
"Tiara masih belum pulang juga dari Rumah Sakit, makin berani saja dia", gerutu Fikri yang baru datang dari Masjid, ia terlihat sedang berdiri di depan kobongnya mengamati keadaan rumah Abah yang masih tampak sepi.
"Tiara....Tiara....", gumam Fikri.
Sementara Tiara di Rumah Sakit sedang siap-siap untuk pulang, karena kini Robi sudah sadar. Sebelumnya mereka sarapan bersama dulu.
"Terima kasih Neng, sudah mau direpotkan, Robi kini sudah sadar", Bu Arimbi mengelus kepala Tiara.
"Robi masih dalam masa penyembuhan, jadi untuk sementara, dia akan Ibu bawa pulang ke rumah dulu, nanti kalau sudah benar-benar sembuh, baru Ibu ijinkan lagi untuk tinggal di Pondok", jelaskan Bu Arimbi.
"Nggak Bu, Robi mau pulang ke Pondok saja, Robi sudah tidak apa-apa Kok", tolak Robi.
"Tidak Nak, Ibu takut terjadi apa-apa lagi sama kamu, sebelum kamu pulih seratus persen, Ibu tidak akan mengijinkan kamu tinggal di Kobong dulu", tegas Bu Arimbi.
"Ikuti saja kehendak ibumu, aku rasa itu yang terbaik untukmu, di kobong tidak akan menjamin kamu makan dan tidur teratur, makanan juga sedapatnya kan, asal kenyang saja, tidak memperdulikan nilai gizinya", senyum Tiara.
Robi menatap Tiara kecewa, kenapa Tiara tidak mendukungnya kali ini.
"Tuh....kan...Tiara juga setuju, tidak akan lama, sampai kamu sembuh saja", tatap Bu Arimbi.
"Biar nanti kamu fokus dulu menangani kasus yang menimpa bengkelmu, biar cepat beres, kasihan tuh teman-temanmu terlantar", tatap Bu Arimbi.
"Nanti biar Papih ikut membantu, bengkel itu sudah diasuransikan lho, kita urus klaim asuransinya, untuk memulai lagi usaha", kembali Bu Arimbi menatap Robi.
"Lagi pula kamu harus mulai belajar membantu pekerjaan Papih di Kantor, kamu itu penerus Papih, kasihan Papih yang sudah merintis usaha dari nol, hanya kamu anak Papih satu-satunya"
"Dari awal pun Mamih kan sudah bilang, kamu boleh menuntut ilmu Agama , tapi jangan lupa kewajibanmu terhadap keluarga, Mamih dan Papih itu sudah tidak muda lagi, sudah saatnya kamu terjun dalam bisnis Papih"
" Cari pasangan hidup segera, biar kalau ada apa-apa sama kamu, sudah ada yang menghandle, bukan sama Mamih terus", senyum Bu Arimbi.
Kalau sudah dicecar oleh berbagai alasan yang masuk akal seperti itu, Robi tidak bisa berkutik, ia mau tidak mau harus menerimanya.
"Iya...baik kalau begitu Mih, Robi siap menjalankan misi-misi Mamih", Robi membalas senyuman mamihnya.
__ADS_1
"Kok misi sih, kamu ini ada-ada saja", Bu Arimbi mengacak kasar rambut Robi.
" Biar keren sedikit Mih, biar semangat juga menjalankannya", kekeh Robi.
Tiara melirik Robi, 'Apa mungkin ini pertemuannya yang terakhir dengan Robi, kalau Robi sudah tidak di Kobong lagi, makin besar saja kesempatan dirinya bersama Fikri, apalagi kalau Robi mulai terjun membantu bisnis keluarganya, sudah pasti waktunya akan banyak tersita di sana', batin Tiara bicara.
'Aku dan Robi memang berbeda, tidak mungkin Robi akan bisa meneruskan peran Abah di Kobong, dia juga mempunyai tugas sendiri dalam keluarganya, meneruskan bisnis papihnya', kembali batin Tiara bicara.
Tiara baru menyadari, ada jurang pembeda antara dirinya dengan Robi, Abah membutuhkan seorang Ustad untuk pendamping dirinya karena memang membutuhkan penggantinya sebagai pimpinan Pondok, sementara Robi juga dibutuhkan oleh keluarganya untuk menetuskan bisnis papihnya.
Sungguh dua jalan dan dua tujuan yang bersimpangan. Seandainya Tiara memilih Robi, berarti dirinya harus ikut bersama Robi dalam keluarganya, dan Abah tidak ada penerusnya.
Kalau dengan Ustad Fikri kan sudah jelas, dia salah satu Ustad terbaik dari Pondok, yang bakal mampu meneruskan cita-cita Abah
Ini kenyataan yang pahit, ini keadaan yang sulit. Diantara dirinya dan Robi terdapat jurang perbedaan yang dalam, yang kalau dilewati, akan menyulitkan mereka.
