Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Tidak Jelas


__ADS_3

"Ma...ri...sa...?, sudah lama kamu di sini?", tatap Robi, ia setengah menggusur Marisa membawanya masuk ke dalam Kobong.


"Kakak...!!, pelan-pelan..., ini anakku lihat", Marisa secara tidak sadar membentak Ustad Fikri.


"Kasih susu dulu tuh anakmu, berisik tahu, di sini banyak santri yang sedang belajar, malu tahu!!", bentak Ustad Fikri.


Marisa buru-buru mengambil botol susu dari dalam tasnya, dan segera memberikannya kepada bayinya, seketika suara tangisnya pun berhenti.


"Kenapa sih ke sini...?, mendadak lagi..., bisa kan kamu telepon dulu", tatap Ustad Fikri.


"Kak..., aku ini adikmu satu-satunya, cuma Kakak yang aku punya untuk berlindung, Bi Iroh pergi Kak, aku sendiri, Bi Iroh juga sudah menjadikan rumah kita yang di Kampung sebagai jaminan kredit ke Bank, dan kini rumah kita di sita, aku sudah tidak punya tempat tinggal lagi, hanya Kakak yang bisa aku tuju, memangnya Kakak tega melihat aku terlantar di jalanan?", ucap Marisa, ia menatap nanar.


" Aduuhh..., kamu ini malah nambah masalah saja, masalah Tiara saja belum kelar, kini kamu lagi",


"Tiara..., Kakak kan dalangnya?", tatap Marisa.


"Hah..., apa kamu bilang, jangan sembarangan",


"Lah..., tadi Kakak bicara dengan siapa?, kalian sedang membicarakan Tiara kan?, Kakak dalangnya kan?", cecar Marisa.


"Sstt..., pelankan suaramu!!", Fikri kembali membentak Marisa.


"Kak..., Kakak ini kenapa sih, kok malah begini, katanya Tiara itu wanita yang Kakak cintai, tapi kenapa malah Kakak celakai", lirih Marisa.


"Dan kini Tiara pasti sudah bersama Robi",


"Apa..., Robi..?, tahu dari mana kamu?", tatap Fikri.


"Aku ke sini bersama orang tua Robi, mereka bilang Robi mengejar Tiara , sampai sekarang belum pulang", jelaskan Marisa.


Ustad Fikri menerawang, ia mengingat ucapan Aleks dan Joko, kalau mereka kehilangan jejak Tiara, 'Apa mungkin..., sekarang Tiara sudah bersama Robi?', pikir Fikri.


"Aaarrgghhh.....", teriak Ustad Fikri kesal.


"Kenapa jadi begini sih...., ini semua gara-gara kalian yang tidak becus ", ucap Fikri keceplosan.


"Tuh...kan...?, jadi benar kan...?, Kakak yang merencanakan penculikan Tiara?", tebak Marisa.


"Diam Marisa...?, kamu ini bikin tambah kacau suasana saja", bentak Fikri.

__ADS_1


 "Oh...jadi Kakak sudah tidak peduli lagi sama aku, adikmu satu-satunya?", tatap Marisa.


"Kamu datang di waktu yang salah Marisa", ucap Fikri. Ia meremas kasar rambutnya.


"Oh...baik, aku pergi saja kalau begitu, ternyata Kakak tidak bisa diandalkan", Marisa segera beranjak dan ke luar dari kobong kakaknya.


Bertepatan dengan itu masuk Ustad Fadil, mereka terpaku saling berhadapan.


"Ma...ri...sa...?", Ustad Fadil menyapanya.


"Ustad...maaf..., saya permisi dulu", Marisa langsung berlalu melewati Ustad Fadil yang masih tampak kaget melihatnya.


"Ada apa ini Ustad?, kenapa Marisa dibiarkan pergi begitu saja kasihan kan, mana membawa anaknya lagi", celoteh Ustad Fadil, ia melirik ke arah Ustad Fikri yang tampak kacau.


"Kejar saja kalau memang kamu peduli", ucap Ustad Fikri kasar.


"Ccckkk..., kamu ini kenapa ?", ucap Ustad Fadil, ia berlari mengejar Marisa, ia tidak tega membiarkannya pergi, apalagi tak lama terdengar suara tangisan anaknya.


"Bagus...bagus...bagus...., pergi saja sana..., semua pergi...!!", ucap Fikri, ia setengah membanting daun pintu karena kesal dan marah.


"Astaghfirullah....", Ustad Fadil sekilas melirik ke arah kobong, namun ia kembali mengejar Marisa.


"Sudah benar-benar error dia", gerutu Ustad Fadil.


