Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Salah Sasaran lagi


__ADS_3

Nyimas masih mendengar suara kretek-kretek di luar , dan kali ini tampak makin jelas saja. Nyimas tambah dag-dig-dug saja, apalagi ia melihat pegangan pintu yang berputar, seolah ada yang mau membukanya dari luar. Ditambah lagi kini lampu rumah mati, ada yang sengaja mematikan saklar listriknya.


"Masya Allah...., siapa itu...?", gumam Nyimas, ia kini merasa sangat ketakutan. Terdengar jelas suara kunci berputar, dan gagang pintu kembali berputar.


Nyimas menahan nafas, ia melihat daun pintu mulai terbuka perlahan. Nyimas kini sudah berada dibelakang daun pintu yang sudah terbuka orang yang ia lihat masuk ke dalam, lampu rumah yang sejak tadi mati menyelamatkan Nyimas dari penglihatan dua orang tak dikenal itu.


Nyimas bisa melihat punggung dua orang bertopeng yang membawa senter, kini menuju ke dalam.


"Ya Allah , siapa mereka?, mau apa mereka? Bagaimana ini?",Nyimas mulai panik, ia jadi bingung dalam ketakutannya.


"Ya Allah, sepertinya mereka menuju kamar Tiara, aku harus bagaimana?, ini jam berapa ya?", Nyimas gemetaran dalam persembunyiannya.


"Aku...bangunkan para santri saja, tapi...bagaimana dengan Tiara kalau aku tinggal sendiri.


Nyimas merasa menyentuh sesuatu, ia memegang dan mengambilnya. Ternyata itu sebuah tongkat dari kayu, tongkat yang biasa digunakan Abah untuk menopang tubuhnya saat berjalan.


"Ah..., ada ini, mungkin bisa dipakai untuk mengusir dua orang itu", Nyimas memegang tongkat kayu itu, ia mulai berjalan mengendap mengikuti dua orang tadi.


Sayang, kakinya menyandung meja hias yang ada di pojok ruang tamu hingga menjatuhkan vas bunga diatasnya.


"Braakkk...", suaranya terdengar jelas dan keras, hingga mengagetkan semua, termasuk dua orang penjahat itu.


Mereka adalah Aleks dan Joko yang akan membawa Nyimas sebagaimana yang diperintahkan oleh Ustad Fikri.


"Apa itu?", Aleks spontan melirik ke arah ruang tamu, ia menyorotkan senter ke sana.


Nyimas kini sudah berjongkok di samping meja TV, ia juga kaget, dan takut ketahuan .


Aleks dan Joko baru keluar dari kamar Abah, ia tidak mendapati siapa pun di sana. "Suara apa itu?", tanyai Aleks.


"Mana ku tahu, kita bagi tugas saja, kamu lihat ke depan, aku yang akan masuk ke kamar ini, siapa tahu sasaran kita ada di dalam ", ucap Joko.


"Oke...", Aleks segera mengecek ke depan, sementara Joko mulai masuk ke kamar Tiara.


Aleks dan Joko mendapat kabar dari Fikri kalau Nyimas sedang sendiri di rumah, karena Tiara dan Umi sedang di Rumah Sakit, Fikri lupa tidak memberitahu lagi mereka kalau Tiara sudah pulang kembali ke Pondok.

__ADS_1


Aleks berjalan ke depan, ia menyenter setiap sisi ruangan di sana, tapi tidak ada siapa-siapa. Padahal ia sudah berdiri tepat dibelakang Nyimas.


"Meong....", seekor kucing tampak melompat ke arah luar, itu kucingnya Gilang.


"Ah...dasar kucing, bikin kaget saja, Nyimas tadinya hendak memukulkan kayu yang ada ditangannya kepada Aleks, namun tiba-tiba kepalanya kembali terasa pusing, Nyimas seketika lemas, ini sama seperti apa yang ia rasakan tadi saat akan ikut ke Rumah Sakit bersama Ustad Fikri.


Nyimas lemas, ia menyandar di tembok, hingga tak sadarkan diri dengan tongkat kayu yang tersandar pula ditubuhnya.


Aleks kembali ke dalam menghampiri Joko yang sudah berada di dalam kamar Tiara.


"Ah...cuma kucing saja", Aleks menghampiri Joko.


"Ssttt...., pelankan suaramu, itu dia sasaran kita", ingatkan Joko, ia bisa melihat dalam temaram ada seseorang yang sedang terlentang diatas tempat tidur. Dia adalah Tiara.


"Ayo buruan kita sikat saja, keburu ada orang yang tahu", Aleks segera mendekati Tiara, ia lalu membekamkan sebuah sapu tangan yang sudah disemprotkan obat bius.


