Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Ada Apa Dengan Aku?


__ADS_3

Robi tidak menyadari kalau yang baru saja berpapasan di luar adalah Tiara, Robi terlalu fokus dengan ponselnya, ia mendapat pesan dari Mamihnya, katanya minggu ini akan pulang.


Antara senang dan enggan, saat mengetahui Mamihnya mau pulang. Sebenarnya Robi merindukan Mamihnya itu, tetapi Robi juga tidak mau ada pertentangan lagi dengannya, terutama soal kedekatan Mamihnya, Ibu Arimbi, dengan brondong bulenya.


Belum lagi Bu Arimbi sering menjelek-jelekkan Papihnya, Pak Robani yang makin dekat dengan Rena.


Pokoknya, kalau salah seorang dari orang tuanya pulang, Robi merasa ada beban, tinggal di rumah menjadi tidak betah.


Apalagi saat ini juga dirinya tinggal di kontrakan dekat bengkel. Ia menolak ajakan Dery untuk tinggal di bengkel, karena ia selalu terganggu oleh sikap Dery, yang selalu mengumbar kemesraan dengan Marisa.


"Kenapa pulang dari Masjid kok jadi banyak bengong?, jangan-jangan kesambet ", Ronal menepuk pundak Robi yang tampak melamun.


"Nggak, bukan itu, lagi agak mumet saja nih kepala", ucap Robi datar. Ia kembali fokus dengan pekerjaannya.


"Makanya sekali-sekali gabung dong sama kita, biar rasa mumet setelah bekerja, terbang, ini mah malah tapa di kamar ", kekeh Ilyas.


Sudah menjadi kebiasaan, setiap malam setelah bengkel tutup, di dalam mini cafe suka diadakan pesta-pesta , khusus para pegawai bengkel.


Hanya Robi yang belum pernah ikut. Karena memang itu yang dihindari Robi, kalau dia ikut bergabung, bisa-bisa terbongkar identitas aslinya.


"Aku itu kurang begitu suka dengan irama yang bising, lagipula aku selalu cepat ngantuk, apalagi siangnya sudah capai, jadi begitu nempel ke bantal, langsung pules ", kekeh Robi.


"Boleh nggak ya, sabtu minggu ini aku ijin nggak kerja dulu, ada urusan nih", Robi melirik ke arah Ronal.


"Ya...coba saja Loe bilang baik-baik sama Dery, masa tidak mengijinkan",


"Iya..., nanti nunggu waktu yang tepat, sekarang belum pulang kan?, Dery lagi ke mana?", Robi melirik ke arah dalam.


"Belum, biasa kayaknya lagi di carter sama Marisa", cicit Ronal.


"Hus..., kalau Dery sampai mendengar, habis Loe", Ilyas menimpuk pundak Ronal dengan ban dalam motor.


Tak lama terdengar suara sepeda motor Dery memasuki halaman bengkel.

__ADS_1


"Tuh...panjang umur, baru diomongin sudah nongol", Ronal melirik Dery dengan ujung matanya.


Marisa nampak kesal, ia masuk lebih dulu ke mini cafe dan langsung memesan minuman dingin kepada Aleks.


"Bakal ada perang dunia lagi kayaknya", Bisik Ronal.


"Pokoknya aku mau kamu ganti motor, itu motor sudah ketinggalan jaman, sudah tidak nyaman lagi", sewot Marisa.


Dery menghampirinya dengan langkah lunglai. Ia duduk di samping Marisa yang sedang menyedot minumannya.


"Beb, sabar dong, uangku belum cukup buat membeli motor baru, kemarin saja yang dipake buat shopping dan nyalon kan tidak sedikit", keluh Dery.


"Kamu memang payah, beda sama Robi", gumam Marisa.


"Apa?, kamu bilang apa?", Dery menatap Marisa.


"Kamu payah Dery sayang ..., kalau masih ada Robi, aku tidak akan melarat begini, mau ini, mau itu , mesti nunggu dulu", Marisa bangkit dari duduknya hendak meninggalkan Dery.


Namun tangan Marisa segera di sambar oleh Dery hingga tubuh Marisa menempel di dada Dery. "Apa kamu bilang?, jadi selama ini kamu masih berharap sama Robi?, kamu menyesal hah?", bentak Dery.


