Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Yang Teristimewa


__ADS_3

Robi dan Pak Robani tampak lahap menyantap makanan hasil memasak Bu Arimbi. Mereka tampak lahap. Begitu pun Abah dan Umi, mereka tampak menikmati hasil memasak Bu Arimbi.


"Wah hebat ya Ibu ini, wanita karier tapi tidak segan untuk turun ke dapur, masakannya enak lagi", puji Umi.


"Alhamdulillah..., kalau urusan keluarga itu yang utama Umi, saya tidak akan melalaikannya, saya ini selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik, walau ya..., ilmu saya masih sangat sedikit, tapi saya kerjakan sesuai kemampuan saya, dan saya juga berusaha terus belajar",


"Itu juga setelah Robi pulang dari sini, awalnya saya percayakan semua kepada Bi Mimi, urusan rumah, Bi Mimi yang kerjakan semuanya, saya lebih sibuk dengan urusan bisnis saja, tapi ternyata itu semua tidak membuat kehidupan kami lebih baik , dulu kami tinggal satu atap, tapi masing-masing",


"Nah , saat Robi pulang dari sini, baru mata saya terbuka, saya mulai belajar mengurus semua sendiri, walau masih dibantu Bi Mimi juga, apalagi setelah bertemu Tiara, mata saya jadi lebih terbuka, hingga saya pun tergerak untuk mengenakan jilbab, walau ya..., masih seperti ini, belum bisa tertutup seperti Tiara",


"Kalau Tiara ini sudah bisa dipastikan calon istri sholehah, pasti Abah dan Umi sudah membekalinya dengan ilmu yang banyak, ilmu agamanya kuat, ilmu berumah tangganya juga sudah banyak ", ucap Bu Arimbi panjang lebar.


"Makanya saya sangat senang saat Robi mengutarakan maksudnya untuk melamar Tiara", Bu Arimbi to the point.


"Uhuk....", Robi yang sedang minum tersedak, ia tidak menyangka mamihnya akan langsung membicarakan hal ini.


Sementara Tiara hanya menunduk dengan perasaan yang berbunga-bunga.


"Mamih...", Robi tersenyum sambil menunduk.


"Iya tidak apa -apa ya Abah, Umi..., maksud baik itu jangan ditunda-tunda, tadi di rumah katanya minta dilamarkan Tiara", senyum Bu Arimbi.


"Mamih....", Robi tampak pasrah, ia sudah tidak bisa mengelak lagi, ia hanya bisa pasrah, karena apa yang diucapkan mamihnya itu benar adanya.


Hanya saja Robi tidak menyangka kalau mamihnya itu mengutarakan maksud hatinya langsung di meja makan, setelah mereka selesai makan.


"Alhamdulillah..., kita sambut gembira niat baik Bapak, Ibu dan Nak Robi, kalau Abah sudah menyerahkan semuanya kepada Tiara, terserah Tiara saja", Abah melirik ke arah Tiara.


Tiara hanya diam, entah kenapa lidahnya terasa kelu,ia ingin mengucapkan iya, tapi kalimat itu susah sekali untuk ucapkan.


"Diam berarti setuju kan Abah?", senyum Pak Robani.


"Itu jaman kita dulu Pak, sekarang beda lagi, bagaimana Tiara, lamaran anak Ibu diterima?", tatap Bu Arimbi.

__ADS_1


Suasana seketika hening, semua menunggu jawaban dari Tiara.


"Bismillah ..., saya Terima ..., Bu", lirih Tiara. Namun suaranya masih bisa didengar oleh semua.


"Alhamdulillah...", serentak semua.


"Alhamdulillah diterima Nak Robi", senyum Abah.


"Tapi Mih..., Robi belum mempersiapkan...",


"Ini.....?", sambar Bu Arimbi, ia mengeluarkan sebuah kotak silver dari dalam tasnya.


"Mamih sudah siapkan semuanya, ini perhiasan keluarga kita, sudah turun temurun, dan sekarang jadikan ini sebagai pengingat Tiara", ucap Bu Arimbi, ia memberikan kotak tersebut kepada Robi.


"Tapi Mih...",


"Sudah..., diterima saja, ini cocok untuk Tiara, benda istimewa, sudah sepantasnya diberikan kepada wanita istimewa juga, yang akan meneruskan garis keturunan keluarga kita", ucap Bu Arimbi lagi.