Tiara yang kaget sempat meronta, ia hendak menjerit, namun pengaruh obat yang dihirupnya terlalu cepat bereaksi, hingga ia pun terkulai tak sadarkan diri.


Aleks dan Joko segera membawa tubuh Tiara ke luar , mereka memasukkan Tiara ke dalam karung yang sudah dibawanya , lalu membawanya pergi dengan sebuah mobil sewaan.


Tak ada yang tahu, kalau sudah terjadi sesuatu di rumah Abah. Semua tampak biasa, hanya saja lampu rumah Abah kini mati, karena Aleks lupa tidak menyalakan lagi saklarnya.


[Ustad , tugas kita sudah selesai, cepetan kirim uangnya, kalau tidak, kamu bisa celaka], Aleks mengirim pesan singkat kepada Ustad Fikri.


"Kita bawa kemana dia?", tatap Aleks, kini mereka merasa bingung , mau dikemanakan karung yang berisi Tiara itu.


Aleks dan Joko tidak menyadari kalau mereka sudah salah sasaran, bukan Nyimas yang ia bawa, tetapi Tiara, orang yang akan menjadi istrinya Ustad Fikri.


"Kita buang saja yang jauh, biar tidak diketahui oleh Fikri , kalau kita tidak melenyapkannya, kita hanya menjauhkannya dari Fikri saja, aku tidak tega kalau sampai harus melenyapkannya, biarkan saja dia menjemput takdirnya sendiri, yang penting bukan di kota ini, biar Fikri percaya kalau kita benar-benar sudah kerjakan perintahnya, yang penting kita dapatkan uangnya", seringai Joko.


"Dan sama, kita berdua pun akan pergi jauh dari sini, kita bisa gunakan uang dari Fikri untuk memulai kehidupan baru di tempat yang baru juga, bagaimana?, kita tinggalkan sekalian kota ini biar semua kejahatan kita di sini terkubur", kekeh Joko.


"Ah....oke juga rencanamu, aku setuju, kota ini sudah terlalu kotor bagi kita", senyum Aleks.


"Bagaimana?, sudah ada konfirmasi dari Ustad itu?", tatap Joko.

__ADS_1


"Belum, kita tunggu sampai siang dulu, ini masih pagi",


Aleks dan Joko terus melajukan mobilnya menuju luar kota.


"Stop!!", Aleks meminta Joko menghentikan laju mobilnya.


"Ada apa lagi?, kita masih setengah jalan nih", tatap Joko.


"Itu ada mobil boks sedang berhenti, kita simpan karung itu di sana, biar tugas kita selesai, bagaimana?", Aleks tersenyum smirt kearah Joko.


"Gila kamu!!, apa itu tidak terlalu beresiko?",


"Aduh....kamu itu, ini untuk menghilangkan jejak, yang penting kita tidak melukainya, ayo cepat , kita simpan karung ini di sana, lihat ada banyak karung juga di sana, tidak akan kelihatan jika kita tambah satu karung ini saja", desak Aleks.


Joko akhirnya menurut, ia membantu Aleks memindahkan karung berisi tubuh Tiara ke tumpukan karung yang akan diangkut ke dalam mobil boks.


"Ada apa ya Mas?", sopir boks itu memergoki Aleks dan Joko.


"Ah...tidak Bang, ini mau dibawa ke mana karung-karung ini", basa-basi Joko.


"Oh...ini mau dibawa ke Pelabuhan Mas, harus sampai besok pagi di tujuan, jadi kita bergegas biar tepat waktu.


"Oh...begitu ya, ini mau dikirim kemana?",


"Yah...tergantung pesanan Bang, kita kirimke Agennya ", jawab sopir boks tanpa ada curiga sedikit pun. Ia berdiri menyaksikan para pegawai yang sedang mengangkut karung satu per satu ke dalam mobil, sampai karung yang berisi tubuh Tiara pun ikut diangkutnya.


Pegawai yang membawa karung itu terlihat sedikit aneh, ia berkali-kali menengok ke arah karung yang ada dipundaknya


Aleks dan Joko terlihat agak takut juga kalau pegawai itu menyadari isi karungnya berbeda.


Namun Aleks dan Joko sedikit lega saat semua karung sudah berpindah tempat ke dalam mobil tanpa terjadi apa pun.


"Kita berangkat duluan Mas, takut telat sampai di Pelabuhan", ucap sopir mobil boks, ia pamit kepada Aleks dan Joko.


"Iya Bang, hati-hati !, kita isi perut dulu, nanti menyusul", senyum Aleks lega.

__ADS_1


"Nah..., kita tinggal tunggu transferan dari Fikri saja, setelah itu, kita juga pergi dari kota ini", senyum Aleks.


Mereka masih belum menyadari kalau sudah salah sasaran.


__ADS_2