
Saat Umi terbangun, Tiara sudah tidak ada ditempatnya. Umi melihat ke arah kamar mandipun, tidak terdengar ada aktifitas di sana. 'Mungkin Ara sudah pergi ke Kampus', pikir Umi.
"Bagaimana Umi, masih ada keluhan ?", seorang perawat datang menghampiri Umi. Salah satunya membawakan Umi makanan.
"Alhamdulillah Sus, sudah lebih baik", senyum Umi.
"Kalau Abah, bagaimana?", Umi melirik ke arah Perawat yang sedang memeriksanya.
"Alhamdulillah, Abah juga sudah stabil, sudah ada di ruang pemulihan", senyum Perawat.
"Alhamdulillah..., tapi pasti biayanya mahal ya Sus", Umi tampak sedih.
"Sudah Umi, biayanya sudah dibayar lunas, Umi dan Abah tidak usah repot memikirkan itu, pemuda yang mengantar Umi dan Abah ke sini, sudah membayarnya lunas.
"Pemuda yang mana Sus?",
"Itu Umi, Pemuda yang membawa Umi dan Abah pasca kecelakaan kemarin",
Umi terdiam, ia menerawang Umi sedang mengingat kejadian kemarin, saat ia sadar, ia melihat Robi disampingnya, Abah juga ada di mobil yang sama.
"Nak Robi ....?", gumam Umi.
"Saya kurang tahu siapa namanya, tapi tampaknya ia sangat mengkhawatirkan Abah dan Umi kemarin", jelas Perawat.
"Sekarang Umi makan dulu, setelah itu, minum obatnya, biar cepat pulih", senyum Perawat.
"Mau saya suapin ,Umi?", tawari Perawat.
"Nggak usah, saya bisa sendiri", tolak Umi. Ia menggeser duduknya sehingga menjadi tegak. Umi sarapan sendiri, kedua perawat tadi sudah kembali menjalankan tugasnya yang lain.
"Kemana Ara?", kembali Umi bergumam, ia merasa khawatir dengan putrinya itu.
Di luar, Mang Daman dan dua Ustad sedang menuju ruangan perawatan Abah
Disana mereka bertemu dengan Ustad Fikri.
"Assalamu'alaikum..., Ustad, bagaimana keadaan Abah?", Mang Daman menghampiri Ustad Fikri.
"Wa'alaikumsalam..., Alhamdulillah, Abah sudah stabil, operasinya semalam berjalan lancar", terangkan Ustad Fikri.
"Alhamdulillah...., bagaimana dengan Umi?", lanjut Mang Daman.
"Alhamdulillah..., Umi juga sudah stabil, Ara yang menungguinya", jelas Ustad Fikri.
"Kalau begitu, Mang mau menemui Umi dulu", pamit Mang Daman.
"Di ruang Camelia nomer empat Mang", teriak Ustad Fikri.
"Oh iya, terima kasih Ustad, Mang lupa", kekeh Mang Daman. Ia berhenti sebentar, dan tersenyum sendiri, ia lupa menanyakan ruang perawatan Umi.
"Camelia nomer empat?, ke sini", Mang Daman menyusuri lorong menuju ruangan yang di maksud.
"Itu Umi, tapi kok sendiri?, mana Neng Tiara?, kok tidak ada di sini?", Mang Daman melihat sekeliling, ia masih berada di luar
Umi yang sedang minum obat melihatnya, ia berteriak memanggil Mang Daman. "Mang...., Mang...., sini", teriak Umi sambil melambaikan tangannya ke arah Mang Daman yang terlihat dari kaca.
Mang Daman juga melirik lagi ke arah Umi lewat kaca, ia melihat Umi sedang melambaikan tangan.
Mang Daman segera masuk dan mengucap salam.
"Mang...dengan siapa ke sini", tanyai Umi.
..."Dengan Ustad Fadil dan Ustad Dzaqi, Umi",...
__ADS_1
..."Syukurlah..., tolong cari Tiara, tadi pas Umi bangun, dia sudah tidak ada, Umi khawatir", ...
"Waduh..., Neng Tiara tidak ada?, kemana ya Umi?", Mang Daman balik bertanya.
