Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Mengolah Rasa


__ADS_3

Marisa membiarkan Dery berbuat semaunya terhadap dirinya, itu sengaja ia lakukan agar dirinya bisa menjerat Dery untuk bertanggungjawab atas kehamilannya nanti.


Karena Marisa pun tidak tahu, siapa yang paling berhak atas bayi dalam kandungannya ini, Dery atau Briant.


Mereka keluar kamar setelah sama-sama membersihkan diri.


Bi Iroh yang baru pulang dari warung merasa kaget mendapati Dery di dalam rumahnya, padahal saat ia ke luar tadi, pintu masih terkunci , pertanda belum ada orang yang keluar atau masuk ke dalam rumahnya.


"Neng, dia itu siapa?", tatap Bi Iroh saat Marisa menghampirinya di dapur.


"Dia Dery, teman Marisa di Kota, dia baik Bi", senyum Marisa.


Bi Iroh tidak banyak bertanya lagi, ia hanya melirik Dery dan terus melanjutkan pekerjaannya di dapur, Bi Iroh sedang memasak untuk mereka sarapan.


"Biar nanti setelah sarapan bicaranya", gumam Bi Iroh.


"Ajak temanmu sarapan!", perintah Bi Iroh begitu selesai memasak.


"Dery dan Marisa sarapan, begitu pun Bi Iroh. Tidak ada obrolan apa pun, mereka diam, namun batin mereka masing-masing bicara.


'Ini bisa jadi tempat bersembunyi yang aman, tidak apa, aku akan bisa bersama Marisa', pikir Dery. Ia seolah mendapatkan tempat baru untuk menghindari kejaran Polisi.


'Ini kalau dibiarkan , akan mengundang kecurigaan warga, bisa-bisa mereka mengusir kami kembali, kemana lagi harus pergi, kalau diusir dari sini?', pikir Bi Iroh. Di sini saja ia masih merasa takut, takut warga mengenali mereka, untung saja keluarga Nyimas juga sudah pindah.


"Kalian lebih baik menikah saja, biar tidak jadi bahan pembicaraan warga sekitar, warga di sini itu sensitif, jangan sampai kami diusir untuk ke dua kalinya dari sini", jelas Bi Iroh.


Dery dan Marisa saling pandang, bagi Marisa, ini yang ia tunggu-tunggu, ia akan bisa menyelamatkan kehamilannya, ia akan bisa menyembunyikan aibnya.


Dan bagi Dery pun sama, ini adalah kesempatannya untuk bersembunyi dari kejaran Polisi, ia bisa memulai hidup baru bersama Marisa di sini.


"Iya Bu, saya siap menikahi Marisa", tegas Dery.


"Nah, bagus kalau begitu, kita adakan secara sederhana saja , yang penting sah", tegas Bi Iroh.


Nikah siri juga tidak apa-apa Bi, biar tidak ribet urus surat-suratnya", timpa Marisa.


Sejenak Bi Iroh termenung, benar juga ucapan Marisa barusan, kalau nikah secara resmi, pasti warga akan tahu asal-usul Marisa, dan itu akan mengungkap kisah lama.


"Kalau itu lebih baik, ya tidak apa-apa, kita lakukan secara diam-diam saja pernikahannya", ucap Bi Iroh.

__ADS_1


"Nanti biar Bibi minta bantuan sama Pak Ustad untuk menikahkan kalian",


"Baik Bi, terima kasih", Marisa dan Dery saling tersenyum. Akhirnya mereka bisa mengatasi masalahnya masing-masing, kalau diibaratkan, mereka itu seperti hubungan simbiosis mutualisma, saling menguntungkan.


****


"Teteh, kenapa pedagang tadi seperti sedih begitu", celoteh Gilang begitu sepeda motor Tiara mulai melaju menjauhi Pasar.


"Mungkin ibu tadi teringat anaknya yang ditinggal pergi", jawab Tiara sekenanya.


"Atau karena Teteh tidak membeli banyak, harusnya Teteh beli juga buat Aa ganteng", kekeh Gilang.


"Ah....iya..., Teteh lupa, Teteh tidak tahu A Robi maunya apa?",


"Tadi, katanya mau kita cepat pulang saja",


"Wah... A Robi bicara begitu?", senyum Tiara.


