
"Tiara...Tiara mana?, kok dia tidak ada di sini, Abah pulang Tiara...", teriak Abah, ia melirik ke arah kamar Tiara.
"Tenang Abah..., Tiara ada", Umi memegang tangan Abah.
"Iya ada, tapi mana Umi?",
Umi menatap ke arah Pak Robani, ia mengharapkan bantuan darinya.
"Abah, Tiara ada, dia sedang ada kegiatan dari Kampus, Tiara ada di luar Pulau sekarang, tetapi jangan khawatir, ada Robi bersamanya, kebetulan Robi juga sedang ada urusan bisnis di sana, jadi mereka bisa bersama di sana", terangkan Pak Robani.
"Tiara ...?, kenapa Abah tidak tahu?",
"Abah kan masih belum sadar, tidak apa-apa, Tiara pasti baik-baik saja, saya juga sudah memerintahkan orang untuk menjemput mereka ke sana, hanya saja di sana sedang dilanda cuaca buruk, jadi mereka belum bisa pulang cepat-cepat", ucap Pak Robani lagi.
"Tiara kan mau wisuda?, sudah apa belum wisudanya Umi?", tatap Abah.
"Belum Abah, Tiara belum wisuda, karena ada kegiatan dulu di kampusnya, jadi mungkin wisudanya di undur, bukan begitu ya Pak?", Umi menatap Pak Robani, karena Umi asal saja menjawabnya.
"Iya, kemungkinan wisudanya di undur, menunggu Tiara pulang dulu", senyum Pak Robani.
"Aduh..., padahal Abah sudah sangat rindu sama Tiara, berapa lama Abah tidak sadar Umi?",
"Hampir lima hari Abah, sudah jangan banyak pikiran, Tiara pasti pulang, Abah istirahat saja, biar pas Tiara pulang, Abah sudah betul-betul sehat", bujuk Umi.
"Iya, betul itu, mulai sekarang Abah tidak boleh cape-cape, biar urusan Pondok, diserahksn pada yang muda-muda ini", senyum Pak Robani sambil menunjuk ke arah Ustad Fadil dan Ustad Fikri.
"Iya Abah, kami bisa menghandle semua urusan di Pondok, buktinya selama Abah sakit, di sini baik-baik saja kan?", ucap Ustad Fikri dengan sedikit pongah.
"Umi antar ke kamar ya?, biar Abah bisa beristirahat?", Umi mendorong kursi roda Abah menuju kamarnya.
Badrun berniat membawakan tas milik Abah, namun tanpa di duga, Abah menolaknya.
"Tidak usah !!,,biarkan saja, tidak usah!", Abah melarangnya.
Badrun meletakkan kembali tas ditempatnya, ia menunduk, hatinya pedih, ternyata Abah masih saja keras terhadapnya.
"Nak Fikri, tolong bawakan tas Abah", pinta Abah. Terlihat sekali kalau Abah masih tidak menerima kehadiran Badrun.
"Baik Abah", Fikri tersenyum sinis ke arah Badrun sambil membawakan tas Abah menuju kamarnya.
__ADS_1
"Sudah..., tidak apa-apa, semua perlu waktu",Pak Robani menepuk pundak Badrun, ia tahu betul, kalau Badrun kini sedang bersedih.
Mang Daman pun melirik iba ke arah Badrun.'Kasihan kamu Nak, kamu harus menanggung dosa orang lain', Mang Daman bicara dalam hatinya.
Begitu juga Nyimas, ia merasa bersalah karena belum berani mengungkap siapa dirinya, dan belum berani mengungkap semua kebusukan Fikri.
'Maafkan aku Kak, aku yang salah, aku yang lemah, apalagi sekarang, Abah sedang sakit, kalau aku bicara , takutnya Abah akan kembali drop', pikir Nyimas, ia bicara dalam hatinya.
"Pak Ustad, ini ada makanan untuk para santri , tolong bagikan, minta do'anya juga biar Tiara bisa segera pulang, dan Abah pun bisa kembali sehat", Bu Arimbi bicara terhadap Ustad Fadil .
"Terima kasih , jazakallah Ibu, pasti Abah akan selalu kami do'akan", Ustad Fadil tersenyum, ia menyuruh beberapa santri untuk ikut membawa makanan yang diberikan oleh Bu Arimbi ke Kobong.
"Abah sudah terlelap, jadi sebaiknya kalian pulang saja biar tidak bikin keributan di sini!", ucap Ustad Fikri begitu keluar dari kamar Abah.
Semua yang ada di ruang keluarga rumah Abah saling pandang. Memang ucapan Fikri ada benarnya, tapi tetap saja kesannya seperti mengusir.
