
"Tok...tok...tok...", terdengar suara pintu depan di ketuk, diikuti oleh suara orang mengucap salam, jelas itu suara seorang laki-laki. Nyimas cepat-cepat ke depan untuk membukanya.
Nyimas mengintip dari balik tirai, ia terkesiap begitu mendapati sosok Badrun sedang berdiri menghadap pintu. Tidak dapat dipungkiri, Nyimas merasa bersalah kepada Badrun, karena Badrunlah yang telah menebus semua kesalahan Fikri, hingga Badrun harus tinggal di sel untuk beberapa lama.
"Tamu siapa Nyimas?", Umi yang sudah selesai makannya menghampiri Nyimas ke depan.
"Euh...itu...Umi...", Nyimas tampak gelagapan saat melihat Umi menghampirimya.
Umi pun ikut mengintip ke luar. "Oh..., dia..., suruh masuk saja, tidak apa-apa sudah saatnya semua tahu", ucap Umi sambil segera membukakan pintu untuk Badrun.
"Wa'alaikumsalam..., Nak Badrun?, silahkan masuk!", persilahkan Umi sambil tersenyum ramah.
Badrun pun langsung meraih tangan Umi dan menciumnya takjim.
"Umi...kabarnya Den Robi sudah pulang, apa dia sudah ada di sini?", tanyai Badrun.
"Alhamdulillah..., mereka sudah pulang, itu sedang di meja makan, ayo masuk saja dulu",
Badrun tampak menatap ke arah dalam, ia masih ragu untuk melangkah ke dalam, ia masih teringat bagaimana sikap Abah kepadanya .
"Tidak apa, masuk saja, kita bicara di dalam, sudah saatnya", tatap Umi, ia sangat mengerti kenapa Badrun bersikap seperti itu.
"Umi..., siapa tamunya...", terdengar suara Abah dari arah dapur.
"Masuklah!, duduk di dini dulu", perintah Umi, lalu ia segara nenghampiri Abah, sedangkan Nyimas cepat-cepat membuatkan minum untuk Badrun.
"Siapa...?, kok lama sekali...", tatap Abah begitu Umi menghampirinya kembali.
"Itu yang mau menjemput Nak Robi", ucap Umi tidak langsung menyebutkan kalau tamunya itu Badrun.
Robi mengernyitkan dahinya, ia sedang menebak siapa orang yang menjemputnya itu. Lalu Robi pamit untuk menemuinya.
"Den Robi?, Alhamdulillah selamat Den, kok tidak memberi kabar dulu, kalau Dani dan Usep tidak menelepon Tuan, mana tahu Den Robi sudah ada di kota ini lagi", senyum Badrun.
"Tadinya mau buat kejutan", ucap Robi nyeungir.
"Kamu...?, masih berani ke sini lagi...?", ucap Abah begitu melihat Badrun yang sudah duduk di kursi tamunya.
Nyimas yang sedang membawa nampan ditangannya berdiri mematung dibelakang Abah.
"Tenang Abah, kita duduk dulu, sudah saatnya kita bicara", ucap Umi memberanikan diri.
Abah melirik ke arah Umi dengan sorot mata yang tajam.
__ADS_1
Semua kini duduk di ruang tamu, suasana kini menjadi tegang, semua diam, tidak ada yang berani memulai pembicaraan.
"Umi...., Umi....", terdengar suara tangis di luar, ternyata itu suara Risman, ia berlari sambil menangis, ia langsung menghambur ke pangkuan Nyimas.
"Kenapa kamu Nak?", Nyimas langsung memeluk tubuh Risman.
"Hiks...hiks...hiks...., aku diledekin lagi teman-teman Umi, hiks...hiks...hiks...", Risman kembali menangis.
"Sudah!, jangan di dengarkan, Risman anak yang kuat", Nyimas kembali memeluk Risman dengan mata berkaca-kaca, bukan sekali ini Risman pulang sambil menangis.
"Memangnya teman-teman ledekin apa, sampai Risman menangis begitu?", Ucap Tiara sambil mengelus lembut kepala Risman.
"Katanya..., katanya...., Risman anak haram, Risman anak yang dibuang ibunya, padahal tidak kan Umi, Risman itu benar anaknya Umi, hiks...hiks...hiks....", ucap Risman.
Semua saling tatap, semua merasa kaget dengan celotehan Risman barusan.
"Iya..., itu benar..., kamu anaknya Umi, kamu cukup punya Umi saja, jangan dengar apa pun kalau orang bicara soal ayahmu", ucap Nyimas dengan terisak.
Hatinya kembali terasa sakit, lebih sakit dari sebelumnya, karena kini buah hatinya juga ikut merasakan akibat dari perilaku Fikri dulu.
