
"Alhamdulillah ya Allah", Tiara memegangi kertas kwitansi itu i dadanya. Ingatannya langsung tertuju pada Gilang yang tadi ia bentak dan marahi.
Tiara langsung keluar menuju ruang baca Abah. "Assalamu'alaikum Abah, apa Gilang ada di sini?", Tiara berdiri di depan pintu, menunggu respon dari dalam.
"Wa'alaikumsalam, masuk Ara, Gilang ada di sini", Teriak Abah.
Perlahan Tiara mendorong daun pintu ruang baca Abah, di dalam Gilang tampak sedang telungkup di karpet sambil memegang pensil. Ia terlihat sedang menulis huruf arab 'Alif-ba', sudah hampir setengah kaca buku ia berhasil menulisnya.
Gilang tampak cuek saat Tiara masuk, bahkan ia tampak anteung dengan buku dan pensilnya, ia bahkan tidak melirik sedikitpun ke arah Tiara.
Tiara dan Abah saling pandang, tidak seperti biasanya Gilang bersikap begitu. Ia selalu senang saat ada Tiara dan selalu bergelayut manja ditangannya.
Abah memberi isyarat dengan menggelengkan kepala ke arah Gilang, menyuruh Tiara menghampirinya.
Tiara pun perlahan berjalan menuju Gilang, ia duduk bersimpuh di samping gilang, ia elus lembut kepala Gilang ,"Dik..., maafkan Teteh ya...? tadi Teteh sudah membentak Gilang, tadi Teteh khilap, Teteh kan lagi capek, pas melihat kamar Teteh berantakan ya ,tambah capek, Teteh jadi tidak bisa langsung istirahat, harus beres-beres dulu", Tiara menatap Gilang yang terlihat menghentikan kegiatannya.
Gilang menatap Tiara , dan langsung bangun memeluk Tiara. "Gilang yang salah Teh, Gilang sudah masuk kamar Teteh tanpa ijin, dan bermain di sana.
"Tadi Gilang mengeluarkan semua buku Teteh karena Gilang hanya mencari kertas untuk membuat pesawat, Eh ...malah jadi berantakan, maafkan Gilang Teh",
"Iya, Teteh maafkan", Tiara melerai pelukannya. Ia menatap wajah Gilang yang menunduk dihadapannya.
"Sekarang jadi kita impas, dan sebagai tanda permintamaafan Teteh, besok hari sabtu sore , kita main ke pasar malam ya?", tatap Tiara.
"Asik...asik...asik...., main ke pasar...main ke pasar malam", Gilang langsung berjingkrak dan berlari-lari kegirangan.
"Abah ...Gilang mau main ke pasar malam, Abah mau ikut?", Gilang berhenti di depan Abah yang sedang duduk di kursi.
"Tidak, Abah tidak akan ikut, Gilang dengan Teteh saja ya, masa ada kakek-kakek di pasar malam, malu , mau apa Abah ke sana?", kekeh Abah.
"Kan mau nemenin Gilang naik korsel Abah", senyum Gilang.
"Abah di sini saja, kan mau ada pengajian di Madrasah", senyum Abah.
"Iya..., berdua sama Teteh saja,tapi janji, disana Gilang harus nurut sama Teteh, di sana banyak orang, takutnya hilang lagi", Tiara menatap Gilang.
"Iya, Gilang janji, aksn nurut", senyum Gilang.
"Ya sudah, sekarang Gilang bobo ya?, biar besok sekolah tidak telat!",
"Iya Teh, Gilang bobo dulu", Gilang berlari menuju tempat tidurnya yang menyatu dengan ruang baca Abah, tadinya kamar itu tempat Abah beristirahat kalau sudah lelah membaca buku.
"Eit..jangan lupa, cuci kaki , cuci tangan, sikat gigi, dan berdo'a dulu ", Tiara menghampiri Gilang yang langsung naik ke atas ranjang.
