
Robi memejamkan matanya , ia bersandar di tembok penjara sambil memeluk Al-Qur'an. Pikirannya melayang, mengingat kembali semua kejadian yang menimpanya, sedari ditemukan di Pondok, sampai ia mengetahui semua kelicikan Robi, dan kini ia pun harus mendekam di jeruji besi.
"Ada pelaku lain yang menabrak Abah dan Umi, tetapi kenapa harus aku yang ada di sini?", gumam Robi.
"Apa si pelaku mirip aku?", Robi berfikir sejenak.
"Dery!", Robi membuka kelopak matanya. "Kenapa baru ingat, sepeda motor aku masih ada di bengkelnya Dery, bisa saja dia yang membawa sepeda motor itu, dan menabrak Abah dan Umi",
Robi bicara sendiri, ia menerka-nerka sendiri tentang si penabrak itu.
"Tapi ..., sudahlah, aku lebih nyaman begini, biar tidak melihat Mamih dan Papih berseteru, di sini juga enak, kerjanya makan dan tidur saja", cicit Robi,
" Lagi pula di sini aku bisa belajar mengaji", senyum Robi.
"Biarlah..., mungkin ini lebih baik", Robi menarik nafas panjang , ia seolah sudah tidak mempunyai semangat hidup lagi, ia pasrah dengan apa pun yang akan terjadi.
Robi masih menyandarkan tubuhnya di tembok dan kali ini ia berusaha untuk memejamkan matanya.
Pak Robani sudah sampai di halaman rumahnya, ia melihat ke atas, ke arah kamar Bu Hellen, tampak lampunya masih menyala, itu tandanya istrinya belum tidur.
Pak Robani masih belum turun dari mobilnya, ia mengambil ponselnya, dan menelepon salah satu staf di kantornya, Anton.
[Halo, Anton, maaf nih saya telepon malam-malam, begini..., saya lagi butuh jasa pengacara, tolong carikan!, yang bagus sekalian, nanti kamu berikan kontak saya sama dia ]
[Baik Pak, nanti saya carikan],
[Oke..., terima kasih, secepatnya ya, saya tunggu],
Pak Robani menutup sambungan teleponnya, dan ia segera keluar dari mobilnya.
"Heum...., sepeda motor siapa ini?, rasanya ini bukan milik Robi?, apa jangan-jangan..., Arimbi sudah memasukkan laki-laki ke rumah, berani sekali dia", Pak Robani bergegas masuk.
Dengan kunci cadangan yang ia punya, dengan mudah Pak Robani memasuki rumahnya. Ia berjalan perlahan menuju kamar miliknya, yang saat ini hanya ditempati oleh istrinya saja, karena Pak Robani memilih tidur di kamar tamu yang ada di lantai bawah.
Ya..., semenjak dirinya ketahuan selingkuh dengan Rena, Bu Arimbi tidak membolehkan dirinya masuk ke kamar mereka.
__ADS_1
Pak Robani mengendap begitu sudah ada di depan pintu kamar istrinya, sejenak ia diam dan menahan nafasnya, ia sedang berusaha mencuri dengar, namun tidak ada suara yang mencurigakan dari dalam.
"Sedang apa mereka?" , geram Pak Robani.
Apalagi tak lama kemudian ia mendengar suara tertawa dari dalam, jelas ditelinganya, terdengar suara laki dan perempuan tertawa bersama.
Dengan rasa marah yang memuncak, ia mendobrak pintuny. "Aaaahhhh", Bu Arimbi teriak kaget, ia yang masih berbalut handuk tampak mematung di depan TV, sambil memegang remote control televisi di tangan kanannya.
"Ada apa?, kenapa kamu lakukan ini?", Bu Arimbi menatap suaminya, sambil tangan kirinya memegangi handuk yang membelit tubuhnya.
Sejenak Pak Robani mematung, melihat pemandangan di depannya. Namun seketika ia sadar.
"Mana laki-laki itu?", teriak Pak Robani, matanya menatap tajam ke setiap penjuru kamar istrinya.
"Laki-laki apa?, jangan ngaco kamu Pih, di sini aku sendiri", tegas Bu Arimbi.
"Bohong!, kamu pasti sudah bersama dia kan?, Hai maling, keluar kamu, jangan sembunyi, ayo hadapi aku!", tantang Pak Robani, ia sudah mencari ke ruang-ruang yang ada di kamar istrinya, bahkan sampai ke bawah tempat tidur .
"Mas...Mas...,sudah !, jangan norak kamu, di sini tidak ada siapa-siapa, aku sendirian dari tadi, hanya ada Bi Mimi", tegas Bu Arimbi.
