi meraih tangan Tiara ia menuntun Tiara memasuki rumahnya.


"Sebentar saja, saya mempunyai sesuatu untuk kamu", senyum Bu Arimbi.


"Pak, tolong masukkan sepeda motornya ", perintah Bu Arimbi.


"Baik Nyonya", Pak Karman mengangguk.


Tiara pun akhirnya menurut, ia berjalan mengikuti langkah Bu Arimbi menuju ke dalam rumahnya.


Diluar saja Tiara di buat takjub dengan kemewahan pekarangan dan taman, apalagi setelah masuk ke dalamnya.


Tiara serasa memasuki istana saja, semua furniture mewah di dalam memukau penglihatannya.


"Silahkan duduk!", senyum Bu Arimbi, ia melihat Tiara yang berdiri mematung.


"Oh...iya..., terima kasih", Tiara sedikit terkejut, ia duduk di sofa mewah yang ada di sana.


Terdengar Bu Arimbi berbicara dengan seseorang di dalam sana. Dan tidak lama datang seorang wanita membawa minuman dan kue.


"Silahkan di minum, mumpung masih hangat, ini baik untuk tubuh, biar tidak mudah masuk angin, apalagi buat Neng yang suka berkendara motor", senyum Bi Mimi.


Tadi ia di suruh membuatkan minuman susu jahe oleh Bu Arimbi.


"Terima kasih", senyum Tiara. Ia langsung mengambil gelas dan menyeruput isinya. Rasa hangat langsung terasa, meluncur dari mulut hingga ke perutnya. Rasanya sedikit pedas dan manis, enak sekali apalagi tercium wangi jeruk lemon juga.


Tak lama Bu Arimbi juga datang menemuinya lagi, ia membawa sesuatu di tangannya, sebuah bungkusan.

__ADS_1


"Di minum dulu, biar hangat tubuhnya" , kembali Bu Arimbi mempersilahkan.


"Sudah Bu, terima kasih, enak sekali, tubuh saya langsung hangat", senyum Tiara.


"Melihat cara berpakaianmu , saya teringat dengan ini", Bu Arimbi membuka bungkusan yang tadi dibawanya.


"Ini saya beli saat umrah tahun lalu, yang ini belum saya pakai kok, masih baru", senyum Bu Arimbi.


"Alhamdulillah..., Ibu sudah berkunjung ke rumah Allah, saya yang selalu memimpikan untuk bisa berangkat ke sana, sampai sekarang belum kesampaian", senyum Aini


"Saya juga kebetulan tahun lalu ada acara Fashion show di Dubai, sebelum kembali, saya sempatkan untuk umrah",


"Ini di terima ya, dan jangan lupa di pakai", Bu Arimbi memberikan bungkusan itu kepada Tiara.


"Alhamdulillah..., jazakallah, saya pasti akan memakainya", senyum Tiara.


"Maaf, saya pamit dulu Ibu, kasihas Umi", Tiara berdiri dan mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Bu Arimbi.


"Iya..., hati-hati di jalan", Bu Arimbi mengantar Tiara menuju pintu .


Namun tanpa di duga, hujan turun tiba-tiba.


"Ya Allah, hujan?", Tiara mematung dibambang pintu.


Ia ambil ponselnya di atas meja, dan menghubungi sopir yang pasti ada di depan bersama Pak Karman.


Tak lama seorang laki-laki datang dengan payung ditangannya. "Iya Nyonya, mau ke mana?", laki-laki itu langsung bertanya begitu berada di depan mereka.


"Pak, tolong antar Neng ini ke Rumah Sakit", perintah Bu Arimbi.


"Baik Nyonya", sopir itu langsung memijit remote kontrol ditangannya, dan terbukalah gerbang di dekat pintu samping.


Lagi-lagi Tiara dibuat takjub, di dalam sana ternyata berjejer beberapa mobil, salah satunya yang pernah dipake Robi saat menolong Abah dan Umi.


Pak sopir menghampiri salah satu mobil dan menghidupkannya. Ia membawa mobil itu mendekati Tiara.