"Ya..., kalau tahu, Umi tidak akan menyuruh untuk mencarinya Mang", senyum Umi.
"Oh...iya...", kekeh Mang Daman.
"Ini kan hari minggu Mang, tidak mungkin Tiara ke Kampus", jelas Umi.
"Kalau begitu saya minta tolong Ustad Fikri saja Umi, mungkin Ustad Fikri tahu, dimana Tiara",
"Ya sudah sana cepat Mang", pinta Umi. Ia terlihat khawatir.
"Baik Umi, saya permisi, Assalamu'alaikum",
"Wa'alaikumsalam...", jawab Umi, ia memandangi punggun Mang Daman sampai menghilang di lorong Rumah Sakit.
"Ustad...Ustad....", Mang Daman setengah berlari menghampiri ketiga Ustad yang masih duduk di depan kamar perawatan Abah.
"Ada apa Mang, jangan ribut begitu... , stt...sstt... ini Rumah Sakit", ingatkan Ustad Fadil.
"Mm..ma...ma....af..., Ustad, tapi itu...itu...kata Umi, Non Tiara tidak ada, tolong cariin katanya", ucap Mang Daman.
"Tiara tidak ada?", Ustad Fikri langsung berdiri dari duduknya.
"Kemana dia?, coba aku telepon dulu", Ustad Fikri merogoh ponselnya dan tampak mendial nomer Tiara berulang -ulang, karena tidak ada jawaban.
"Biar saya yang cari Tiara, kalian tungguin Abah dan Umi, bila ada hal penting, langsung hubungi saya", pesan Ustad Fikri.
"Baik Ustad, biar saya yang menemani Umi", sahut Mang Daman.
"Baik, kalau begitu saya pergi, Assalamu'alaikum", Ustad Fikri bergegas meninggalkan Rumah Sakit. Di Parkiran ia terdiam,' bingung juga, harus mencari Tiara ke mana?', pikir Ustad Fikri.
Ustad Fikri segera menghidupkan sepeda motornya dan melaju menuju kantor Polisi.
Sepanjang jalan, Ustad Fikri melirik ke kanan dan ke kiri, siapa tahu Tiara ada di sana. Namun Tiara tidak ada .
"Ustad Fikri langsung memacu sepeda motornya menuju kantor Polisi. Dan benar saja Tiara sudah ada di sana, Tiara tampak sedang bicara dengan Polisi yang sedang bertugas.
"Itu Tiara...", Ustad Fikri tampak senang ketika dilihatnya Tiara sudah ada di kantor Polisi.
"Assalamu'alaikum...",Ustad Fikri memasuki ruangan .
"Wa'alaikumsalamm....", Tiara agak heran saat melihat Ustad Fikri ada di sana.
"Lho...Ustad?, kok bisa tahu saya ada di sini?",
"Feeling saja", senyum Ustad Fikri, ia langsung duduk di samping Tiara.
"Umi Khawatir, karena putrinya tidak pamit mau pergi ke mana, jadi Umi menyuruh mencarinya, dan saya fikir ke ini, eh...ternyata benar", senyum Ustad Fikri, ia melirik ke arah Tiara.
"Jadi bagaimana Pak?, apa sudah ada kabar mengenai pemilik sepeda motor yang telah menabrak Abah dan Umi?", tanyai Ustad Fikri.
"Belum Pak, tapi sudah saya layangkan surat panggilan kepada pemilik motor itu, kita tunggu saja sampai besok", terangkan petugas.
Padahal sebelumnya Tiara sudah menanyakan alamat pemilik kendaraan itu, dan benar itu sepeda motor milik Robi, dan untuk meyakinkan dirinya, Tiara bermaksud mendatangi langsung 'ke alamatnya.
"Oh...ya sudah..., kami tunggu sampai besok, ayo Tiara kita pulang!, biar ini menjadi tugas Pihak berwajib saja, kita kembali ke Rumah Sakit, ada Abah dan Umi yang lebih membutuhkan kita", ajak Ustad Fikri.
"Iya...", Tiara mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan kantor Polisi.
"Ustad..., saya mau mampir dulu ke bengkel, ada barang yang harus diambil", alasan Tiara.