Tiara menuntun Gilang ke kamar mandi dan mennyelimutinya setelah Gilang selesai membaca do'a sebelum tidur.
Tiara mengelus punggung Gilang dengan penuh sayang sambil melantunkan sholawat, Gilang terlihat sudah terlelap, Tiara pun meninggalkannya.
__ADS_1
Tiara menghampiri Abah,ia ingin membicarakan soal kwitansi yang ditemukan tadi, tapi ia urungkan. Takutnya Abah masih marah sama Robi.
Akhirnya Tiara pun pamit untuk kembali ke dalam kamarnya.
"Ya Allah..., ini teka-teki apa?, kok bisa Robi, Dery dan Rahmat memakai sepeda motor yang sama, nomer serinya pun sama, pemilik asli sepeda motor itu Robi, tapi Rahmat dan Dery pun sering memakai sepeda motor itu", Tiara bergumam sendiri sambil duduk dipinggir tempat tidur dan matanya memandangi kertas kwitansi yang masih dipegangnya.
"Besok cari tahu saja ke bengkel Dery" , gumam Tiara lagi. Ia simpan kembali kertas kwitansi itu di tas selempangnya.
Tiara menuju ke kamar mandi, ia membersihkan diri dan berwudhu. Itu yang selalu ia lakukan sebelum mau tidur.
Pagi harinya setelah mengantar Gilang ke Madrasah, Tiara bergegas kembali ke rumahnya, karena hari ini Tiara akan kembali ke bengkel Dery sebelum kuliah.
Namun sebuah suara memanggil namanya.
"Tiara.. Tunggu!",
Tiara pun menghentikan langkahnya. Ia berdiri ditempat, tidak bergeming, Tiara mengenali suara itu, ya...itu suara Ustad Fikri.
"Assalamu'alaikum, kok terburu-buru begitu, sengaja ya?", Ustad Fikri berdiri di depannya.
"Wa'alaikumsalam..., maaf Ustad, saya teburu-buru karena mau ke Kampus", Tiara menunduk. Ia tidak suka dan kesal kalau ada orang yang terus memandanginya, seperti yang dilakukan Ustad Fikri saat ini.
'Iihh...nggak tahu apa ini orang , kok begitu cara melihatnya', Tiara mendumel dalam hatinya.
"Aku mau minta maaf, atvs, '
as kejadian kemarin", ucap Ustad Fikri sambil terus menatap Tiara lekat.,
"Sebentar Tiara, apa aku sudah boleh mengantar kamu ke Kampus?", tatap Ustad Fikri.
"Tidak perlu, kan saya sudah beberapa kali bilang, biar saya berangkat sendiri saja, sudah biasa", tolak Tiara.
"Tapi sekarang berbeda, saya berkewajiban menjaga keselamatan kamu",
"Kenapa?, tidak ada yang berbeda saya rasa",
"Setelah Abah bicara, jadi berbeda",
"Abah?, memangnya Abah bicara apa?", Tiara penasaran.
"Semalam Abah bicara kalau Abah sudah memilih saya untuk menjadi imam kamu",
"Duarrrtr...", Tiara seperti mendengar petir saja. Tiara tidak menyangka Abah sudah membicarakan hal itu sama Ustad Fikri.
'Ya...Allah Abah...., memang ini harus?', pikir Tiara. Ia sedikit kecewa terhadap Abah, karena beliau tidak membicarakan dulu hal ini kepadanya.
"Iya...saya tahu, tapi ini baru rencana Abah kan, belum tentu sama dengan rencana Allah, jadi kita bersikap wajar saja, saya sudah terbiasa berangkat sendiri, lagi pula tenaga Ustad lebih dibutuhkan di sini", ucap Tiara.
__ADS_1
"Emh..., baiklah kalau begitu, tadinya saya ingin membuat Abah tenang saja", jawab Ustad Fikri dengab nada kecewa.
