
"Ini sudah saatnya kamu tahu yang sebenarnya, Dery", Robi terus memacu sepeda motornya menuju bengkel Dery.
Begitu sampai, Robi bunyikan klakson berkali-kali, ia ingin Dery keluar menemuinya. 'Siapa itu, bikin ribut saja",Dery dengan tertatih keluar, ia ingin mengetahui siapa yang sedang berulah di luar.
"Hai...!, si...a...pa....", Dery menggantung ucapannya begitu dilihatnya Robi sudah berdiri di samping motor balapnya
"Ro...bi....?, oh...rupanya kamu sudah punya nyali untuk tidak sembunyi-sembunyi lagi?", cibir Dery.
"Bengkel ini sekarang milik Gue lagi, Gue sudah memenangkan balapan hari ini", lantang Robi.
"Ha....ha....ha...., Loe mimpi kali, Gue membuat perjanjian itu dengan Rahmat, bukan Robi, ngarang Loe", Dery tertawa terbahak-bahak.
"Rahmat itu Gue!", tegas Robi.
"Ha...ha....ha..., Loe salah , semua ada saksinya, Gue membuat perjanjian dengan Rahmat, bukan Loe Robi, Kamu yang telah menipu dengan membuat identitas palsu, jadi perjanjian itu batal", tegas Dery.
Sedang beradu argumen tersebut, datanglah keempat teman Dery, mereka segera memarkir sepeda motornya dan mendampingi Dery.
"Robi...?, jadi benar kamu masih hidup?", Ronald memandangi Robi. Kini jelas, dihadapannya berdiri Robi dengan sepeda motor kebesarannya.
"Robi..., kita masih mau kok menerima kamu di sini, kita bersama-sama kelola lagi bengkel ini seperti dulu, ingat!, kita semua mulai dari nol , dan berkat kerja keras kita , kita bisa sebesar ini", jelas Ilyas.
"Tidak!, Gue tidak mau, kalian telah berbuat licik, kalian telah menikamku dari belakang, kalian bukan lagi teman, tidak ada teman yang membuat celaka temannya sendiri", tegas Robi.
"Dan kamu Dery, kamu yang telah mempengaruhi mereka semua untuk berbuat licik dan menentang Gue, padahal apa salah Gue pada kalian semua, Gue selalu mengalah, Gue yang selalu menutupi kekurangan di bengkel ini, tapi apa balasan kalian?", geram Robi.
"Ingat!, suatu saat kalian harus membayar semua kecurangan ini", Robi menghidupkan sepeda motornya dan langsung tancap gas meninggalkan Dery dan teman-temannya.
"Bagaimana ini Bos?, Robi benar-benar masih hidup", Joko menatap Dery.
"Kalian tenang saja dulu, Robi tidak ada apa-apanya, dia sendiri sekarang, tidak akan mampu melawan kita", seringai Dery.
Dengan kesal, Robi memacu sepeda motornya menuju rumah, sekarang , mau tidak mau, Robi harus tinggal di rumah.
Bu Arimbi sudah bangun saat Robi memasukkan sepeda motornya ke garasi.
"Akhirnya pulang juga itu anak, sampai kapan dia seperti itu", gumam Bu Arimbi.
"Dari mana saja?, jam segini baru pulang?", Bu Arimbi langsung mengintrogasi Robi begitu Robi membuka pintu rumahnya.
Tampak Bu Arimbi sedang duduk di kursi sambil memegang pensil dan kertas, ia sedang membuat sketsa gambar gaun.
"Mamih..., belum tidur?", Robi tampak kaget melihat mamihnya masih bangun.
__ADS_1
"Iya, Mamih khawatir kamu belum pulang, Mamih takut kamu terlibat balapan lagi, karena Pak Karman melihatmu keluar dengan motor balapmu",
"Benar?, kamu habis balapan kan?", Bu Arimbi menatap Robi.
"Hah ..., sejak kapan Mamih peduli dengan aku?, mau pulang, mau makan, mau apa pun kan Mamih biasanya tidak peduli, yang terpenting, Robi masih hidup kan Mih...", cibir Robi.
Robi berjalan hendak menuju kamarnya, namun Bu Arimbi menahannya.
"Tunggu!, duduk sebentar!, Mamih mau bicara", Bu Arimbi menunjuk ke arah kursi ia ingin Robi duduk di hadapannya.
Robi pun menurut, ia duduk di hadapan mamihnya dengan masih memegangi helm.
"Benar kan...kamu habis balapan lagi?", tatap Bu Arimbi.
"Iya Mih, Robi habis balapan, ini helmnya pun masih di sini", tunjuk Robi sambil tersenyum.
"Ck...ck...ck...., mau sampai kapan kamu seperti ini?, harusnya kamu mulai memikirkan masa depan kamu, pekerjaan yang baik dan pendamping", ucap Bu Arimbi.