Jika Robi bersamanya, ada salah satu kepentingan dari mereka yang akan tergadaikan, bisnis keluarga Robi akan terbengkalai, atau Pondok Al-Furqon yang akan terabaikan.
'Mungkin ini sebabnya, kenapa dari awal Abah sudah memilih Ustad Fikri untuk menjadi pendampingku, Abah sudah mempunyai pandangan ke depan untuk keberlangsungan Pondok', batin Tiara kembali berargumen.
"Ah....iya Ibu, saya baru kali ini jauh dengan Abah dan Umi", senyum Tiara. Ia membuat alasan, padahal sedari tadi ia terus memikirkan Robi.
"Maaf Ibu sudah merepotkan , Ibu berterima kasih sekali , Tiara sudah mau menemani Robi di sini sampai sadar kembali, aduh...Ibu tidak tahu bagaimana membalasnya, Ibu sudah berutang nyawa ",
"Aduh Ibu, tidak usah berlebihan begitu, Ibu dan keluarga juga sudah banyak membantu Abah dan Umi saat kecelakaan dulu, sudah seharusnya kita saling tolong Bu", senyum Tiara.
"Tentang busana muslim, Tiara jangan khawatir, Ibu sudah menghandle semuanya, Tiara fokus pada skripsinya saja dulu, kalau sudah lulus, kalau sudah wisuda, kerjasamanya akan lebih leluasa", senyum Bu Arimbi.
"Iya...baik Bu, terima kasih atas pengertiannya",
'Ah...wisuda, itu hal yang selalu Tiara tunggu, tapi kali ini rasanya itu menjadi hal yang ingin Tiara hindari, karena setelah ia wisuda, ia harus menghadapi kenyataan, dirinya harus memenuhi janji Abah kepada Ustad Fikri', pikir Tiara.
Tak lama Dokter pun datang, diikuti beberapa Perawat memasuki ruangan Robi.
__ADS_1
Dokter melakukan serangkaian pemeriksaan kembali terhadap Robi, dan setelah dirasa bagus, Dokter pun mulai melepas satu per satu alat kesehatan yang menempel dalam tubuh Robi.
"Alhamdulillah..., semua terpantau bagus, nanti sore juga sudah bisa pulang", ucap Dokter sambil tersenyum.
"Alhamdulillah...", serentak Tiara dan Bu Arimbi.
Dokter dan Perawat pun segera meninggalkan ruangan.
Tak berselang lama, Pak Robani datang, dan Badrun yang menjemputnya tetap di luar.
"Pih... Alhamdulillah Robi sudah bisa pulang, dan dia akan pulang ke rumah, Robi akan mulai belajar membantu bisnis Papih", senyum Bu Arimbi.
"Alhamdulillah, Papih senang, Papih sudah mudah cape, sudah saatnya kamu membantu Papih, ini bisnis yang menjanjikan, bisa untuk menjamin kehidupanmu dan anak istrimu kelak", ucap Pak Robani dengan nada senang.
Robi melirik Tiara, yang terlihat menunduk. Bukan hanya Tiara, Robi juga mulai merasakan adanya jurang penghalang diantara mereka, Robi harus mengutamakan keluarganya, demikian juga Tiara.
Tujuan mereka kini mulai bersebrangan, tujuan itu yang akan menyulitkan mereka untuk bisa menyatukan asa mereka.
Tidak disangka, Tiara pun melirik ke arah Robi, dan kini pandangan mereka terkunci, mata mereka masing-masing bicara, ada embun yang mulai menyelimuti kedua kelopak mata Tiara.
Tiara merasa ini benar-benar terakhir kalinya mereka bisa saling berjumpa, setelah Robi pulang ke rumahnya, dan dirinya sudah kembali ke Pondok, kesempatan untuk bertemu akan sulit, apalagi dirinya akan segera menikah dengan Ustad Fikri.
"Tiara..., kamu kenapa Nak?", Bu Arimbi mengagetkan Tiara.
"Ah...tidak Bu, tidak apa-apa, saya lebih baik pulang saja, semua sudah membaik", Tiara cepat-cepat menunduk dan menyeka jedua matanya dengan telapak tangan.
"Biar Badrun yang mengantar, maaf Ibu tidak bisa mengantar, sekali lagi terima kasih ya", Bu Arimbi memeluk Tiara.
Setelah itu, Tiara pun meninggalkan Rumah Sakit di antar Badrun.
Ada rasa berat bagi Tiara saat melangkahkan kakinya menuju luar, ia benar-benar takut tidak bisa bertemu Robi lagi.
Sepanjang jalan, Tiara menatap ke luar, jaraknya dengan Robi makin jauh saja, mereka kini harus menjalankan tugasnya masing-masing sebagai seorang anak.
__ADS_1
Dan itu yang membuat mereka berjalan berseberangan, saling membelakangi, saling menjauh.
Badrun sesekali memperhatikan Tiara dari spion, hatinya tahu apa yang sedang Tiara rasakan. 'Tenanglah Dik, aku tidak akan membiarkan Ustad Fikri mendapatkanmu', batin Badrun Bicara.