"Kita cukup saling tahu saja, karena ini baru rencana, hasil akhirnya seperti apa?, belum tahu juga. Jadi , biarkan saya bebas beraktifitas seperti biasanya, sebelum benar-benar ada orang yang melarang saya, faham kan?",
Ustad Fikri terdiam, lalu ia menggeser badannya memberi jalan buat Tiara lewat.
"Terima kasih, saya pergi dulu, Assalamu'alaikum", Tiara melewati Ustad Fikri yang terus berdiri memandangi kepergian Tiara .
"Ada apa sih..., seoertinya dia tidak menyetujui rencana Abah, apa dia masih memikirkan orang asing itu, Robi????", Ustad Fikri mengepalkan tangan kanannya.
Sementara Tiara, ia melajukan sepeda motornya menuju bengkel Dery, hari ini ia akan berpura-pura membeli spare part motor.
Qodarullah, di bengkel sudah ada Robi yang sedang mengganti oli sepeda motornya. Ia tampak tidak menyadari kedatangan Tiara, karena di mini cafe sebelah bengkel sedang diputar musik keras, jadi deru mesin sepeda motor Tiara tidak didengarnya.
Bahkan ucapan Tiara pun tidak dijawabnya.
Tiara lama berdiri di belakang Robi, memperhatikannya, dan juga Tiara melirik ke sepeda motor yang sedang Robi tangani.
'D 2789 AR', Tiara terbelalak saat melihat nomer seri itu. "Robi???", tanpa sadar Tiara bicara . Dan Robi pun refkeks menengok.
Sejenak mereka saling pandang dengan kekagetannya masing-masing. Tatapan mereka lama terkunci, mereka seolah ingin saling mengorek jati diri lewat manik mata, yang tidak bisa berbohong.
"Robi....?", gumam Tiara, kini ia yakin laki-laki yang berdiri di depannya adalah orang yang selama ini ia cari.
Tiara yakin ini Robi, karena ia melihat luka gores di lengan kanan Robi, luka akibat terbentur batu saat ia pertama kali ditemukan.
Tiara lah yang mengobati luka itu saat Robi belum sadarkan diri.
"Ma...maaf...", tadi bilang apa?", senyum Robi. Ia tidak begitu jelas mendengar Tiara karena terlalu fokus dengan motornya, dan terlalu bising dengan suara musik.
"Oh...ini.., saya memerlukan ini", Tiara memberikan daftar catatan belanjanya kepada Robi.
"Oh..., sebentar!, saya ambilkan", Robi berlalu meninggalkan Tiara . Tiara mendekati motor Robi, ingin memastikan kebenarannya, Tiaralah yang membelikan dan memilihkan motor itu untuk Robi.
Robi pun sesekali melirik ke arah Tiara yang sedang memperhatikan sepeda motornya.
'Apa Tiara mengenali sepeda motor itu?', Robi bicara dalam hatinya.
Ia melangkah dengan hati berdebar mendekati Tiara dan memberikan barang pesananTiara.
"Terima kasih, ini...ini...motor siapa?", Tiara menunjuk ke arah motor Robi.
Belum juga Robi menjawab, Dery keburu keluar dari mini cafe miliknya. "Bagaimana Mat, sudah beres motornya?, sini Gue test dulu, sudah ok belum?",
"Eh...ada Neng Tiara, mau service lagi", tatap Dery
"Oh..., nggak, ini perlu beli ini saja, terima kasih, Assalamu'alaikum", Tiara pergi menuju motornya dan meninggalkan bengkel dengan rasa penasaran yang segunung.
__ADS_1
Andai saja Dery tidak keburu muncul, dirinya bisa ngobrol banyak dengan Robi.
"Aku yakin Rahmat itu Robi, mungkin ia sedang merencanakan sesuatu hingga harus menutupi jati diri yang sebenarnya, aku harus terus selidiki hal ini', pikir Tiara. Sepanjang jalan menuju kampus,ia memikirkan Robi.