Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Robi kembali sadar


__ADS_3

Tiara masih di dalam ruangan, ia juga bisa jelas mendengar keributan yang diakibatkan oleh Fikri.


"Ya...Allah itu orang, kok tidak bisa diberi pengertian, main marah saja", gerutu Tiara.


"Bu, barusan Nak Robi sudah bisa menggerakan jari tangannya", kabari Abah kepada Bu Arimbi.


"Alhamdulillah..., ini kabar baik, kita harus segera hubungi Dokter. Bu Arimbi segera menuju ruangan Robi, ia memijit tombol merah yang ada di dekat bed Robi.


"Terima kasih Nak, dugaan Ibu benar, kehadiran kamu bisa membantu Robi cepat sadar", Bu Arimbi memegang pundak Tiara.


"Alhamdulillah Ibu, ini rahmat dari Allah, saya hanya perantara saja", senyum Tiara.


Bu Arimbi melihat pertautan tangan Tiara dan Robi, dan Tiara menyadari itu, ia bermaksud menarik tangannya, namun Robi memegangnya dengan erat, sehingga Tiara tidak bisa melepaskan pegangan tangan Robi.


pSudah..., biarkan saja Nak, jangan dipaksa!", senyum Bu Arimbi. Ia malah menggenggam kedua tangan mereka, Ibu harap kalian bisa bersama, ibu sangat ingin Robi mendapatkan pendamping yang sholeha sepertimu", ucap Bu Arimbi, ia menatap Tiara lekat.


"Ibu juga sudah tahu, kamu sudah dijodohkan dengan Ustad Fikri, tapi Ibu masih berharap kamu bisa berjodoh dengan anak Ibu, sebuah keinginan yang aneh ya", kekeh Bu Arimbi.


"Itu semua rencana Abah Bu, saya tidak bisa menolak, karena Abah sudah berjanji kepada Ustad Fikri, pantang bagi Abah untuk mengingkari janjinya", Tiara menunduk.


Kembali ia bisa merasakan gerakan dari jemari tangan Robi.


"Tuh Bu, tangannya kembali bergerak", Tiara menunjuk ke arah tangannya tang dipegang Robi.


Dan tak lama Dokter pun masuk.


"Dok, baru saja Robi kembali menggerakkan jari tangannya", ucap Bu Arimbi begitu Dokter sudah ada di dalam ruangan.


"Baik..., mari kita periksa", Dokter segera melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap Robi.


"Oke...., ini ...oke....., ini juga ", ucap Dokter. Ia melihat data- data yang diperolehnya.


"Iya...ini bagus, ada perkembangan yang signifikan , kalau kondisinnya seperti ini terus, kemungkinan kesadarannya akan segera pulih", ucap Dokter.


"Alhamdulillah...", serentak Bu Arimbi dan Tiara.


"Ini semua berkat Tiara, dia yang tadi Robi panggil namanya", kabari Bu Arimbi.


"Oh...bagus itu, tetaplah di sini sampai Robi kembali sadar", ucap Dokter.


Tiara tersentak mendengarnya, 'Apa iya harus sampai sadar, iihhh..., kamu ini merepotkan saja, nanti kalau sudah sadar, aku tagih ya bayarannya', pikir Tiara.


"Pasti Nona ini mempunyai tempat yang istimewa di hatinya Robi , hingga dalam keadaan tidak sadar pun, Robi masih mengingat namamu", ucap Dokter.


Dan akhirnya malam itu, Tiara menginap di Rumah Sakit untuk menemani Robi bersama Bu Arimbi.

__ADS_1


Abah dan Umi sudah diantar pulang kembali ke Pondok. Entah apa dan bagaimana reaksi Ustad Fikri sesampainya di sana, begitu mengetahui Tiara tidak ikut pulang.


Tapi yang jelas, ini pengalaman pertama bagi Tiara tidur di luar rumahnya.


Setelah shalat isya, Tiara kembali menemani Robi. Bu Arimbi sudah membelikannya aneka snack untuk Tiara, biar Tiara tidak merasa bosan.


"Ini makan dulu, Ibu sudah siapkan!, kita gantian jaganya, setelah makan, Ibu mau istirahat dulu, nanti setelah itu , giliran Tiara, bagaimana?", tawari Bu Arimbi.


"Eum..., boleh Bu", senyum Tiara.


"Ini ada aneka cemilan, ambil saja, biar tidak jenuh", tawari Bu Arimbi kembali.


"Iya Bu", senyum Tiara.


Bu Arimbi sudah bersiap untuk beristirahat di tempat tidur yang telah disediakan di samping bed Robi.