"Robi, ini cepat berikan saja pada Tiara, ini bentuk kasih sayang Mamih pada Tiara, nanti kamu boleh belikan lagi buat Tiara dari uang hasil kerjamu sendiri, sekarang pakai ini dulu, masa melamar anak orang tidak pakai apa-apa", Bu Arimbi menyodorkan kotak perhiasan kepada Robi.


"Ambil saja, itu dari Mamih dan Papih untuk mantu Papih, nanti dari kamu nya menyusul", senyum pak Robani.


"Iya..., terima kasih Mih, Pih, ini Robi terima", ucap Robi sambil menerima kotak perhiasan yang diberikan oleh mamihnya.


Denfan tangan gemetar Robi mulai membuka kotak perhiasan itu. Ada seperangkat perhiasan emas putih didalamnya . Robi lalu menyerahkannya kepada Tiara.


"Maaf Tiara, aku baru mempunyai ini, karena ini tidak seperti yang aku rencanakan, maunya kita adakan acara khusus walau kecil-kecilan, tapi ya sudah jalannya begini, kamu tidak apa-apa kan?", tatap Robi .


Tiara hanya menunduk , ia sudah tidak bisa berkata-kata lagi, namun ia pun terima kotak perhiasan yang disodorkan Robi kepadanya.


"Mamih..., biar Mamih saja yang memakaikannya", Robi beralih kepada Umi, ia sangat mengerti, dirinya dan Tiara belum halal, jadi mereka belum bisa bersentuhan walau sekedar untuk memakaikan cincin ke jari manis Tiara.


Bu Arimbi tersenyum , lalu ia memakaikan cincin ke jari manis Tiara.

__ADS_1


"Sebentar..., Abah juga punya sesuatu untuk Robi", Abah meminta Umi membawanya ke ruang baca, tak lama mereka pun kembali.


Tampak Abah pun membawa sebuah kotak ditangannya.


"Nih..., Abah juga mempunyai sesuatu untuk nak Robi, ini cincin Abah beli saat mengantar ibadah haji jama'ah, Abah sengaja membeli ini, dan ini Abah peruntukan untuk pria yang akan menjadi menantu Abah, Alhamdulillah..., sekarang sudah bertemu",


"Sini...!", panggil Abah, ia menyuruh Robi untuk mendekat. Lalu Abah memakaikan cincin itu kepada Robi.


"Alhamdulillah..., sekarang kalian ini sah, tinggal selangkah lagi menuju halal", ucap Abah sambil tersenyum.


"Besok saja menikahnya Abah, bagaimana?", celetuk Robi


Ucapan Robi membuat semua orang tercengang kaget.


"Besok..., lah terlalu cepat , persiapannya bagaimana?, ini mendadak sekali", ucap Umi.


"Robi....?, kamu ini ya..., ini bukan mainan sayang", tatap Bu Arimbi.


"Ya...kita akad saja dulu Pih, itu yang penting kan, yang lainnya bisa menyusul", keukeuh Robi.


"Abah..., Umi..., bagaimana ini?, Robi maunya nikah besok", tatap Pak Robani.


"Alhamdulillah..., itu lebih baik, tidak apa-apa, Abah justru senang, sudah ada yang lebih hak untuk menjaga Tiara, bagaimana Neng, siap menikah besok?", Abah melirik kepada Tiara.


Tiara mengangguk dengan tetap mrnunduk, ia betul-betul tidak menyangka, ini sunggung diluar dugaannya. Namun kini Tiara sudah tidak bisa menolak lagi, hatinya kecilnya sangat senang, walau jantungnya kini berdebar tidak beraturan. Hanya tinggal menghitung jam saja, ia akan resmi menjadi istrinya Robi, pria yang sejak kedatangannya sudah mengisi ruang hatinya.


Sementara di Madrasah, para santri sedang fokus mengaji. Kehadiran Nyimas dan Badrun, sangat membantu Ustad Fadil dan Ustad Dzaqi , mereka tidak terlalu kerepotan walaupun sudah tidak ada Ustad Fikri.


Risman pun tampak akrab dengan Badrun, ia bisa menemukan sosok pengganti Ustad Fikri dan juga Robi yang kini sudah tidak tinggal di Pondok lagi.


Sudah tidak tampak kesedihan lagi di wajah Risman, dan teman-temannya pun sudah tidak ada yang berani meledeknya lagi, semua ini tidak lepas dari peran Badrun yang bilang ke semua teman Risman, bahwa dirinyalah ayah Risman.


Dengan polosnya Risman pun mulai memanggil Badrun dengan sebutan Abi.

__ADS_1


__ADS_2