"Ha...ha...ha...., Robi masih ingin sendiri Mih, biar bisa berbuat semau aku tanpa ada yang melarang, lagipula Robi takut seperti Mamih dan Papih, bersama ....hanya untuk berpisah",
"Robi...!, jangan ungkit masalah Mamih dan Papih, kamu masih kecil", bentak Bu Arimbi.
"Iya..Miih, Robi masih kecil, makanya jangan suruh Robi ini dan itu, biarkan Robi hidup semau Robi, kecuali kalau Mamih dan Papih baikkan, Robi juga akan mulai berfikir untuk hidup lebih baik", senyum Robi.
"Iihhh..., kamu, kalau dibilangin itu suka ngeyel",
"Huuusss..., kamu yah, paling pinter nyali alasan, kalau orang yang tadi itu siapa?, kok kayaknya kamu khawatir sekali melihat mereka terluka", tatap Bu Arimbi.
"Oh...iya..., Robi belum cerita soal mereka", Robi menaruh helmnya di atas meja di depannya.
"Mereka itu orang yang menolong Robi Mih",
"Menolong kamu?",
"Iya..Mih, sewaktu Mamih belum pulang, Robi sempat masuk jurang saat balapan, dan mereka lah yang menolong Robi, kalau tidak, mungkin Robi sudah tiada",
"Oh...pantas..., Marisa sempat kaget saat Mamih bilang kamu masih hidup, rupanya begitu ceritanya.
"Dan Mereka itu dari mana?", tanyai Bu Arimbi lagi, ia tampak penasaran.
"Mereka dari Pesantren Mih, Abah Ilham dan Umi Anisa adalah pengasuh di Pesantren, santrinya banyak", Robi menerawang.
"Oh...jadi, kamu kata Bi Mimi mulai shalat itu diajarin mereka?",
__ADS_1
Robi mengangguk.
"Mamih jadi ingin ke sana, Mamih juga ingin mengucapkan terima kasih kepada mereka",
"Oh...bagus Mih, tapi...kalau mau ke sana, Mamih harus berjilbab, malu Mih, di sana para wanitanya berjilbab semua, masa Mamih ke sana dengan pakaian terbuka seperti ini, Robi kan malu", senyum Robi.
"Iya lah, itu gampang, bisa diatur, cuma kesana saja kan pakai jilbabnya", senyum Bu Arimbi.
"Mih..., terus bagaimana dengan si benalu Briant?, dia sudah selingkuhi Mamih dengan Marisa", Robi menatap mamihnya.
"Sudah..., biarkan saja dia, lama-lama juga dia pulang sendiri", Bu Arimbi melengos.
"Tuh...kan, Mamih baru sadar, dia itu hanya ingin uangnya Mamih saja", cibir Robi.
"Sudah....sudah..., jangan ungkit dia lagi", bentak Bu Arimbi.
Robi melirik mamihnya, dia terlihat kesal.
'Salah sendiri, dari awal sudah diingatkan', pikir Robi.
Tapi dalam hatinya ia merasa kasihan kepada mamihnya itu, kesetiaannya dikhianati papihnya hanya karena Bu Arimbi tidak bisa memberinya anak lagi.
Dan sekarang pun Pak Robani kena batunya, selingkuhannya , Rena , ia tidak mau dinikahi secara resmi karena Rena tidak mau hamil da punya anak dari papihnya.
Sama, Rena juga hanya ingin uangnya saja dari Pak Robani.
"Nanti saja Mih, kita ke Pesantren Abah setelah mereka berdua sehat",
"Iya..., Mamih juga masih banyak kerjaan, jadi santai saja",
"Ya sudah sana cepat tidur!, coba mulai atur pola hidupmu Nak,biar tidak berantakan seperti Mamih dan Papih", Bu Arimbi melirik Robi.
Selepas Robi masuk ke dalan kamarnya, Bu Arimbi merebahkan tubuhnya ke sandaran kursi, Robi memang benar, dia dan suaminya adalah sosok orang tua yang payah, mereka tidak memberi contoh yang baik buat anaknya, mereka mementingkan egonya masing-masing.
Malam itu Abah sudah selesai dioperasi, beliau sudah dipindahkan ke ruangan perawatan VIP.
Kini Abah dan Umi di rawat di ruangan berbeda. Dan Ustad Fikri yang menunggui Abah.
Sementara, pihak berwajib pun sudah bertindak cepat, mereka sudah memperoleh data pemilik kendaraan yang menabrak lari Abah dan Umi.
Bahkan mereka sudah melayangkan surat panggilan kepadanya agar segera melapor ke kantor polisi.
"Bu, ini ada surat buat Den Robi", Pak Karman memberikan surat yang baru ia dapat dari kurir.
__ADS_1
"Ini surat apa?, kok seperti dari kepolisian?, sudah berbuat apa lagi dia", gumam Bu Arimbi.
Ia menyimpan begitu saja surat itu di pinggir rak tv, tanpa membukanya apalagi membacanya.