"Silahkan masuk Neng!", Pak sopir mem membukakan pintu mobil untuk Tiara.


"Terima kasih..., Tiara memasuki mobil setelah pamit kembali kepada Bu Arimbi.

__ADS_1


Sepanjang jalan Tiara diam, namun dalam hatinya ia tidak henti-hentinya mengagumi keluarga Robi.


Memang benar Robi tidak berbohong dengan soal itu, orang tuanya memang mampu memberinya apa pun, termasuk uang jajan dalam jumlah besar yang Robi sebutkan dulu.


Semuanya benar, yang Robi ucapkan benar, uang itu bukan hasil kejahatannya, dan sekarang, Robi pun harus mendekam di jeruji besi , padahal ia pun bukan pelakunya.


"Ya...Allah...., maafkan aku, telah berbuat keliru. Aku telah membuat menderita orang yang tidak bersalah, bahkan sampai beberapa kali", gumam Tiara.


"Ada apa Neng?", Pak Sopir menengok ke belakang, ia mendengar gumaman Tiara, namun tidak jelas.


"Ah...tidak apa-apa Pak", senyum Tiara.


Mobil menepi ke halaman sebuah Rumah Sakit.Tiara turun dan mengucapkan terima kasih kepada Sopir yang telah mengantarnya.


Mobil pun segera meninggalkan kembali Rumah Sakit dan meninggalkan tiara yang masih berdiri menatap kepergian mobil mewah itu.


Serasa mimpi bagi Tiara, dirinya baru pertama kali naik mobil mewah, full AC, yang nyaman.


Dari dalam Rumah Sakit, Ustad Fikri mengawasi Tiara, 'Dari mana lagi dia?, pergi dengan sepeda motor, pulang-pulang di antar dengan mobil", cibir Ustad Fikri. Dalam pikirannya sudah terbersit dugaan jelek kepada Tiara.


"Pulang dari mana?", tegas Ustad Fikri, ia menjegal langkah Tiara di lorong Rumah Sakit.


Tiara pun terkejut, ia tidak menyangka dengan kehadiran Ustad Fikri yang tiba-tiba.


"Apa urusannya dengan Ustad?, saya pergi atas perintah Umi kok", bela Tiara.


"Jangan bohong Tiara, mana mungkin Umi menyuruh anak perempuannya pergi sendiri malam-malam begini", tatap Ustad Fikri.


"Kalau Abah tidak sedang sakit, pasti sudah aku adukan hal ini kepada beliau", ancam Ustad Fikri.


"Apa hak Ustad ngatur-ngatur Tiara, kita belum ada ikatan resmi, ucapan Abah belum bisa mengikat apa pun diantara kita, jadi sekarang, tolong minggir!", tegas Tiara.


Ustad Fikri menatap lekat Tiara yang menunduk dihadapannya, hatinya merasa dipukul telak oleh ucapan Tiara tadi.


Perlahan ia menggeser tubuhnya, memberi jalan untuk Tiara lewat, Ustad Fikri menatap kepergian Tiara dengan mengepalkan kedua telapak tangannya.


"Kamu tidak akan bisa melawan dan menolak keputusan Abah , Tiara. Cepat atau lambat kamu akan menjadi milikku", gumam Ustad Fikri.


Di bengkel, terdengar jelas dentuman suara musik dari dalam mini cafe disampingnya. Ya...malam ini Dery mengajak teman-temannya untuk berpesta. Dery sudah mendengar kabar tentang penahanan Robi di penjara. Hal itu yang membuatnya sangat senang, karena sudah tidak ada lagi orang yang akan mengusiknya, dan bengkel ini akan tetap menjadi miliknya, tanpa takut lagi kepada gugatan dari Robi.

__ADS_1


Tidak keren kalau pesta tanpa minuman. Dery dan teman-temannya pun berpesta ditemani minuman -minuman yang memabukkan.


"Ayo gues..., kita happy-happy sampai pagi", Dery memegang sebuah motol minuman dan menumpahkan isinya ke dalam gelas milik teman-temannya.


__ADS_2