"Iya...",


"Ya sudah, ayo kita pulang saja, pasti A Robi sudah menunggu",


"Iya, Gilang mau ajarin A Robi belajar iqro lagi",


"Iya, Gilang jadi guru", kekeh Gilang.


"Robi..., kamu tidak malu belajar sama anak kecil", gumam Tiara. Hatinya merasa senang, ternyata Robi benar-benar mau belajar.


****


"Nah di sini tempat Robi hampir meninggal Mih, kalau tidak ditolong ", tunjuk Robi pada batu besar di tengah sungai tempat dirinya terdampar dulu.


"Abah dan Umi yang sudah menolong kamu?", tatap Bu Arimbi.


"Mamih merasa berhutang nyawa sama mereka, Mamih juga tertarik ingin tinggal di sini, Mamih ingin banyak belajar sama Tiara, Mamih tertarik sama dia, Mamih ingin kamu membawa dia sebagai menantu", senyum BU arimbi.


"Robi malu Mih, Robi jauh berbeda dengan dia, Robi harus bisa menggantikan Abah, kalau bersama Tiara, itu sangat berat bagi Robi",


"Jangan takut Nak, kalau Allah menghendaki, semua, akan dimudahkan", senyum Bu Arimbi.

__ADS_1


Dari kejauhan terlihat sepeda motor memasuki gerbang Pondok. "Itu pasti Tiara, Mamih ingin bicara dengannya, kita kembali saja ke Pondok",


"Robi ke kobong dulu, Mih, nanti kalau mau pulang , temui Robi lagi",


"Iya", Bu Arimbi beserta Bi Mimi kembali ke rumah Abah, Robi mengikuti dari belakang.


"Aku harus segera menyelidiki masalah Badrun, itu yang sepertinya disembunyikan oleh Abah dan yang lainnya", gumam Robi.


Ia berjalan menuju kebun, niatnya ingin menemui Mang Daman.


Benar saja, Mang Daman sedang membersihkan kebun dari dedaunan kering, dan menyiangi rumput liar di sana.


"Apa Mang Daman mengetahui rahasia Badrun?, Mang Daman kan sudah lama tinggal di sini", gumam Robi.


"Eh...Aden, kok malah ke sini?", bukannya ada Ibu Aden di Kobong?", Mang Daman melirik Robi yang baru sampai didekatnya.


"Mamih ada urusan dengan Tiara Mang, jadi saya memilih ke sini dulu, biar otak ini tidak ngebul, belajar terus", senyum Robi.


"Iya juga Aden, jangan terlalu diporsir, nanti stress", kekeh Mang Daman.


"Ah...jangan sampai attu Mang, Oh iya , Mang Daman pasti sudah lama di sini, pasti tahu dong semua yang pernah terjadi di sini", selidik Robi.


"Soal apa ya Den?, Mang jadi penasaran, sepertinya masalah penting", Mang Daman melirik Robi sekilas.


"Apa di sini dulu ada Santri yang terkena masalah, atau berbuat salah gitu?", tatap Robi.


"Emh...., Mang rasa tidak ada Den, masalah apa ...?", Mang Daman memalingkan muka dari Robi.


"Bandrun?, apa ada santri yang bernama Badrun di sini?", Robi kembali menyelidik.


"Hah...Badrun?", Mang Daman tampak kaget, ia menatap Robi, seolah ingin bertanya, dari mana Robi bisa tahu dengan Badrun?.


"Ah...setahu Mang tidak ada Den, yang Mang tahu, Fikri , Fadil , dan Dzaqi, itu santri yang pertama mondok di sini",


"Oh...begitu ya", Robi tampak manggut-manggut.


Mang Daman jadi salah tingkah, sesekali ia mencuri pandang ke arah Robi.


Robi bisa membaca dari gerak-gerik Mang Daman, ia tahu Mang Daman sedang menyembunyikan sesuatu, Mang Daman sedang berbohong, tapi itu sudah cukup untuk Robi.

__ADS_1


Ada rahasia besar yang disembunyikan di pondok ini, entah apa, tapi yang jelas hal ini yang ingin Robi ketahui, karsna Robi merasa ini ada kaitannya dengan Badrun.


"Ya sudah Mang, kalau tidak tahu, tidak apa-apa, tapi suatu saat, kebohongan itu akan terbongkar", gumam Robi.


__ADS_2