"Marisa....tunggu...!!", Ustad Fadil terengah-engah.


"Apa yang terjadi?", ucap Ustad Fadil, ia menatap iba Marisa yang kini sudah terisak.


"Aku menemui Kak Fikri untuk minta perlindungan, karena rumah sudah dijual oleh Bi Iroh, sekarang aku tidak tahu harus kemana", lirih Marisa.


"Ouwh..., kok bisa begitu ya...?, tega sekali dia, terus sekarang mau kemana?, kok malah lari",


"Aku juga bingung harus ke mana?", Marisa menunduk. Begitu pun Ustad Fadil, ia juga bingung, harus dibawa kemana Marisa, secara ia pun tinggal di Kobong.


"Assalamu'alaikum Ustad?", secara tak diduga lewat Ilyas dan Ronald, mereka juga baru mengetahui kabar tentang hilangnya Tiara dan juga Robi.


"Wa'alaikumsalam..., kalian mau kemana?", tatap Ustad Fadil.


"Kabarnya Tiara diculik Ustad?, apa itu benar?", tatap Ilyas.

__ADS_1


"Iya ..., itulah, kami sedang juga sedang bingung, sampai sekarang belum ada kabarnya",


"Tapi kami dengar, Robi juga ikut hilang saat ne cari Tiara, ya...semoga saja mereka sudah bertemu", harap Ronald.


"Terus...ini Marisa...?, ada apa lagi ini?", Ilyas beralih kepada Marisa.


"Iya...,ini Marisa, aku sendiri lagi bingung, Marisa ini lagi butuh tempat tinggal, rumahnya lagi bermasalah, kakaknya juga lagi kacau",


Ilyas menatap Ronald. "Bagaimana kalau tinggal di bengkel dulu, kamu juga sudah tahu kan Marisa?, tempat yang dulu waktu , bengkel Robi?, di sana ada kamar yang kosong, sudah beres kok renovasinya", jelaskan Ilyas.


"Nah..., Alhamdulillah..., bagaimana Marisa, kamu mau kan tinggal di sana?", tatap Ustad Fikri.


Marisa terdiam, ia sesungguhnya malu, ia akan kembali ke tempatnya dulu waktu masih bersama Robi, dan setelah berhasil menyingkirkan Robi, ia beralih dengan Dery.


"I...iya..., saya mau", jawab Marisa, ia tidak punya pilihan lain, ia harus mengubur dalam rasa malunya demi anaknya.


"Baik, aku antar dulu kamu ke sana, kasihan pasti kamu lelah butuh istirahat", ucap Ronald, ia meminta Ilyas turun dari sepeda motornya dan meminta Marisa yang naik.


Ronald mengantar Marisa ke bengkel, sementara Ilyas bersama Ustad Fadil kembali ke dalam Pondok.


"Keterlaluan Fikri, masa adiknya sendiri dimarahi, kasihan kapn ?, dia lagi dalam kesulitan begitu, mai anak kecil lagi", gerutu Ustad Fadil.


" Kenapa begitu?", Ilyas menatap Ustad Fadil.


"Ya..., mungkinkarena Tiara, sejak Tiara menghilang, Fikri terlihat sangat kacau", jelaskan Ustad Fadil.


"Masuk akal sih, Tiara itu kan calon istrinya Ustad Fikri, waktu pernikahannya juga sudah dekat, Tiara kan sebentar lagi wisuda, nggak kacau bagaimana coba?", senyum Ilyas.


"Tapi kan tidak harus begitu juga, hadapi saja satu-satu, cari jalan keluarnya, kita tidak bisa mencari penyelesaian masalah dalam keadaan marah",


"Ini seperti mobilnya Robi?", tunjuk Ilyas ke arah mobil yang terparkir di halaman rumah Abah.


"Iya..., orang tuanya ada di sini, karena Robi juga ikut menghilang saat mengejar Tiara", jelaskan Ustad Fadil.


"Oohh..., feelling aku sih sekarang mereka sudah bertemu", senyum Ilyas.


"Iya , semoga saja begitu, aku lebih setuju Tiara bersama Robi", bisik Ustad Fadil.


Hal itu jelas saja membuat kelopak mata Ilyas melebar, ia tidak menyangka sahabatnya sendiri tidak mendukung Ustad Fikri untuk bersama Tiara.

__ADS_1


"Kok begitu?, harusnya kan Ustad mendukung Ustad Fikri untuk bersama Tiara, ini malah sebaliknya", senyum Ilyas.


"Ya..., ya..., karena itu yang lebih baik untuk Tiara, untuk kita semua", senyum Ustad Fadil.


__ADS_2