Tiara kembali duduk di samping Robi dan membaca tilawah dan sholawat sampai ia ketiduran di samping Robi.


Tiara tidak menyadari saat Robi mulai membuka kedua kelopak matanya, Robi mengerjap-ngerjapkan matanya, ia melihat kesekitar ruangan, seolah sedang mengumpulkan ingatannya kembali.


"Di mana aku", gumam Robi. Ia berusaha memegangi kepalanya yang masih agak pusing.


Robi terkejut mendapati seorang wanita berhijab sedang tidur disampingnya.


Ia melirik ke samping, Bu Arimbi terlihat sedang tidur . "Siapa dia?", gumam Robi, ia meraba kepala wanita itu.


"Ya Allah...", Tiara terperanjat kaget, untung saja dia tidak sampai menjerit.


"Robi....?", Tiara menatap Robi dengan mata berbinar , "Alhamdulillah...., Robi...sudah sadar?", tatap Tiara.


"Tolong...haus", Ucap Robi dengan suara serak.


"Oh...iya, sebentar", Tiara segera mengambilkan air yang sudah tersedia di meja dan memberikannya kepada Robi.


Tiara bingung, ia harus menopang kepala Robi untuk memberinya minum, dan itu artinya dia harus kembali bersentuhan langsung dengan Robi.


"Cepat...", ucap Robi.


"I....iya...., sebentar...", Tiara mendekati Robi, walau ragu, ia berusaha membuat Robi duduk tegak dan memberinya minum.


Robi pun merasa kikuk, ia terpaksa pegangi tangan Tiara yang memegang botol air minum, Tiara pun tidak bisa menolak, karena memang dengan cara ini ia bisa memberi minum kepada Robi.


'Astaghfirullah...,'batin Tiara bicara.


Ada desiran hebat menyerangnya saat ia hanya berjarak beberapa jengkal saja dari Robi, apalagi tangannya kini sedang dipegang oleh Robi.

__ADS_1


"Terima kasih", Ucap Robi, ia kembali berbaring dan memejamkan mata kembali.


Sama, Robi pun diserang getaran aneh saat tangannya menyentuh tangan Tiara.


"Robi...?", panggil Tiara, ia khawatir Robi kembali koma.


"Iya..., aku masih sadar kok, hanya lemas saja",


"Oh...., kirain...", senyum Tiara.


"Bangunin Mamih!", perintah Robi.


Tiara melirik ke arah Bu Arimbi, rasanya tidak tega bila harus membangunkannya.


"Kamu mau apa?, biar aku saja yang bantu, kasihan Ibu, sudah dari kemarin menjagamu sendiri di sini, pasti ia lelah",


"Dari kemarin aku di sini?", tatal Robi.


"Iya..., kasihan Ibu, biarkan saja ia istirahat dulu, tidak tega membangunkannya", ucap Tiara.


"Tapi ini darurat Tiara", keukeuh Robi.


"Sudah..., bilang saja, kamu mau apa?",


"Aku kebelet Tiara, apa kamu mau membantuku", senyum Robi.


"A...apa...?, ke...be...let... ", tatap Tiara , wajahnya langsung memerah. Apa iya, dirinya bisa membantu Robi untuk hal itu?",


"Iya...., aku pingin pipis tahu",


"Eum....sebentar!, ", Tiara terdiam, ia pandangi Bu Arimbi dan Robi secara bergantian.


"Eum..., kamu pipis aja , kan sudah di pasang kateteur lagi, tidak akan banjir juga kali", Tiara baru ngeh kalau ada selang kateteur yang tergantung di samping bed Robi.


"Ah...iya...Ya", senyum Robi.


"Maaf merepotkan", Robi memalingkan wajahnya yang mulai memerah. Robi merasa dirinya begitu lemah, hingga apa-apa harus menunggu bantuan dari orang lain.


"Tidak, makanya cepat sembuh, biar bisa serba sendiri lagi, dan ingat ya, kamu masih punya hutang sama Gilang , buat ngajakin dia ke Pasar malam kan?", ungkap Tiara.


"Ah...iya..., kecelakaan ini mengacaukan segalanya", gerutu Robi.


"Iihh..., nggak boleh begitu, setiap kejadian itu ada hikmahnya", tegur Tiara.


"Aku itu heran, kenapa seorang mantan pembalap seperti kamu, kok bisa jatuh segala",

__ADS_1


Robi terdiam, ia mencoba mengingat kembali hal terakhir yang membuat dirinya terkapar dijalanan.


"Rasanya ada seorang pengendara yang sengaja menendang sepeda motor aku dari samping, hingga akhirnya aku terjatuh, tapi siapa dia?",


__ADS_2