Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Salah Sangka


__ADS_3

Robi sudah ada di depan gerbang rumahnya, ia menunggu Pak Karman membukakan gerbangnya.


Pak Karman sudah diberitahu oleh Bi Mimi, kalau ada Pemuda yang datang minta dibukakan pintu, buka saja, karena itu pasti temannya Robi.


Saat ini Robi pulang dengan wajah aslinya, jadi Mang Karman bisa cepat mengenalinya begitu ia membuka kaca helmnya.


"Malam Den?", sapa Mang Karman sambil merengkuhkan tubuhnya.


"Terima kasih Mang", senyum Robi, ia langsung melajukan motor milik Dery yang dipakainya ke garasi.


"Assalamu'alaikum, Bi..., saya pulang", teriak Robi.


"Wa'alailkumsalam..., Alhamdulillah, Den Robi pulang juga", senyum Bi Mimi.


"Mamih mau pulang Bi", kabari Robi.


"Hah..., Nyonya mau pulang Aden?, ke sini?", Bi Mimi menatap Robi.


"Ya iya ke sini Bi, memangnya ada berapa rumahnya", senyum Robi.


"Ya...siapa tahu, Nyonya pulang ke Apartement gitu Aden", cicit Bi Mimi.


"Apa bersama Tuan juga pulangnya?", tanya Bi Mimi hati-hati.


"Ya, enggak lah Bi, Mamih pulang sendiri , kalau pulang bareng Papah, bisa terjadi perang tiap waktu Bi, makanya mulai besok, siapkan kamar Mamih", perintah Robi.


"Jadi, besok Nyonya pulangnya?",


"Iya, mungkin agak malam sampai ke sininya, Bibi tenang saja", senyum Robi. Ia mengerti kalau Mamihnya pulang, itu artinya bakal menambah kerjaan Bi Mimi.


Mamihnya, Bu Arimbi itu orangnya teliti dan pinginnya semua selalu rapi, dan Bi Mimi yang selalu jadi sasarannya, ia diperintah ini dan itu.

__ADS_1


"Kalau begitu, Bibi besok belanja Den, kulkas sudah kosong, tidak ada stok makanan lagi",


"Iya, minta antar Pak Sopir saja Bi, saya mau menjemput Mamih di Bandara",


"Iya Den, Bibi berangkat sama supir saja.


"Aden mau makan?, Bibi siapkan ya, kita ngobrolnya sambil makan", Bi Mimi beranjak ke dapur membawa makanan untuk Robi.


"Nah ..., Bibi masak ini, pasti Aden suka", Bi Mimi menata makanan yang dibawanya di hadapan Robi.


"Bibi sudah tahu kalau saya mauq pulang?, kok sampai masak ini segala", Robi mencolek balado ayam kesukaannya.


"Ya, Bibi mah berharap Aden pulang setiap hari, jadi tiap hari juga Bibi masak, hanya hari ini yang kepikiran masak ayam balado", senyum Bi Mimi.


"Kirain feelling lagi, saya pasti pulang Bi, tapi ya gimana mood saja", cicit Robi.


"Kalau tidak pulang ke sini, Aden tinggal dimana ?", penasaran Bi Mimi.


"Di tempat aman pokoknya Bi, tenang saja, tidak usah khawatir", senyum Robi sambil terus menyuapkan nasi ke mulutnya, maklum selama di kontrakan, Robi hanya makan makanan jadi saja, bubur ayam, kupat tahu, nasi rames, atau hanya roti saja. Jadi saat pulang, ia kangen dengan masakan Bi Mimi


"Hmmm..., nggak usah ngomongin dia lagi Bi, dia sudah berubah, kita sudah putus kok", ucap Robi datar. Dia juga sudah tidak ada perasaan spesial sama Marisa, apalagi setelah dirinya mengenal Tiara.


'Ah...iya, bagaimana kini kabarnya Tiara, apa dia juga sudah melupakan aku, enggan rasanya untuk kembali ke Pondok Abah, Mang Darman, Umi, Ah...kok jadi kepikiran mereka', Robi bicara dalam hatinya.


"Maafkan Bibi, sudah banyak bertanya", tunduk Bi Mimi. Ia merasa bersalah begitu melihat perubahan mimik muka Robi.


"Nggak apa-apa Bi", senyum Robi.