"Oh....., sepeda motor, itu milik Tiara Mas, sudah!, kamu keluar dulu, aku mau berpakaian dulu, nanti aku jelasin semuanya", bujuk Bu Arimbi.
"Awas...kalau ketahuan bohong?, kamu akan menyesal telah menipuku", Pak Robani keluar dari kamar istrinya, ia berjalan menuju ruang keluarga, ia duduk di sana, menunggu istrinya turun.
"Hmn.....mau pake alasan apa lagi?, sudah jelas ada bukti, pake mengelak lagi" gumam Pak Robani.
Bu Arimbi sedang menuruni anak tangga, ia menghampiri suaminya yang tampak sudah duduk di sofa.
Sebelumnya ia menghampiri dapur, diambilnya dua botol minuman dingin dari kulkas , yang satu langsung ia tenggak isinya, dan yang satu lagi dibawanya ke hadapan suaminya.
"Nih..., biar hatimu dingin", senyum Bu Arimbi, ia menaruh botol minuman itu di atas mejs dihadapan Pak Robani.
Ia duduk di samping Pak Robani sambil menenggak lagi sisa minuman di botol yang dipegangnya.
"Kamu sengaja mau membalasku?", Pak Robani memulai pembicaraan. ia duduk menunduk.
__ADS_1
"Membalas apa Mas, kamu itu salah, aku tidak melakukan seperti apa yang ada dalam pikiranmu",
"Buktinya ada, kamu tidak bisa mengelak lagi, siapa pemilik sepeda motor itu?", Pak Robani kini menatap tajam istrinya.
"Ya Tuhan........, Mas, aku sudah katakan , itu milik Tiara, dia seorang wanita bercadar, tadi dia yang mengantar aku dari Rumah Sakit, namun karena hujan, pulangnya ia diantar sopir, jadi sepeda motornya di tinggal di sini, besok dia pasti datang untuk mengambilnya", jelaskan Bu Arimbi.
"Alasan yang tidak masuk akal, wanita bercadar, padahal didalamnya laki-laki, sengaja memakainya biar tidak kelihatan belangnya", desis Pak Robani.
Bu Arimbi geleng-geleng kepala, ia merasa jengkel dengan suaminya itu. "Tunggu saja sampai besok, kamu lihat sendiri, biar yakin, aku ke atas dulu, sudah ngantuk, kalau mau makan, semua sudah tersedia", Bu Arimbi berdiri dari duduknya.
"Kamu masih istriku, awas saja kalau sampai ketahuan memasukkan laki-laki ke dalam rumah", ancam Pak Robani.
Bu Arimbi hanya mendesis, ia meninggalkan suaminya sendiri dan kembali menuju kamarnya.
"Dasar orang aneh, istrinya tidak boleh selingkuh, lah...dirinya habis ngapain jam segini baru pulang?", gerutu Bu Arimbi.
"Umi, nanti setelah sarapan , kita temui Abah, kita bicarakan keinginan Umi untuk menjadi saksi , Abah juga harus tahu", Tiara melipatkan mukena yang baru selesai di pakai Umi shalat.
"Iya...", senyum Umi. Lagi-lagi ia melihat sorot kebagiaan dari tatapan mata Tiara. Ia terlihat begitu semangat.
"Tiara ke kamar mandi dulu", pamit Tiara ia menyambar bungkusan pemberian Bu Arimbi semalam.
"Bagaimana Umi, apa ini cocok di pakai Ara?", Tiara sudah berdiri di hadapan Umi dengan memakai baju pemberian Bu Arimbi.
"Masya Allah...., Neng..., itu bagus sekali, cocok di badan Ara, kok bisa pas begitu ya?, padahal ibunya Nak Robi membeli itu setahun yang lalu, bahkan sebelum mengenal Neng, ini mah sudah jodoh", senyum Umi.
"Apa Umi jodoh?", Tiara menatap Umi, wajahnya memanas.
"Iya, ini sudah jodoh, kamu sudah berjodoh dengan ibunya Nak Robi", kekeh Umi.
"Buktinya, itu bisa pas dengan bajunya", senyum Umi.
"Oh..., bajunya, kirain apa", gumam Tiara. Ia menunduk , karena sudah berharap terlalu jauh, yang ia inginkan , Umi bilang kalau dirinya sudah berjodoh dengan Robi, bukan dengan ibunya.
Tiara tersenyum geli di balik cadarnya, kenapa ia sampai punya pikiran sejauh itu, padahal sudah jelas Abah telah memilihkan calon imamnya, Ustad Fikri.
__ADS_1