"Tunggu !!, ini sebenarnya apa?", tatap Abah.
Nyimas menunduk, hatinya sudah mantap, inilah saatnya ia mengungkap siapa dirinya kini.
"Abah..., Umi..., maafkan saya", ucap Nyimas dengan suara tercekat.
Semua melotot menatap Nyimas, terutama Abah dan Umi, mereka berdua masih sangat mengingat raut wajah itu.
"Nyi....mas...?, ini kamu...?", Umi langsung menghambur memeluknya, tangis diantara mereka pun kini pecah.
Tiara menatap mereka dengan penuh tanda tanya. Sedangkan Abah hanya bisa mengelus dada.
Robi dan Badrun juga saling tatap, mereka ikut terbawa suasana haru.
"Kamu ini Nak...., kenapa harus sembunyi-sembunyi begini", lirih Umi.
"Jadi Risman ini benar anak kamu?, anaknya....", Umi menggantung ucapannya.
"Iya...Umi, Risman anak saya",
"Jadi benar, kamu menghilang waktu itu dengan membawa Risman?", tanyai Umi lagi.
"Iya...Umi...", isak Nyimas.
__ADS_1
"Abah..., Umi..., ini itu apa?", tatap Tiara, ia mengharap penjelasan segera.
"Tiara..., sudah saatnya kamu tahu Nak, maafkan Abah sudah menyembunyikan semua ini",
"Nyimas, ceritakan semuanya, Abah hanya tahu sebagian, kamu yang paling tahu kebenarannya",tatap Abah.
"Abah..., saya hanya ingin menjelaskan kalau pelaku yang sebenarnya itu bukan Badrun, tapi Fikri", ucap Nyimas.
"Fikri...?, pelaku apa Nyimas?", Tiara tampak begitu penasaran.
"Maafkan aku Tiara, Risman ini sebenarnya anak dari Ustad Fikri", ucap Nyimas.
"Astaghfirullah...., apa benar Abah?",
Abah menunduk, ia merasa malu karena sudah mendengar sendiri pengakuan dari Nyimas. Selama ini ia keukeuh pada keyakinannya kalau yang bersalah itu adalah Badrun, hingga sampai saat ini Abah masih bersikap keras kepada Badrun, padahal Badrun adalah anak yang ia rawat sedari kecil.
"Maafkan Abah yang terlalu percaya kepada Fikri , dan Abah hampir membuat anak Abah sendiri celaka, dengan menjodohkannya dengan kamu Nak",
"Dan Abah juga minta maaf sama kamu Badrun, Abah selalu menuduh kamu yang bersalah, bahkan kamu juga yang harus menebus kesalahan Fikri dengan dipenjara, Abah malu sekali, Abah minta maaf",
"Sudahlah Abah, saya tidak apa-apa, saya tidak akan seperti sekarang ini jika tidak dirawat dan dididik oleh Abah dan Umi, entah bagaimana nasib saya jika tidak bertemu dengan Abah dan Umi, sekarang kita sudah tahu yang sebenarnya, itu semua karena Nyimas yang sudah berani datang lagi ke sini",
"Itulah sebabnya Ustad Fikri menyuruh Aleks dan Joko menculik Nyimas malam itu, hanya mereka salah sasaran, bukan Nyimas, tetapi Tiara yang mereka bawa", jelaskan Robi.
"Jadi..., hilangnya Tiara juga gara-gara Fikri?", Abah kembali terhenyak, karena selama ini Abah tahunya Tiara itu pergi untuk urusan kuliahnya.
"Iya Abah, maafkan, kami semua harus menyembunyikan masalah ini karena takut akan memperburuk kesehatan Abah waktu di Rumah Sakit", jelaskan Umi lagi.
"Abah tidak menyangka, Abah seolah terhipnotis oleh Fikri, hingga tidak bisa melihat kebenaran", kembali Abah menunduk.
"Risman, sini Nak!", panggil Abah.
Risman pun mendekat dan langsung dipeluk oleh Abah.
"Kamu jangan menangis lagi, anggap saja Abah ini abinya Risman ya", senyum Abah.
"Saya juga boleh", ucap Robi.
"Saya juga bisa",senyum Badrun.
"Tuh..., semua mau menjadi abinya Risman, jadi tidak usah menangis lagi kalau diledekin lagi ya?", Abah mengusap lembut kepala Risman.
"Iya..., Risman mau Abi Badrun saja, kalau Abah kan ada Umi, Kak Robi juga sudah ada Teh Tiara, jadi Abi Badrun dengan Umi Nyimas", celoteh Risman.
__ADS_1
Ucapan Risman itu membuat semua saling tatap dan mengulum senyuman.
Badrun tampak salah tingkah.