Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Dia Bukan Apa-apa


__ADS_3

"Ini ", Bandrun menyodorkan sebuah Al-Qur'an kepada Robi yang sudah duduk dihadapannya.


"Ini apa?", Robi menerima dan memegangnya , ia coba untuk membukanya.


"Ini...bagaimana?, kok terbalik begini?", Robi tampak membolak-bolak posisi Al-Qur'an saat membukanya.


"Itu Al-Qur'an, membukanya dari kanan dulu, masa begitu saja tidak tahu?", Badrun geleng-geleng kepala.


"Ya..., saya kan sudah lupa lagi Bang, terakhir belajar itu waktu TK", kekeh Robi.


"Nah...begini", Bandrun membetulkan posisi Al-Qur'an yang di pegang oleh Robi.


"Ini halaman pertamanya, membukanya dari kanan ke kiri", jelaskan Badrun.


"Iya...iya...", Robi manggut-manggut.


"Sekarang coba baca!", perintah Badrun kepada Robi.


"Lah...Bang, aku ini kan belum bisa baca, makanya mau belajar sama Abang", Robi menatap Badrun.


"Yang itu juga tidak bisa?, itu surat Al-Fatihah lho, dibaca setiap rakaat dalam shalat, masa tidak bisa?", Badrun balik menatap Robi.


"Aku ini benar-benar belum bisa ngaji Bang", Robi menunduk.


"Oh...kalau begitu kamu ini harus belajar dari awal lagi, mengenal huruf hijaiyah dulu",


"Huruf Hijaiyah?, apa lagi itu", Robi tampak makin bingung.


"Hijaiyah itu huruf arab, yang dipakai dalam Al-Qur'an, Alif sampai Ya", jelas Badrun.


"Wah...tambah pusing saja aku Bang, sekarang gimana Abang saja deh, yang penting aku pengen bisa ngaji", tegas Robi.


"Di sini hanya ada Al-Qur'an saja, harusnya sih belajar dulu Iqro, tapi nggak apa-apa, kita mulai saja, kamu hanya perlu ikuti ucapan aku saja ya?", jelas Badrun.


"Nih...surat Al-Fatihah juga penting, hanya dengan baca surat ini saja, shalat kamu sudah sah, sebelum belajar surat-surat pendek yang lain",


"Kita mulai saja..., aku ucapkan sekali, dan kamu ikuti", perintah Badrun.


Malam itu Robi tampak antusias belajar ngaji bersama Badrun, bahkan ia juga mulai belajar tata cara shalat beserta bacaannya.


"Sudah paham sampai sini?", Badrun menatap Robi.


"Besok aku minta dibawakan buku Iqro biar lebih mudah belajarnya, aku tidur duluan, sudah ngantuk nih", Badrun merebahkan badannya di atas tikar, membiarkan Robi sendiri yang masih berkutat dengan Al-Qur'an dan buku tata cara Shalat .


"Iya Bang..., terima kasih", ucap Robi tanpa melirik ke arah Badrun, karena matanya masih fokus pada buku yang sedang dibacanya.


Malam makin merayap, Badrun terbangun, ia membetulkan posisi selimutnya. Ia melihat Robi masih belum tidur, ia masih saja membaca Al-Qur'an.


'Semangat sekali ini anak belajarnya, benar, ia sungguh-sungguh ingin bisa mengaji', batin Badrun bicara, dan ia kembali memejamkan matanya, melanjutkan mimpi yang sempat tertunda.

__ADS_1


Tiara kembali ke ruang perawatan Umi, dilihatnya Umi sudah tidur. Tiara menyimpan bungkusan pemberian Bu Arimbi di atas sofa, dan ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sebelum menunggui Umi.


"Baru pulang Ara?", tanyai Umi begitu Tiara keluar dari kamar mandi.


"Iya..Umi?, maaf Ara membangunkan tidur Umi", Tiara mendekati Umi dan meraih tangannya, lalu ia duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Umi.


"Umi tidak bisa tidur , teringat kamu terus, Umi khawatir, malam-malam menyuruh Ara pergi ", Umi mengeratkan pegangan tangannya ke tangan Tiara.


"Tidak apa-apa Umi, Tiara sudah kembali, lihat!, Tiara masih utuh, tidak kekurangan apa pun", senyum Tiara.


"Kamu..., ada-ada saja", Umi pun tersenyum .


"Bagaimana?, sudah bertemu dengan ibunya Nak Robi?", tanyai Umi.


"Sudah Umi, Tiara malah dibawa ke rumahnya", senyum Tiara.


"Ke rumah Nak Robi?, apa ibunya tidak marah?, kamu kan sudah mengusirnya ?",


"Tidak Umi, ibunya Robi baik, dia sudah memaafkan Tiara, malah dia juga memberikan hadiah kepada Tiara, dan menyuruh sopirnya untuk mengantar Tiara kembali ke sini", senyum Tiara.


"Sopir?", Umi mentautkan kedua alisnya.


"Iya Umi, ternyata Robi itu anak orang kaya, rumahnya besar dan mewah, mobilnya banyak", terang Tiara.


"Umi..., Robi tidak salah soal uang itu, memang benar itu uang milik Robi , pemberian dari orang tuanya, bukan uang hasil kejahatan Robi, seperti yang dituduhkan kepadanya waktu di pondok, kita sudah salah menuduhnya", jelas Tiara.


"Astaghfirullah...., kita sudah memfitnah Nak Robi, kasihan dia...", Umi menerawang.


