Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Masih Ada Kesempatan


__ADS_3

Bu Arimbi yang sedang tertidur samar-samar mendengar suara orang ngobrol, ia serasa bermimpi saja.


Dalam posisi masih terlentang, Bu Arimbi membuka matanya dan mengamati keadaan sekitar. "Ini rasanya masih di Rumah Sakit, siapa yang sedang berbicara?", Bu Arimbi melirik ke sumber suara, dan betapa kaget, bercampur senang, saat ia melihat Robi sudah sadar.


Bu Arimbi cepat-cepat turun dari atas dipan, dan segera menghampiri Robi dan Tiara .


"Alhamdulillah..., Robi...., sudah sadar Nak?", Bu Arimbi dengan mata berbinar merengkuh tubuh Robi. Kita harus hubungi Dokter, agar kamu bisa diperiksa", Bu Arimbi memijit tombol merah.


"Maaf Ibu, tadi saya lupa, saya juga kaget, saya tadi tertidur saat Robi sadar", Tiara menunduk, ia menyesali kelalaiannya.


"Oh..., tidak apa-apa Nak..., justru Ibu yang sangat berterima kasih, karena berkat kehadiran Tiara, Robi jadi bisa cepat sadar", senyum Bu Arimbi.


Tak lama Dokter pun datang, ia juga merasa kaget, karena Robi bisa sadar lebih cepat dari waktu yang diprediksikan.


"Baik..., semuanya terpantau baik", Dokter memeriksa semua alat kesehatan yang masih menempel di tubuh Robi.


"Besok pagi saya observasi kembali, kalau masih terpantau baik, alat-alat ini sudah boleh di lepas, sekarang pasien pun sudah boleh makan makanan berat, pasti Bapak Robi juga sudah lapar, sudah kangen makan apa Pak?", goda Dokter melirik Robi.


"Eum..., saya kangen makan kupat tahu Dok, apa boleh?" senyum Robi.


"Oh...tentu saja boleh, Bapak ini koma bukan karena penyakit tertentu, tapi karena sock akibat benturan yang tiba-tiba", ungkap Dokter.


"Baik Dokter, terima kasih", senyum Robi, ia melirik ke arah Tiara yang terlihat sedang menatapnya.


Dan dengan segera Tiara pun menunduk, ia menyembunyikan wajah merahnya, Tiara merasa malu karena sudah ketahuan sedang memperhatikan Robi.


Hati Robi merasa senang, kembali ada desiran hangat dihatinya. 'Tidak apa kamu sudah dijodohkan dengan orang lain, setidaknya aku bisa melihat isyarat cinta dalam sikap dan tatapanmu kepadaku, Tiara', batin Robi bicara.


"Gukkk....guuukkk....", bunyi perut Robi terdengar.


"Ah..., kamu benar-benar lapar ya, Ibu belikan dulu makanan buat kamu ", pamit Bu Arimbi.


"Kemana Bu?, ini masih terlalu pagi", ucap Robi, ia terlihat khawatir.


"Ada Badrun Nak?, tenang saja, Ibu akan meminta antar Badrun, membeli kupat tahu Mang Amat kan, yang ada di dekat Pondok itu?", tatap Bu Arimbi.


"Iya..., maaf Mih..., jadi merepotkan", Senyum Robi.

__ADS_1


"Tidak apa, Mamih juga lagi pingin makan kupat tahu", senyum Bu Arimbi.


"Ibu titip Robi lagi ya Nak...", Bu Arimbi menatap Tiara.


Setelah itu, Bu Arimbi pun meninggalkan Robi dan Tiara kembali berdua. Sejenak suasana hening pun melanda. Baik Robi maupun Tiara terdiam, hanya hati mereka yang bicara. Mereka sama-sama merasa kehabisan kata-kata, akibat beban rasa yang kembali bergejolak.


Robi dan Tiara sudah sama-sama tahu, mereka mempunyai perasaan yang sama namun terhalang oleh janji yang sudah terlanjur diucapkan oleh Abah kepada Fikri.


"Aku...",serentak Robi dan Tiara.


Mereka saling pandang, Tiara kembali menunduk.


"Silahkan kamu duluan", Robi tersenyum.


"Ah....tadi ...aku ...aku ...jadi lupa, apa yang mau dibicarakan tadi, jadi kamu saja dulu", Senyum Tiara.


