
Dari Mall, Bu Arimbi membawa Robi ke rumah teman dekatnya, ia meminta temannya itu untuk menghias barang-barang yang akan dibawanya besok ke rumah Tiara.
Sekalian Bu Armbi juga memesan satu set pakaian pengantin muslimah, yang satu set untuk pengantin wanita dan orang tua, langsung minta diantarkan ke rumah Abah, sekalian dengan pakaian untuk Abah dan Umi.
Sedangkan yang satu set lagi untuk Robi , Bu Arimbi dan Pak Robani. Setelah selesai , mereka langsung pulang, namun sebelumnya mampir dulu ke bengkel.
Begitu sampai, Robi
"Marisa?", Robi yang langsung masuk ke dalam bengkel melihat Marisa sedang menyiapkan makanan untuk para pekerja .
"Robi...?", Marisa pun sama , terlihat kaget.
"Iya..., sejak Marisa kehilangan rumah tinggalnya, Papih dan Mamih mengijinkan Marisa tinggal di sini, itu terjadi saat kamu dan Tiara belum pulang, Marisa sempat menemui kakaknya, Ustad Fikri di Pondok Al-Furqon, tapi malah di usir, jadi ya..., Marisa tinggal di sini", jelaskan Pak Robani yang sudah berdiri di belakang Robi.
Robi dan Marisa hampir bersamaan melirik ke arah sumber suara.
"Ah...tidak apa-apa Pih, Robi hanya kaget saja, sudah lama sekali tidak bertemu", ucap Robi.
"Kalian kan pernah dekat, lebih dari sahabat, tapi kalau bukan jodoh, ya...mau bagaimana lagi, sekarang kalian sudah menemukan jodoh masing-masing, jadi buat apa memelihara rasa benci, jalani saja alur kehidupan masing-masing, tanpa harus saling menyakiti", ucap Pak Robani.
"Oh...iya, Marisa..., besok Robi mau melangsungkan akad nikah dengan Tiara, kalau tidak sibuk, datanglah ke Pondok", ajak Pak Robani.
"Iya...., Inshaa Allah .., selamat ya Robi, akhirnya kamu menemukan jodoh yang tepat", ucap Marisa sembari menunduk. Perasaannya kini campur aduk, ada sedih, senang dan marah.
Semua itu tidak lepas dari semua tingkahnya saat bersama Dery.
"Aku ikut prihatin soal kakakmu, semoga dia cepat menemukan jalan keluar yang terbaik, tidak usah kabur, masalah itu untuk dihadapi bukan untuk dihindari", ucap Robi.
"Ya..., semoga Ustad Fikri cepat kembali, walau harus berurusan dengan pihak Kepolisian, tapi ta memang itu yang harus dilewati, kamu yang sabar ya, masih banyak orang yang sayang dan peduli sama kamu Marisa, kamu harus besar hati, apalagi sudah ada anak yang harus kamu besarkan", ucap Pak Robani.
__ADS_1
"Iya Pak, terima kasih...", Marisa menunduk. Dalam hatinya terdapat rasa penyesalan yang dalam, semua yang ia alami saat ini adalah akibat dari perbuatannya di masa lalu.
Dan kini ia harus menuai rasa malu, orang yang hampir menjadi pendamping hidupnya , kini sudah menemukan jodohnya yang lebih baik.
Ya , Besok Robi dan Tiara akan mengikat janji suci lewat ikatan pernikahan, yang sejatinya itu aksn menjadi miliknya, andai saja dulu ia setia kepada Robi, dan tidak tergoda oleh ajakan Dery.
Tak mau membuat Marisa makin terpuruk oleh penyesalannya, Robi pun pamit untuk bertemu Ronald dan Ilyas, yang tampak masih sibuk dengan pekerjaannya, walau kini sudah saatnya jam istirahat, tapi pelayanan kepada pelanggan, itu nomer satu, ada sebuah sepeda motor yang belum selesai mereka service .
"Assalamu'alaikum...", Robi langsung menyapa keduanya sambil langsung berjongkok seperti mereka.
"Wa'alaikumsalam..., Alhamdulillah sudah pulang nih, tampak bercahaya begitu, tampaknya sudah mendapat lampu hijau ya dari Abah", celetuk Ronald menggoda Robi.