"Sabar..., ini di bengkel, nggak enak dilihat oorang, bisa-bisa pelanggan pada kabur kalau pemiliknya seperti ini", Robi menatap Dery.


Dery melihat sekeliling, untung saja bengkel sedang sepi, hanya para pengguna jalan yang kebetulan lewat saja yang melihat keributan tadi sekilas.


"Untuk sementara, pake dulu motor Gue untuk keperluab kalian, biar aku yang pake motor Loe, atau pake motor milik bengkel juga nggak apa-apa, asal Gue diijinin buat libur sabtu dan minggu ini, ada urusan", Jelaskan Robi panjang lebar.


Robi jadi memiliki alasan kuat untuk mengutarakan maksudnya.


Dery diam, sepertinya ia sedang mencerna omangan Robi tadi. Lalu dia melirik ke arah motor sport Robi yang selalu terparkir di bengkelnya, tidak pernah dipake keluar oleh Robi.


"Oke..., Gue setuju", senyum Dery. Ia menjabat tangan Robi.


Marisa pun sama, ia menghampiri Robi, ia menatapnya sekilas, 'Mata itu sepertinya tidak asing', pikir Marisa.

__ADS_1


Namun ia segera beralih kepada Dery, Marisa memegang lengan Dery, "Aku setuju..., untuk sementara, boleh juga, sebelum kamu bisa membeli motor baru", Marisa kembali bersikap manja dengan bergelayut di lengan Dery.


"Oke..., Gue setuju, kamu boleh libur sampai urusanmu beres", Dery menepuk pundak Robi.


"Baik, terima kasih Bos", Robi merengkuh. Ia kembali membantu kerjaan Ronal dan Ilyas. Sementara Dery menggandeng Marisa menghampiri motor Robi.


Mereka menyentuhnya, melihatnya, "Kita coba sekarang saja, kita jalan-jalan saja, janji!, aku tidak akan minta apa-apa", senyum Marisa, ia memeluk pinggang Dery dan menyandarkan kepalanya di dada Dery. Kalau sudah begitu, mana bisa Dery menolak.


"Bro..., mana kuncinya!, kita coba sekarang ", Dery memanggil Robi yang masih bekerja. Robi merogoh saku jaketnya yang menggantung di dekstop dan melempar konci motor miliknya ke arah Dery.


Dengan sigap Dery menangkapnya, dan segera menghidupkan motor Robi , lalu melaju ke jalanan dengan membonceng Marisa.


"Untung ada kamu Rahmat, kalau tidak ..., perang dunia benar-benar terjadi di sini", kekeh Ronal.


"Memangnya kamu tidak sayang, motor barumu di pakai Dery", Ilyas melirik Robi.


"Gampang..., tinggal beli lagi", kekeh Robi.


"Yang penting, Gue bisa libur, baik-baik kalian tanpa Gue nanti ya", cicit Robi.


Sudah bulat tekadnya untuk menemui dan menemani Mamihnya selama ada di sini, siapa tahu Robi bisa membujuk Mamihnya untuk meninggalkan bule brondongnya.


Dery melajukan motor Robi dengan sesuka hatinya, ia meliuk liuk dijalanan.


Tiara yang baru pulang berbelanja kebutuhan untuk Gilang, mengenali sepeda motor yang barusan melewatinya. "Rahmat... ?, itu kan seperti sepeda motor milik Rahmat, tapi kok ia membonceng wanita?, apa itu istrinya?, Rahmat sudah beristri?", gumam Tiara.


Karena penasaran, Tiara mengikuti sepeda motor yang melaju di depannya, kali ini ia ingin mencatat plat nomernya.


"D 2789 AR", gumam Tiara. Ia sudah berhasil memcatat plat nomer sepeda motor yang ada di depannya.


Tiara menepi, memperhatikan foto di ponselnya. "Belum tentu Rahmat juga, tapi kalau benar itu Rahmat, berarti dia sudah beristri", gumam Tiara. Ada raut kekecewaan di wajahnya, entah kenapa hati Tiara menjadi lemas saat memikirkan orang yang ada di atas motor benar Rahmat.


"Ah..., kenapa aku ini, nggak Robi, nggak Rahmat, kok bikin aku seperti orang linglung", gumam Tiara.

__ADS_1


Dengan sedikit kecewa, Tiara melajukan kembali sepeda motornya menuju Pondok.


__ADS_2