Robi terdiam, ia sejenak memejamkan matanya.


"Aku menyesal, aku menyesal Tiara", ucap Robi.


Jelas saja ucapan Robi itu membuat Tiara agak kaget "Menyesal...?, menyesal untuk apa?", tatap Tiara.


"Aku menyesal, karena sikapku dulu, aku jadi terlambat mengenal kamu, sehingga begitu kenal, kamu sudah memiliki label", kekeh Robi.


"Label apa?, kamu itu habis koma jadi aneh gini",


"Ya...label lah..., jadi sudah tidak bisa di ganggu lagi",


Tiara mentautkan kedua alisnya.


"Sudah ah, aku bingung, tidak tahu kamu ngomong apa",


"Mau tahu?, label apa yang kamu punya?", tatap Robi.


Tiara tidak menjawab, ia hanya diam saja, sepertinya obrolan Robi kali ini tidak menarik hatinya.


"Tidak....,aku tidak mau tahu", celetuk Tiara.

__ADS_1


"Iihh..., calon istri Ustad tidak boleh begitu", goda Robi.


Tiara membulatkan matanya, ia kaget kok Robi bisa mengetahui itu, padahal itu hanya diketahui olh keluarga intinya saja. Dan hal itu baru mereka bicarakan beberapa hari lalu sebelum Robi menghilang dari Pondok, dan ketahuan meengalami kecelakaan.


"Pasti Pak Ustad marah, kamu lama-lama di sini menemani aku", lirik Robi.


"Aduh tidak usah dibahas ya?, aku pulang kalau kamu terus bicara itu", Tiara cemberut.


"Aduh..., jangan marah begitu, aku hanya takut saja, kamu dimarahi Pak Ustad", kembali Robi menggoda Tiara.


"Aduh..., kamu kalau sadar jadi banyak bicara ya, lebih baik istirahat, biar besok bisa benar-benar lepas dari semua alat ini, kamu tidak mau kan terus di sini?", Tiara memandang Robi.


"Tapi kalau ditunggui Tiara terus, nggak apa-apa, walau harus terus di sini juga", senyum Robi.


"Kalau aku tidak mau terus di sini, masih banyak hal baik yang busa dikerjakan di luar sana, yang bermanfaat untuk orang banyak", tatap Tiara.


Kini Tiara sudah berani melawan tatapan mata Robi.


"Kalau aku keluar dari sini, kamu sudah tidak punya alasan lagi untuk bisa bersamaku seperti ini,iya kan?", kembali Robi menatap Tiara.


"Iya...., tapi aku tidak mau menunggui kamu dalam keadaan begini, apalagi kemarin, kamu hanya diam dan terpejam, aku sedih tahu melihatnya", ucap Tiara jujur.


"Alhamdulillah...., ternyata masih ada orang yang membutuhkan aku , itu akan menjadi pupuk semangat untuk aku tetap bertahan", senyum Robi.


"Aduh...kamu ya , gayanya sudah seperti seorang pujangga saja", senyum Tiara.


"Ini benar Tiara, aku sampai terjatuh juga gara-gara sepanjang jalan, aku terus memikirkan kamu, hingga tidak fokus berkendara", aku Robi


Menurut Robi, ini saatnya Tiara mengetahui kesungguhannya, Robi ingin Tiara tahu kalau selama ini, Tiaralah yang selalu ia harapkan, Tiaralah yang selalu memberikan motivasi kepada Robi untuk bersikap lebih baik lagi.


"Jadi..., saat bertemu Umi di teras waktu itu, kamu mendengar semuanya?", tatap Tiara.


Robi mengangguk perlahan sambil tersenyum.


"Oh...., itu tuh....akibatnya orang yang kepo, kenapa menguping?, jadinya celaka kan", Tiara mengerucutkan mulutnya, walau Robi tidak akan melihatnya.


"Bukan kepo?, tanggung, mau pergi penasaran ingin tahu, jadi ya diam saja, walau ternyata apa yang didengar itu sangat mengecewakan", Robi melengos.

__ADS_1


"Ya..., lebih baik terlambat, dari pada tidak sama sekali", Robi tampak diam. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Tiara, aku mencintaimu karena Allah", ungkap Robi. Hal itu membuat Tiara terkesiap, desiran itu hadir kembali dalam hatinya",


__ADS_2