"Alhamdulillah..., bukan lampu hijau lagi, tapi semua lampu sudah menyala", kekeh Robi.
"Besok kalian berdua datang saja ke Pondok, aku juga akan ada di sana", ucap Robi tanpa menyebutkan kalau besok dirinya dan Tiara akan melangsungkan akad nikah.
"Oke..., kita ke sana",ucap Ronald,
"Siap Boss!!, tunggu..., memangnya ada acara apa, aku jadi curiga...", selidik Ilyas, ia menatap wajah Robi, ingin menelisik isi hati Robi.
"Datang saja, kalau mau tahu, biar penasaran", senyum Robi.
"Aduh..., pake teka-teki segala benar-benar bikin penasaran nih",
"Sudah..., pokoknya datang saja, bakalan nyesel kalau tidak datang, sudah aku pulang dulu, masih ada urusan", Robi menepuk pundak kedua sahabatnya itu, lalu berucap salam dan pergi kembali bersama Pak Robani, karena Bu Arimbi yang bersama Badrun, tidak ikut mampir ke Bengkel.
"Sampai di rumah, kamu istirahat saja, biar besok fresh, calon pengantin itu harus segar, jangan loyo", ucap Pak Robani sambil tetap fokus mengemudi.
"Memangnya kenapa?, besok hanya akad saja kan?, belum resepsi, tamu-tamu yang datang juga tidak akan banyak", ucap Robi datar.
__ADS_1
"Iya..., tapi tetap saja kamu harus vit, nanti sudah ada Tiara, kamu harus tetap sehat dan kuat untuk dia, untuk malam pengantin kalian", senyum Pak Robani.
"Oohh...., itu..., tenang saja Pih, kalau untuk itu, Robi sudah siap, sudah sering dipelajari juga saat mengaji di Pondok",
"Apa...?, soal itu juga dipelajari di sana?, apa tidak dilarang?, itu kan soal tabu Robi", Pak Robani menepikan mobilnya, lalu ia menatap Robi.
"Ha...ha...ha...., aduh Papih... , iya dibahas, tapi tidak sevulgar itu, dibahas dengan kata-kata yang lebih halus, tapi bisa dimengerti Pih", senyum Robi.
"Apa Tiara juga sama, sudah belajar soal itu?", tatap Pak Robani.
"Apalagi Tiara Pih, gurunya kan Abah langsung, ya...tentu sudah belajar juga",
"Wah..., kalau begitu, memang kalian sudah cocok , bisa saling melengkapi, dan yang pasti, Papih tidak usah khawatir soal cucu, pasti kalian akan cepat memberikan cucu kepada Papih, ilmunya sudah ahli", senyum Pak Robani.
"Iya..., Inshaa Allah Pih", Robi pun tersenyum bahagia.
Sesampai di rumah, Bi Mimi tidak kalah hebohnya saat mendengar Robi mau menikah besok.
"Aduh...Aden..., Alhamdulillah..., sampai kaget Bibi mendengarnya, mau nikah kok mendadak, untung tidak soak juga", senyum Bi Mimi begitu Robi memasuki dapur.
"Iya Bi, niat baik jangan ditunda-tunda, takutnya tiada", kekeh Robi.
"Wah...pasti Neng Tiara juga tidak kalah kagetnya, pulang-pulang, langsung dilamar, bahkan langsung nikah, wah tidak terbayang, pasti senang dan kaget juga", senyum Bi Mimi.
"Ini pasti Mamih ya , yang ngasih tahu, ah Mamih , padahal biar saja Bi Mimi tidak usah diberi tahu", senyum Robi.
"Iihh...masa Bibi tidak diberi tahu, sedari bayi di jaga, saat dewasa mau berumah tangga, Bibi tidak tahu, sedih sekali Den", protes Bi Mimi.
"Ya nggakk atuh Bi, Bibi itu sudah seperti Mamih pengganti bagi Robi, Bibi juga besok harus ikut", Robi tanpa Ragu memeluk tubuh Bi Mimi.
__ADS_1
"Iya...iya..., Bibi pasti ikut", Bi Mimi mencoba melerai tangan Robi yang melingkari tubuhnya.
Hari itu seluruh penghuni rumah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk esok hari, hanya Robi yang langsung menuju kamarnya, itu pun atas perintah Pak Robani, katanya calon pengantin tidak boleh cape.