"Ya sudah, kita pulang saja, lagi pula saya masih ada janji dengan Pak Rusman, ada yang harus dibahas soal Aleks dan Joko", ucap Pak Robani sambil melirik sekilas ke arah Fikri.
'Apa...?, Aleks, Joko?', hati Fikri bergetar mendengar dua nama itu disebut oleh Pak Robani.
'Apa mereka ditangkap Polisi?, bisa gawat nih, kalau mereka tertangkap, dan bicara?, bahaya', kembali Ustad Fikri membatin.
"Iya..., sepertinya mereka akan bicara, dan ternyata mereka juga mengenal Dery Mih",
"Dery..., orang yang sudah membakar bengkel Robi?, kok bisa, apa mungkin ini saling berkaitan?",
"Sudah, kita ke sana saja untuk jelasnya, , semoga cepat terungkap, Nak Badrun, kamu ikut pulang saja, di sini biar dijaga oleh mereka saja", Pak Robani melirik ke arah Badrun.
"Iya baik Pak", rengkuh Badrun.
Dan akhirnya dua mobil milik Pak Robani meninggalkan Pondok, meninggalkan Fikri yang kini menjadi salah tingkah, pikirannya tambah kacau saja, ia kini terus memikirkan Aleks dan Joko.
Nyimas yang baru selesai membereskan meja makan, akan kembali masuk ke kamarnya, ia pun akan bersiap pergi ke Madrasah, menggantikan Umi mengajar anak-anak mengaji di sana.
Namun di pintu belakang ia di jegal oleh Ustad Fikri. "Sebentar, tunggu!!", Fikri setengah berlari mendahului langkah Nyimas, hingga kini dirinya sudah ada dihadapan Nyimas.
Nyimas mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak dari Fikri. Tapi Fikri justru malah memepet Nyimas sampai tubuhnya mentok dengan tembok dapur.
"Dengar ya, aku sudah tahu siapa kamu, aku minta kamu jangan banyak bicara kalau ingin hidupmu tetap tenang!", tegas Fikri.
__ADS_1
"Apa maksudnya Ustad?", Nyimas menunduk, karena kini jaraknya dengan Fikri makin dekat, ia kini berada dalam kungkungan Fikri, tangan kiri dan kanan Fikri menempel di tembok, membatasi tubuh Nyimas, sehingga ia tidak bisa bergerak bebas.
"Kamu jangan mengelak", Fikri tanpa di duga menyambar niqob yang dipakai Nyimas.
"Aaaww...", Nyimas menjerit kaget, dan langsung menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Pelankan suaramu, jangan sampai Abah dan Umi mendengarnya", Fikri menatap tajam ke arah Nyimas.
"Kamu sengaja kan datang lagi ke sini untuk mencari masalah dengan aku?, jangan mimpi, kamu akan berhadapan dengan aku, Fikri!!",
"Ternyata kamu masih sama seperti dulu, tidak berubah, kamu masih saja egois dan licik", ucap Nyimas sambil tetap menutupi wajahnya.
"Aku bisa saja berbuat kasar padamu, tapi...., mana anak yang telah kamu lahirkan?", tatap Fikri, tiba-tiba ia teringat dengan anaknya.
"Anak?, anak yang mana?, anak siapa?", ucap Nyimas pura-pura tidak tahu.
"Katanya kamu pergi saat mengandung, sekarang , mana anak itu?", kembali Fikri bertanya.
"Apa pedulimu dengan anak itu, bukannya dia tidak kau harapkan lahir?, seperti juga aku kan?",
"Iya..., benar...!, kalian berdua memang harusnya pergi saja dari hidupku, kalian itu hanya akan jadi penghalang bagiku", aku Fikri.
"Tapi semua akan lain ceritanya jika kamu tetap diam, tidak banyak berkoar pada semua orang, faham!!", bentak Fikri, walau dengan suara pelan, tapi penuh penekanan.
"Nyimas..., kamu di sana?", terdengar suara Umi menanggil, rupanya Umi mendengar juga ada keributan kecil di dapur.
Fikri terkejut, ia langsung melepaskan kungkungannya terhadap Nyimas, dan melemparkan niqob milik Nyimas.
"Cepat pakai, dan jangan banyak bicara!", ancam Fikri. Nyimas menurut.
"Iya Umi..., ini saya baru mau berangkat ke Madrasah .
Fikri pun segera menuju pintu belakang, ia langsung kabur menuju kobongnya.
"Ngobrol dengan siapa?, tadi Umi dengar ada ribut-ribut?", tatap Umi.
"Ah tidak Umi, tidak ada seorang pun di sini", jawab Nyimas.
"Oh..., tadi Umi dengar ada suara orang ngobrol di sini, ah sudahlah, kamu cepat ke Madrasah", perintah Umi sambil terus berlalu menuju kamar Abah kembali.
__ADS_1