__ADS_1
"Biar saya antar", ucap Ustad Fikri.
"Aduh...nggak usah...saya sebentar kok, saya tidak biasa di antar, tolak Tiara.
"Tapi...nanti Umi bertanya", keukeuh Ustad Fikri.
"Ustad..., saya sudah biasa sendiri, Umi juga tahu", tolak Tiara kembali, ia bicara dengan nada kesal, sehingga membuata Ustad Fikri tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia akhirnya membiarkan Tiara pergi sendiri.
Dengan sedikit kesal, Tiara melajukan sepeda motornya ke bengkel Dery.
Sesampai di sana, bengkel tampak sepi, tapi tetap buka. Hanya ada Ilyas dan Ronald yang berjaga. Mereka tampak kaget dengan kedatangan Tiara.
"Ada yang bisa di bantu?, mau service rutin?", tanyai Ilyas.
"Oh...nggak, apa Rahmatnya ada?" , tanyai Tiara. Ia melirik ke tempat sepeda motor Rahmat biasa terparkir, ternyata tidak ada.
"Rahmat lagi libur, besok saja ke sini lagi kalau mau sama Rahmat service nya", ucap Ronald berbohong. Karena Rahmat tidak akan datang lagi ke bengkel.
"Oh...ya sudah, kalau begitu saya kembali besok saja", senyum Tiara.
Tiara meninggalkan bengkel dan tak lupa mengucapkan salam.
'Benar kamu Robi, setelah Abah da Umi celaka, kamu kabur, dasar licik", geram Tiara . Ia tidak lantas menuju Rumah Sakit, melainkan mencari alamat Robi yang ia dapat dari kantor Polisi tadi.
"Siapa yang mencari Rahmat?", Dery dengan tertatbih k eluar dari mini cafe miliknya mendekati Ronald dan Ilyas.,
"Tiara Bos", ucap Roonald.
"Tiara..., dia ke sini mencari Rahmat?", geram Dery.
"Ini bagus, kita tidak usah repot-repot mencari dia, dia sendiri yang datang ke sini, kita susun lagi rencana untuk menjadikan Tiara umpan buat Robi", seringai Dery.
"Drtt....drtt..., ddrrtt...", ponsel Bu Arimbi bergetar. Ia biarkan saja ponsel itu karena ia tahu Pak Robani yang sedang meneleponnya.
"Kok tidak di angkat sih Mih?, itu sudah bergetar dari tadi, penting mungkin", Robi yang baru turun dari kamarnya mengingatnya Bu Arimbi.
"Kamu saja yang jawab, ini lihat Mamih lagi tanggung", alasan Bu Arimbi.
"Aduh...siapa lagi, kok keukeuh sih, sudah tahu pemiliknya tidak mau di ganggu",
Robi mengambil ponsel mamihnya, ia mematung saat melihat nama papihnya yang ada di layar posel.
"Kok malah bengong?, bukannya mau di jawab?", cibir Bu Arimbi.
"Ini Papih Mih, penting sepertinya", Robi melirik mamihnya.
"Kamu saja yang jawab!",
Dengan sedikit malas, Robi terima juga telepon dari papihnya itu.
[Iya Pih...., ada apa?],
[Robi ..., jkemput Papih di Bandara, Papih pulang hari ini],
[Tolong Papih Robi, Papih baru kena jambret, tas Az,a aawa kabur, ini Papih masih di Bandara],
Mendengar Papihnya kena musibah, Robi segera mematikan ponsel .
"Robi jemput Papih dulu Mih" , Robi langsung menyambar tas selempangnya, ia segera pergi setelah pamit kepada mamihnya.
Di luar gerbang, ia tidak melihat Tiara yang sedang mengawasi rumahnya, Robi langsung melaju cepat dengan mobilnya.
"Ro....bi...., itu Robi kan?, apa benar rumah mewah ini rumah Robi?, tadi juga sekilas seperti Robi yang duduk di belakang kemudi, jadi dia benar-benar anak seorang pengusaha?, tapi kenapa dia sampai tega mencelakai Abah dan Umi", Tiara terduduk di pinggir sepeda motornya.
__ADS_1