"Iya..., waktu itu Umi sadar, Robi yang membawa Umi dan Abah ke sini, kalau Abah sampai di sini pun masih belum sadar",


"Jadi Umi mau kan membuat kesaksian untuk membebaskan Robi?", tatap Tiara.


"Iya..., Umi mau Ara, Umi tidak akan membiarkan Orang yang telah menolong Umi, harus menanggung kesalahan orang lain", tegas Umi.


"Terima kasih Umi", Tiara memeluk Umi Anisa.


Umi mengelus kepala putrinya, Umi bisa melihat sinar kebahagian dari sorot mata putrinya itu, ini semua pasti ada hubungannya dengan Robi.


"Oh iya, Umi ini ada hadiah dari ibunya Robi", Tiara melerai pelukannya dan mengambil bungkusan yang ia simpan di atas sofa tadi.


Tiara membukanya, dan isinya ternyata dua set gamis plus hijab dan niqobnya.


"Masya Allah Umi, ini bagus sekali", Tiara membukanya dan memperlihatkannya kepada Umi.


"Kenapa ibunya Robi bisa mempunyai setelan gamis seperti itu?",


"Emh..., katanya ini dibelinya waktu ibadah umroh tahun lalu", senyum Tiara.


"Itu cocok dengan badan kamu Ara, pakailah, biar Ibunya Robi senang",

__ADS_1


"Iya Umi, Ara akan memakainya", senyum Tiara.


"Emh...., ini tidak bisa dibiarkan, sepertinya mereka sudah mulai mengetahui siapa Robi", gumam Ustad Fikri yang memperhatikan Tiara dan Umi dari balik kaca di luar ruangan Umi.


'Jangan takut Fikri, Robi itu tidak ada apa-apanya dibandingnya kamu, ilmu agamanya masih dangkal, dia bukan saingan berat bagi kamu, bagaimana pun, Abah akan memilihmu sebagai menantunya, karena kamu itu murid pilihan Abah, hanya kamu yang bisa melanjutkan peran Abah di Pondok', batin Ustad Fikri bicara, ia menyeringai, tersenyum penuh kemenangan.


"Mas..., sampai kapan kita begini terus?, kapan aku akan kamu nikahi?", Rena menatap Pak Robani yang sedang memejamkan mata disampingnya. Mereka baru saja melakukan hubungan terlarang.


"Selama kamu tidak mau memiliki anak dari aku, selama itu juga hubungan kita akan seperti ini", Pak Robani membuka kedua matanya, ia menatap Rena.


"Tidak Mas, aku tidak mau, anak hanya akan merepotkan aku saja, kalau aku punya anak, aku tidak bisa bebas berkarier, dan nanti kamu bisa mencari sekretaris baru, pengganti aku, dan bisa saja kan kamu tertarik lagi sama dia, dan aku akan tersisihkan", Rena cemberut.


"Kamu itu terlalu sok pintar menerka-nerka hal yang akan terjadi nanti, kaya paranormal saja, belum apa-apa sudah memprediksi hal buruk yang akan terjadi", Pak Robani bangkit, ia memunguti pakaiannya dan memasuki kamar mandi.


"Aku pulang dulu", Pak tampak sudah rapi kembali dengan pakaiannya.


"Kemana?, biasanya juga Mas menginap di sini?", tatap Rena.


"Robi sedang mendapat masalah, dia ada di penjara sekarang, nggak enak lah, kalau aku tetap tinggal di sini?",


Pak Robani mengambil ponselnya dan berjalan menuju pintu.


"Mas...., uang bulanan buat aku mana?", Rena secepat kilat menghalau langkah Pak Robani.


"Sudah aku transfer", ucap Pak Robani datar, ia sudah menduga, Rena hanya menginginkan uangnya saja.


"Terima kasih", Rena meraih pinggang Pak Robani dan mengelus dadanya.


"Sudah...., aku mau menemui pengacara untuk Robi",


Rena pun membiarkan atasannya ke luar dari kamar apartementnya.


Ia raih ponselnya dan melihat notif di mobile banking miliknya benar ada sejumlah transferan masuk di sana.


Rena tersenyum, karena hanya itu yang ia inginkan dari Pak Robani.


Sepulangnya Tiara, Bu Arimbi memasuki kamarnya, ia belum tidur, ia ingin menunggui Pak Robani pulang, ia ingin tahu apa suaminya malam ini pulan atau tidak.


Terdengar ponselnya berdering, sepertinya ada panggilan masuk. Bu Arimbi mengambil tasnya, dan merogoh ponsel dari dalamnya.


Terlihat asistennya di butik yang menghubunginya.


[Iya..Mira, ada apa malam-malam begini ?],


[Bu, maaf, tapi ini urgent, saya lihat ada beberapa kali penarikan uang dari rekening Perusahaan, apa itu atas rekomendasi Ibu?, Ibu bisa cek, nanti saya kirimkan rinciannya],


[Penarikan uang?, iya nanti saya koreksi, terima kasih ya informasinya], Bu Arimbi segera menutup hubungan teleponnyan .ia segera menuju meja kerjanya dan mengecek laporan dari Mira tadi.


Benar saja, ada beberapa kali penarikan uang dari sana. " Sittt, ini pasti ulah Briant, enak sekali dia, aku blokir tahu rasa", Bu Arimbi segera menutup akses Briant terhadap rekeningnya, dan ia juga memblokir semua kartu ATM dan kartu kredit milik Briant.

__ADS_1


'Enak saja, kamu pakai fasilitas dari aku bersama wanita lain', batin Bu Arimbi menggerutu.


__ADS_2