"Terima kasih, Makanan Bibi selalu enak, bikin nagih, makanya saya selalu ingin pulang", senyum Robi. Ia beranjak menuju kamarnya. Besok pagi ia ingin menjemput mamihnya ke Bandara.


Robi duduk di sofa yang ada di Balkon kamarnya, ia memikirnya cara untuk kembali mengambil alih bengkelnya, kalau Marisa sih sudah bukan lagi prioritasnya lagi, Robi sudah tidak peduli dengannya.

__ADS_1


Dan Tiara yang kini selalu ada dalam pikirannya.


'Oh...iya, kenapa nggak disamperin ke Kampusnya saja, Tiara kan kuliah di sini, tapi di kampus mana ya?, apa aku tanyain langsung saja?, tapi nggak lah, biar aku cari tahu sendiri saja', pikir Robi.


Kalau soal gengsi sih jelas, Robi gengsinya tinggi, dia tidak mau kelihatan butuh oleh seseorang.Robi anteng memandangi langit malam itu, yang tampak cerah, menampilkan taburan bintang-bintang yang kerlap-kerlip.


Tanpa Robi sadari, ponselnya dari tadi bergetar, ia menyimpannya di dalam tas di atas tempat tidurnya, pasti Robi akan nyesel kalau tahu siapa yang sedari tadi menghubunginya, ya...dia Tiara.


Malam itu Tiara mencoba menghubungi Robi seperti pada saat Robi ulang tahun dulu, Tiara ingin mengetahui di mana Robi sekarang, apalagi dia juga ingin mengembalikan uangnya yang masih ada di Pondok.


"Ya...Allah, kemana itu orang, sepertinya dia benar-benar marah, padahal aku ingin ngobrol masalah rencana Abah kemarin, hanya kepada dia aku berani bicara", gumam Tiara, saat Tiara juga sedang duduk ditaman belakang rumahnya sendirian, Tiara juga tampak memandangi langit malam itu.


Malam itu, di dua tempat berbeda, dua orang sedang memandangi langit yang sama, mereka sama-sama sedang melangitkan harapannya .


Pagi harinya Tiara melakukan rutinitas biasa dan rutinitas tambahan, yaitu mengirimi Gilang makanan, walau enggan, namun Tiara tidak bisa menolaknya, karena itu perintah Abah. Walau harus melawan ketidakinginannya bertemu dengan Ustad Fikri, tetapi Tiara jalani saja.


Sebenarnya jadwal kuliah Tiara agak siang, tapi dia ingin ke bengkel dulu untuk memberikan uang ganti ban sepeda motornya kemarin. Walau kemarin Dery menolaknya, tetapi Tiara tetap ingin membayarnya, dia tidak mau ada hutang budi dengan pemilik bengkelnya.


Hari ini Tiara memakai sepeda motor yang sempat dipinjam Robi dulu, ia tidak mau mengulangi hal buruk beberapa hari lalu, ban motornya kempes di jalan.


Secara bersamaan juga, Pagi itu Robi pun sudah berada di jalanan, ia akan menuju Bandara .


"Sepeda motor itu, ah...itu sepertinya Tiara", gumam Robi begitu melintasi persimpangan. Sekilas dia melihat seorang muslim bercadar melintas dengan sepeda motor.


Robi mempercepat laju sepeda motornya, bermaksud menyusul Tiara, bahkan Robi membunyikan klaksonnya berulang kali, berharap Tiara menungguinya.


Namun Tiara tidak menghiraukannya, Tiara justru takut dengan Robi, Tiara menyangka Robi adalah salah satu temannya Eko , yang pernah mengganggunya dulu. "Aduh...kenapa harus ada dia lagi?", gumam Tiara. Dia terus tancap gas hingga bisa lolos di lampu merah, dan Robi yang tertahan oleh lampu merah.


"Kenapa dia, kok malah kabur ", gumam Robi kesal. Coba kalau Robi memakai sepeda motornya, mungkin Tiara akan mengenalinya, bukan kabur.


Robi meninju bodi motornya, melampiaskan rasa kesalnya sambil menatap sepeda motor Tiara yang makin menjauh.

__ADS_1


"Apa dia sama dengan Abah, marah sama aku", gumam Robi. Ia melajukan kembali sepeda motornya menuju Bandara.


Kalau tidak menjemput Mamihnya, mungkin Robi juga akan kembali mengejar Tiara.


__ADS_2